Done

1998 Words
2015 Kos Arina Sore ini Arina menyelesaikan jadwal kelasnya pukul 17.15, ia berencana pulang ke kampung halamannya karena besok ia libur selama tiga hari. Ia mencoba menghubungi kekasihnya untuk memberi kabar baik ini, setidaknya kekasihnya tahu kalau ia libur selama tiga hari jadi mereka LDR untuk sementara waktu. Ponsel dengan case gambar sebuah bunga mawar diraihnya dengan penuh semangat. "Halo sayang" "Halo assalamualaikum sayang" "Waalaikumsalam sayang, tumben jam segini telfon? Kenapa hem?" "Aku mau pulang nanti habis magrib, kita LDR 3 hari sayang" "Lho kenapa nggak bilang sayang? Aku tadi sore baru sampe rumah. Besok fajar aku balik ke Semarang lagi, ada urusan mendesak jadi tadi buru-buru pulang, maaf ya tadi belum sempat ngabarin kamu" "Kok nggak bilang kalau pulang? Bisa-bisanya lupa ngabarin!" "Maaf banget sayang, tadi mau telfon terus diajak temenku main billyard, malah ketinggalan hapeku, ini baru aku ambil yang" "Hm" "Jangan marah ya sayang, aku jemput nanti diterminal ya yang. Kita makan malam bareng ya" "Aku bareng bang Geo" "Jangan bareng Geo yang, kamu naik bus aja ya biar aman. Nanti aku jemput di terminal. Naik bus aja ya biar nggak capek" "Kalau nggak boleh bareng bang Geo ya aku motoran sendiri aja" "Naik bus aja sayang jangan naik motor sendiri, kali ini nurut ya sama aku. Please" "Aku naik motor sendiri aja, jemput di halte aja nanti ya. Aku siap-siap ini. Daaah" "Yang please nu-" Tuuutt Arina memutus panggilan sepihak dengan cepat, ia lelah mendengar semua nada memohon dari kekasihnya. Terlalu banyak aturan untuknya sedangkan kekasihnya seolah boleh melakukan hal apapun termasuk lupa memberikan kabar padanya. Jika ia yang lupa memberi kabar, pasti kekasihnya akan memberikan nasehat sehari semalam lewat telfon dan chat beruntun. Ia lelah, sungguh. Terlihat beberapa notifikasi pesan beruntun dari Panca, panggilan dan pesan bermunculan silih berganti dimana layar ponsel Arina terlihat nama "Pacarku💕". Semua persiapan selesai, lantas Arina segera menghubungi Bang Geo untuk memberitahukan bahwa ia naik bus untuk pulang. Padahal pada kenyataannya ia naik motornya sendiri untuk pulang. Dua jam perjalanan ia tempuh dengan perasaan campur aduk antara kesal dan lelah. Tepat di halte, Arina meraih ponselnya dan menghubungi kekasihnya. Jujur ia takut sekali menyebrang lampu merah yang menuju ke arah desanya. Terlihat jam tangannya menunjukkan pukul 20.05 malam. Puluhan panggilan tidak terjawab sama sekali, ia mengetik pesan pada kekasihnya dan belum dibaca sama sekali. Setengah jam ia menunggu dengan perasaan takut dan sedih. Perlahan matanya melihat ke arah deretan pesan di kotak masuknya. Terdapat pesan dari seseorang yang menjabat sebagai sahabatnya, seseorang yang selalu ada dan selalu membantunya dalam hal apapun ketika ia butuh bantuan. Tara Wijaya Udah tidur bo? Aku lagi megang gitar nih mau lagu apa? Bisa jemput aku? (Read) Sebelum Arina menarik nafasnya, ponselnya bergetar dengan keras. Tara Wijaya calling📞 "Hallo" "Hallo bo! Ini maksudnya aku jemput ke Semarang? Sekarang?" "Bukan lah, jemput aku di halte biasa bisa? Aku udah sampai halte ini" "Kenapa baru bilang sih! Tunggu aku langsung kesana, jangan kemana-mana tetap disitu" Tuuttt Belum sempat Arina berucap terimakasih dan hati-hati dijalan, Tara sudah mematikan panggilannya. Sungguh melegakan rasanya ada seseorang yang bisa menjemputnya. Rasa takut ini sungguh mengusiknya, ia ingin memberanikan pulang melewati tempat yang ia takuti, tapi apa mau dikata? Ia tidak bisa memaksakan diri, ia tidak ingin keras pada dirinya sendiri kali ini. Kurang lebih 10 menit, seseorang yang tadi baru saja memutuskan panggilannya sudah berada dihadapannya. Sinting! Orang gila mana yang menaiki motor dalam kurun waktu 10 menit untuk perjalanan hampir 20 km. Sungguh sinting sahabatnya satu ini! "Lama nunggunya? Kamu udah makan?" Dengan tatapan kesal Arina turun dari motornya dan memukul helm sahabatnya si Tara Wijaya pembalap abal-abal yang sama sekali tidak sayang nyawanya. "Masih sempet-sempetnya mikir makan! Kamu tadi naik motor pasti kayak orang kesurupan kan?" "Hehe, aku khawatir kamu kelamaan nunggu. Bahaya ini udah malem, ya biarpun dulu pernah sih jemput kamu jam 11 malem lebih, tapi tetep aja jam segini bahaya. Dah yuk makan malem dulu" Tanpa permisi Tara meraih pergelangan tangan Arina untuk menuju motornya dan membiarkan Arina memimpin jalan menuju Warung Soto Kemiri favorit mereka yang terletak didekat halte. Makan malam pun usai, Arina dan Tara melanjutkan perjalanan untuk pulang, sesekali Tara mengendarai motornya tepat disebelah Arina dimana dengan tegas Arina memarahi sahabatnya dengan teriakan hebohnya. Selama perjalanan Arina tidak sadar bahwa kekasihnya mengubunginya puluhan kali begitpun puluhan chat menumpuk dari kekasihnya. Betapa khawatirnya Panca melihat rentetan panggilan masuk tak terjawab dan pesan masuk dari kekasihnya. Tepat sampai ditikungan tempat Panca nongkrong bersama teman-temannya. Ia melihat sosok yang teramat ia kenali. Ya, gadis cantik yang menjabat sebagai kekasihnya sedang tertawa bahagia dimana terdapat pria jangkung membersamai laju motor kekasihnya dengan wajah tengilnya yang khas. Mata Panca dan Tara bertemu. Din Tara dengan sengaja membunyikan klakson motornya. Arina? Ia sama sekali tidak menoleh bahkan ketika Tara memberitahu sebelumnya bahwa Tara melihat Panca sedang bermain billyard bersama teman-teman tongkrongannya. "b******k!" Panca melempar kasar ponselnya ke meja billyard dengan penuh emosi. Ia akui, ia sangat bodoh. Keasyikan bermain billyard bersama teman-temannya ia sampai melupakan ponselnya yang sedari tadi berisi penuh chat dan telfon dari kekasihnya. Ia sungguh tidak berguna, melihat kekasihnya tertawa bersama pria lain dan melewatinya begitu saja membuat darahnya terasa mendidih. Disisi lain, sesaat setelah kejadian Arina melewati Panca dengan raut wajah tidak peduli. Arina dan Tara sampai dihalaman rumah Arina. "Bisa-bisanya dia malah asyik main billyard sementara pacarnya nunggu dihalte sendirian. Nggak mau dituker tambah pacar kayak begitu?" "Tuker tambah sama kamu? Rugi banyak dong aku, kamu banyak minusnya, label playboy nya mendarah daging" "Sembarangan! Janji deh kalau sama kamu aku tobat. Eh tapi kalau inget sih tobatnya. Hahaha" "Garing banget! Gak lucu Tara. By the way, makasih ya udah jemput aku. Besok aku yang traktir, tadi malah kamu yang bayarin, males banget. Aku yang butuh bantuan kamu yang nraktir" "Sama-sama bo, nraktir mie ayam? Skip! Boleh nggak request ke cafe gitu sekali-kali? Besok jam 3 aku jemput!" "Enak aja asal jemput, kan aku yang ngajak ya aku yang nentuin