Selisih

1457 Words
Sebuah hubungan tidaklah selalu berjalan mulus, pasti akan ada masanya pertikaian itu ada. Entah diawal, ditengah jalan ataupun diakhir cerita. Kembali pada pemilik rasa, dua hati yang saling bertaut berusaha mempertahankan tautan itu atau melepaskannya untuk memberi makan ego mereka yang sedang kelaparan akan rasa mendominasi dalam sebuah hubungan. Terlihat diteras Indoapril sekarang, sepasang kekasih sedang terlibat pertikaian yang sedikit lebih panas. Dimana tidak ada salah satu diantara mereka yang mengalah, sang pria dengan dominasinya dan sang perempuan yang berusaha untuk memperjelas batasan-batasan yang tak seharusnya pria itu sentuh didalam hidupnya, terutama lingkup pertemanan sang wanita yang kerap kali dibawa kepermukaan oleh sang pria. "Aku udah pernah bilang ratusan kali, aku nggak ada apa-apa sama Bang Geo!" Panca menghela nafasnya pelan, ia meraih jemari kekasihnya dengan lembut. "Iya aku percaya sama kamu. Tapi aku nggak percaya sama Geo. Aku tau dari cara dia natap kamu. Dia suka sama kamu sayang. Aku nggak nyaman kalau kamu sering bareng dia" Sesaat Arina menatap Panca dengan tatapan nyalang. "Kamu berlebihan, nggak perlu kamu cemburu sama Bang Geo. Sampai detik ini pun nggak pernah ada hal romantis apapun diantara aku sama dia" "Belum. Karena seorang pria yang jatuh cinta akan melakukan segala usaha untuk mendapatkan perhatian atau bahkan berharap perasaannya dibalas" Apa-apaan ini, sungguh Arina tidak habis pikir dengan pemikiran kekasihnya. Cemburu dengan seseorang yang bahkan sudah Arina anggap seperti kakak kandungnya sendiri. "Kamu jemput aku jauh-jauh, buat berdebat soal hal remeh kayak gini?" Lagi-lagi Panca menghela nafasnya dengan pelan, "Arina, ini bukan hal remeh buat aku. Aku cemburu. Benar-benar cemburu kalau harus membayangkan kamu menghabiskan waktu kamu sama pria lain bukan sama aku. Tidak terkecuali juga dengan Mas Bagas" "Gila kamu! Jauh sebelum aku kenal kamu udah ada Mas Bagas dihidup aku, Mas Bagas selama ini selalu jagain aku, dia selalu nyempetin waktunya buat nemenin aku dan bantuin aku selama ini. Aku juga harus menjauh dari Mas Bagas? Aku nggak habis pikir sama kamu!" "Sayang dengerin aku, aku nggak minta kamu buat nggak komunikasi ataupun berhubungan sama mas Bagas dan Geo, aku cuma mau kamu menjaga jarak sedikit. Sekarang kamu punya aku, kamu bisa minta apapun ke aku, kamu bisa minta aku buat nemenin kamu. Apapun itu, aku usahakan buat selalu ada buat kamu" Perlahan Arina menggenggam jemari kekar Panca. "Kamu percaya kan sama aku?" "Ini bukan tentang kamu sayang, aku selalu percaya sama kamu. Tapi aku nggak percaya sama Geo. Untuk saat ini, aku masih percaya sama mas Bagas. Kamu ngerti kan maksud aku?" Dengan sedikit berat Arina menganggukkan kepalanya. Melihat itu Panca tersenyum lembut dengan jemari yang saling bertaut. "Kita makan dulu ya, maaf ya kalau aku terkesan membatasi kamu, aku mau kita saling terbuka sayang. Maafin aku ya" Senyum manis yang sedikit dipaksakan terbit diwajah Arina, "gapapa, aku ngerti. Wajar kamu cemburu, tapi please jangan pernah minta aku buat jauhin Mas Bagas ya. It's okay. Ayo cari makan dulu" Perlahan Panca mendekat merengkuh jemari mungil kekasihnya. Sungguh ia tidak ingin bertengkar ataupun berdepat tentang hal apapun, ia hanya ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan, ia sungguh cemburu dan merasa tidak nyaman membayangkan kekasihnya harus menghabiskan waktu dengan pria lain saat ia bekerja. Mereka berdua beranjak dari kursi teras Indoapril. Sungguh semesta punya cara untuk meredam sebuah pertengkaran, pertikaian kecil itu bukanlah apa-apa bagi mereka yang saling mencintai dan mengisi satu sama lain. Semoga diantara banyaknya pertikaian yang terjadi, mereka berdua selalu mengingat setiap momen indah saat bersama. Mengingat perjuangan mereka hingga bisa saling melengkapi satu sama lain diantara jutaan kekurangan masing-masing. Setibanya dikos Panca, Arina menunggu diruang tamu untuk menonton TV sembari menunggu Panca bersiap-siap. "Eh mbak Arina, lama nggak kelihatan nih" Terdengar suara cempreng pria bertubuh kurus dengan wajah baby face nya, ia adalah teman satu kamar Panca. Sebut saja namanya Muhammad Raffi. "Hai Raf, iya nih banyak tugas jadinya jarang bareng Panca akhir-akhir ini. Kamu apa kabar?" Raffi nyengir dan duduk disebelah Arina dan mengambil alih toples keripik pisang yang semula Arina makan sedari tadi. "Bagi dikit mbak, alhamdulillah sehat mbak. Mbak Arina sehat?" "Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, aku sehat sentosa" Terdengar tawa renyah dari Raffi, mereka berdua mengobrol cukup seru membahas beberapa Drakor yang sedang booming. Jangan kaget ya kalau Raffi ini pecinta Drakor. Dilihat dari style nya sudah terlihat ia pecinta Drakor sekali dimana outfitnya tidak jauh dari outfit Oppa-Oppa Korea tapi versi Pasar Johar. "Ekhem" Keduanya menoleh ke sumber suara. Terlihat wajah Panca yang kurang bersahabat melihat ke arah Raffi. "Eh mas Panca, aku baru pulang kerja terus ini cuma say hello ke mbak Arina, seriusan cuma ngobrol biasa aja. Mbak Arina aku mandi dulu ya, selamat malam mingguan sama pacar tercinta" Dengan langkah cepat Raffi berlari masuk ke kamarnya untuk bersiap mandi. Sungguh wajah Panca tidak bersahabat sama sekali. Padahal Raffi hanya bersikap ramah, tidak menggoda apalagi confess ke Arina. Tapi tatapannya seolah berkata "enyahlah kau dari muka bumi!" "Dah siap? Yuk berangkat" Jemari Arina meraih pergelangan tangan Panca, saat hendak berjalan Panca menarik Arina untuk berbalik menghadapnya dan ia mendekap Arina dengan erat. "Gini dulu ya, dari tadi aku pengen peluk kamu. Aku tahan soalnya aku seharian belum mandi, takut kamu nggak nyaman" Kedua tangan Arina memeluk pinggang Panca tidak kalah erat. "Kamu nggak mandi seminggu juga tetep wangi kok, tetep ganteng. Kalau nggak ganteng nggak wangi mana mau aku sama kamu" Tawa lepas Panca terdengar begitu bahagia. "Bisaan kamu ya" Panca meraih wajah kekasihnya dan ia mengecup lama kening Arina dengan lembut. Ia tatap kedua mata indah kekasihnya. Mata indah Arina adalah favoritnya, terlalu indah untuk ia lewatkan. "Kita udah satu tahun setengah tapi kamu selalu cium kening aku, nggak mau cium yang lain?" Tanpa aba-aba Panca sedikit merasa terkena serangan jantung mendengar pertanyaan Arina. Kenapa gadis kecilnya sekarang berani menggodanya seperti ini? Yang mengherankan Arina berkata dengan tatapan polos seolah itu adalah pertanyaan yang ringan dan tanpa beban ia ucapkan. Sudah betul ia menahan diri selama ini, siapa yang tidak ingin? Ia pria normal dengan nafsu yang membersamainya. Tapi ia cukup waras