Di kamarnya pipi Lin Jin Xia bersemu merah mengingat perlakuan romantis Xie Xiao sore tadi. Gadis itu tersenyum sendiri.
“Dia manis sekali!” serunya pelan.
Xie Xiao juga menghadiahkan satu kotak pancake blueberry kepadanya.
Jin Xia memotong pancake blueberry memakannya. Lagi-lagi ingatan bersama Xie Xiao membuatnya tersenyum.
Smartphone-nya berbunyi. Ada satu pesan whatsupp dari Naka.
Berasa jadi capung yang melayang terbang di antara dua bunga mekar
Lin Jin Xia tersenyum geli, mengerti apa yang dimaksud Naka. Dia membalas pesan sahabatnya.
Tidak kok, Naka. Mungkin saja Xie Xiao bersikap manis karena hadiah kemenangan kampus kita hari ini.
Beberapa detik Haruka Nakagawa membalas pesan. Di rumahnya Naka sedang mencatat materi Pak Shou Shan. Sudah cukup dia dihukum beberapa hari yang lalu dan melibatkan Jin Xia.
Hahaha, tidak apa-apa kok jika menang dia suka padamu. Oh, ya bagaimana pancake blueberrynya? Enak tidak? Pancake blueberry adalah makanan kesukaan dia lho.
Jin Xia membalas pesan Naka.
Xie Xiao adalah teman kita, tidak mungkin dia menyukaiku. Jangan terlalu berlebihan, Naka.
Bukankah itu hal yang biasa ya? Mengapa aku jadi begitu antusias? batin Jin Xia berpikir. Dia mengetuk pelan kepalanya.
Baterai smartphone Lin Jin Xia tersisa sepuluh persen, mengambil charger mengecasnya.
“Jangan berpikiran terlalu jauh, Jin Xia. Ingat dia adalah temanmu,’’ ucap Jin Xia memperingati diri sendiri.
“Aku tidak berpikiran terlalu jauh sebenarnya. Aku hanya merasa senang saja, bukan rasa suka,” ujar Jin Xia.
Tanpa menunggu balasan chat dari Haruka Nakagawa, Jin Xia mengambil bukti pembayaran administrasi kampus, menyimpannya di kantong saku celana. Membuka pintu kamar dan menutup pintu. Dia berjalan keluar kamar ke dapur.
******************************************
Langit berubah menjadi kuning lembayung. Burung-burung kembali ke sarangnya menghangatkan diri. Walaupun begitu aktivitas di jalanan masih saja padat oleh kendaraan yang berlalu lintas.
Di dapur yang sederhana, Lin Ling sedang menggoreng tahu berbalut tepung. Suara penggorengan terdengar di indra pendengaran. Jangan lupakan aroma masakan yang menggoda selera.
Lin Jin Xia duduk di meja makan menunggu mamanya selesai memasak. Dia tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terjadi lagi. Saat itu Lin Jinxia memanggil Lin Ling yang sedang memasak jamur. Jinxia tidak menyangka jika panggilannya akan membuat mamanya kaget sehingga tangan mamanya terpercik minyak goreng panas.
Lin Ling meletakkan tahu-tahu yang baru saja digoreng di atas piring menatanya di meja. Asap mengepul panas. “Jin Xia, sudah menunggu ya?” ucap Lin Ling tersenyum lembut menatap putri semata wayangnya.
“Iya, Ma. Jin Xia ingin Mama melihat sesuatu,” ucap Lin Jin Xia mengambil sebuah kertas dari kantong saku celana tidurnya, memberikan bukti pembayaran lunas dari kampus kepada Lin Ling.
“Kertas ini.” Lin Ling terkejut setelah membaca kertas berisi tanda lunas. Jin Xia tersenyum manis. “Iya, Ma. Ada orang baik yang membayarnya.’’ “Siapa orang itu Jin Xia? Mama ingin bertemu dengan orang itu untuk berterima kasih.”
“Namanya Kakek Lu,” balas Jin Xia singkat.
“Kakek Lu? Mama belum pernah mendengar nama itu.” Lin Ling mengernyitkan dahi bingung.
“Mama, yang penting uang administrasi kampus sudah lunas. Betul 'kan?" tanya Jin Xia.
Lin Ling mengangguk setuju. "Ya, betul juga. Kalau begitu Jin Xia ucapkan rasa terima kasih Mama pada Tuan Lu jika bertemu dengannya nanti.”
“Baik, Jin Xia akan melakukannya jika bertemu Kakek Lu.”
“Kalau begitu, Mama akan menyiapkan makan malam.” Lin Ling menata makanan dengan dibantu anak emasnya.
“Iya, Ma,” jawab Lin Jin Xia.
Aku tidak harus memikirkan biaya sekolah Jin Xia lagi. Sedikit uang yang aku simpan yang awalnya untuk bayaran administrasi bisa digunakan untuk hal lain, batin Lin Ling tersenyum tenang. Sedikit beban terangkat dari pundaknya.
******************************************
Malam hari selepas mengerjakan tugas-tugas dari kampus. Jin Xia merapikan buku-buku cetak, binder, dan peralatan alat tulis lainnya yang berantakan ke tempat asal. Dia mengambil kotak putih di nakas, membuka kotak putih ayam geprek. Aroma nikmat ayam dan cabe menusuk hidung, menggoda untuk segera dimakan.
“Selalu enak ayamnya,” ujar Jin Xia. Dia mengambil potongan sayap ayam geprek memakannya, menikmati setiap gigitan.
“Semoga aku kembali di dunia itu lagi,” ucap Jin Xia menutup mata. Tiba-tiba gadis itu merasa mengantuk. Beberapa kali dia menguap.
Jin Xia membuka mata cokelatnya perlahan. Hal yang pertama dia lihat adalah meja nakas kecil. Sisa-sisa potongan tahu di bungkusan putih. Dia kembali di saat yang sama posisinya di atas kasur.
"Kembali ke tempat semula. Aku merasa memiliki dua kehidupan. Entahlah sampai kapan ini akan berlangsung?” ucap Jin Xia bermonolog sendiri.
Dia mengedarkan pandangannya ke arah si rubah putih, Feng Jiu masih tertidur pulas di atas meja.
Jin Xia menguap, sudut matanya berair. “Aku mengantuk, aku mau tidur.” Dia menarik selimut berwarna hijau memposisikan di posisi menurutnya yang paling nyaman, memeluk bantal guling. Biasanya jika di rumahnya di negara Xinxian yang dipeluknya adalah boneka beruang berbulu kuning.
******************************************
Pagi-pagi sebelum sang Raja Siang terbit Jin Xia sudah belajar berlatih kungfu dasar. Hanfu biru yang dipakai basah oleh keringat padahal dia baru saja mandi. Bersamaan dengan itu Xin Qian, ibunya Yuan Jin Xia datang bersama beberapa pelayan wanita.“Apa aku sudah salah lihat?” ucap Xin Qian pelan, meragukan indra penglihatannya.
Wanita berusia empat puluh tahun itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Kalian bisa pergi aku ingin bersama putriku," ujar Xin Qian memerintahkan pelayan-pelayan pergi. Rombongan pelayan memberi hormat, lalu melangkah pergi. “Xia'er kamu belajar kungfu? Bukankah selama ini kamu selalu menolak untuk mempelajarinya?” Xin Qian berjalan menghampirinya melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
Jin Xia tentu saja kaget spontan menghentikan latihan kungfu dasarnya. Melihat ke arah sumber suara. Takutnya ada orang yang berniat jahat.
Yuan Jin Xia ternyata kamu menolak untuk belajar kungfu? Rasanya aku mau menenggelamkan diri di samudra terdalam, batin Jin Xia.
Dia tersenyum kikuk, menggosok bagian kepala belakangnya.
Apa yang harus aku katakan kepada wanita itu? Bagaimana jika dia curiga? Bisa bermasalah nantinya di masa depan, batin Jin Xia takut.
Oh, tunggu! Siapa wanita ini? Jin Xia berpikir mengingat-ingat, tapi tetap saja tidak tahu.
Jin Xia menilai wajah wanita yang sedikit mirip dengan Yuan Jin Xia. Penampilannya juga seperti seorang bangsawan sepertinya dia Xin Qian, ibunya Yuan Jin Xia, tebak Jin Xia tepat sasaran.
Ah,Yuan Jin Xia benar-benar merepotkan, rutuk Jin Xia.
Alasan apa yang kira-kira masuk akal? pikir gadis berusia delapan belas tahun itu.
Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah alasan bagus. “Xia'er tiba-tiba terpikirkan untuk melakukan aktivitas baru. Hm, sedikit bosan dengan aktivitas yang terlalu monoton.”
Aku harap itu alasan yang masuk akal. Jika tidak, aku tidak tahu alasan apa lagi yang harus kukatakan padanya, batin Jin Xia.
Xin Qian tersenyum menawan. “Tidak perlu takut Xia'er, Ibu tidak akan marah.”
Lin Jin Xia bernapas lega. “Syukurlah, Xia'er pikir ibu akan marah.”
Nyonya Yuan terkekeh geli. “Tentu tidak, Xia'er. Ibu akan mendukungmu.”
Ibu Qian memperbolehkannya berlatih kungfu. Wah, itu hal yang menakjubkan. Jin Xia akan berusaha berlatih kungfu dengan baik. Mamanya tak pernah mengizinkannya untuk berlatih kungfu. Kata mamanya itu buang waktu berharga saja dan lebih baik digunakan untuk belajar. Jin Xia memeluk Ibu Qian spontan. Xin Qian membalas pelukan putri bungsunya hangat dan penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Ibu!” ucap Jin Xia.
“Tentu, tentu saja Xia'er. Seorang Ibu harus mendukung apa yang anaknya sukai.” Xin Qian mengusap pipi Jin Xia lembut.
******************************************
Di Paviliun Melon, kediaman Nyonya Yuan. Xin Qian sedang menyulam kantong uang yang sedikit lagi akan selesai. Beberapa pelayan wanita berdiri di dekatnya.
"Yue, ambilkan benang ungu di kotak jahit," ucap Xin Qian yang dipatuhi pelayan setianya Yue.
"Letakkan di sini."
"Baik, Nyonya." Yue meletakkan benang ungu di atas meja. Xin Qian mengambil benang ungu tersebut, menyulamnya menjadi pelengkap kantong uang.
"Bagaimana bagus tidak? Apa Xia'er akan menyukainya?" tanya Xin Qian kepada para pelayan wanita menunjukkan kantong uang ungu berhias bordiran putih membentuk pola nama Xia dan bordiran bintang-bintang di kecil di sisi kanannya.
"Nona Muda pasti akan menyukainya. Dia sangat menyukai warna ungu dan putih. Nona Muda tidak akan menolaknya," ucap Yue yakin.
"Nona Muda juga sangat menyukai bintang-bintang," tambah pelayan wanita yang lain yang disetujui teman-teman pelayannya.
******************************************