Hening seketika menyelimuti jalur sempit itu, hanya terdengar suara desiran angin yang menyapu dedaunan serta napas berat yang saling bersahutan. Sosok bertubuh tegap di hadapan mereka melangkah maju selangkah, kabut tipis perlahan menyibak sedikit menampakkan wajah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya bukan wajah pasukan Reza, melainkan sorot mata yang penuh perhitungan dan dingin, seolah sudah lama menantikan momen pertemuan ini. Danu mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi, namun ia sadar posisi mereka sungguh tidak menguntungkan. Di belakang jalan tertutup tebing curam, di depan terhalang kelompok bersenjata yang jumlahnya dua kali lipat dari mereka, sementara di sisi lain hanyalah jurang dalam yang bergemuruh suara sungai di dasarnya. “Siapa kalian?” tanya Danu dengan s

