Ada banyak mahasiswa dan mahasiswi dari kampus yang berbeda duduk di bangku penonton serta dosen-dosen. Lin Jin Xia dan Naka duduk bersebelahan dengan mahasiswa dari kampus mereka.
"Selamat siang semuanya! Hari ini akan dilaksanakan lomba catur antar kampus seperti tahun-tahun sebelumnya. Lombanya akan dimulai sepuluh menit lagi! Bagi perwakilan kampus persiapkan diri kalian sebaik mungkin!” ucap pembawa acara di atas panggung megah.
Di tengah panggung telah disiapkan sembilan meja beserta catur dan juga dua kursi. Di sisi kanannya ada layar besar komputer untuk menampilkan skor peserta. Sepuluh menit berlalu dengan cepat.
“Semua peserta lomba akan dipertemukan dan ditandingkan secara keseluruhan. Jadi, kompetensi catur benar-benar adil.”
Panitia lomba membuka kertas daftar universitas yang berpartisipasi di tahun 2020.
“Saya akan mengucapkan nama-nama universitas yang mengikuti kompetensi : 1. Universitas Harapan 2. Universitas Indah 3. Universitas Starly 4. Universitas Pelangi 5. Apikes Bintang Terang 6. Akbid Mawar 7. Apikes Kasih Ibu 8. Universitas Jalan Benar 9. Akbid Biru 10. Universitas Bakti Ibu.”
Acara pertandingan antar kampus sedang berlangsung. Semua mahasiswa dan mahasiswi telah duduk di bangku barisan penonton memberikan dukungan pada perwakilan kampus masing-masing.
“Apikes Bintang Terang! Apikes Bintang Terang!” Sorakan mahasiswa dan mahasiswi menyemangati teman-temannya yang mengikuti lomba. Begitu juga dengan kampus-kampus lain tidak kalah heboh.
Tiga jam berlalu dengan cepat tanpa terasa. Semua peserta lomba menunjukkan kemampuan terbaiknya.
“Hitungan skor nilai sementara, dari yang paling tinggi ke paling rendah. 1. Universitas Harapan = 23 angka 2. Apikes Bintang Terang = 22 angka3. Universitas Bakti Ibu = 19 angka4. Universitas Pelangi = 16 angka5. Akbid Mawar = 15 angka6. Universitas Starly = 14 angka7. Universitas Indah = 12 angka8. Akbid Biru = 10 angka9. Universitas Jalan Benar = 9 angka10. Apikes Kasih Ibu = 8 angka.”
“Tiga kampus tertinggi akan bertanding masuk ke tahap bonus. Selamat!” ucap panitia acara.
“Tapi untuk menjadi pemenang di tahap bonus, pihak kampus tidak bisa mengirimkan peserta yang dipilih sebagai gantinya sistem yang akan memilih masing-masing perwakilan kampus,” jelas panitia acara.
Pria dewasa berusia tiga puluh dua tahun itu menarik napas sebelum melanjutkan. “Tentu saja ini bergantung keberuntungan masing-masing kampus.”
“Baik, kita mulai semua mahasiswa dan mahasiswi dari tiga kampus dengan angka tertinggi bersiap-siap. Dalam waktu lima menit layar besar akan menampilan masing-masing perwakilan dari ketiga kampus.”
Semua mahasiswa dan mahasiswi menunggu siapa yang akan menjadi perwakilan kampus. Tidak jarang juga mereka takut jika perwakilan yang dipilih sistem tidak bisa memenangkan tahap bonus.
“Semoga saja bukan aku,” harap Jin Xia.
Harapan Jin Xia bagai air yang menguap diterpa sinar matahari.
Lin Jin Xia terpilih oleh sistem sebagai perwakilan dari kampus Apikes Bintang Terang. Mau tidak mau gadis itu harus melakukannya jika tidak mau diletakkan di mana wajah kampus Apikes Bintang Terang?
“Kenapa aku?” keluh gadis itu kecewa.
Dosen-dosen memberikan tatapan percaya kepada Jin Xia. “Ibu dan yang lain yakin kamu bisa melakukannya,” ucap Ibu Yue perwakilan dosen-dosen. Ibu cantik itu tersenyum, tatapan penuh harapan.
Tidak mungkin Jin Xia berkata bahwa dia tidak siap? Semua orang berharap padanya.
“Jin Xia, usahain Bu,” balas Jin Xia akhirnya, dia berusaha tersenyum.
“Jin Xia, semangat! Kamu pasti bisa!” sahut Naka dan Xie Xiao bersamaan.
“Aku akan berusaha teman-teman.”
Jin Xia dan kedua perwakilan dari kampus lainnya sudah berada di atas panggung. Xiao Ling perwakilan dari Universitas Harapan berdiri di sebelah kanan Lin Jin Xia dan Shayra Callie perwakilan Universitas Bakti Ibu berdiri di sebelah kiri.
Aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku akan berusaha, batin Jin Xia bertekad.
“Peraturannya tetap sama setiap pemain akan diberi satu kesempatan menggerakan caturnya secara bergantian,” ucap panitia lomba berdiri tepat di samping Shayra Callie di atas panggung lomba.
“Pertandingannya akan dilangsungkan secara bergiliran. Sesi pertama Universitas Harapan melawan Universitas Bakti Ibu.”
“Perwakilan dari kampus Apikes Bintang Terang bisa menunggu di sana.” Panitia lomba menunjuk sebuah kursi di sisi kanan panggung. Lin Jin Xia melangkah dan duduk di kursi yang telah disediakan.
“Pertandingan sesi pertama bisa dimulai.”
Xiao Ling dan Shayra memulai pertandingan catur sesi pertama. Gadis perwakilan Universitas Harapan tampak menguasai permainan catur. Dalam waktu singkat dia sudah memenangkan pertandingan. Xiao Ling duduk di kursi tunggu, gayanya angkuh.
“Sesi pertama sudah selesai yang dimenangkan Xiao Ling Universitas Harapan!” Sorakan kemenangan Universitas Harapan menggema di ruangan yang luas itu.
“Sesi kedua bisa dimulai Apikes Bintang Terang melawan Universitas Bakti Ibu.”
“Jin Xia, ayo semangat!” sorakan-sorakan teman-temannya membuat Jin Xia tersenyum menatap mereka. Mereka memberikan kekuatan.
Jantung Jin Xia berdetak kencang, bagaimana tidak kemenangan kampusnya seratus persen berada di tangannya. Jin Xia takut mengecewakan mereka. Lin Jin Xia dan Shayra Callie sudah duduk berhadap-hadapan di tengah sudah ada papan catur beserta catur hitam-putih.
Shayra tersenyum lembut. “Aku pilih yang hitam, kamu bisa ambil yang putih.”
Lin Jin Xia ikut tersenyum tipis.
Shayra dia tampaknya orang yang baik, batin Jinxia.
“Jika kamu mengalahkan aku tidak masalah,” ucap Shayra pelan.
“Lomba sesi kedua bisa dimulai sekarang!” Dentingan berbunyi ketika lonceng dipukul tanda mulainya pertandingan.
Lin Jin Xia mengeluarkan semua kemampuannya.
“Aku yakin kamu yang akan menang, Jin Xia,” ujar Shayra mengagetkan Jinxia.
“Kenapa kamu?” sahut Jinxia heran.
“Tidak masalah bagiku menang atau kalah.” Shayra mengangkat kedua bahunya rendah. Seakan tidak peduli dengan semua itu.
“Sesi kedua sudah selesai yang dimenangkan Lin Jin Xia Apikes Bintang Terang. Xiao Ling dan Lin Jin Xia mendapatkan satu poin yang sama.”
“Sesi ketiga yang akan menentukan siapa pemenangnya, apakah Universitas Harapan ataukah Apikes Bintang Terang?” Sorakan-sorakan bersahut-sahutan memenuhi indra pendengaran.
“Xiao Ling dan Lin Jin Xia akan diberi waktu lima belas menit untuk istirahat. Setelah itu pertandingan final bonus akan dilaksanakan.”
Lin Jin Xia kembali duduk di bangku penonton. Dia bernapas sedikit lega. Teman-temannya mengerubunginya.
“Jin Xia, kamu harus memenangkan pertandingan terakhir,” ucap Naka sambil memberikan sebotol air minum dingin.
Lin Jin Xia membuka tutup botol air minum, meminumnya seperempat. Rasa dingin mengaliri tenggorokannya menghilangkan dahaga. “Aku akan berusaha.”
“Kita harus membuktikan kepada Universitas Harapan kita bisa mengalahkan mereka,” sahut Xie Xiao yang disetujui oleh teman-teman yang lain.
Mahasiswa dan mahasiswi Universitas Harapan selalu memandang rendah mahasiswa dan mahasiswi dari universitas lain. Menganggap kampusnya yang paling hebat.
“Iya,” balas Jin Xia singkat.
Sesi istirahat sudah berakhir. Sesi pertandingan ketiga final dimulai. Xiao Ling nama gadis yang sedang bertanding catur bersama Lin Jin Xia. Xiao Ling memandang Lin Jinxia meremehkan.
Dia berani meremehkanku? batin Jin Xia kesal.
Jin Xia paling tidak suka jika ada yang berani memandang remeh. Terutama diremehkan gadis asing ini.
“Kau tidak akan menang,” ucap Xiao Ling dengan nada sombong. Sayang sekali wajah imut gadis itu berbeda sekali dengan tingkah lakunya.
Jin Xia tidak ingin banyak bicara. “Kita lihat saja nanti,” balasnya penuh misteri.
******************************************
Pertandingan catur final bonus dimenangkan oleh Lin Jin Xia. Dia masih ingat Xiao Ling gadis angkuh itu memandangnya marah dan tidak suka. Rasakan itu! Ucapan selamat diucapkan dengan bangga oleh dosen-dosen dan teman-temannya.
Xie Xiao mentraktir Lin Jinxia dan Naka di salah satu kedai di pinggir jalan sebagai hadiah kemenangan Jin Xia. Mereka duduk melingkar di meja kosong di dekat jendela. Sebagai satu-satunya pria dia duduk di tengah-tengah.
Pelayan kedai mendekat menanyakan pesanan apa yang ingin dipesan. Seragam atasan putih dan rok kotak-kotak ungu membalut pelayan wanita itu. Rambut hitam lurus sebahu dihiasi bando putih bergambar buah anggur.
Ketiganya melihat-melihat buku menu yang tersedia.
“Aku satu porsi crispy jamur dan es jeruk,” ucap Jin Xia.
“Aku seporsi dorayaki berisi keju dan thai tea taro,” sahut Naka.
“Aku pancake blueberry dan es teh,” ujar Xie Xiao.
Pelayan wanita itu mencatat pesanan di kertas putih. Mengulangi pesanan.
“Mohon menunggu sebentar pesanannya akan disiapkan Nona-Nona dan Tuan,” ucap pelayan wanita itu ramah.
“Baik,” sahut mereka bertiga kompak.
Pelayan wanita itu melangkah menuju bagian pesanan pelanggan.
“Teman-teman, kalian tahu gadis yang bernama Xiao Ling anak dari Universitas Harapan sangat menjengkelkan.” adu Jin Xia.
“Iya, kami juga melihatnya,” balas Naka dan Xie Xiao kompak.
“Terlebih lagi dia tadi meremehkan aku, aku jelas tidak terima dipandang remeh,” jelas Lin Jin Xia dengan ekspresi kesal.
“Ya, seharusnya begitu.” Xie Xiao mengangguk setuju.
“Betul itu Jin Xia,” sahut Naka sambil memainkan game cacing.
"Dan aku berhasil mengalahkan gadis angkuh itu," kata Jin Xia bangga, menepuk dadanya pelan.
Xie Xiao tersenyum geli tingkah unik Lin Jin Xia. "Setidaknya mereka tidak akan menganggap kita rendah lagi."
Sepuluh menit kemudian seorang pelayan laki-laki muda membawa nampan besar berisi semua pesanan. Meletakkan dengan hati-hati di atas meja. Aroma nikmat menggugah selera, menggoda untuk segera mencicipinya. Mereka mengambil pesanan masing-masing.
"Jin Xia mau mencicipi pancakeku?" tanya Xie Xiao menawari menatap Jinxia.
"Boleh juga," jawab Jin Xia mengangguk setuju.Xie Xiao memotong pancake blueberry menggunakan pisau plastik, mengambil sendok bersih menyuapi Jin Xia. Mereka bertatapan mata beberapa detik.
Dehemen Naka menyadarkan kedua manusia itu. "Kalau mau bermesraan jangan di depan aku, aku merasa jadi capung beterbangan." Di akhir kalimat Naka terkekeh.
Xie Xiao tersadar, tersenyum kikuk. "Bagaimana apa rasanya enak?"
Lin Jin Xia sedikit malu karena kejadian barusan, menggosok leher belakang pelan. "Enak, rasanya enak."
******************************************