Chapter 8 - Ibu Yang Pengertian

1230 Words
Jin Xia dipanggil Xin Qian ke paviliun Melon. Jinxia berjalan ke kediaman paviliun Melon diikuti Min. Setiba di depan pintu kembar kediaman paviliun Melon yang kebetulan terbuka lebar. “Masuklah Xia'er,” ucap Xin Qian karena Jin Xia masih berdiri mematung. Jin Xia berjalan masuk, memberi salam hormat pada Xin Qian. Barang-barang yang ada bernilai mahal jika dijual di pasar. Beberapa set hanfu mahal digantung. Lukisan-lukisan yang berkesan mahal. Keluarga Yuan tampaknya termasuk keluarga yang berdompet tebal, pikir Jin Xia menilai.Setelah puas memandangi sekelilinnya. Yuan Jin Xia duduk di samping Xin Qian yang dibatasi meja di tengahnya. “Xia'er hari ini, Ibu lihat kamu mulai tertarik belajar kungfu. Itu hal yang bagus, Ibu akan meminta ayahmu mendatangkan seorang guru yang cocok untukmu.” Xin Qian membuka obrolan. “Tidak usah, Bu, tidak usah Xia'er akan belajar sendiri saja. Takutnya merepotkan Ibu dan Ayah.” tolak Jin Xia menggeleng pelan. “Tidak ada penolakan. Seorang guru akan membuatmu lebih cepat menguasai kungfunya.” Xin Qian membujuk Yuan Jin Xia. “Ibu dan Ayah tidak akan merasa repot mencari seorang guru,” sambung Xin Qian.Keheningan tercipta di paviliun Melon. Jin Xia berpikir sejenak. Xin Qian menunggu jawaban putri semata wayangnya itu dengan sabar. “Baiklah, Bu. Terima kasih,” balas Jin Xia sopan. “Sudah kewajiban kami sebagai orang tua.” Xin Qian mengambil kantong uang memberikannya kepada Yuan Jin Xia. “Ini kantong uang yang Ibu bikin sendiri. Ibu harap Xia'er menyukainya.” Sebenarnya, aku kurang menyukai warna ungu tapi melihat ketulusan Ibu itu membuatnya bernilai lebih, batin Yuan Jin Xia. Yuan Jin Xia berusaha tersenyum senang. Dia tidak mungkin menunjukkan rasa kurang sukanya terhadap warna ungu. “Terima kasih. Ibu sudah susah payah untuk membuatnya,” sahut Jin Xia. “Ibu senang Xia'er menyukainya.” Xin Qian tersenyum senang. ****************************************** Cahaya Raja Siang menurun karena sudah menunjukkan waktu sore. Embusan angin menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan di taman belakang Paviliun Stroberi, kediaman Yuan Jin Xia. “Bagaimana apa kamu suka?” tanya Jin Xia pada Feng Jiu si rubah putih yang memakan wortel rebus buatan prmiliknya di dalam mangkuk putih. “Sedikit. Aku ingin mengajukan satu pertanyaan padamu Jin Xia?” ujar Feng Jiu, bola mata hitamnya menatap Jinxia. Gadis berusia delapan belas tahun itu mengangguk. "Boleh, katakan saja." Mendapat respon baik, Feng Jiu melanjutkan perkataannya. “Apakah kamu menganggapku seperti seekor kelinci?” tanya Feng Jiu penasaran sekaligus ingin tahu. Jin Xia mencoba mencerna ucapan Feng Jiu, menggeleng. “Tentu saja, tidak.” “Lalu mengapa memberiku sayur rebus tanpa tambahan makanan yang lain?” tanya Feng Jiu merajuk. “Hahaha, aku mengerti kamu ingin makan daging?” Goda Jin Xia menarik gemas pipi Feng Jiu yang sangat lembut dan kenyal seperti jelly kesukaan Jin Xia. “Nah itu kamu tahu kenapa hanya memberiku sayur?” tanya Feng Jiu manja. Rasanya Yuan Jin Xia gemas pada hewan berbulu putih itu. “Feng Jiu, mau tahu alasannya?” Sang rubah putih berukuran empat puluh lima centimeter itu spontan mengangguk. “Itu karena aku tidak bisa memasak yang lain.” aku Jin Xia jujur dihadiahi cekikikan Feng Jiu yang menjengkelkan. “Hei! Kenapa tertawa? Itu tidak lucu!” protes Jin Xia kesal, menarik pipi Feng Jiu kuat sampai rubah putih itu mengadu kesakitan. “Oh, pipiku yang malang,” seru Feng Jiu dramatis. “Oke, oke, maafkan aku. Tolong, jangan tarik pipiku yang lembut,” ucap rubah putih. Yuan Jinxia melepaskan cubitan di pipi Fengjiu. Dia teringat sesuatu. “Feng Jiu, aku akan membeli tempat tidur untukmu. Kau mau tempat tidur yang bagaimana?” tanya Jin Xia. Feng Jiu berpikir sejenak. "Tempat tidur yang empuk selembut sembilan ekorku." Rubah menggerakkan sembilan ekornya manja. “Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu. Ekormu banyak sekali boleh aku memotongnya satu?” tanya gadis penyuka es krim stroberi itu jahil. Ekspresi Feng Jiu berubah takut membayangkan salah satu ekornya benar-benar dipotong. "Lumayan untuk aku jadikan gantungan kunci," tambah Yuan Jin Xia menatap horror. “Jangan! Ekorku jangan dipotong Jin Xia!” seru Feng Jiu takut berlari menjauhi Yuan Jin Xia yang mengejarnya sambil membawa gunting. Jadilah di Paviliun Stroberi tersebut aksi kejar-kejaran antara Yuan Jin Xia dan Feng Jiu, si rubah putih. “Hey! Jangan lari! Feng Jiu!” teriak Jin Xia masih terus mengejar. Aksi lari-larian di Paviliun Stroberi berlanjut setengah jam lamanya. Akibat ulah mereka berdua, Yuan Jin Xia dan Feng Jiu, beberapa barang-barang di sekitar jatuh. Untung saja bukan barang-barang berbahan kaca ataupun beling. Jika tidak akan menimbulkan masalah baru seperti tertusuk pecahan beling. Yuan Jin Xia merasa bahagia begitu juga dengan Feng Jiu si rubah putih. Sudah lama sekali tidak bermain kejar-kejaran seperti saat ini. Rasanya sangat menyenangkan. Feng Jiu merasa kelelahan hewan berbulu putih lembut itu duduk di atas meja. “Aku capek sekali! Sekaligus senang!” ujar Feng Jiu. Yuan Jin Xia menarik kursi duduk di dekat meja. Gadis berusia delapan belas tahun itu mengangguk setuju. “Aku juga merasa bahagia seolah-olah aku melepaskan beban di pundakku. Aku juga merasa seperti aku kecil dulu,” sahut Jin Xia tersenyum lebar. “Rubah sepertiku dulu sering sekali lari-larian mengejar rubah yang lain.” Kenang Feng Jiu. “Oh, ya Feng Jiu aku ingin tahu kenapa kamu bisa muncul di taman saat malam itu?” tanya Yuan Jin Xia penasaran. “Akan aku ceritakan di hutan bagian utara tempat kami para rubah tinggal diserang dan ditangkap oleh para pemburu. Sebagian besar temanku tertangkap oleh mereka.” Feng Jiu memberi jeda sebelum melanjutkan. Yuan Jin Xia mendengarkan dengan baik. “Ketika diserang pemburu kebetulan saat itu aku dan beberapa temanku sedang berada jauh dari hutan bagian utara yang diserang.” “Feng Jiu kenapa para pemburu itu menyerang kalian?” tanya Yuan Jin Xia. “Mereka ingin mengambil bulu-bulu kami untuk dibuat mantel,” jawab Feng Jiu. “Para pemburu hanya mengambil bulu-bulu kalian saja? Atau ada hal yang lain juga?” ujar gadis berambut hitam sepinggang itu. Feng Jiu menggeleng. “Tidak, jika hanya mengambil sebagian bulu-bulu rubah itu tidak masalah, tapi mereka melakukan hal yang lebih parah.” Gadis yang tingginya 165 cm itu mengernyitkan dahi bingung. “Hal yang lebih parah maksudmu?” “Jin Xia, mereka juga membunuh para rubah.” Jin Xia menutup mulutnya kaget. “Membunuh?” beonya. “Iya, membunuh.” “Kejam sekali mereka,” geram Jin Xia mengepalkan tangan. “Waktu itu kami sedang bermain di hutan bagian selatan. Jiu Er terbang melewati hutan bagian utara dia melihat ada kelompok pemburu liar yang menyerang dan menangkap para rubah. Jiu Er lantas memberi tahu kami sehingga kami melarikan diri.” “Rupanya rombongan pemburu itu menyebar, mereka melihat kami. Para pemburu itu mengejar kami. Kami berlari berpencar dan aku berhasil masuk ke kediaman kalian.” “Untungnya para pemburu tidak mengetahui keberadaanku. Aku tidak mengetahui bagaimana keadaan rubah-rubah lainnya apa mereka selamat atau tidak?” Beberapa tetes air mata keluar dari sudut mata rubah putih. Kedua telinganya merosot lemah. Sorot matanya redup. Yuan Jin Xia mengusap kepala Fengjiu. “Jangan menangis Feng Jiu! Kita akan menemukan teman-temanmu yang lain!” “Sungguh?” Sorot mata sendunya menatap Jin Xia yang balas menatap menyalurkan rasa semangat. “Iya, kita akan berusaha menemukan mereka,” balas Jin Xia mantap. “Jadi jangan menangis lagi, ya?” Jin Xia tersenyum manis. Feng Jiu mengangguk semangat. “Iya, aku yakin kita akan menemukan mereka cepat atau lambat.” Nona Muda pertama keluarga Yuan menepuk dahinya pelan. “Ah, Aku sampai lupa ada barang yang ingin aku beli.” “Feng Jiu, kamu bersembunyi di bawah kasur ya. Takutnya ada yang akan mencelakaimu.” “Baik!” Feng Jiu berlari ke bawah kasur tempat Nona Muda pertama tidur. Yuan Jin Xia keluar dari Paviliun Stroberi bersama pelayannya, Min. ******************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD