Di dalam kegelapan celah batu yang sempit itu, darah Tiara terasa membeku. Kata “buntu” seolah menggema berulang kali di telinganya, menindih napas yang sudah terasa sesak. Namun ia tidak membiarkan kepanikan menguasai akal sehatnya ia tahu satu-satunya cara bertahan adalah tetap tenang. Sambil menahan rasa nyeri di lutut yang tergores dalam, matanya menyapu dinding bebatuan di sekelilingnya, mencari celah sekecil apa pun yang mungkin luput dari perhatian pengejar. Saat cahaya senter semakin menjauh sedikit demi sedikit, tangannya meraba permukaan batu di belakang tempat ia bersembunyi. Awalnya hanya terasa permukaan keras dan berlumut, namun jari-jarinya kemudian merasakan hembusan angin tipis yang menyelinap dari sela-sela bebatuan di sisi kanan. Ada ruang di balik tumpukan batu itu ter

