Annisa bergegas mengikuti Khanza menuju dapur. Sebelumnya dia sudah menutup kasir terlebih dahulu. Mengingat bahwa sebentar lagi toko kue mereka akan segera tutup.
"Are you okay?" tanya Annisa saat mendapati Khanza yang sedang mempersiapkan adonan.
"Ya," jawab Khanza singkat.
Jawaban Khanza membuat Annisa mengerutkan keningnya. Wanita yang masih mengenakan seragam kerja itu semakin penasaran.
"Apa dia adalah laki-laki itu?" tanya Annisa penasaran.
"Apa kamu berfikir seperti itu?" Khanza balik bertanya, sebab dia bingung mau jawab apa. Lagi pula, Khanza sedang tak ingin membahasnya bukan?
"Annisa pikir begitu," jawab Annisa dengan penuh percaya diri.
Bagaimana dia tidak begitu percaya diri kalau Annisa paham betul tentang siapa Khanza. Bertahun-tahun mereka berteman, segala aib yang ditutup rapat-rapat juga pernah mereka bagi.
Sejak mereka kenal sampai detik ini. Baru kali ini, Annisa melihat sisi lain dalam diri Khanza. Sebuah sisi yang menggambarkan bahwa seorang wanita memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya.
"Pikiranmu benar," jawab Khanza dengan penuh senyuman.
Mendengar jawaban Khanza membuat Annisa membulatkan matanya dengan sempurna. "Sumpah? Demi apa?" tanya Annisa mendesak.
"Apaan sih, Annisa? Gak ada tuh sumpah-sumpah segala! Pikiran kamu memang benar," ucap Khanza sambil menggelengkan kepalanya.
"Annisa, Speechless." Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ya sudah kalau begitu. Mbak juga sedang tidak ingin berbagi cerita atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lain kali saja kita bahas soal ini ... yang terpenting pikiranmu benar." Sekali lagi, Khanza menampilkan senyum tulusnya pada Annisa.
Khanza memang tidak ingin untuk membahas hal ini. Namun, keingintahuan Annisa yang terlalu besar membuat dirinya tak tega untuk memendam lebih lama lagi.
Meski tetap saja, Khanza masih memberikan batasan dan tidak mengatakan hal terlalu jauh tetang apa yang terjadi dan bagaimana perasaannya saat ini.
"Baiklah, Annisa tidak akan menuntut keingintahuan lebih tentang ini, tapi ... Annisa harap secepatnya Mbak Khanza harus berbagi cerita bersama Annisa."
Annisa memicingkan matanya, menatap Khanza seolah-olah memberi ancaman agar wanita yang sudah dia anggap kakak sendiri itu segera memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya.
"Kenapa hari ini kamu terlihat begitu menyebalkan?" tanya Khanza mengerutkan keningnya.
Selama mereka berteman baru hari ini, Annisa terlihat begitu ingin tahu tentang Khanza. Biasanya Khanza lah yang selalu berbagi cerita dan Annisa hanya menyimak serta bertanya tentang satu atau dua hal yang mengganjal menurutnya.
"Bukan begitu ... hanya saja, Annisa senang mendapati perubahan pada Mbak Khanza. Lima tahun kita berteman, baru kali ini Annisa melihat raut bahagia yang tulus dari hati karena seorang laki-laki."
Annisa berkata apa adanya. Sebenarnya mereka berdua adalah dua orang wanita yang sama-sama terluka dan sulit untuk membuka hati.
Namun, hari ini Annisa bisa melihat jelas bahwa Khanza seperti memiliki ketertarikan pada laki-laki yang baru ditemuinya tadi. Laki-laki itu pun terlihat begitu.
Hingga membuat Annisa berfikir bahwa laki-laki tersebut adalah orang dari masa lalu Khanza yang sampai saat ini memiliki tempat tersendiri dihatinya.
"Apa tingkahku terlalu begitu kelihatan?" tanya Khanza.
Padahal sejak tadi dirinya sudah berusaha untuk bersikap bahkan mengatur napas sedemikian rupa agar bisa terlihat biasa saja.
Namun, kenyataannya ucapan Annisa barusan membuat Khanza sadar bahwa dirinya masih tetap menjadi wanita bodoh saat berdekatan dengan Dzaky.
Annisa menjawab dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Diperhatikannya Khanza yang pipinya mulai merah merona.
"Mbak kenapa harus malu? Bukankah rasa suka itu datangnya dari Allah? Apa yang terjadi hari ini juga adalah kehendak Allah," terang Annisa.