Esoknya di sekolah, Caca menjadi bahan perhatian orang-orang. Ia sudah melihat cermin di toilet perempuan tiga kali hari ini dan tidak melihat ada yang aneh di wajahnya atau seragamnya. Ia juga sudah menanyakan pada Bella, teman satu mejanya dan gadis itu bilang Caca cantik seperti biasanya.
Caca ingin bertanya lebih jauh lagi kenapa ia menjadi bahan perhatian lebih banyak untuk hari ini pada Bella, namun gadis yang hanya tahu pada buku itu mengangkat bahu tak tahu apa-apa.
Hari ini Zeon tak ada, jadi Caca bingung ingin bertanya pada siapa lagi. Karna di sekolah ia hanya mengenal Zeon, Bella dan Qeenan. Ah, iya Qeenan. Gadis itu menepuk dahi sendiri karna lupa pada Qeenan. Yah, setidaknya ia masih mengenal tiga orang di sekolah ini daripada tidak sama sekali. Terkadang segala sesuatu yang bisa di lakukan sendiri tidak lah menyenangkan. Sebab terlalu lama tinggal di sini juga membuat Caca kadang lupa kalau ia memiliki kekuatan yang tak perlu membuatnya repot-repot seperti ini.
Gadis itu berjalan cepat di selasar kelas, menuju kelas Qeenan yang berada di paling ujung selasar. Namun saat di persimpangan selasar ada tangan yang menariknya ke kiri, ke arah gedung laboratorium yang jarang dipakai. Itu Qeenan, dan wajah cowok itu tampak kesal.
"Lo mau kemana Ca? Nyari gue ke kelas?" Qeenan sontak bertanya dan terlihat sedikit kesal. Caca mengangguk, karna memang itu tujuannya.
Qeenan mendesah frustasi dan mengacak-acak rambutnya. "Lo belum tau alasan orang-orang merhatiin lo dari pagi?" Kontan Caca menggeleng.
"Ada yang bilang kalau lo itu suka gonta ganti cowok, nempel sana-sini, kegatelan. Itu yang gue denger dari orang-orang." Caca memiringkan kepala kembali mengingat kalimat kemarin yang ia ucap didepan si gadis berambut sebahu yang ternyata sekarang sudah tersebar menjadi rumor yang tak menyenangkan. Agaknya gadis berambut sebahu itu perlu diberi pelajaran.
"Kenapa bisa kayak gini sih? Lo emang ngapain aja? Kok ada yang nyebar rumor jelek tentang lo di sekolah." Suara Qeenan melunak, ia menggenggam ke dua tangan Caca erat. Ia takut Caca terluka akan rumor tak berdasar ini.
Caca malah tersenyum, menatap Qeenan tepat di iris coklat gelapnya. "Lo gak usah khawatir Qeen, gue bisa ngatasin ini semua. Toh, dari dulu gue juga sering dapat rumor yang lebih jelek dari ini kan?" Caca menyahut santai. Ia merupakan orang yang bisa dibilang sering menerima rumor jelek dan komentar jahat, karna gadis itu tampak cantik dan tanpa cela, namun ia terkesan sombong dan menjauhi orang-orang yang ingin berteman dengannya. Makanya ia sering mendapati orang-orang berkata jelek tentang dirinya. Namun, tenang saja. Karna hal ini sudah biasa dan Caca selalu bisa mengatasinya. Baik itu membuat celaka si pembuat rumor, mempermalukannya atau bahkan membullynya kembali. Tidak ada yang tidak bisa Caca lakukan.
Qeenan masih saja menatap khawatir. "Lo yakin Ca?"
Caca mengangguk mantap dan melepas genggaman tangan Qeenan dari tangannya. "Gue mau selesain ini dulu. Lo gak usah khawatir." Caca melangkah mendekat, mempersempit jarak dengan Qeenan dan mengecup pipi cowok itu, kemudian tersenyum dan berlalu pergi.
Tinggal Qeenan di sana yang berdiri mematung dengan detak jantung sedang konser gila-gilaan dan wajah memerah.
**
Gadis berambut sebahu itu sedang mengobrol asik dengan serombongan siswa perempuan yang Caca tahu kalau mereka adalah siswa beken yang mengajaknya masuk anggota cheerleader bulan lalu, tentu saja Caca menolak mentah-mentah. Mereka asik mengobrol hingga tak sadar kedatangan Caca di depan mereka. Jelas sekali mereka sedang membicarakannya, terlebih melihat sikap mereka yang gelagapan saat Caca berdeham karna terlalu lama kehadirannya tak disadari.
Mereka segera berlalu pergi dan masih asik berbisik-bisik sembari melirik Caca. Kini tinggal gadis berambut sebahu itu di sana berpura-pura kuat menatapnya padahal kaki gadis itu sedang gemetar. Sejak tadi Caca menahan aura marahnya untuk keluar, namun ketika sudah berdua dengan gadis berambut sebahu ini, aura panas akibat rasa kesalnya keluar. Siapa suruh memancing amarah dari gadis pewaris kekuatan ini.
Gadis berambut sebahu itu mulai berkeringat. "Kenapa? Mau apa lo sama gue?" tanyanya dengan suara dibuat-buat setegas mungkin. Dikira Caca akan takut.
Caca mendekat, kembali memainkan ujung rambut gadis itu sembari berpikir apa yang akan ia lakukan untuk hadiah bagi si pembuat rumor jelek tentangnya kali ini. "Lo pinter ya ternyata. Sekali ngomong semuanya udah kesebar sampai satu sekolahan pada merhatiin gue." Caca memberi aplaus dengan seringai tipis.
"Maksud lo apa? Satu sekolahan merhatiin lo kenapa?" Gadis berambut sebahu itu mulai mengipasi dirinya dengan tangannya sendiri berharap rasa panas segera pergi.
"b**o juga lo ya ternyata." Caca terkekeh sebentar. Ia kembali mendekat, meraih dagu gadis itu dan mencengkramnya kuat.
"Buat congor yang bikin rumor jelek tentang gue ini." Ia berhenti sejenak dan mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Bilang sama semua orang kalau yang lo omongin tentang gue itu bohong. Karna lo sendiri yang kegatelan dan suka nempel ke cowok sana-sini. Karena apa, karena lo marah sama gue yang gak bolehin lo deket-deket sama Qeenan. Lo ngerti?" Caca mengucapkan kata demi kata pelan dan tiap ia berucap ada segaris cahaya yang ikut masuk ke dalam telinga gadis itu. Tak lama gadis itu menganggukkan kepala. Caca melepaskan cengkramannya dan membiarkan gadis itu berlari menjauh.
Selesai. Rumor jelek tentangnya sudah selesai. Tak akan ada lagi yang memerhatikannya berlebihan sembari berbisik dan membuat tak nyaman seperti tadi. Beginilah cara Caca menyelesaikan masalahnya. Memanipulasi benak orang itu dan memberi perintah mutlak yang tak akan bisa di bantah.
Namun, mereka tidak berdua di sana. Di sisi lain dinding ada Bella yang mendengar semuanya.
**
Caca melangkah kembali ke kelas, namun saat ia melewati samping laboratorium yang tak terpakai lagi, ia kembali ditarik seseorang.
“Siapa sih!” seru Caca kesal. Namun, ia dibuat diam saat sosok tampan Lana mencuri perhatiannya.
“Ganteng banget astaga.” Caca barujar refleks.
Qeenan yang juga ada di sana menepuk dahinya tak habis pikir dengan tingkah Caca, sedangkan Zeon yang tadi menarik Caca hanya tertawa kecil.
“Kenalin Ca, ini Abang gue.” Zeon lalu memperkenalkan Lana pada Caca.
Lana tersenyum dan membungkukkan badannya seperti menyambut putri kerajaan. “Halo tuan putri pewaris kekuatan. Perkenalkan hamba Lana Larasfa.” Lalu tangannya terulur menanti tangan Caca seperti hendak mengajal berdansa.
Namun, Qeenan menepis tangan Lana dan bersungut-sungut. Cowok itu cemburu akan suasana romantis yang tercipta di hadapannya. “Apaan sih lebay banget!!”
Lana menatap kesal Qeenan. Dan Qeenan balas melotot. Sedangkan Zeon malah mengompori. Jadi, Caca sebagai yang waras di sini menyelesaikan aksi tatapan sengit itu dengan menyambut tangan Lana dan berjabat memperkenalkan dirinya juga, “Gue Caca bang, temennya Zeon.” Sambil tersenyum tentu saja.
Qeenan langsung menepis tangan Caca yang berada dalam genggaman Lana. Kemudian mengomel, “Apaan sih pake pegangan tangan segala!”
“Qeen, lo yang apaan!” Caca balas mengomel dan memelototkan matanya kesal pada Qeenan, namun langsung tersenyum manis lagi pada Lana.
"Lo kok gak masuk?" tanya Caca pada Zeon.
Zeon tertawa, "Males, pegel-pegel badan gue abis kerja rodi kemaren. Iya gak Qeen?"
"Enggak." Qeenan kontan menggeleng. "Gue gak lemah kayak lo, buktinya gue sekolah sekarang."
"Halah, itu kan gara-gara insting lo yang bilang kalau Caca lagi gak aman di sekolah." Zeon mengelak dan memberitahu kebenarannya. Qeenan jadi tidak keren lagi di mata Caca.
Namun, Caca tak terlihat peduli. Kini gadis itu sibuk bicara dengan Lana.
"Tuan putri baik-baik saja kan?"
Caca mengangguk dan tersipu. "Bang, panggil Caca aja, berasa punya banyak istana gue dipanggil tuan putri."
Lana tertawa, renyah sekali. Adalah jenis tawa yang Caca suka. Gadis itu terpaku sesaat mendengarnya.
"Okey. Kita pakai bahasa non formal aja ya. Lo gak apa-apa kan?"
Caca menggeleng.
"Berarti instingnya Qeenan salah."
Qeenan hendak berseru protes, namun Caca langsung mengambil alih. "Gak salah Bang. Insting Qeenan gak pernah salah. Tapi, urusan yang bikin gue gak aman di sekolah udah selesai."
Setelah berujar seperti itu, Caca melihat ke koridor kelas-kelas di sebrang tempatnya berdiri. Dengan jarak lapangan basket, Caca bisa melihat si gadis berambut sebahu bicara dengan sekelompok orang, lalu berpindah ke kelompok lainnya, begitu terus hingga sosok itu hilang dari pandangan Caca.
Orang-orang yang telah bicara dengan si gadis berambut sebahu itu memberi reaksi yang berbeda-beda, ada yang tertawa, bingung dan bahkan ada yang heboh seraya menunjuk-nunjuk si gadis berambut sebahu itu sambil berseru, "CEWEK GILA!"
Caca hanya memberi senyuman miring dan seketika auranya muncul. Qeenan, Zeon dan Lana baru bisa memahami situasinya setelah Qeenan bercerita yang sebenarnya. Dan merasakan kalau Caca memang pewaris kekuatan sungguhan dan tak ada yang bisa mengalahkannya. Padahal tadi mereka merasa kalau Caca seperti gadis manis yang suka tersipu malu.
Qeenan berdeham untuk menghapus situasi akward yang tiba-tiba datang. “Jadi alasan lo sama Abang lo di sini buat apa?” Dengan ke dua alis yang dinaik turunkan, Qeenan memberi kode pada Zeon agar segera bicara.
“Oh, eh iya... kita mau ngajak lo sama Qeenan bolos Ca.” Zeon berujar sedikit terbata-bata.
“Bolos? Kemana?”
“Ke sesuatu tempat yang bakal lo suka Ca.” Setelah berujar seperti itu, Zeon dan Qeenan lantas membawa Caca ke gedung belakang laboratorium yang banyak tumbuh beberapa tanaman obat yang dirawat oleh salah satu Guru Biologi di samping lebatnya pohon beringin dengan sulur-sulur yang menyapu tanah. Katanya pohon itu berhantu dan rumor tersebut menyebar ke seluruh sekolah, sampai tak ada satu pun murid yang pernah datang ke sini.
Ternyata di balik pohon beringin itu ada pintu besi berkarat yang tampak baru saja dibuka paksa dari belitan rantai yang teronggok di bawahnya. Zeon membuka pintu itu dan kembali menarik Caca untuk masuk ke dalam mobil Qeenan yang sudah disiapkan di sana.
Caca duduk berdua bersama Qeenan jok tengah dengan Lana yang menyetir dan Zeon di kursi sebelahnya. "Okay, selamat siang penumpang satu-satunya kami dalam perjalan menuju kesenangan duniawi, saya sebagai pemandu anda di sini akan senang hati melayani anda apa pun itu." Dengan senyum lebar kalimat terakhir Zeon mengantarkan mereka pergi dari samping sekolah.
**
Hijau pucuk-pucuk pohon di kejauhan menggantikan deretan gedung-gedung tinggi yang semakin jarang terlihat di sisi kiri dan kanan jalan. Caca menerima kentang goreng ukuran besar dari tangan Zeon sang pemandu wisata ala-ala yang tampak sudah sangat fasih melakukan pekerjaan barunya.
"Dan ini minuman dingin pesanan anda Nona, selamat menikmati." Caca tersenyum geli sebagai balasan. Setelah setengah jam perjalanan dan agaknya dirasa masih berkilo-kilo meter jauhnya lagi, Caca tidak lagi memprotes dan bertanya penasaran pada mereka bertiga tentang acara bolos bersama dadakan ini. Toh, sesekali tak apa. Kalau nanti Bang Rafa marah tinggal tunjuk saja Qeenan sebagai tumbal.
Ramainya kendaraan perlahan tersisa satu dua dan sekarang hanya mobil yang mereka tumpangi saja yang tersisa. Kadar ketebalan aspal mulai terlihat berkurang saat Qeenan membelokkan stir ke kanan. Aspal yang mengelupas dan beberapa lubang-lubang kecil yang membuat jalannya mobil tidak rata dan sebelum Caca ingin memprotes, Zeon selaku pemandu acara berujar cepat. "Maaf Nona, untuk beberapa menit ke depan anda harus merasakan perjalanan tak nyaman seperti ini. Ini bukan prosedur yang kami kira, sebagai konpensasi kami akan menuruti apa yang anda inginkan nanti setelah sampai di tempat tujuan."
Dan Caca mulai berpikir apa yang akan ia minta nantinya. Rasa-rasanya akan memenuhi daftar panjang. Tapi, tunggu dulu. Tempat seperti apa yang akan mereka tuju sih? Dan lagi Zeon kembali memotong saat Caca baru saja membuka mulut hendak berbicara. "Tempatnya masih rahasia. Nanti Nona cantik akan tahu, sabar ya." Caca memajukan bibir kesal tapi tetap harus menahan marah sampai mereka sampai di tempat tujuan yang katanya rahasia ini.
Batang-batang pohon yang menjulang tinggi dengan pucuk-pucuk hijau yang mencium langit serta jalanan aspal yang sudah berganti dengan tanah berbatu memberi kesan hening yang ganjil meskipun udara segar membuat paru-paru senang bukan main.
Zeon kembali berceloteh. "Selamat datang Nona, maaf setengah perjalan yang membuat anda tidak nyaman ini. Kita sudah sampai di dunia kami." Zeon turun lebih dulu diikuti Qeenan. Lalu pemandu acara ala-ala itu membuka pintu mobil untuk Caca dan tersenyum lebar.
Yang mereka sebut sebagai "dunia kami" itu adalah sebuah rumah pohon tingkat dua dengan rooftop yang mencapai pucuk pohon terbesar di tengah-tengah lingkaran pepohonan yang membentuk pagar. Terlihat agak ganjil tapi sungguh ini menakjubkan.
Pohon-pohon yang saling melingkar itu seperti pagar yang memagari rumah pohon di tengahnya. Batang pohon terbesar yang Caca lihat adalah penopang rumah pohon itu yang terletak tepat di tengah-tengah meskipun tumbuh agak ganjil dengan rebah beberapa meter lalu menjulang lebih tinggi dari pohon lainnya. Rumah pohon tingkat dua itu dicat hitam dan kontras dengan atap berwarna merah.
"Silahkan masuk Tuan Putri." Kini Lana yang mengambil alih sebagai pemandu ala-ala untuk Caca, ia membuka pintu rumah itu dan mempersilahkan Caca untuk masuk. Gadis itu tampak ragu, namun Qeenan dengan mantap menggenggam tangan Caca dan membawanya masuk.
Rumah itu hangat, terlihat seperti rumah nenek dengan perabotan modern di dalamnya. Caca dibawa ke ruang tengah rumah itu, ia duduk di sofa tepat di depan televisi yang sedang menyala. Kemudia Zeon datang membawakan makanan cepat saji yang masih mengepulkan asap. Caca menatap heran makanan itu lalu menatap Zeon. Zeon balas tersenyum. "Tenang saja, ini masih makanan cepat saji yang sering anda pesan Nona, hanya saja cara mendapatkannya di rumah ini menggunakan sedikit sihir, ya anda tahu lah seperti apa."
"Mungkin tuan putri masih bingung. Mulai dari pohon-pohon yang tumbuh membentuk lingkaran seperti pagar di luar sana, lalu rumah pohon tingkat dua ini dan makanan cepat saji itu, kami bertiga membangunnya dengan sedikit sihir yah meskipun pembangunan awal memang dilakukan secara manual.” Lana menjelaskan.
“Saking manualnya gue rasa lagi kerja rodi kemaren.” Qeenan menyela.
“Sttt... “ Lana meletakkan jari telunjukknya di depan bibir menyuruh Qeenan untuk diam. Lalu ia kembali melanjutkan, “Di sini tuan putri bebas melakukan apapun, apa saja yang berbau magic. Karna di sini dan di dalam lingkup pepohonan yang melingkar itu yang hanya bisa melihat dan masuk cuma kalian dan tentunya gue." Setelah Lana menjelaskan ia tersenyum begitu manis pada Caca, namun langsung melotot pada Qeenan yang terlihat hendak kembali menyela.
"Rumah ini dibangun atas ketidaknyamanannya kita melakukan semua hal layaknya manusia normal. Dulunya ini tempat pertama gue sama Abang gue di Bumi. Semacam tempat rekreasi bertahun-tahun yang lalu." Zeon menambahkan, ia datang dari arah dapur setelah Caca melihat sekilas cowok itu seperti membaca mantra dengan cahaya yang timbul bersamaan senampan makanan cepat saji lagi. "Selamat menikmati fastfood lagi, Nona," ujarnya kembali menjadi pemandu acara ala-ala.
"Lo gak bisa minta makanan yang lain? fastfood terus kolestrol ntar." Zeon sontak menggeleng. "Gue bisanya cuma ini, karna makanan yang pertama kali gue makan di sini ya fastfood."
"Astaga!" Caca merespon tak habis pikir dengan menepuk puncak kepala Zeon gemas.
“Maafkan kekurangtahuan Adik hamba, tuan putri. Hamba akan mengambil alih dapur dan menyiapkan makanan yang hendak tuan putri makan.” Lana berujar cepat, kembali menarik atensi Caca.
“Boleh nih Bang, apa aja?” Caca bertanya sedikit tak yakin.
Lana mengangguk.
“Yaudah kalau gitu, sekarang gue mau makan bakso yang rasanya sama persis kayak di pertigaan komplek rumah gue.”
Lana terdiam sesaat, sebelum mengangguk dan melesat pergi ke dapur.
“Gue rasa pernah liat deh, tapi dimana?” Caca bergumam pelan seraya mengetuk-ngetukkan jarinya pada permukaan meja.
“Familiar ya?”Qeenan menyahut. “Dia yang waktu itu lo bilang sosok dingin jelek.”
“Ha?” Caca terkejut bukan main. Karna sungguh sosok dingin dengan kerutan dan bunyi patahan sendi setiap ia bergerak itu benar-benar sosok yang menyebalkan di mata Caca, lalu bagaimana mungkin Abang Zeon dengan ketampanan rupawan bak aktor Korea ini adalah sosok yang sama dengan sosok dingin yang jelek tempo hari.
“Serius! Lo gak percaya kan?”
Caca membeku dan tampak menelan saliva masih tak menyangka. “Gilaaaa... “
Zeon tertawa, “Jadi Abang gue nemuin lo pakai rupa kakek-kakek ya?”
“Bukan kakek-kakek Zeon, tapi dia kayak salah satu pemeran di drama Korea yang jadi hantu terus riasan make upnya jelek ditambah bunyi patah-patah sendi tiap dia gerak. Kan gue males liatnya.”
Zeon semakin tergelak, “Asal lo tau Ca, jelek-jelek gitu, itu tuh salah satu penyamaran yang paling susah.”
“Ngeri banget,” respon Caca singkat.
Lalu siang itu dihabiskan dengan bakso hasil pencarian Lana ketempatnya langsung yaitu pertigaan komplek rumah Caca karna ia tak berhasil memunculkannya dengan kekuatan yang ia punya.
**