lah" "Pelit amat sih! Cuma ke cafe aja paling aku pesennya kentang goreng sama milkshake strawberry satu, kalau nggak setengahan aja milkshakenya biar hemat toh kita sama-sama suka milhshake strawberry" "Bukan masalah cafenya, tapi besok sore aku mau pergi sama temenku buat beli makeup. Pas aku free aku kabarin ya, sana pulang!" "Oohh tidak bisa! Harus ada waktunya dong! Nggak mau aku kalau di PHP terus, besok habis kamu beli makeup gimana?" "Iya deh iya. Besok habis aku beli makeup kita nongkrong di cafe beli milkshake, puas?" "Puas banget dong! Yaudah aku pamit pulang dulu ya. Met bobok bo, moga mimpi buruk biar kamu minta aku nyanyiin lagu pengantar tidur" "Iya pengamen andalanku" "Sembarangan!" "Dah sana pulang! Berisik banget dirumah orang" "Eh nggak tau diri nih anak kecil satu, minta bantuan malah yang bantuin diusir" "Nggak usah lebay, sana pulang" Arina mendorong Tara untuk menuju motornya dan berharap Tara segera meninggalkan halaman rumahnya. Setelah berpamitan dengan penuh pertikaian dan penuh ejekan akhirnya Tara mengalah dan pulang ke rumahnya. Sebelum Arina berhasil mendorong pintu rumahnya terdengar suara deru motor yang sangat ia kenali. Menarik nafasnya pelan lantas Arina memutuskan untuk menolehkan kepalanya. Seseorang turun dari motornya dan berjalan perlahan menuju tempat Arina berdiri. Seseorang itu ialah Panca. Ya Panca Nugraha kekasih Arina. "Maaf sayang, tadi aku nggak lihat hapeku sama sekali. Aku lupa waktu karena lagi main sama temen-temenku. Maaf ya sayang, aku bodoh banget, aku malah biarin kamu nunggu selama itu. Maafin aku ya" Panca meraih pergelangan tangan Arina dengan lembut. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat menyesal dan penuh akan sirat kekhawatiran. "Sepenting apa aku buat kamu?" "Kenapa kamu ngomongnya gitu? Jelas kamu penting banget, aku tadi bener-bener khilaf main sampai lupa waktu sayang, maafin aku" Dengan gerakan lambat Arina melepaskan rengkuhan tangannya dari Panca. "Aku capek, aku mau istirahat. Besok ya kita bahas lagi" "Kamu udah dari tadi lewat depan tempat aku nongkrong sama anak-anak, kenapa ini masih diluar? Tadi ngobrol lama dong sama si Tara Tara itu!" Terdengar nada kurang menyenangkan dari Panca. Ya Arina tahu saat ini kekasihnya sedang cemburu. Tapi bukankah ini bukan hal yang tepat untuk membahas tentang rasa cemburunya yang tidak mendasar sama sekali. Panca yang mengabaikannya kenapa sekarang keadaan berbalik seperti Arina yang melakukan sebuah kesalahan? "Aku capek, please" "Kamu seneng dijemput sama Tara? Sampai asyik banget ngobrol didepan rumah selama 15 menit" "Yakin kita mau berantem bahas ini didepan rumah aku jam 10 malem lebih kayak gini?" "Aku nggak ngajak kamu berantem sayang, aku cuma nggak suka kamu sebahagia itu sama dia" "Gila kamu! Bisa-bisanya mikir hal remeh kayak gini, padahal disini yang salah itu kamu. Nggak usah menyeret orang lain dalam pembahasan kita" "Tapi kamu sama orang lain malam ini!" Tanpa sadar Panca sedikit meninggikan suaranya karena rasa cemburu yang begitu menyesakkan hatinya. "Oke. Aku yang salah ngabarin kamu jauh sebelum aku sampai dilokasi. Aku nunggu setengah jam buat dapet balesan dari kamu. Tiba-tiba Tara chat aku random seperti biasa, aku minta bantuan dia karena dia yang masih terjaga jam segini kan? Salah aku minta bantuan sahabatku disaat pacarku aja nggak balas ataupun respon panggilanku?" "Bisa kan kamu nunggu aku sedikit lagi? Toh aku udah buka pesanmu. Bukan malah minta bantuan pria lain, kamu nggak menghargai aku disini" "Nggak masuk akal" "Apa yang nggak masuk akal?" "Kamu" "Aku tau aku salah, tapi seharusnya kamu nggak minta bantuan pria lain disini" "Aku capek" "Aku juga capek harus liat kamu bareng sama banyak teman pria kamu, sampai aku bingung mana yang lawanku, mana yang bisa aku percaya, dan mana yang harus aku waspadai, aku se-enggak tenang itu setiap hari" "Kamu capek? Aku juga capek. Istirahat yuk" "Yaudah kamu istirahat ya, besok kita lanjut pembicaraan ini. Aku minta maaf ya buat malem ini, aku salah karena slowrespon atas kamu. Tolong maafin aku ya sayang" "Bukan aku yang istirahat. Tapi kita" "Iya kita istirahat, sampai ketemu besok ya, maafin aku sayang" Panca hendak memeluk Arina, namun Arina memundurkan dirinya melangkah menjauh. Hal itu membuat raut wajah Panca begitu terkejut dan bingung dalam satu waktu. "Aku mau kita istirahat. Maksud aku, hubungan kita istirahat. Aku capek kayak gini. Kita putus ya" Bagai ditikam seribu pisau dan dihujani ratusan anak panah, jantung Panca serasa diremas kuat hingga terasa nyeri luar biasa. "Ssstt.. jangan ngomong gitu sayang. Aku tau kamu lagi emosi dan capek malam ini. Istirahat ya, besok kita lanjut lagi ngobrolnya. Kamu masuk dulu, baru pulang. Sekali lagi maafin aku ya sayang" Arina menghela nafasnya pelan. "Panca Nugraha udah ya, jangan maksain diri. Aku tau kamu capek ngadepin aku dan kamu capek sama hubungan ini. Berhenti disini, please" "Aku anggap aku nggak denger apa-apa malam ini, aku pulang dulu ya. Love you sayang" Tanpa aba-aba Panca mengecup singkat kening kekasihnya. Ya, kekasihnya. Arina akan selalu jadi kekasihnya. Arina hanya sedang lelah, ia harus lebih bersabar menunggu Arina sembuh dari rasa lelahnya. Saat langkah kaki Panca menjauh perlahan menuju motornya, suara Arina membuat langkah kakinya terhenti. "Mau sampai kapan kamu menyiksa diri kamu? Jangan terlalu keras sama diri kamu. Semakin kesini kita sama sekali nggak cocok kan. Malam ini cuma sebagian kecil dari pertengkaran-pertengkaran berikutnya buat kedepannya" Panca tersenyum dan berbalik menghadap Arina, ia memasang senyum lembut dan tatapan teduhnya. "Kamu nggak berhak bilang kita nggak cocok, karena sedari awal aku tau kalau Tuhan itu mempertemukan kita untuk saling mengisi dan melengkapi. Satu setengah tahun kita bersama sayang. Nggak ada pasangan yang tiba-tiba sempurna, mereka belajar saling melengkapi, saling menghargai satu sama lain dan itu yang selalu kita lakukan selama ini" "Tuhan siapa yang kamu maksud? Tuhan kamu atau Tuhan aku? Bahkan Tuhan kita beda kalau kamu lupa, apa kamu nggak capek kita menjalani sesuatu yang sia-sia pada akhirnya?" "Selagi sama kamu dan selalu kamu, nggak ada yang sia-sia buat aku. Sekarang masuk, istirahat ya sayang. Besok pagi aku kesini. Kita sarapan bareng. Aku udah tukeran shift sama temenku, jadi aku sepenuhnya milik kamu besok. See you soon" Masih dengan wajah yang menunjukkan senyumnya, Panca menaiki motornya dan melaju pulang. Arina melangkah masuk dan menuju kamarnya. Badannya meluruh dibalik pintu kamarnya. Sungguh malam ini begitu melelahkan untuknya. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD