Chapter 5 - Catur

1143 Words
Perlahan-lahan langit berwarna gelap, bulan, dan bintang-bintang kecil muncul di langit. Yuan Jin Xia berjalan di koridor kediamannya sendirian karena dia sedang tidak ingin ditemani oleh siapa pun. Pelayan-pelayan yang berpapasan memberikan salam. Di sepanjang koridor lampu-lampu lampion kuning menerangi. Yuan Jin Xia memakai hanfu berwarna ping lembut dibalut mantel tebal melindungi dari dinginnya udara malam. Rambut sepinggang diuraikan. Yuan Jin Xia mengikuti langkah kaki yang membawanya ke taman bunga. Suara gesekan semak-semak terdengar di indra pendengaran Jinxia mengundang rasa penasaran. Melangkah mendekat ke sumber suara. Yuan Jin Xia membuka semak tersebut menemukan seorang rubah putih menatapnya. Rubah tersebut melompat ke arah gadis itu, Jinxia spontan memeluknya. Rubah putih itu menggosokkan bulu-bulu halusnya ke kulit Jin Xia. “Rubah Putih apakah kamu menyukaiku?” tanya Jin Xia mengelus kepala rubah putih tersebut. Seakan mengerti rubah putih itu mengangguk. “Jika begitu aku akan membawamu ke kamarku, takutnya jika yang lain menemukanmu kamu akan dilukai.” Jin Xia membawa rubah putih ke kamarnya, meletakkannya di atas meja kecil. “Kamu berasal dari mana? Kenapa bisa ada di sini?” tanya Jin Xia. Jin Xia menepuk dahinya pelan. “Aku lupa jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku.” Gadis cantik itu tertawa geli menyadari kebodohannya. “Jin Xia, kamu tidak tahu jika aku bisa bicara?” tanya rubah putih itu menatap Jin Xia. “Rubah Putih kamu bisa bicara?” tanya Jin Xia tak percaya. “Ya! Tentu saja Jin Xia!” balas rubah putih melompat kecil, sembilan ekornya bergerak manja. Jin Xia memeluk singkat rubah putih itu. “Aku senang kamu bisa bicara.” “Beri aku nama Jin Xia,” pinta rubah putih. “Aku beri nama kamu Feng Jiu, apa kamu suka?” tanya Jin Xia mengelus kepala rubah putih. Rubah putih itu menggerakkan sembilan ekornya manja. Feng Jiu mengangguk setuju. “Aku suka.” Jin Xia tersenyum manis. “Aku senang jika kamu suka.” “Kamu bisa tidur di mana pun kamu mau Feng Jiu.” Feng Jiu mengangguk. “Aku akan tidur di meja saja." “Aku akan menyiapkan bantal untukmu Feng Jiu.” Yuan Jin Xia mengambil bantal dan meletakkannya di atas meja tempat Feng Jiu tidur. “Jin Xia, terima kasih.” Jin Xia tersenyum lembut. “Sama-sama. Selamat malam, Feng Jiu.” “Malam Jin Xia, aku berharap kamu akan memimpikan seorang pangeran tampan,” ujar Feng Jiu, lalu tertidur. “Feng Jiu sudah tertidur aku bisa melakukannya sekarang.” Yuan Jin Xia mengambil bungkusan putih di laci meja nakas, lalu membukanya. Di dalamnya ada beberapa potong tahu goreng yang didapatkan dari dapur kediaman keluarga Yuan. “Kehidupan di keluarga Yuan memang baik, tapi aku juga rindu dengan Mama, Papa, dan Naka.” “Semoga saja yang dikatakan Kakek Lu benar,” harap Jin Xia. Tangan kanannya mengambil satu potong tahu goreng, kemudian memakannya perlahan. ****************************************** Lin Jin Xia perlahan membuka kelopak matanya. Berharap dia telah berpindah ke tempat asalnya. “Ini meja belajarku. Apa aku benar-benar telah kembali?” teriak Jin Xia senang. “Kakek Lu tidak bohong!” jerit Jin Xia senang. Untung saja mamanya sudah tidur beberapa jam yang lalu. Jika tidak maka mamanya akan mengira hal-hal yang buruk telah terjadi kepada putri semata wayangnya itu. Melihat ke jam dinding di sisi kanan meja belajarnya sekarang jam 22.00 artinya masih malam. Lin Jin Xia ingin memastikan satu hal lagi. Gadis berusia delapan belas tahun itu melangkah menyingkap hordeng. Langit malam dihiasi bulan dan bintang. Langit tidak berubah sama sekali. “Langit masih gelap? Bukankah aku sudah pergi lebih dari satu hari?” Jin Xia menutup gorden. Lin Jin Xia mendudukkan diri di pinggir kasur memasang pose berpikir. “Dari kenyataan yang ada selama aku berada di sana. Waktu di sini tidak bergerak sama sekali.” Dia menyimpulkan.“Mama tidak akan tahu jika aku melakukan perjalanan waktu.” “Baguslah jika begitu.” “Aku mau tidur saja besok masuk kuliah. Takutnya aku nanti terlambat,” gumam Jin Xia mengubah posisi duduk menjadi tidur sambil memeluk boneka beruangnya. ****************************************** Di kantin kampus kedua gadis berusia delapan belas tahun dan sembilan belas tahun itu--Jin Xia dan Naka--memakan makanan dalam keadaan tenang. Di dalam kantin hanya ada beberapa orang mahasiswa yang sedang makan dan empat orang wanita dewasa penjual makanan yang menunggu pembeli. Cat dinding kantin berwarna hijau daun beberapa spanduk tentang menjaga kebersihan ditempel di dinding. Delapan pot bunga lily putih digantung dinding menambah keindahan. “Naka, tidak biasanya kantin sepi apa ada sesuatu?” tanya Jin Xia heran sambil memakan donat bertopping stroberinya. “Anak-anak lain sudah lebih dulu datang ke pertandingan catur antar kampus,” ucap Naka menyeruput es jeruk yang tinggal setengah. “Kenapa aku tidak tahu ya?” tanya Jin Xia. “Pengumumannya ada di mading. Wajar saja jika kau tidak tahu karena jarang membaca pengumuman di mading.” Jin Xia mengangguk mengiakan. “Setelah kita menghabiskan makanan, kita akan datang ke acara perlombaan itu.” “Oke, baiklah.” Lin Jin Xia menghabiskan donatnya yang tinggal sedikit lagi, meminum jus mangga. Begitu juga dengan Naka yang menghabiskan es jeruknya. Usai membayar tagihan, mereka melangkah ke luar kantin menuju parkiran motor. ****************************************** Jin Xia dan Naka tidak membawa motor disebabkan motor Naka ada sedikit kendala jadi dibawa ke bengkel. Kedua gadis itu menaiki bus yang kebetulan lewat. Di dalam bus ramai, semua kursi penuh hanya tersisa dua kursi di bagian belakang di samping gadis berseragam sma. Jin Xia dan Naka duduk bersebelahan. Aroma parfum bercampur aduk membuat Naka sedikit pusing. Naka memijit kepalanya pelan. Jin Xia menoleh menatap sahabatnya itu. “Sabar, Naka. Tutup hidungmu menggunakan sapu tangan.” Naka mengambil sapu tangan lembut bersulam bebek kecil menutup hidungnya. “Terima kasih, Jin Xia.” “Sama-sama,” balas Jin Xia tersenyum lembut. Smartphone Jin Xia berbunyi. Dia mengambil benda canggih itu dari dalam tasnya. Ada satu pesan dari w******p, dari Xie Xiao. Jin Xia mengklik aplikasi hijau itu, kemudian membacanya. Pertandingannya dua puluh menit lagi akan dimulai. Kalian cepatlah datang. Jin Xia membalas pesan tersebut. Kami sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Mungkin sepuluh menit lagi akan sampai. ****************************************** Jin Xia dan Naka sudah sampai di depan gedung serbaguna Asmita. Gedung Asmita menjulang tinggi terdiri dari tiga puluh lantai. Gedungnya terlihat elegan dan mahal. Di sisi bagian kiri gedung ada banyak mobil-mobil beragam jenis terparkir. Jin Xia dan Naka takut acaranya telah dimulai mempercepat langkahnya setengahnya berlari. “Kak, acara lomba catur antar kampus di lantai berapa?” tanya Naka pada salah satu wanita yang berjaga di lantai satu. “Acara lomba catur antar kampus berada di lantai dua puluh lima,” sahut wanita muda itu ramah. “Terima kasih, Kak,” ujar Jin Xia dan Naka bersamaan. Jin Xia dan Naka memilih menaiki lift. Jika harus berjalan mereka yakin tidak akan sanggup. Gadis penyuka ping dan biru itu menekan tombol dua puluh lima. Lift bergerak secara teratur ke atas. Suasana hening tercipta di antara keduanya. Lift berbunyi pintunya terbuka, mereka segera keluar. Ada mahasiswa dan mahasiswi yang juga baru datang memakai seragam kampus dan almamater menuju salah satu ruangan. “Pasti itu tempatnya, ayo kita ikuti mereka," ujar Jin Xia yang disetujui Naka. ******************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD