Setalah berbincang-bincang cukup lama akhirnya sepasang anak manusia itu memilih untuk pergi dari Danau yang katanya adalah sebuah Danau kenangan.
Danau kenangan yang menyimpan kenangan kenangan antara Khanza dan Sagina. Mungkin dari atas sana wanita yang telah meninggal dua tahun lalu itu bisa melihat, bahwa saat ini Khanza dan Dzaky sedang bersama dan membahas soal dirinya.
Matahari mulai tenggelam. Langit menampilkan warna gelapnya, gini bukan senar senja lagi yang membuat keindahan cahaya di danau itu. Melainkan cahaya temaram dari lampu-lampu taman dan juga pantulan di air danau.
Jam menunjukkan pukul 07.15 saat kedua orang berbeda kelamin itu keluar dari kawasan danau. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Itu itu hanya sebuah danau buatan yang tidak terlalu lebar dan dalam juga tidak banyak diketahui oleh orang-orang. Maka dari itu danau ini menjadi tempat untuk Khanza dan Sagina bermain.
Berjalan melangkah keluar dari kawasan taman hijau itu artinya, Khanza juga melangkahkan kakinya keluar dari bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya.
Sagina sudah lama meninggal dunia. Dan saatnya tidak perlu mengingat-ingat lagi tentang apa yang sudah berlalu. Biarlah hal hal itu itu disimpannya dalam kenangan yang sudah dikubur bertahun-tahun lalu.
Boleh dikenang, tapi tidak boleh terlalu larut dalam kenangan. Setiap hal apapun itu ada batasannya. Apa yang sudah berlalu sebaiknya dibiarkan berlalu saja. Sebab memulai kehidupan dan menata masa depan adalah sebuah kewajiban.
"Aku antar kemana?" tanya Dzaky saat mereka berdua tiba di parkiran taman.
Khanza mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Dzaky tiba-tiba berada di sini dengan sebuah mobil ? Sepertinya tadi laki-laki itu mengatakan bahwa dia berjalan kaki mengikuti Khanza.
"Kok bisa ada mobil kamu disini?" tanya Khanza yang tidak bisa memendam rasa penasarannya.
Dzaky menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Jika Khanza bisa berbohong mengenai suasana hatinya saat ini, maka Dzaky juga berbohong mengenai kedatangannya.
Sebenarnya laki-laki itu memang mengikuti kanza dengan cara berjalan kaki. Hanya saja setelah tiba di sini, Dzaky menelepon sopirnya untuk membawa mobil ke taman yang ada di depan kawasan perkantoran mereka.
Kalau tidak dengan cara seperti itu bagaimana nanti Dzaky bisa pulang? Dia tidak mungkin berjalan kaki seorang diri dari taman menuju kantornya lagi. Sungguh sangat merepotkan.
"Kenapa diam?" tanya Khanza.
Entah datang darimana kekesalan itu yang pasti sejak pertama kali bertemu dengan cinta pada pandangan pertamanya itu di taman ini sudah membuat Khanza kesal.
"Emm ... itu ... aku, tadi meminta supir untuk mengantarkan mobil ke sini," kata Dzaky pelan.
Dia malu dan merasa tidak enak hati pada Khanza. Bisa-bisanya Dzaky yang terkenal dingin dan cuek saat di kampus dulu, kini malah berubah menjadi laki-laki tidak memiliki wibawa saat berada dihadapan Khanza.
Ahh! Sungguh ini bukan lah diriku yang sebenarnya! Kenapa setelah bertahun-tahun tidak bertemu membuat aku bersikap seperti ini padanya?
Dzaky dalam hati bertanya-tanya tentang sikapnya yang sekarang ini. Jika dia saja tidak menyangka bahwa akan seberani ini, lalu bagaimana dengan Khanza?
"Jadi didalam sini ada supirnya?" tanya Khanza menunjuk mobil sedan hitam yang ada dihadapannya.
Dengan ragu-ragu Dzaky menganggukkan kepalanya secara perlahan. Dia tiba-tiba saja merasa canggung dan tidak enak hati terhadap Khanza.
"Antar aku ke toko kue saja, ya." Khanza berkata lembut.
Jelas saja dia berkata lembut sebab saat ini, dirinya 'kan sedang meminta tolong untuk diantar oleh Dzaky. Kalau ngomong ketus seperti tadi akan terlihat tidak tahu diri.
"Tidak ingin langsung pulang?" tanya Dzaky.
Ah, tentu saja laki-laki tampan dengan tampilan acak-acakan ini, ingin mengantar wanita yang sudah lama dia cari-cari itu langsung ke rumahnya.
Dzaky sungguh ingin tahu dimana wanita itu tinggal. Lama sudah dirinya mencari-cari keberadaan Khanza. Membuatnya untuk saat ini tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
"Tidak! Kalau aku pulang sekarang ... nanti kasihan pada Annisa. Dia pasti nutup toko kue sendiri. Aku gak mau dia terlalu lelah sebab bulan depan adalah hari pernikahannya."
Khanza dan Annisa memang sepaket. Mereka akan bekerja keras sama-sama dan berlibur juga sama-sama. Jarang sekali keduanya terlihat mementingkan diri masing-masing.
"Annisa si kasir cantik tadi?" tanya Dzaky penasaran.
Khanza menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya. Untuk pertama kali dia mendengar Dzaky memuji seorang wanita. Bahkan dulu saat di rumah maupun di kampus, Dzaky tidak pernah memuji setiap wanita cantik yang ada didekatnya.
"Aku pikir dia sudah menikah. Ternyata baru mau menikah?" tanya Dzaky.
Bukan hanya Dzaky. Laki-laki lain pun yang melihat Annisa pasti akan berpikir bahwa wanita itu sudah menikah.
Sehebat apa pun Annisa menutup bentuk tubuhnya dengan diet ketat. Akan selalu ada celah yang menggambarkan bahwa dirinya ternyata seorang ibu.
"Ngomong apaan sih kamu. Ada-ada saja," kata Khanza sambil tertawa sumbang.
Setiap ada orang yang mengatakan kalau Annisa sudah menikah membuat hati Khanza merasakan sakit itu. Dia tahu hal ini berat, dia juga tahu bahwa Annisa hanya berpura-pura baik-baik saja.
"Ha ha ha. Maaf, maaf ... ini hanya sebuah pemikiran sekilas saja. Maafkan aku yang menilai seseorang dengan cara tidak sopan," kata Dzaky terlihat bersalah.
Dzaky bukan tipe laki-laki yang suka memandang rendah perempuan. Dia juga bukan tipe laki-laki yang suka mempermainkan perasaan perempuan.
Itu lah sebabnya dari dulu hingga saat ini Dzaky tidak pernah dekat dengan siapa pun. Dia hanya dekat dengan sesama laki-laki, itu pun hanya sebatas masalah pekerjaan.
Dzaky memiliki sikap yang sulit untuk berbaur dengan orang lain. Laki-laki masuk kategori introvert. Bila dia memiliki teman perempuan, maka dengan tegas Dzaky akan mengatakan peraturan untuk berteman dengannya terlebih dahulu.
Hal itu dilakukan olehnya, Sebab Dzaky tidak ingin suatu saat nanti ada yang tersakiti. Bagaimanapun dalam hubungan pertemanan antara perempuan dan laki-laki itu tidak ada yang seratus persen normal karena berteman.
Kalau bukan laki-laki yang berharap, bisa jadi perempuan yang lain berharap. Sampai kapan pun tidak akan ada yang namanya pertemanan sehat.
Sebab ketertarikan antara lawan jenis itu datang dengan sendirinya dan karena terbiasa. Bertemu, berteman dan melakukan aktifitas setiap hari pasti akan menimbulkan sebuah kenyamanan tersendiri.
Itulah sebabnya Dzaky selalu tegas pada setiap perempuan yang mau berteman dengannya. Sebelum ada yang tersakiti nantinya.
Namun, sekilas bentuk tubuh Annisa seolah menggambarkan bahwa dirinya sudah berumahtangga.
****
Keduanya sudah berdiri didepan toko kue milik Annisa dan Khanza. Dzaky sengaja ikut turun dari mobil untuk memastikan bahwa wanita itu aman-aman saja.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan aku kembali ke sini," kata Khanza formal.
Berada berdua dengan Dzaky dalam ruangan tertutup nyatanya membuat Khanza menjadi malu. Rasa kesalnya saat di taman tadi menghilang, berganti dengan rasa malu dan sungkan.
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih seperti itu. Ini hanya sebuah tumpangan biasa. Maybe just kebetulan semata."
Dzaky berkata dengan santainya seperti hal ini tidak ada berarti untuknya. Padahal, Khanza sudah berada bagai di atas awan.
Perasaannya mungkin memang sudah terkubur dalam-dalam. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa nama Dzaky dan rasa itu masih tersimpan rapi didalam sudut hatinya.
Raut wajah Khanza sedikit memudar setelah mendengar perkataan Dzaky, tapi dia tetap harus terlihat baik-baik saja.
"Ini bukan masalah kebetulan semata, tapi ucapan terima kasih ada sebuah pernyataan bahwa kita menerima dan menghargai apa yang dilakukan atau diberikan orang lain pada kita," kata Khanza sambil tersenyum paksa.
Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi rasa itu seperti masih saja sama saat pertama kali bertemu dengan Dzaky. Rasanya seolah tidak berubah sama sekali.
"Ya, udah. Kalau gitu aku pulang duluan. Kamu hati-hati, ya." Dzaky menampilkan senyum termanis dengan deretan gigi-gigi putihnya.
Terlihat cool, berwibawa. Ini baru Dzaky yang Khanza kenal. Tidak seperti tadi saat di taman.
"Ya, kamu juga hati-hati di jalan," kata Khanza.
Wanita ini tidak mau kalah dengan Dzaky. Dia ternyata juga menampilkan senyum indah untuk laki-laki yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya itu.
"Kalau, gitu aku pamit dulu." Dzaky mengundurkan diri seraya membungkukkan sedikit punggungnya untuk berpamitan pada Khanza.
Melihat tingkah Dzaky yang seperti itu. Membuat Khanza tergelak. Sejak kapan laki-laki bersikap es ini bisa jadi komedian dadakan?
Bukan merasa malu atau apa pun, tapi Dzaky terlihat semakin menggila. Setelah masuk ke dalam mobil, dia membuka sedikit jendela kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Khanza.
Astagaaa!!!! Ya Allah, tolong lah hambamu ini. Jantungku rasanya ingin copot karena kedipan mata laki-laki itu.
Batin Khanza histeris tat kalah mendapatkan perlakuan manis dari seorang yang amat dia suka di masa lalu.
Sampai mobil sedan hitam itu menghilang dari pandangannya barulah, Khanza masuk ke dalam toko kue itu.
Annisa yang sejak tadi sudah menunggu dan memperhatikan. Berdiri tegak menyambut kedatangan Khanza. Dia sudah seperti seorang ibu yang siap mengintrogasi anak perempuannya.
Khanza yang mendapati perlakuan itu dari Annisa berpura-pura tidak perduli. Demi apa pun yang ada di dunia ini, Khanza sedang tidak ingin membahas masalah yang barusan terjadi.
Dia hanya ingin menikmati dan mengulang-ulang kejadian yang beberapa detik lalu terjadi pada dirinya. Sungguh sebuah moment yang tidak bisa Khanza lupakan.
"Sepertinya ada yang tidak beres," kata Annisa menatap Khanza menyelidik.
Padahal yang ditatap merasa tidak perduli dan tidak mau tahu. Khanza malah pergi menuju dapur, meninggalkan Annisa dengan seribu pertanyaan yang memenuhi kepalanya.