Chapter 9 - Asal Suara Penganggu

1057 Words
“Tolong kalian bereskan paviliunku ya!” pinta Yuan Jin Xia kepada beberapa orang pelayan wanita yang berdiri di depan paviliunnya. “Baik, Nona Muda,” jawab pelayan wanita kompak. Feng Jiu duduk berpikir. “Jika aku berada di bawah sini, maka kemungkinan akan dilihat oleh orang-orang. Aku akan merubah diriku menjadi boneka saja, orang-orang tidak akan curiga.” “Mereka akan menganggap aku adalah boneka milik Nona Mudanya.” Feng Jiu keluar dari bawah kasur Jin Xia melompat hati-hati ke atas kasur mengubah dirinya menjadi boneka rubah yang imut sebelum para pelayan datang. Lima menit, kemudian rombongan pelayan wanita membereskan barang-barang yang berantakan. "Paviliun Nona Muda kenapa bisa sekacau ini?" ucap salah seorang pelayan berambut pendek dikepang dua. “Apa mungkin Nona Muda diserang?” Pelayan wanita lain menduga. “Hush! Kecilkan suaramu! Jika Nyonya Besar tahu akan hal itu maka kita akan dimarahi!” Pelayan wanita bermata hijau menepuk pelayan wanita yang berbicara tadi. “Kalian ini mana mungkin kediaman Nona Muda kita diserang. Bukankah kalian tadi juga melihat langsung Nona Muda keadaannya baik-baik saja. Kalian malah berpikiran hal yang buruk!” jawab pelayan wanita yang tingginya 152 cm ketus. ****************************************** Yuan Jin Xia dan Min berjalan-jalan di tengah pasar. Banyak pedagang yang berjualan beragam jenis benda. Mereka bersahut-sahutan menawarkan barang dagangan supaya laku. Pengunjung pasar juga ramai. Pasarnya sama seperti di Negara Xinxian, batin Yuan Jin Xia. Yuan Jin Xia dan Min melewati pedagang bunga. Pedagangnya adalah seorang anak perempuan berusia tiga belas tahun. “Jual bunga! Bunga Cantik! Belilah Nona Cantik!” ucap anak perempuan itu kepada Jin Xia. Yuan Jin Xia mendekat dan mencium aroma bunga-bunga. “Aku mau yang ini.” Gadis berzodiak gemini itu mengambil beberapa tangkai bunga berwarna biru, bunganya kecil, tapi menarik. “Nona Muda biarkan Nubi saja yang mengambilnya.” Min mengambil alih lima tangkai bunga biru dari tangan Yuan Jin Xia. “Tolong bungkuskan bunga ini untuk Nona Mudaku,” ucap Min kepada pedagang anak perempuan itu seraya menyerahkan lima tangkai bunga. “Tunggu sebentar, Nona akan Yi Ling siapkan.” Anak perempuan 13 tahun yang bernama Luo Yi Ling membungkus bunga. Aku jadi ingat pekerjaanku sebagai perangkai bunga di duniaku, batin Yuan Jin Xia melamun. Ya, ampun, aku sudah beberapa hari tidak masuk kerja. Sepertinya Bibi Bai Ping Ting sudah memberhentikan aku, batin Jin Xia. Dia menepuk pelan dahinya. “Nona Muda, bunganya sudah selesai dirangkai,” ujar Min membuyarkan lamunan Jin Xia. “Baiklah, kita akan ke toko membeli kasur untuk Feng Jiu,” sahut Yuan Jin Xia. Min mengetahui jika nona mudanya memelihara seekor rubah. Min awalnya kaget karena selama ini Nona Muda tidak pernah memelihara seekor hewan dan dia juga takut pada rubah. Dan entahlah mengapa sekarang dia memelihara seekor rubah? Yang lebih mengejutkan lagi membiarkan rubah putih itu tidur di Paviliun Stroberinya. Nona Muda sudah banyak berubah, batin Min. Satu buah kasur kecil empuk sudah didapatkan. Kasurnya berwarna merah muda. Bahannya halus dan nyaman. “Nona Muda apa ada yang ingin dibeli lagi?” tanya Min melirik Yuan Jin Xia. “Aku ingin ke hutan maple melihat pemandangan di sana,” balas Nona Muda Yuan. “Baiklah, Nubi akan menemani ke hutan maple.” Satu jam kemudian Yuan Jin Xia dan Min sudah sampai di hutan maple. Deretan pohon-pohon berdaun orange kecoklatan. Daun-daun keringnya berguguran. Beberapa tiang lampu turut menghiasi. ‘‘Wah, cantik sekali!” Jin Xia mengambil daun-daun yang gugur. Jin Xia di dunianya tidak pernah jalan-jalan. Selama berhari-hari hanya menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas dari dosen dan sisanya diam di rumah. “Iya, Nona Muda.” Min turut menikmati pemandangan yang disajikan alam.Tiba-tiba sekelompok pria berandalan datang dari arah belakang, melingkari kedua gadis itu. Jin Xia memasang posisi siaga. “Gadis cantik hanya berdua di sini?” Pria berperut buncit menatap m***m Yuan Jin Xia. Yuan Jin Xia tentu tidak bodoh. “Min, kita harus pergi!” ucapnya menarik tangan Min berusaha pergi menjauhi. Xiao Zhan ketua kelompok kepiting hitam bersama anak buahnya menghalangi pergerakan Yuan Jin Xia dan Min. “Nona, bagaimana ini? Mereka menutup jalan kita untuk pergi,” ucap Min ketakutan. Tubuhnya bergetar. “Min, kita akan lawan mereka,” balas Yuan Jin Xia. “Baik, Nona. Nubi akan mencobanya.” Yuan Jin Xia dan Min mengangguk berjalan secara terpisah. “Kalian mau ke mana Gadis Cantik?” ucap pria dewasa lainnya berusaha untuk menyentuh wajah Yuan Jin Xia. Jin Xia menepis tangan pria itu kasar. “Jangan menyentuhku!” marahnya. “Jangan sentuh Nonaku!” teriak Min marah tidak rela pria-pria m***m itu menyentuh wajah cantik nonanya. “Ayolah, jangan marah begitu. Aku bersedia untuk menghangatkan kalian Gadis Cantik.” Xiao Zhan sang ketua kelompok Kepiting Hitam menatap Jin Xia m***m. “Tidak sudi!” teriak Jin Xia melengos. “Sebaiknya kita pergi saja Min, menghabiskan energi melayani mereka.” Yuan Jin Xia dan Min hendak melarikan diri lagi. “Tahan mereka!” perintah Xiao Zhan pada anak-anak buahnya yang langsung dituruti. Kecepatan lari seorang gadis tentu saja kalah dengan seorang pria dewasa. Pria berkumis tebal itu menahan tangan Jin Xia. “Lepaskan aku Labu Busuk!” teriak Jin Xia. Yuan Jin Xia menijak kaki pria yang menahannya kuat. Sehingga dia berhasil melepaskan diri. Tidak cukup sampai disitu Jinxia mengambil semprotan air yang berisi air cabai pedas ke arah mata pria yang menahannya tadi. “Ah! Mataku, mataku pedih sekali! Dasar gadis sialan!” teriak kesakitan pria berkumis tebal. Tiga orang pria lain bergerak menyerang Jin Xia. Gadis penyuka warna ping dan biru itu berusaha melawan dengan kemampuan kungfunya yang tidak seberapa. Lima orang pria dewasa dilawan Yuan Jin Xia seorang diri mana mungkin seimbang? Pertarungan ini tidaklah adil. “Jika tidak dua-duanya satu saja cukup untuk memuaskan kami.” Ketua kelompok Kepiting Hitam berhasil menangkap Min. Pelayan sejak kecil Jin Xia memberontak. “Nona Manis kita bisa bermain di atas ranjang.” Pria itu mencolek dagu Min. “Nona tolong aku!” Min berteriak minta tolong. Konsentrasi Yuan Jin Xia terpecah karena teriakan Min. “Min!” Dia berhasil dilumpuhkan oleh pria-pria nakal itu. “Lepaskan Nona Muda,” teriak Min berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku!” jerit Yuan Jin Xia memberontak. Dia dipaksa untuk mengikuti pria-pria nakal itu. Di tempat yang sama seorang laki-laki yang sedang memainkan alunan sulingnya. Matanya yang semula tertutup menikmati suara yang keluar dari benda berukuran tiga puluh centimeter menghentikan permainan sulingnya bersamaan kedua matanya yang terbuka. Lu Yi, nama laki-laki yang memainkan suling mencari asal suara yang menganggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD