Ketidak pedulian Drake

1253 Words
Keheningan menyelimuti ruang rawat inap Tania, mereka semua sibuk dengan fikirannya masing-masing. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka enggan berbicara yang dapat menyebabkan kembali terciptanya pertengkaran. Telah dua hari lamanya Tania belum tersadar dari komanya, Desi dan Arsyandilah yang menjaga Tania. Sementara Drake tidak menampakkan batang hidungnya lagi di ruang VVIP semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. Di kantor dan apartemennya juga tak terlihat keberadaan Drake. Di mana anak itu gumam Gilbert yang merasa kesal dengan tingkah anak semata wayangnya itu. “Memang Drake ini benar-benar keterlaluan, ia tidak perduli sama sekali dengan kondisi Tania, istrinya.” Rutuk Gilbert dalam hatinya untuk sang putra. Dalam tidurnya yang terasa damai, Tania merasakan seperti berada di sebuah padang alang-alang. Ia melangkahkan kaki mengikuti jalan setapak yang ada, hingga diujung jalan dilihatnya sosok laki-laki dan perempuan yang sedang b******u dengan mesra. Tania tidak dapat mengalihkan pandangan dari pemandangan di depannya. Ia seperti mengenal laki-laki yang sedang b******u tersebut. Laki-laki itupun berbalik, betapa terkejutnya Tania laki-laki yang sedang b******u mesra dengan wanita itu adalah Drake, suaminya. Tania berlari menjauh dari pemandangan yang menyakitkan di depan matanya, di bekapnya tangannya agar tidak berteriak menyumpahi dua orang yang ada di depan matanya tersebut. Tania pun terbangun dari komanya dengan nafas yang tersengal. Di bukanya kedua matanya dengan perlahan, kemudian dipandanginya sekeliling ruangan. “Ini bukanlah kamarku, juga bukan kamar hotel tempatku menginap!. Mengapa aku berada di sini, seingatku aku sedang mandi berendam di dalam bath up, siapakah yang telah menolongku?" Tanya Tania dalam hatinya. Tania melihat ada jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Sudah berapa lama aku ada di dini?, begitu banyak pertanyaan di kepala Tania, sehingga membuatnya merasa pusing. Tenggorokan Tania terasa kering. Kemudian ia melihat Desi, ibunya yang sedang berbaring di atas sofa yang ada di ruangan tempat Tania dirawat, tak ingin membangunkannya, ia mencoba menggapai gelas yang ada di atas meja samping ranjang tempat tidur, akan tetapi ternyata tangan Tania tak sampai meraih gelas itu, malah menyenggolnya hingga jatuh dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Desi yang kaget, mendengar bunyi benda jatuh segera bangkit dari tidurnya. Dilihatnya Tania, yang telah sadar dan duduk di kasurnya. “Sayang, kau sudah sadar!!!.” Ucap Desi dengan rasa bahagia. Kau ingin apa sayang?, akan ibu ambilkan.” “Haus, Bu, aku ingin minum.” Ucap Tania lirih. Desi kemudian beranjak dari tempatnya, untuk mengambilkan air minum bagi Tania. Tania meminum air yang ada di gelas, yang diberikan oleh Desi hingga tandas. “Berapa lama aku ada disini, Bu?, dan siapa yang sudah menolongku Bu?” “Kau sudah dua hari berada di sini, dan selama ini kau koma. Kata dokter kau beruntung, karena suamimu, Drake dengan cepat membawamu ke rumah sakit, sehingga kau cepat mendapat perawatan dan nyawamu pun dapat tertolong.” “Jadi, Drake yang membawaku ke rumah sakit, bukankah dia ingin melihatku meninggal, mengapa dia menolongku.” “Bukankah harusnya dia merasa senang kalau aku meninggal dan tidak lagi menjadi penghalang dalam hubungannya dengan kekasihnya. “Sekarang, Drake ada dimana, Bu?, kenapa aku tidak melihatnya? “Suamimu hari ini harus ke kantor, ada hal yang penting harus dikerjakannya. Dia selalu setia menemanimu selama beberapa hari ini.”Maafkan ibu berbohong, nak, ibu tidak ingin melihatmu kecewa kalau mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa suamimu tidak pernah datang untuk menjengukmu selama di rumah sakit, gumam Desi dalam hatinya. “Benarkah Bu!.” Kemudian Tania merebahkan kembali tubuhnya, karena ia masih merasa sangat lemah. Didengarnya, ibunya menghubungi Arsyandi, melalui gawainya, untuk mengabarkan kalau Tania telah sadar dari komanya. Sementara itu di sebuah apartemen mewah, terlihat dua orang sedang tertidur berpelukan di atas kasur. Kaki mereka saling membelit, sementara tangan mereka saling bertautan. Selama beberapa hari ini Drake menghilang, ia berada di apartemen kekasihnya Jessica. Ia benar-benar melupakan istrinya yang sedang terbaring koma di rumah sakit. Setelah pergulatan panasnya dengan Jessica, Drake pun tertidur. Drake menginap di apartemen Jessica, karena ingin melupakan permasalahannya dengan istrinya dengan bercinta bersama kekasihnya, Jessica. Gawainya pun sengaja tidak diaktifkannya, ia tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaanya dengan Jessica, meski itu keluarganya sendiri. Ia benar-benar tidak ingin mendapatkan gangguan dari siapapun. Jessica, kekasih Drake sangatlah pandai membuat Drake merasa nyaman, hingga Drake dibuatnya melupakan Tania yang sedang terbaring di rumah sakit. Drake terbangun dari tidurnya, dilepaskannya pelukan Jessica, lalu dikecupnya bibir Jessica lembut. Kemudian ia beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, diambilnya celana kain dan dipakainya kemeja berwarna putih pas badan untuk membalut tubuhnya yang gagah dengan perut kotak-kotak miliknya. Jessica juga terbangun dari tidurnya, netra hitamnya bertatapan dengan netra biru milik Drake. “Kau sudah rapi, apakah kau akan pergi?.” Tanya Jessica. “Drake aku ingin liburan ke Singapura, ada tas yang ingin kubeli di sana, maukah kau mentransfer uang untukku?”. Rayu Jessica dengan manja kepada Drake. Drake hanya tersenyum ke arah Jessica, diambilnya gawainya dilihatnya banyak sekali pesan dan panggilan dari kedua orangtuanya. Dibacanya pesan dari ayahnya yang mengabarkan bahwa Tania telah sadar dari komanya. “Jadi Tania sudah sadar dari komanya, sepertinya aku harus menjenguk dirinya.” Gumam Drake dalam hatinya. Kemudian melalui aplikasi banking di gawainya, ia mentransfer uang senilai 100 juta ke rekening Jessica, kekasihnya. “Aku, sudah mentransfer uang 100 juta ke rekeningmu, bersenang-senanglah kamu di Singapura.” “Aku harus segera pergi ke rumah sakit, Tania sudah sadar dari komanya. Kemudian Drake beranjak menuju Jessica yang masih berbaring di atas tempat tidur, di ciumnya kening dan bibir Jessica sekilas. Setelah itu, Drake pun beranjak pergi meninggalkan apartemen Jessica menuju ke rumah sakit tempat Tania dirawat. Dalam hatinya Drake merasa bersyukur, kalau Tania sudah sadar dari komanya. Drake mengemudikan mobilnya dengan perlahan menuju ke rumah sakit tempat Tania di rawat. Setibanya di rumah sakit, Drake segera menuju ke ruang rawat tempat Tania dengan menggunakan lift. Tak lama kemudian sampailah Drake di depan ruang VVIP tempat Tania di rawat. Dilihatnya Tania sedang makan disuapi Desi, sementara Arsyandi dan kedua orang tuanya terlihat duduk di sofa yang ada di ruang rawat Tania. “Akhirnya, kau muncul juga dari persembunyianmu,” sindir Gilbert, ayah Drake. Drake hanya mendengus mendengar ucapan ayahnya Kuhampiri Tania, kulihat bibirnya bergetar dan matanya tampak ketakutan melihatku. “Pergi...pergi...,jangan sakiti aku lagi!!!, teriak Tania ketakutan. Kemudian dilemparnya guling yang ada di sisinya kearahku. Kuurungkan langkahku untuk menghampiri Tania, aku kemudian keluar begitu saja dari kamar VVIP tersebut. Masih dapat kudengar Tania berteriak-teriak, “Ya, Tuhan. Apakah istriku sudah menjadi gila?.Tak lama berselang kulihat dokter dan perawat bergegas memasuki kamar rawat Tania. Aku pun mengikuti Dokter dan perawat tersebut memasuki kamar Tania. Lalu kulihat dokter memberikan suntikan obat penenang kepada Tania, agar ia menjadi tenang kembali. tak berapa lama kemudian, Tania pun tertidur setelah mendapatkan suntikkan penenang dari dokter. “Mengapa pasien menjadi histeris, tanya dokter?.” “Putri kami, menjadi histeris ketika melihat suami bre***eknya.” Ucap Desi, ia merasa marah dan kecewa kepada suami dari anaknya. Aku kemudian berlalu dari ruang rawat inap Tania, tidak ingin mendengarkan lebih lanjut kemarahan ibu Tania kepadaku. Ternyata daddyku, mengikutiku keluar dari ruang rawat Tania, dengan kesal dipukulnya pundakku. “Lihat, apakah yang sudah kau lakukan, hah!!!, perilakumu itu benar-benar mengecewakan daddy. Daddy merasa malu kepada kedua orang tua Tania. Istrimu di rawat di rumah sakit karena ulahmu. Namun, apa. Kamu malah tidak berada di samping istrimu, untuk mendampinginya. Kamu fikir daddy tidak tahu kemana saja kamu selama ini, orang kepercayaan Daddy baru saja memberitahukan kalau kamu menginap di apartemen wanitamu itu.” “Kamu tahu, apa yang akan daddy lakukan padanya, kalau kalian tetap berhubungan. Putuskan hubungan kalian segera!!!.” Ancam daddy kepadaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD