“Bos ada apa, kenapa?”
Jo menoleh ke arah sumber suara. Ternyata di sana ada beberapa orang yang akan datang menghampirinya. Dia panik karena tersadar kalau keadaan tubuhnya saat ini tidak memungkinkan untuk ditunjukkan pada siapa pun. Dia hanya akan menjadi bahan tertawaan semua karyawan.
Dengan tergesa Jonathan kembali lagi masuk ke dalam ruangannya. Dia tidak ada pilihan selain bersembunyi. Sambil berdiri terengah-engah di depan pintu Jonathan menunggu semua orang itu pergi. Namun ….
Tok tok tok
Suara pintunya terdengar diketuk dari luar. Jonathan mengumpat dalam hati. Kenapa mereka datang di saat yang tepat.
“Pak Jo, Anda tidak lupa kan kalau ini ada sesi wawancara untuk sekretaris Anda yang baru?” terdengar suara Keyra, HRD LLC yang bertugas menyaring para pegawai baru di perusahaannya.
Aduh kenapa mesti hari ini penyakitku kambuh. Kemana juga tuh perginya si Frans?
“Pak Jo, apa Anda tidak apa-apa. Saya lihat kaki Anda terluka. Di sini kenapa ada beling berserakan?” teriak Keyra heran.
“Boy … Boy! Kemana lagi tuh OB?” terdengar suara Keyra memanggil Boy untuk membersihkan serpihan beling di depan pintu ruangan Presdir-nya.
“Keyra, tolong carikan Frans dulu dan minta dia untuk datang ke ruanganku sekarang juga!” teriak Jonathan meminta Keyra untuk mencari Frans.
“Baik Pak!”
Jonathan melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Dia sudah sangat terlambat datang ke hotel. Dan bagaimana dengan Agnes yang sudah menunggunya di sana. Sementara ini, dirinya masih terjebak di ruangannya dengan kondisi tubuh yang sudah tidak tahan karena sensasi terbakar dan sensasi gatal yang merayap di tubuhnya.
Jonathan masih bertahan di depan pintu ruangannya. Dia tidak bisa keluar karena melihat ada beberapa orang yang berdiri di ruangannya. Mereka adalah calon sekretaris yang akan diseleksi hari ini melalui sesi wawancara.
“Eh lihat! Apa kau tahu siapa dia?”
Jonathan tidak sengaja mendengar percakapan di balik pintu ruangannya.
“Sudah berapa kali aku bareng dengan dia melamar pekerjaan. Dan sekarang aku bareng lagi sama dia.”
Jonathan masih mendengar percakapan antara orang-orang yang hendak diseleksinya hari ini.
“Memangnya kenapa dengan dia?”
“Dia punya wajah lumayan, bentuk badan yang aduhai. Pasti banyak Bos yang suka sama penampilan dia yang good looking itu.”
“Tapi harusnya dia sudah keterima di perusahaan yang kita lamar sebelumnya. Kenapa dia bisa berada di sini?”
“Mungkin dia tidak keterima. Tapi bukankah perusahaan ini membuka lowongan pegawai untuk tahun ini tidak berdasarkan kualifikasi akademik dan latar belakang lainnya. Sangat mudah sekali perekrutan pegawai tahun ini?”
“Ya, kamu benar. Bahkan lulusan SMA aja bisa melamar lho. Dan … oiya aku dengar gaji di LLC ini paling tinggi. Dan menurut bocoran para karyawan di sini, bosnya tampan banget.”
“Benarkah?”
“Hmm, jadi enggak sabat ketemu calon bos dan diwawancara.”
“Bukankah yang tadi itu bosnya, yang sempat kita lihat dia nginjek beling di sini?”
Jonathan menghela napas dengan percakapan calon-calon karyawannya itu. Satu hal yang dia tidak suka adalah banyak bicara dan banyak gosip yang tidak penting.
“Eh, tapi kenapa dia tidak gabung dengan pelamar yang lain?”
“Dia juga begitu, dia tidak mau gabung. Lagaknya seperti yang paling cantik. Aku belum apa-apa udah ilfil.”
“Eh tahu enggak, siapa namanya itu?”
“Siapa?”
“Meilani.”
“Kok kamu tahu sih?”
“Aku pernah satu SMA dengannya.”
“Nah, kok enggak kayak saling kenal?”
“Males banget. Dia itu terkenal suka nipu dan memanipulasi orang.”
“Benarkah. Wah bahaya sekali kalau dia bekerja di perusahaan seperti LLC ini. Dan enggak dipercaya jika seleksinya tidak ketat seperti di perusahaan yang lain.”
“Memangnya ada apa?”
“Aku dengar dia pernah dipenjara karena kasus penipuan.”
“Wah, bahaya banget jika dia sampai diterima.”
“Awas minggir nona-nona cantik, saya mau lewat dulu!” terdengar suara Frans yang mencoba lewat dan masuk ke dalam ruangan presdir. Jonathan kemudian menarik napas lega karena penyelamatnya sudah datang.
Ceklek.
Frans segera masuk dan segera melihat kondisi Jonathan yang sudah berubah merah. Bayangkan film Hulk, dia akan berubah menjadi besar dan berwarna hijau saat dia marah dan terancam. Sementara Jonathan, untuk badannya memang tidak berubah menjadi tambah besar. Tapi seluruh tubuhnya memerah.
“Bos, maaf tadi aku ada perlu dulu ke keluar. Bagaimana ini, tubuhmu sudah memerah semua dan –”
“Aku sudah mem-booking Agnes di hotel biasa.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan mensterilkan area evakuasi dulu!” ucap Frans dengan nada seperti seorang anggota pasukan pengamanan presiden.
“Uruslah cepat!” ucap Jo sambil mengibaskan tangannya agar Frans segera mengosongkan area di depan ruangannya itu.
“Oke!”
Frans kembali keluar dan terdengar oleh Jonathan kalau dia mengajak semua orang untuk pindah ke ruangan meeting.
Jonathan bisa mendengar langkah mereka semakin menjauh dari ruangannya. Jonathan kemudian mengintip dan membuka sedikit pintu ruangannya untuk memeriksa keadaan di luar. Tangannya masih aktif menggaruk lehernya.
Setelah dirasa cukup aman, Jo kemudian keluar dan menjulurkan kepalanya terlebih dahulu sebelum tubuhnya yang lain.
Aman.
Jonathan kemudian melangkah keluar dengan telanjang kaki. Tapi kembali lagi Jonathan mengaduh. Dia kembali menginjak serpihan beling.
“Dasar Adam j*****m!” teriak Jo sambil tertatih-tatih berjalan.
“Apa Anda baik-baik saja Pak?” Jonathan tersentak saat seseorang datang menghampirinya untuk membantunya.
“Jangan mendekat!” cegah Jonathan menghentikan orang itu untuk mendekat.
“Tapi kaki Bapak terluka dan banyak darah yang keluar!”
Jonathan mendengkus kesal karena dia harus kepergok oleh orang lain dalam keadaan seperti ini.
Tapi Jo kemudian melihat orang itu tidak melihat ke arahnya. Dia malah membungkuk dan mencoba membersihkan kakinya dari pecahan beling yang masih menempel di kakinya dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
“Kau tidak perlu melakukannya. Pergilah dan jangan melihatku!” bentak Jonathan yang tidak mau kalau dia terlihat dalam keadaan seperti karakter burung Angry Bird.
“Maaf Pak, saya hanya ingin membantu Bapak. Kalau Bapak menyuruh saya pergi, saya akan pergi.” Jonathan kemudian melihat orang yang membantunya adalah seorang wanita. Tanpa melihat wajahnya wanita itu berbalik dan mengikuti apa yang diucapkan Jonathan.
Jonathan kemudian melihat tangannya perlahan berubah lagi menjadi normal. Sensasi panas terbakarnya agak mereda, dan Jonathan baru sadar kalau wanita tadi menyentuh kakinya.
“Tunggu dulu!” panggil Jonathan memanggil wanita itu.
Wanita itu kemudian berbalik dan menundukkan wajahnya. Dia tidak berani melihat wajah Jonathan karena dia melarangnya untuk menatap wajahnya.
“Apa kau calon pegawai yang mau diwawancara?” tanya Jonathan.
“Betul Pak,” ucap wanita itu.
“Kalau begitu masuklah ke ruangan saya!”
“Tapi bukankah tempat wawancaranya di ruangan yang lain?”
“Ya, tapi itu hanya ruang tunggu. Kau masuklah ke ruanganku lima menit lagi. Apa kau siap diwawancara?” tanya Jonathan.
“B-baik Pak.”
Jonathan kemudian kembali lagi masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat tubuhnya mulai mereda.
Apa karena sentuhan wanita itu, aku menjadi kembali pulih. Bagaimana dengan Agnes yang sudah menungguku.
Jonathan kemudian menelepon Agnes untuk membatalkan pertemuan mereka di hotel.
“Aku cancel, tapi aku akan transfer uang sebagai waktu mu yang terbuang!”
Jonathan tanpa basa-basi dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Dengan tertatih dan perih karena terluka. Jonathan duduk di kursi sofa khusus untuk para tamunya.
Lima menit kemudian, terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk!”
Jonathan kemudian melihat seorang gadis cantik masuk. Dia adalah wanita yang tadi menolongnya. Jonathan memiringkan kepalanya saat melihat gadis itu.
“Selamat siang Pak.”
“Hmm, duduklah!” Jonathan memerintahkan gadis itu untuk duduk di depannya.
“Terimakasih Pak.”
Tubuh Jonathan belum sepenuhnya normal kembali. Kulitnya masih berwarna merah walau hanya sebagian. Jo bisa melihat wajah wanita itu sedikit terkejut melihat wajahnya dan juga dadanya yang masih belum sempat dia kancingkan lagi.
“Sebelum kita mulai sesi wawancaranya. Bisakah aku minta tolong padamu?”
“Apa itu Pak?”
“Mengobati penyakitku!”
“M-maksud Bapak, luka di kaki Bapak?” tanya gadis itu dengan wajah menegang. Bagaimana tidak tegang, Jonathan tampil di depannya dengan baju yang terbuka dan menampilkan dadanya yang bidang dan rahang lehernya yang begitu maskulin. Belum lagi perut roti sobeknya yang seperti baru dipanggang di oven. Menggiurkan.