Bab 6

968 Words
Clarissa menganggukkan kepalanya menganggap dirinya sudah mengerti apa yang telah di ucapkan oleh kakak iparnya, Clarissa sangat lega setelah bisa mengalihkan pembicaraan yang ada tidak pernah dia berpikir kalau dia mendapatkan yang terbaik untuk dirimu sampai detik ini Clarissa harus menangani permasalahan yang ada.  Clarissa langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat beban yang telah terjadi ini begitu sangat lelah dirinya, dia masih menunggu kepulangan suaminya yang dari tadi tidak ada kabarnya sedikitpun itu membuat dia sangat khawatir apa yang telah terjadi pada suaminya, tidak ada yang bisa dilakukan selain mendapatkan yang terbaik. Clarissa sangat suntuk di dalam kamar tiba-tiba dia teringat ingin menemui Anggita melihat kondisi keadaan Anggita.  "Hai... Anggita, Bagaimana keadaanmu? Aku berharap kau baik-baik saja ya. Oh ya maaf aku masuk ke kamarmu soalnya aku lagi suntuk suami Aku belum juga pulang dari tadi ntar aku juga belum bisa tidur hanya termenung saja memandang wajahmu saat ini juga aku berharap tidak ada permasalahan lagi pada diri kita."  "Iya Clarissa,Aku juga belum bisa tidur kenapa ya pikiranku hanya satu tertuju pada suamiku saja mangkanya aku dari tadi hanya termenung Untung ada kamu menemani aku yang ingin dari tadi suntuk begini. Oh ya gimana keadaanmu baik-baik saja kan? kita ini berdua memang sangatlah lemah sampai kita membuat orang sangat kecewa sudah bisa mencoba anak yang dengan baik selalu saja pendarahan." Ucap Anggita sambil tertunduk.  " Hei jangan bicara seperti itu, itu selalu bersyukur apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Itu semuanya setelah Tuhan tata skenario yang harus kita jalan nih, setiap perjalanan hidup pasti banyak cerita tidak ada di dunia ini yang dilakukan Tuhan untuk membuat orang jadi punah. kau lihat aku jika itu terjadi lagi pendarahan akan kehilangan aku ini untuk kedua kalinya, aku sangat kasihan melihat suamiku yang harus berharap dan akan hancur kembali lagi. Padahal dia begitu banyak pengorbanan yang untukku tidak hanya materi yang diberikan tapi semua nya, makanya aku harus bersyukur apa yang telah Tuhan berikan kepadaku jauh di pemikiran ke saat ini Alban untuk menuntut ku harus menjadi apa yang dia mau, memang dia suami yang sangat baik tidak pernah menuntut aku harus menjadi yang baik seperti yang dia mau seiring berjalannya waktu aku bisa memahami dia sahabat dan suamiku saat ini, aku doakan para suami ini akan selalu menyayangi kita dimanapun berada kekuatan cinta mereka akan abadi selamanya. Sesampainya di rumah Clarissa melihat wajah yang sangat lelah, "sayang kamu kenapa aku lihat. Segitu makan dan istirahat."  "Baiklah nanti aku akan istirahat Aku juga tidak mau kau juga lelah lihat aku begini.  berpikir betapa aku terkejut melihat kau sedang berada dalam keadaan seperti ini."  "Baik-baik saja kok, maksdumu bagaimana terkejut melihatku." Tanya Clarissa. "kamu itu seperti orang yang sangat lelah aku sudah berusaha mencoba untuk tidak melakukan apapun demi mendapatkan kebahagiaan itu bersamamu, coba Kau Benitoangkan Aku tidak pernah merasa lelah saat kau berada di sisiku saat ini, yang seharusnya bertanya kenapa wajahnya sangat lelah itu seharusnya aku buka kau! sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk dirimu tidak ada satupun yang bisa aku berikan setelah kejadian Ramora dulu."  "Hm... Jangan khawatirkan aku Aku tidak apa-apa, yang berjanji aku tidak akan membuatmu kecewa atas jenisnya tidak ada satupun yang bisa aku lakukan jika kamu kehilangan mu itu saja, sudah jangan membuat dirimu sangat lelah beristirahatlah sebentar." Ucap Clarissa kepada suaminya. "Baiklah kalau begitu aku mau mandi setelah itu langsung tidur, aku habis pergi ke kantor pagi-pagi sekali." Ucap Alban kepada Clarissa.  Clarissa menganggukan kepalanya melihat Alban yang sedang duduk termenung dari tadi. Dia sangat tidak tega jika dia menceritakan semuakejadian yang pernah dia alami tadi siang dia merasa itu bukan sesuatu yang tidak bisa menjadi penyebabnya. Setelah Alban keluar dari kamar mandi dia dia langsung tertidur sambil memegang tangan Clarissa. "Clarissa biarkan tanganku ini memegang tangan, berharap apa bisa bersamamu selamanya. Kemarilah mendengarkan lagu tanpamu aku juga tidak ada artinya. Sekarang kita bersama-sama nya agar kita bisa saling menjaga." "Iya baiklah, aku selalu bersamamu aku tidak pernah meninggalkan apa yang sudah orang lain lakukan kepada mu, ingat sejak dulu selalu membantuku,jangan sampai kita dewasa pun aku tidak pernah menyakiti hatiku dan di saat kau mengenal seseorang kau malah menyakitiku dengan cara berpacaran orang lain.ingat apa yang telah terjadi itu Aku tidak mau terulang lagi cuma kau satu-satunya yang aku harapkan."  Alban langsung mendekap tubuh Clarissa air mata yang berKerabatran tiba-tiba saja keluar, entah apa yang ada di pikiran Alban saat ini mungkin dia merasa kalau Clarissa akan membuat dia kecewa dan terluka.  "Alban! Kenapa kau menangis seperti itu Aku tidak mau melihat kau menangis entah apa yang kau tangiskan itu. Coba bicara apa yang membuat menangis?" Tanya Clarissa sambil memandangi wajah Alban. "Hm... Aku takut aku takut lu kenapa-kenapa Clarissa, tapi perasaan ku berkata kalau kau akan disakiti seseorang tapi kita itu siapa yang terpenting saat ini semua yang kujalani tidak akan membuat pikiran negatifmu ini terjadi." Alban ke pada Clarissa. Clarissa tersenyum memandangi wajah suaminya dia berkata dengan sangat lembut, "Sayang sudah lah jangan pikirkan itu, aku baik-baik saja selagi kau masih memperhatikanku aku akan selalu bersamamu. Buang pikiran negatifmu tentang permasalahan itu! semua pikiranmu itu akan membuat dirimu semakin tidak percaya diri menjalankan hari-hari. Jauhkan tidak ada lagi orang selain dirimu yang akan terus membuatku bahagia, ya sudah tidur saja aku masih belum ngantuk."  Alban menganggukkan kepala sambil berkata "Baiklah aku akan melakukannya dengan membuang pikiran negatif, kalau begitu aku tidur duluan ya selamat malam sayang."  Clarissa begitu mencemaskan dirinya, sudah dirasakan yang di pikirkan oleh Alban akan terjadi. dia sangat takut kenapa ini akan terjadi pada dirinya jangan berusaha tapi harus menjaga dirinya sendiri. "Kenapa ini harus aku lakukan kalau hanya membuat kenyamanan itu tidak ada, firasat Alban begitu kan kadang tidak ada satupun yang bisa aku lakukan hanya mendapatkan yang terbaik untuk dia. semoga besok dan seterusnya tidak terjadi apa-apa semampuku akan terus bersama dengan dia." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD