Kesedihan Tania

2281 Words
Drake duduk termenung, “Shit..”. Umpat Drake, ternyata dia masih perawan, ada rasa bahagia dan bangga di hatinya karena ia pria pertama yang menyentuh tubuh sang istri.            Dengan hati yang dipenuhi perasaan bersalah Drake beranjak pergi, dari kamar hotel tempatnya menginap. Drake menuju ke mobilnya yang ada di basement hotel. Iapun melajukan mobil menuju ke apartemennya. Setibanya di dalam apartemen Drake menuju ke balkon di kamarnya. Dipandangnya kegelapan malam.   Setibanya di apartemennya, benak Drake dipenuhi dengan bayangan apa yang telah dilakukannya kepada Tania. Ia duduk termenung, diambilnya sebatang rokok dari saku celana di hisap dan dihembuskannya asap nikotin dari rokok dengan perlahan.   Terbersit rasa penyesalan di dalam dadanya karena telah berlaku kasar kepada Tania. “Apa yang telah kulakukan, sial!, mengapa aku harus terperangkap dalam pernikahan ini?"   Sementara itu Tania tersadar dari pingsannya, akibat perlakuan kasar Drake saat Drake meniduri dirinya. Di tatapnya dinding kamarnya, kesunyian begitu terasa dan menyesakkan. Di gerakkannya tubuhnya dengan perlahan untuk bangkit berdiri. Dengan perlahan kakinya melangkah, menuju ke kamar mandi, sambil menahan rasa nyeri di badannya akibat perlakuan kasar  yang dilakukan Drake kepadanya. Kepalanya yang terluka kembali berdarah hingga menimbulkan rasa nyeri dan sakit. Tania berdiri di dapan wastafel, melalui cermin dilihatnya wajah yang menatap balik kearahnya tampak berantakkan, bibir  yang terluka, bagian d**a dan leher yang dipenuhi bercak merah ulah Drake.   “Kau lebih menyukai diriku menghilang, bukan Drake, kau akan bahagia jika aku pergi, bukan!, kau akan melihat diriku pergi Drake, kuharap kau bahagia bersama kekasihmu setelah aku pergi, Drake. “   Dipukulnya cermin itu hingga pecah berkeping-keping, karena luapan emosinya. Tidak sengaja pecahan cermin itu melukai kakinya, hingga berdarah. Tania tidak menghiraukan lukanya.   Ia berjalan menuju bath up, berharap dengan mandi berendam dapat mengurangi rasa sakitnya dan bisa melupakan kesedihan dan melupakan masalahnya, meski hanya sejenak saja.   Tania terlelap di dalam bak mandi, sabun beraroma teraphy dan juga air hangat membuatnya ke alam mimpi  Luka di kakinya yang berdarah terkena pecahan cermin membuat air yang ada di dalam bak menjadi merah.   Sementara itu Drake yang berada di apartemennya minum bergelas-gelas wine hingga mabuk untuk menghilangkan kekacauan pikiran dan perasaan bersalahnya. Hingga iapun tertidur dalam keadaan mabuk.   Pagi harinya Drake terbangun dari tidurnya, dengan kepala yang terasa pusing dan berat, dengan langkah terhuyung ia menuju kamar mandi, perutnya teras mual, efek dari mabuknya.   Drake memuntahkan isi perutnya di wastafel. Setelah itu dibersihkannya badannya dengan shower. Lalu iapun berpakaian, dipakainya celana jeans dengan kaos pas badan, berwarna biru malam.   Drake melangkahkan kakinya menuju ke dapur di apartemennya, diolahnya secangkir kopi. Kemudian ia duduk di dapurnya, sambil meneguk kopi hitam yang dibuatnya dengan ditemani sepotong roti, karena Drake merasa tidak ingin repot-repot untuk membuat sarapan paginya.   Perasaan Drake tidak enak. “Sial, mengapa aku terus memikirkan wanita itu,” gumam Drake kesal.   Diambilnya kunci mobilnya yang terletak di atas nakas, dengan bergegas ia berlalu keluar dari apartemennya menuju ke mobilnya yang terparkir di basement. Dengan perlahan dikemudikannya mobilnya menuju ke arah hotel tempat menginap sang istri.   Setibanya di hotel ia disambut resepsionis yang berjaga pagi ini. Ia disambut dengan ramah oleh karyawatinya itu.   “Pagi  pak!, ada yang dapat kami bantu?”. Sapa sang resepsionis.   Drake hanya berlalu pergi, ia tidak menjawab sapaan dan senyum ramah resepsionis tersebut.   Sang resepsionis bername tag Rani mendengkus kesal. “Huh, sultan mah bebas, cuek, biar gitu si boss tetap tampan....”. Temannya hanya terkekeh mendengar ucapan Rani.   Dengan menaiki lift. Drake pun akhirnya tiba di lantai tempat kamar istrinya berada. Dibukanya pintu kamar dengan perlahan.   Ceklek. Pintu pun terbuka.   “Kenapa perasaanku menjadi semakin tidak enak,” gumam Drake.   “Hmm, kamar ini sepi sekali, apakah wanita itu belum bangun, dasar pemalas.” Kecam Drake kepada Tania. Drake lalu beranjak menuju ke kamar tidur, tidak terlihat keberadaan sang istri, dimana dia?.” Drake kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamar mandi, dilihatnya Tania dengan mata terpejam dan bibir membiru dengan kepala yang hampir tenggelam sepenuhnya ke dalam bak mandi dan air dalam bak  tersebut sudah berwarna merah, seperti warna darah dan Drake tidak mengetahui berasal darimana warna merah itu.   “Sial ,apa-apaan ini!.” Gumam Drake. Kemudian diperiksanya denyut nadi Tania, meski lemah namun ternyata masih ada.” Syukurlah, dia masih hidup.”   Diangkatnya tubuh  Tania, lalu dengan perlahan diletakkannya tubuh polos Tania di atas tempat tidur. Ia kemudian memakaikan pakaian ke tubuh polosTania. Dibebatnya pergelangan kaki Tania yang terluka dan mengeluarkan darah, dilihatnya di sana ada pecahan cermin yang masih menancap, lalu dicabutnya dengan secarik kain, untuk mencegah darah mengalir lebih banyak lagi. "Sialan, kamu Tania!,  kenapa tidak kau obati dahulu luka di kakimu baru kau mandi berendam!"   Drake kemudian mengeluarkan gawai dengan logo apel digigit dari saku celananya.   Drake menghubungi  Sam orang kepercayaannya. “Sam, aku ingin kau menyediakan heli milikku, di rooftop Meier hotel, dan dalam waktu 10 menit aku ingin helikopter itu sudah ada.”  Tanpa mendengarkan balasan diseberang sana, dimatikannya sambungan telepon tersebut.   Drake mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ditatapnya wajah pucat Tania. “Kau, tahu aku bukannya peduli kau hidup atau mati, aku hanya tidak ingin mereka menyalahkan diriku kalau kau sampai meninggal dan kehilangan harta warisanku. Kau ini benar-benar wanita yang menyusahkan.”   10 menit kemudian, gawai Drake berdering dan ternyata itu dari Sam orang kepercayaannya, yang memberikan kabar bahwa heli yang dimintanya sudah ada di atas rooftop Meier hotel.   “Ok, Saya akan segera menuju ke sana," ucap Drake kepada asistennya. Kemudian dibopongnya tubuh sang istri  ala bridal style menuju rooftop menggunakan lift. Karyawan hotel yang melihat mereka, berfikir betapa romantis dan manisnya tindakan Drake menggendong sang istri.   Namun, dugaan mereka semua salah. Drake menggendong istrinya, karena istrinya sedang dalam keadaan kritis.   Drake telah memerintahkan orang kepercayaanya untuk menghubungi salah satu rumah sakit swasta terbaik di Jakarta agar bersiap menyambut kedatangan mereka.   Setibanya di atas rooftop Drake dengan dibantu oleh pilot heli miliknya merebahkan Tania di belakang dengan berbantalkan paha Drake.   Dalam waktu lima menit mereka telah tiba di depan rumah sakit swasta terkenal di Jakarta. Dokter dan juga perawat  telah bersiap menyambut kedatangan sang pasien. Tubuh Tania kemudian ditaruh di atas brankar dan segera dilarikan ke ruang UGD.   Drake merasa begitu khawatir, telah bermenit-menit semenjak Tania masuk ke dalam ruangan UGD tersebut, tetapi belum ada satupun jua orang yang keluar dari ruang UGD tersebut.     Dia berjalan bolak-balik bagaikan setrikaan, pikirannya begitu tidak tenang. Sungguh, ia tak ingin Tania meninggal, ia tidak bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.   Setelah satu jam lamanya, dilihatnya pintu ruang UGD terbuka, dan terlihat seorang dokter berjalan keluar dari ruang tersebut. Dengan tidak sabar Drake mencecar dokter yang baru keluar dari ruang UGD  itu dengan pertanyaan.   “Bagaimana keadaan istri saya dok?.” “Apakah ia dapat diselamatkan?”   “Istri anda sudah stabil, dia banyak keluar darah dan untungnya kami tidak kekurangan stok persediaan darah, akan tetapi untuk saat ini istri anda masih dalam keadaan koma, mari berdo’a dan berharap istri anda segera sadar dari komanya.” Ucap dokter, yang bername tag Doni Setiawan tersebut.            “saya ingin dokter mengusahakan yang terbaik untuk istri saya, berapapun biayanya, akan saya bayar ” Ucap Drake dengan dingin.   “Tentu saja Tuan, kami selalu melakukan yang terbaik untuk pasien kami. Kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan semua pasien kami. Istri anda, akan segera ditempatkan dikamar VVIP.   Dokter itupun kemudian pamit undur diri dari hadapan Drake.   Tak lama kemudian Tania pun dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP, sesuai dengan permintaan Drake. Tampak selang infus terpasang di tangannya, dan juga alat bantu pernafasan. Drake memandangi wajah pucat Tania, dilihatnya bibir Tania yang bengkak dan terluka, memar-memar dipergelangan tangan dan ada bebatan di kepala Tania. Ternyata dokter juga telah mengobati kepala Tania yang terluka akibat pecahan vas bunga.   Pintu kamar rawat inap yang ditempati Tania terbuka. Terlihat kedua orang Tania dan juga orangt tua Drake, memasuki kamar VVIP tempat Tania dirawat dengan tergesa-gesa. Orang tua Tania beranjak mendekat ke arah Tania, mereka berdiri di sisi kiri dan kanan Tania. Drake beranjak dari tempat duduknya di samping Tania, untuk memberikan kesempatan kepada mertuanya berada dekat dengan Tania.   Desi, ibu Tania, kemudian duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Drake. Ia mengecup lembut kening Tania sambil mengelus tangannya.  Air matanya mengalir dengan deras melihat kondisi anak semata wayangnya.   “Sayang, mengapa kau lakukan ini. Kau tidak sendiri, ada kami yang menyayangimu, kami tidak akan membiarkanmu sedih sendiri. Kau dapat menceritakan semua kesedihanmu kepada kami. Bisik Desi dengan terisak melihat kondisi Tania.  Ibu Tania tidak mengetahui, kalau anaknya tidaklah mencoba untuk melakukan hal yang seperti diduganya.   Joana ibu Drake, mengelus punggung ibu Tania sambil berkata “Kita harus yakin Tania kuat, dia akan segera bangun dari komanya, dan kembali berkumpul dengan kita semua.”   “Amiiin!”. Ucap semua yang ada di ruang tersebut.   Gilbert, ayah Drake bertanya kepada putranya. “Apa yang kau lakukan, hah!,” hingga membuat istrimu sampai mau bunuh diri?, dan kenapa kau tidak mencegah istrimu dari usaha untuk membunuh dirinya?. Mengapa kau diam saja!.” Bentak Gilbert kepada Drake.   Drake kaget, dengan bentakan dan pertanyaan ayahnya, “aku tidak tau mengapa ia mencoba membunuh dirinya. Aku tidak tidur di kamar kami, aku pulang ke apartemenku dan tertidur di sana, dan ketika aku kembali ke kamar hotel tempat kami menginap kulihat tubuh Tania telah terbaring dengan darah yang menggenanginya. Jadi bagaimana mungkin aku tahu dan dapat mencegah Tania dari usahanya untuk bunuh diri.” Ucap Drake kepada Gilbert, daddynya dengan kepala tertunduk, jujur ia merasa bersalah dengan kondisi Tania. "Kalian semua salah paham, Tania tidak mencoba untuk membunuh dirinya, kakinya terluka terkena pecahan cermin yang tidak diobatinya, ia malah mandi berendam di dalam bak. Joana, ibu Drake mendekat ke arah Drake dan Gilbert, “Sudahlah, mengapa kalian bertengkar disini, lebih baik kita berdo’a demi kesembuhan  dan kesadaran Tania, ucap Joana kepada Gilbert dan Drake.”   Gilbert mendengkus kesal ke arah  Drake, melihat ulah anaknya.   Arsyandi, ayah Tania mendekati Drake, di cekalnya kaos yang dikenakan Drake yang kotor dan basah, karena mengangkat tubuh Tania tadi dan ia belum sempat menggantinya, karena ia buru-buru hendak menyelamatkan Tania.   “Apa yang kau lakukan pada putriku, mengapa tubuhnya dipenuhi dengan memar-memar  dan lebam?.” Aku tidak akan tinggal diam kalau kau menyakiti putriku, ancam Arsyandi kepada Drake.   Deg!, jantung Drake berpacu dengan kencang, mendengar pertanyaan dan ancaman ayah  Tania yang mengejutkannya. Belum sempat Drake menjawab pertanyaan ayah Tania, pintu rawat inap Tania, diketuk dari luar.   Pintu pun terbuka, dan masuklah dokter bersama perawat untuk memeriksa  kondisi Tania.            “Permisi, bapak-ibu, kami akan memeriksa kondisi pasien.”   “Silahkan dok,” ucap mereka semua.   Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter kemudian memberikan penjelasan.   “Pasien sedang koma dan mengalami kekurangan darah, yang sudah dapat kami atasi. Korban mengalami luka di kakinya dan luka dari kakinya itulah yang menyebabkan pasien kekurangan darah. Selain itu, pasien mengalami hypotermia yang membuatnya hampir saja kehilangan nyawa. Namun, untungnya, pasien ditemukan tepat waktu, sehingga bisa mendapatkan pengobatan dan perawatan." "Pasien sepertinya baru saja selesai melakukan hubungan suami istri yang sedikit kasar. Namun, tidak ada konsekuensi fatal kepada pasien, mungkin pasien hanya akan merasa sedikit sakit, tetapi tidak mengganggunya dalam melakukan aktivitas yang lain.   “Dukungan dari keluarga dan orang-orang yang menyayangi dapat membantu proses kesembuhan pasien. Meski pasien dalam kondisi koma, keluarga agar terus memberikan pasien dukungan semangat, berbicaralah disampingnya, meski pasien koma indera pendengarannya masih dapat berfungsi  dengan baik. Cobalah untuk berbicara yang dapat memberikan motivasi pasien agar cepat sadar.”   Setelah memberikan perawatan dan pemeriksaan, serta menjelaskan tentang kondisi Tania, dokter beserta perawat keluar dari ruang rawat VVIP tersebut.   Semua mata, menatap ke arah Drake. Dalam benak mereka semua Drakelah pelakunya.            “Apa!, kenapa kalian semua menatapku seperti itu, oh, ayolah aku seorang laki-laki normal, yang punya kebutuhan, tentu saja aku akan meniduri wanita yang tersedia bukan, dan kebetulan wanita itu adalah Tania istriku sendiri” Ucap Drake dengan kasar.   Bugh!, Arsyandi menghajar Drake. Joana dan Desi memekik kaget, sementara Gilbert hanya diam ditempatnya. Ia tak ingin menolong Drake, bagaimanapun juga Drake bersalah dan apa yang diucapkannya sangatlah kasar, kalau dirinya berada di posisi orang tua Tania, ia akan melakukan hal yang sama.  Mana ada orang tua yang terima putrinya diperlakukan seperti itu. “b******k kau, Drake!!!, putriku bukan seorang p*****r, dia istri sahmu tidak pantas kau memperlakukannya dengan kasar. Dia putri kesayanganku, dan sekarang kau menghancurkan hidup putriku. Benar-benar b******k kau Drake!!!.”   “Ku akui aku memang b******k, tapi bukankah kalian yang telah memaksakan keadaan ini kepada kami, aku tidak mencintai Tania, aku telah memiliki seorang kekasih yang kucintai. Karena menikahi Tania, kekasihku menjadi bersedih dan terluka. Impas bukan, apa yang dialami Tania dengan penderitaan kekasihku.”   “Seperti kata anda tuan Arsyandi, Tania adalah istri sahku, aku berhak melakukan apapun kepadanya, dan kalian tidak berhak ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!.” Bentak Drake kasar. Ia mencoba menutupi rasa bersalahnya dengan bersikap depensif.   Gilbert benar-benar kecewa dengan ucapan Drake. Iapun beranjak dari posisinya berdiri, dihajarnya Drake hingga wajahnya lebam dan dari hidungnya hingga mengeluarkan darah.   Joana yang tidak tega melihat putranya, Drake dipukuli, segera melerai, di bawanya Drake ke arah sofa untuk diobati.   “Untuk apa kau mengobati anak b******k seperti itu, biarkan saja ia terluka. Lukanya tidak seberapa dibandingkan dengan tindakannya yang melecehkan Tania, istrinya sendiri. Benar-benar keterlaluan.”   Daddy sangat kecewa kepadamu Drake, apakah daddy pernah mengajarkan kepadamu untuk bersikap kasar pada seorang  perempuan?, tidak pernah bukan.” Kecam Gilbert kepada Drake.   Apakah kau juga yang menyebabkan luka di kepala Tania?.” Tanya Gilbert lagi kepada Drake.   “Aku tidak melukai kepala Tania, dia terkena pecahan vas bunga yang terjatuh menimpa kepalanya.”   Drake kemudian menepis tangan Joana yang sedang mengobati dirinya, “Sudahlah Mom, aku ingin pergi, aku perlu menenangkan diriku.”   Tanpa menunggu balasan dari ibunya Drake kemudian beranjak keluar dari ruang VVIP  tempat Tania dirawat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD