Setelah senja, mereka pun bubar. Caca pulang bersama Qeenan sedangkan Zeon dan Lana akan menginap di rumah pohon itu. Katanya malam ini Lana hendak melakukan suatu eksperiman. Tadinya, Caca ingin menginap saja dan sudah mendapat alasan untuk diberi tahu pada Rafka kalau ia akan menginap di rumah Bella, tak apalah sekali-kali berbohong. Namun, Qeenan sama sekali tak membolehkan dan bilang kalau akan memberitahu Rafka kebenarannya.
Caca jadi kesal dan sempat akan terjadi peperangan andai saja Lana tak melerai. Cowok itu dengan sabar membujuk Caca agar mau pulang ke rumah dengan Qeenan dan acara menginapnya dilakukan nanti-nanti saja. Karena visualisasi Lana bak pangeran yang turun dari khayangan, mau tak mau Caca menurut. Dan sekarang ia sudah berada di dalam mobil Qeenan yang melaju pelan di antara pepohonan. Langit jingga terlihat lebih menawan di antara pucuk-pucuk tinggi pepohonan. Caca tersenyum melihat pemandangan indah itu.
Namun, berbanding terbalik dengan Qeenan yang sejak tadi cemberut dan mengembungkan ke dua pipinya.
"Kenapa manyun-manyun sih?" Caca bertanya geli seraya menusuk-nusuk dengan jari telunjuknya pipi Qeenan yang mengembung. Seperti marshmellow.
"Lo kayaknya seneng banget abis ketemu Bang Lana,” gerutu Qeenan dan menjauhkan pipinya dari tusukan jari Caca.
"Iyalah, namanya juga ketemu pangeran," balas Caca sembari terkekeh geli.
"Pangeran apanya? Biasa aja. Masih gantengan juga gue." Qeenan berujar ketus.
"Gantengan lo Qeen? Qeenan jangan ngelawak, deh." Caca tertawa lepas. Yang membuat Qeenan semakin kesal saja.
"Yah cemberut lagi." Caca berujar geli, kemudian tangannya terulur untuk mencubit pipi Qeenan dan mengelus rambut cowok itu dari samping.
Matanya menatap lekat sisi kiri wajah Qeenan dan tiba-tiba saja ia jadi sedih dan khawatir. "Gue tau lo deket sama Zeon. Dan gue rasa Zeon orangnya loyal. Tapi, gue ragu sama Bang Lana. Meskipun lo sohib adeknya, itu gak memungkiri lo adalah cucu dari Moran, orang yang udah ngebunuh pacarnya Bang Lana. Yang mungkin, suatu saat nanti dia bakal pake lo buat alat balas dendam." Caca mencurahkan kekhawatirannya. Karena mau bagaimana pun juga Qeenan adalah orang terdekat dan yang ia sayangi setelah ke enam kakak laki-lakinya. Seketika wajah sumringah yang sudah seperti fangirl setelah bertemu biasnya secara dadakan berubah datar tanpa emosi. Qeenan menoleh sebentar lalu membelokkan mobilnya saat ia lihat papan nama tempat makan kesukaan Caca sudah terlihat.
"Lo udah tau ya?" tanya Qeenan sembari fokus memarkirkan mobilnya.
Caca mengangguk. "Bang Hansfa pernah cerita. Jadi, gue harap lo hati-hati, meskipun dia udah janjiin sesuatu yang bener-bener lo pengen."
Qeenan menelan saliva getir. Agaknya masih jauh sekali angannya untuk lepas dari ikatan Moran. Dan janji yang Lana ucap malam itu benar-benar menggiurkan. Namun, ia tentunya tak boleh menganggap remeh apa yang barusan Caca bilang. Caca mengkhawatirkannya, yang termasuk rasa peduli gadis itu terhadapnya, Qeenan jadi senang dan ia kini merasa malu karena sudah bersikap kekanakan dan cemburuan tidak jelas pada Caca.
"Turun yuk, gue tau lo pasti laper. Fastfood tadi sama sekali gak bikin kenyang." Setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan rapi, Qeenan mengajak Caca untuk turun.
Caca nyengir dan menyenggol bahu Qeenan. "Lo tau aja. The best deh." Lalu mengacungkan dua ibu jarinya. Caca tadi memakan burger keju ukuran sedang dan kentang goreng ukuran besar serta s**u coklat dingin, yang sama sekali tidak membuat Caca kenyang. Setelah tinggal di Bumi dan bertemu dengan nasi, Caca mau tak mau harus makan dengan nasi supaya lambungnya tak meronta lagi. Nasi memang the best bagi Caca.
Mereka berdua pun turun dan masuk ke tempat makan yang spesialis menjual pecel ayam, namun ada juga makanan lain seperti kwetiau, bakso, mienas, nasi uduk dan berbagai macam menu lainnya yang akan membuat perut bergejolak lapar. Dulunya tempat makan ini masih berjualan di pinggir jalan dengan gerobak dan warung tenda, terkadang kalau sedang hujan lebat air rembesan akan turun dari terpal atap karena kebanyakan ditimpa air hujan. Namun, sekarang gerobak dan warung tenda itu sudah pindah ke ruko dua pintu yang luas dan tidak akan terjadi kebocoran lagi saat hujan.
Caca menyapa bapak penjual di balik meja kasir selaku pemilik tempat makan itu, mereka sudah saling mengenal karena Caca memang langganan di tempat makan itu sejak masih gerobak dan warung tenda dulu. Caca kemudian memesan makanan untuknya dan juga untuk Qeenan, lalu mencari meja yang masih kosong. Karna di saat sore menjelang malam seperti ini, cukup ramai pelanggan yang datang.
Qeenan menemukan lebih dulu meja yang kosong di sudut ruangan dekat tangga ke lantai dua. Lokasi yang strategis sekali karna dua meja yang dekat dengan tangga ini lantainya dibuat lebih tinggi, sehingga bisa lebih jelas melihat ramainya pelanggan yang sibuk makan maupun pelanggan yang baru tiba dari depan.
Qeenan sudah sibuk dengan ponselnya yang menampilkan karakter gamenya sedang perang. Dan Caca sesekali melirik ke ponsel Qeenan yang terlihat seru, hingga ia baru menyadari kehadiran pelanggan baru yang ia kenal datang. Yaitu Samuel, dan dia tidak sendirian. Ada tiga orang lagi di belakangnya, agaknya mereka adalah teman kuliah Samuel. Mereka memilih meja terdekat yang baru saja kosong ditinggal pelanggan yang selesai makan di meja paling depan. Untungnya mereka tidak memilih meja kosong yang muat untuk empat orang di sebelah meja Caca. Kalau itu terjadi Caca lebih memilih menghilang saja dari sana.
Caca masih merasa kesal dengan Samuel sebab kejadian tempo hari, cowok itu juga tak mengabari sama sekali dan menanyakan kabar Caca setelah hari itu. Oleh karena itu, Caca merasa kalau kedekatan mereka hanya sebatas Kakak dan Adik. Brothers’s friend relathionship. Istilahnya saja sudah tidak enak didengar.
Samuel duduk membelakangi Caca, dan tida orang temannya duduk melingkari meja. Dua perempuan dan dua laki-laki. Sudah seperti dua couple saja. Dan salah satu perempuan yang ada di sana adalah Tasya. Gadis tempo hari yang membuat Caca kesal.
Diperhatikan lagi, Tasya punya gummy smile yang membuat ia semakin manis. Dengan rambut ikal sepunggung dan alis mata tebal, sosoknya terlihat sangat manis. Kata Rafka, Tasya punya hubungan yang cukup dekat dengan Samuel di kampus. Berarti mereka sering bertemu, bukan? Wah, Caca rasa ia perlu menghapus perasaannya untuk Samuel mulai dari sekarang.
“Liat apaan sih? Makanannya udah nyampe loh.” Qeenan membuyarkan lamunan Caca. Ia segera mengambil kesadaraannya dan kaget saat melihat meja sudah penuh dengan makanan pesanan mereka.
“Perasaan gue gak mesen sebanyak ini.” Caca ingat sekali kalau ia memesan pecel ayam satu porsi dengan dua nasi dan tambahan sambal. Tapi, yang ada datang malah pecel ayam porsi jumbo.
“Kata mbak yang nganter, ini bonus buat lo Ca sebagai pelanggan tetap di sini.” Qeenan memberitahu sembari mulai makan.
“Gue gak denger mbaknya ngomong gitu.”
“Ya lo nya bengong.” Qeenan berdecak pelan. “Abis liat apaan sih emangnya?”
Caca diam saja tak menjawab, ia mulai sibuk memakan makanannya. Namun, Qeenan yang terlanjur penasaran mencari-cari sesuatu yang Caca lihat sampai tak sadar pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Pencarian Qeenan membuahkan hasil, seorang cowok di meja paling depan berdiri dan berjalan ke meja pemesanan yang serangkap dengan meja kasir dan menyerahkan kertas berisi pesanan. Meskipun hanya sisi samping yang bisa Qeenan lihat, namun Qeenan tetap tahu siapa cowok itu. Dia yang waktu itu bersama Caca di depan rumah Caca dan merupakan teman Rafka, kalau Qeenan tidak salah ingat namanya Sam, karena Caca memanggil cowok itu Kak Sam.
"Jadi si sam-sam itu ya yang bikin lo bengong tadi?." Qeenan berujar sembari makan lagi.
Caca mengernyitkan kening, lalu menoleh. "Sam-sam apaan?"
"Gak usah pura-pura gak tau. Dia cowok di meja paling depan itu kan? Temennya Bang Rafka."
Caca kembali memerhatikan Samuel. Cowok itu sama sekali tak sadar diperhatikan Caca sejak tadi. Rasa-rasanya Caca jadi semakin kesal saja.
"Lo suka sama dia?" Qeenan langsung bertanya, terdengar santai. Namun dalam benaknya ia berharap Caca mengatakan tidak.
Caca sama sekali tak menjawab. Ia kembali sibuk dengan makanannya. Mengacuhkan Qeenan yang sudah menantikan jawabannya.
Setelah bermenit-menit hening. Dan Qeenan rasa, Caca tak akan bicara lagi. Ia memutuskan untuk berucap, "Masih ada gue di sini Ca, lo gak akan pernah sendiri."
Mendengar Qeenan berucap tiba-tiba seperti itu, Caca jadi tersedak. Ia menoleh pada Qeenan setelah meneguk habis segelas air.
Caca tidak tahu harus merespon apa. Yang penting ia tahu Qeenan tak akan pernah mengingkari apa yang ia ucap.
**
"Actually, I went to attend my mother's funeral. I tried to make only a few people know it. That my mother, who is a normal human, leaves, so that she can go away quietly and without distraction from any creatures. You know, every normal human who are closely related to us then dies, envious beings will come and take their body. That's why, as the one who knows better about it, I choose to go away for a while. But, sorry that i have been away for such a long time."
Redana tercekat. Ia tidak tahu menahu fakta itu. Mama Tan, panggilan akrab yang Redana ucap untuk Ibunya Caca, Ibunya Kalen juga. Wanita cantik itu begitu tenang dan anggun, Redana rasa untuk waktu yang lama ia tak akan pernah bisa melupakan bagaimana wanita itu memarahi Kalen saat membuat Redana menangis waktu kecil dulu. Sayang, agaknya untuk waktu-waktu yang akan lewat, tak ada yang akan memarahi Kalen kalau Redana menangis karna cowok itu lagi.
"How about Caca? Caca udah tau?" Mama Tan sangat menyayangi Caca. Karena Caca satu-satunya anak perempuan dari ke enam anak laki-laki Mama Tan. Caca tentunya sudah tahu fakta ini. Namun, saat Kalen menggeleng, Redana jadi tak mengerti.
"Why?"
Kalen menghela napas panjang. Seolah yang akan ia ceritakan memang beban terberat yang ia hadapi. "Everyone knows, ex Caca, Rafka dan Rafa. We are... me, Hansfa, Line, Fero, and Papa mutusin buat gak ngasih tahu mereka. Karena ini juga buat kebaikan Caca. She was still too labile for a new power he could control by himself. We are afraid that if something happens on Earth it will be dangerous for her."
Redana menangis. Ia terisak. Lalu Kalen meraihnya ke dalam pelukan. Kalen juga tak bisa membendung air matanya. Betapa pun ia menahannya dengan keras dan berusaha terlihay tegar, tapi tetap saja kalau saat bersama Redana ia akan terlihat begitu lemah.
"Tapi, kalian gak bisa nyimpen ini terus kan? Mau bagaimana juga, Kak Rafa, Kak Rafka dan Caca harus tau."
Kalen mengangguk di antara ceruk leher Redana. Cowok itu menarik napas kuat lalu menghembuskannya membuat bulu roma Redana berdiri.
"Makanya, gue di sini sekarang. Semua yang harus dilakuin udah selesai.
Mom's funeral will be in a week, at Grandpa's Castle. "
"I will come. My Mom and Dad too."
Kalen mengangguk lagi. Dan sekali lagi cowok itu menghela napas di ceruk leher Redana. Kali ini Redana perlu menggigit bibir bawahnya supaya tak mendesah.
Ia mengutuk pemikirannya sendiri yang bilang kalau Kalen mengambil kesempatan dalam kesempitan, tak mungkin kan cowok itu di saat bersedih seperti ini juga akan berbuat m***m? Lagipula, Redana jelas sekali mendengar Kalen menarik ingus.
"Maaf udah mikir yang enggak-enggak selama lo pergi."
Kalen mereganggakan pelukannya. Ia kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Redana. Ibu jarinya bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi Redana dengan lembut. "Aku juga minta maaf, karna gak ngasih tahu kamu dan pergi tiba-tiba. I'm so sorry my baby girl."
"Gapapa. Aku ngerti. Dan makasih udah balik ke aku lagi." Redana kembali menangis. Ia tahu ia cengeng, tapi rasa rindu dan kesal selama satu tahun ditinggal pergi Kalen tanpa alasan yang jelas telah melebur menjadi satu dan menjadi air mata yang keluar tiada henti.
"Hey. Jangan nangis baby. Please, dont cry." Kalen jadi panik sendiri.
"Ka-kamu jjj jahat..., " jawab Redana terbata-bata. "I want this to be the last time you go and leave me."
Kalen mengangguk. "Iya sayang. Iya. Aku janji gak akan pergi lagi."
Kemudian mereka kembali berpelukan untuk waktu yang lama. Saling membagi kerinduan dan sesal di d**a. Pelukan hangat itu seperti tak akan terlepas.
Tapi, saat dering ponsel Redana yang ditaruh di atas dashboard mobil berbunyi, perhatian ke duanya teralihkan.
Sederet nama yang tertera di layar ponsel itu menimbulkan pertanyaan dari Kalen.
"Mario itu siapa?"
Dan seketika Redana terdiam.
**
Langit berbintang tampak jelas, Zeon menengadah untuk melihat kerlip bintang di langit sembari tangannya bertopang di balkon lantai dua.
"Nanti salah urat kalau lo kayak gitu terus." Lana menegur saat ia tiba di balkon lantai dua dengan dua cangkir coklat panas.
Zeon menoleh, ia menyengir lalu menerima cangkir yang disodorkan Lana dan mencecapnya sedikit. "Tumben coklat panas, bukannya lo lebih suka kopi ya Bang?" Kening Zeon berkerut heran.
Lana tertawa pelan. "Frana dulu suka coklat panas. Gue sampai benci coklat panas setelah dia pergi. Dan ini kali pertamanya gue minum coklat panas lagi, malah reaksi lo begitu."
Zeon terdiam. Ternyata ada kisah dibalik coklat panas ini. Ia penasaran bagaimana sosok Frana yang sudah berhasil merebut hati Lana sampai sebegitunya. Tapi, di saat seperti ini agaknya belum waktu yang pas untuk tahu lebih banyak.
Lana memandang ke depan. Seolah menerawang. Dan tiba-tiba ia menoleh pada Zeon.
"Lo mau tau sesuatu gak?"
Zeon yang sejak tadi di dalam kepalanya sudah penasaran tentang Frana dan mengira Lana akan bercerita, sontak mengangguk cepat.
"Semangat banget." Lana tertawa. Ia lalu meniupkan udara ke depan dan seolah-olah situasi magic sedang berlangsung. Pepohonan agak merenggang sepanjang penglihatan Zeon, hingga ia bisa melihat rumah tingkat dua yang cantik di ujung renggangan pepohonan itu.
Rumah tingkat dua dengan lampu neon kerlap-kerlip di sekeliling bawah atap rumah itu tampak cantik. Rumah itu adalah rumah Bella. Dalam sekejap Zeon terlena dengan rumah itu, hingga suara tawa Lana terdengar dan ia pun menoleh dengan kening berkerut bingung.
"Kalau begini lo bisa jadi bucinnya Bella. Baru liat rumahnya aja lo seneng bukan main."
Ternyata Lana mengejeknya.
"Belum tentu gue bakal jadi bucinnya Bella," elak Zeon.
"Loh, belum tentu gimana?"
"Dia belum tentu suka sama gue Bang dan gue juga belum tentu suka sama dia."
Lana menggelengkan kepalanya tak habis pikir dan menatap Zeon sengit. "Lo udah berapa lama hidup sih? Malau gue sebagai Abang lo dengan isi kepala lo yang cetek itu."
Zeon berdecak. Ia tak bisa membantah karna apa yang baru saja Lana bilang memang benar, meskipun rada nyelekit sedikit.
"Lo tau lah Bang, selama gue hidup mana pernah gue suka sama cewek."
Lana berdecak tak percaya, seakan ia baru tahu fakta itu. "Pantes, gue kira lo homo."
"Astaga Bang! Gue masih suka cewek." Zeon berseru kesal.
Lana hanya Tergelak dan tak membalas lagi untuk beberapa saat.
Keheningan mendominasi suasana di balkon lantai dua. Zeon masih sesekali melirik rumah Bella dan juga langit berbintang serta melirik Lana yang tampak sedang berpikir.
"Lo tau Zen. Setiap suka sama manusia biasa, lo gak bisa seutuhnya suka sama dia. Kita memang bisa setia untuk satu orang, jatuh sejatuh-jatuhnya dan kayak istilah yang lagi ngetren sekarang, bucin sebucin-bucinnya. Tapi, manusia normal hatinya gak menentu. Dia bisa aja sekarang suka sama lo, belum tentu besoknya dia masih suka sama lo. Karna apa? Mereka penuh keragu-raguan apalagi setelah mereka tau siapa kita sebenarnya
Zeon menelan saliva getir. Ia kembali memandang rumah Bella dengan isi kepala penuh omongan Lana barusan.
**