untuk tidak mengikuti hawa nafsunya. Ia menghargai Arina, sangat menghargainya. Prinsipnya, Arina akan menjadi istrinya kelak, ia harus menjaganya dengan baik. Biarlah ia dikatakan kuno atau kolot ia tidak peduli karena untuknya menghargai dan menghormati Arinanya adalah sebuah tanggungjawab yang harus ia junjung tinggi. Karena nanti setelah Arina menjadi istrinya, tidak akan lagi ada batasan yang ia tahan selama ini. Peduli setan jika ia di cap Serigala Lapar, yang jelas sekarang ia berusaha menahan diri dari segala godaan yang ada. "Aku takut kamu nggak nyaman, aku harus menahan diri supaya kamu tetap nyaman sama aku dan aku sangat menghargai kamu. Munafik kalau bilang aku nggak pengen nyium semua yang ada disini" Panca menangkup wajah Arina dengan lembut. Hati Arina menghangat mendengar penuturan kekasihnya. Sungguh gentleman sekali kekasihnya ini, berbeda sekali dari mantan-mantannya yang langsung sosor hingga Arina menampar dengan keras karena merasa tidak dihargai. Langka sekali pria seperti Panca. Terlihat badboys tapi menjaga marwah seorang perempuan. Bagaimana Arina tidak jatuh cinta berkali-kali kalau dihadapkan sosok seperti Panca Nugraha. "Jangan senyum-senyum gitu, aku merinding ini, yuk saya-" Cup Sedikit berjinjit, Arina mengecup bibir kekasihnya yang masih berbicara padanya. Sial! Seluruh saraf Panca serasa tidak berfungsi. Ia membeku, mendadak lidahnya kelu, satu katapun tidak dapat ia keluarkan disaat seperti ini. Keberanian darimana seorang gadis kecil seperti Arina berani-beraninya menciumnya tepat dibibirnya. Mungkin untuk Panca ini bukan ciuman pertamanya, tapi entah kenapa rasanya seperti ia berhasil menggenggam dunia dan seluruh isinya. Saat Arina hendak menjauhkan wajahnya dari wajah Panca, saat itulah Panca tersadar bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan lampu hijau dari gadis kecilnya. Boleh kan ia mencicipinya sedikit saja. Janji sedikit saja, teriakan itu dari dalam hati seorang Panca Nugraha. Dengan hati-hati Panca menahan tengkuk Arina, ia memajukan wajahnya dan ia cium bibir gadis cantiknya dengan lembut. Tidak ada kesan terburu-buru, semua begitu lembut. Ia sedikit menahan tawa dan senyumnya merasakan gerakan amatir dari gadis yang sedang bertukar saliva dengannya saat ini. Sial, gerakan amatirpun sangat berharga dan membuat jantungnya nyaris meledak. Setelah hampir dua menit tautan bibir keduanya terlepas. Arina dengan tatapan polos dan matanya yang berkedip-kedip, sedangkan Panca dengan tatapan tegasnya yang jauh didalam sana ia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menarik Arina masuk kedalam kamarnya dan ia kurung untuk dirinya sendiri. Cukup sudah! Jangan sampai kewarasan Panca menghilang. Ia usap lembut bibir basah kekasihnya, "Jangan diulangin lagi ya godain aku kayak gini, aku nggak jamin setelah ini aku bisa menahan diri lagi" Tak diduga respon Arina hanya mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis seperti biasanya. Cukup sudah, Panca tidak bisa menerima serangan seperti ini lagi. Ia ini pria normal. Catat itu! Pria normal dengan segala hasratnya. Perlahan Panca menarik Arina dalam dekapannya. Ia bersyukur ada Arina dalam hidupnya yang sepi. Arina membuatnya begitu hidup dan seakan ia akan hidup lima ribu tahun lagi. …bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD