Napas mereka terasa tercekik, bercampur dengan bau tanah lembap dan besi tua yang menyengat. Di belakang, cahaya lampu sorot Reza dan pasukannya semakin menyilaukan, memancarkan bayangan-bayangan panjang yang merayap mendekat seolah siap menyambar kapan saja. Di depan, kegelapan masih pekat, namun hembusan angin yang makin terasa segar dan kuat menjadi satu-satunya petunjuk bahwa jalan keluar itu ada di depan mata. “Tahan sebentar! Kita hampir sampai!” teriak Arga sambil mengulurkan tangan meraba dinding batu, jari-jarinya menyapu setiap lekukan dengan panik namun tetap terlatih. “Ada celah yang melebar! Rasanya seperti lubang besar yang terbuka ke atas!” Bayu dan Danu mengerahkan sisa tenaga terakhir mereka, mendorong tubuh Satria yang kini terasa makin berat seolah berubah menjadi batu

