Redana lupa kalau ia saved nomor whatsaap Mario dengan nama kontak Mario Ganteng yang malah membuat kecurigaan Kalen semakin menjadi-jadi. Mario tidak hanya sekali menelponnya, tapi tiga kali. Seakan-akan ada hal yang penting dan Redana harus segera mengangkat panggilan itu.
“Mario itu siapa?” Kalen melontarkan pertanyaan yang membuat Redana gugup.
“Temen sekolah aku. Bentar ya aku angkat telponnya.” Redana lalu meraih ponselnya dari dashboard mobil dan menggeser tombol hijau serta menempelkan pada telinganya. Panggilan itu berlangsung singkat sebab Kalen menatapnya seolah-olah sedang memancarkan laser.
Kalen terlihat bingung, karena dengan rambut merah menyala yang masih terlihat meskipun sudah di warnai coklat gelap bagaimana bisa Redana sekolah?
Seakan mengerti arti tatapan bingung Kalen, Redana tertawa kecil lalu menjelaskan, “Gue punya trik supaya bisa diterima di sekolah.”
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa?” Redana malah balik tanya.
Ekspresi Kalen menjadi datar, tak terbaca dan dari tubuhnya menguarkan aura dingin. Kalen Tanbarch yang merupakan Kakak nomor tiga Caca memiliki insting kuat dan beberapa kekuatan yang berbeda dari Caca. Kalau Caca menguarkan hawa dingin sebab ia sedang sedih, sedangkan Kalen menguarkan hawa dingin ketika ia resah. Dan jujur saja ia benar-benar resah sekarang dengan apa yang Redana rencanakan dibalik semua ini.
Meskipun sudah mengenal Redana sejak kecil, tapi masih banyak hal yang Kalen tak tahu dari Redana. Gadis itu terlalu tertutup. Redana juga terlalu ceroboh dan agresif. Selama bersama Redana, Kalen bahkan sudah dua kali terkena api, dua-duanya disebabkan oleh kecerobohan Redana. Mungkin saja kalau tidak sayang, sudah dari dulu Redana ia jauhi.
Awalnya Kalen hanya menyayangi Redana seperti ia menyayangi Caca. Namun, lambat laun ia jadi terbiasa dengan hadirnya Redana dan menyayangi gadis itu sebagai wanitanya. Redana sih, terlalu agresif. Kemana pun Kalen berada pasti gadis itu juga ada. Memang benar, istilah yang mengatakan kalau semakin sering bersama, maka rasa sayang akan tumbuh dengan sendirinya.
Tapi, kalau ditanya siapa yang lebih bucin antara Kalen dan Redana, Kalen akan menjawab Redana.
Namun, berbanding terbalik dengan sekarang. Saat setelah mendapati sederet nama kontak 'Mario Ganteng' di layar ponsel Redana pertanda panggilan masuk, Kalen merasa hatinya panas. Tentu saja ia pandai mengatur ekspresinya dan berlagak sok cool menanyakan pada Redana siapa itu Mario.
Jawaban Redana yang bilang kalau Mario itu hanya teman sekolah, masih membuat Kalen tak percaya. Apa Mario itu yang masuk ke dalam rencana Redana? Tapi, rencana apa?
"Hey babe, why do you feel what I'm going to do is wrong?" tanya Redana yang sudah duduk di atas paha Kalen. Mereka masih di dalam mobil yang menepi di tempat lengang dan Kalen sama sekali tak tahu dimana aerah ini.
"Am I always wrong in your eyes?" Redana kali ini mengusap lembut pipi Kalen yang membuat cowok itu meremang seketika. Terkadang keagresifan Redana benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin Kalen bisa tahan kalau gadis ini melakukan hal seperti ini pada dirinya? Salahkan Redana sendiri kalau Kalen jadi pria m***m.
"Stop baby." Kalen membalas dingin dan menahan tangan Redana yang tadi menyentuh pipinya.
Redana mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari Kalen dan agak bergerak-gerak random yang membuat Kalen mendesis tertahan. Ingat bukan dimana posisi Redana duduk sekarang?
Gaun pesta untuk datang ke ulang tahunnya Karina, yang Redana pakai berwarna maroon dan sejengkal di atas lutut. Gaun itu semakin naik karna posisi duduk Redana dan memperlihatkan hampir seluruh paha putih Redana. Kalen mengutuk dalam benaknya kenapa Redana harus memakai gaun pendek itu.
"Sudah baby, jangan bergerak-gerak lagi!"
"Kenapa?" Redana bertanya polos.
"Kau harus bertanggung jawab jika yang di bawah sana berdiri karena mu."
Redana melongo, ia menatap ke bawah dan merona. "Sorry." Dan perlahan-lahan bergerak menjauhi Kalen untuk kembali duduk di balik kemudi. Namun, Kalen menarik pinggang Redana dan memeluk erat gadis itu.
Ia lalu berujar, "Aku gak tau apa yang lagi kamu rencanakan sampai harus sekolah daN ngelakuin trik biar kamu bisa diterima di sekolah itu. Aku juga gak tau siapa Mario Ganteng yang nelpon kamu tadi. Tapi, aku tau kalau kamu akan selalu baik-baik aja selagi aku ada didekat kamu. Please be aware baby."
Suara rendah Kalen di telinga Redana terdengar nyaman. Redana diam saja dan tak menananggapi, selain semakin mengeratkan pelukannya pada Kalen.
Kalen berdeham. "Baby, apa perlu aku buka bajumu?" Cowok itu menggeram, karena posisi Redana yang menempel padanya membuat gaun pendek itu semakin pendek saja.
Redana tertawa kecil, namun ia sama sekali tak mengubah posisinya. "Lakukan sesukamu Baby," jawabnya santai.
**
Malamnya di rumah pohon tingkat dua, Zeon berbaring di dalam kamar yang menghadap balkon tempat ia dan Lana berbincang tentang bagaimana harusnya menanamkan perasaan pada manusia biasa yang berbeda entitas dengan dirinya. Di kamar, Zeon tampak bergerak-gerak gelisah seolah sedang dikejar-kejar seseorang di dalam mimpinya. Sedangakan di balkon, Lana tampak fokus menggerakkan tangannya yang menimbulkan kesiur angin pada dedaunan dan tak menyadari Zeon yang mulai mengerang.
Zeon tersentak bangun dengan suara erangan yang kuat dan bersamaan dengan suara dentum cahaya warna-warnia yang muncul dari tubuh Lana. Zeon terengah-engah, ia mengusap wajahnya yang penuh keringat, mimpi tadi seolah nyata. Ia mengernyit mendapati cahaya terlampau terang dari balkon dan menutup matanya untuk sesaat.
Sebenarnya, apa yang sedang Lana lakukan di balkon?
Sekelebat mimpi yang baru saja menghantam itu benar-benar membuatnya tercengang. Entah kenapa ia bisa ada di sebuah pantai landai dengan ombak ganas dan memegang pedang yang menempel tepat di leher Caca. Gadis itu meraung-raung meratap minta ampun dan berulang-ulang memanggil namanya.
Dadanya sesak, namun ia sudah bisa menarik napas dengan benar. Rasanya menyakitkan sekali mendengar Caca tiap menyebut namanya di dalam mimpi namun, ia sama sekali tak bisa menjauhkan sisi tajam pedang itu dari leher Caca. Kenapa ia bermimpi hal buruk seperti itu?
Zeon lalu berjalan pelan menuju balkon, pandangan matanya terhadap cahaya warna-warni yang muncul mulai terbiasa. Di balkon, ia melihat jelas bagaimana spektrum warna itu muncul dari tubuh Lana yang sedang bersedekap d**a dengan posisi berdiri tegak.
Zeon berhenti di pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon dan bersandar nyaman pada sisi pintu seraya memerhatikan Lana yang masih mengeluarkan cahaya warna-warni dari tubuhnya. Kesiuar angin dedaunan yang tadinya bergoyang serentak kini bergoyang random dan tiba-tiba timbul pusaran angin lalu menghantam Lana hingga cowok itu terseret mundur beberapa langkah ke belakang.
Zeon hendak bersiap menolong, namun Lana yang sudah tahu kehadiran Zeon sejak tadi menahan pergerakan Zeon dengan mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat Zeon tak boleh bergerak lebih jauh lagi. Zeon yang mengerti mundur kembali ke tempatnya semula dengan rasa khawatir yang kentara.
Lana kembali berdiri tegak, bersedekap lagi dan berkonsetrasi lagi. Kali ini cahaya warna-warni muncul dan menghilang dalam tempo cepat. Seperti kerlap-kerlip lampu diskotik di pub malam. Kesiur angin yang menggoyangkan dedaunan juga bergerak cepat, namun seirama. Kalau melihat harmonisasi ini, rasanya menenangkan mata. Namun, Zeon tetap saja khawatir. Sebab kesiur angin seperti tornado kecil yang menghantam Lana tadi benar-benar di luar dugaan. Karena kekuatan inti anggota keluarga Larasfa adalah angin yang bisa mengganti musim dengan kelembapan, bentuk dan kecepatan tertentu, yang bisa diartikan kalau seseorang yang membuat tornado kecil tadi adalah salah satu dari Keluarga Larasfa lainnya. Atau seseorang yang pandai meniru kekuatan mereka? Semakin dipikirkan, semakin sakit pula kepala Zeon.
“Udah, lo gak usah sok mikir keras gitu.” Lana berujar geli, cowok itu sudah berdiri di hadapannya dengan keringat yang membuat kaus yang dikenakannya basah.
Zeon terkejut, karna terlalu asik berpikir ia tak sadar Lana sudah berdiri di hadapannya. “Lo gak papa Bang?” Ia lalu menyentuh lengan Lana dan memeriksa bagian tubuh lainnya apakah ada luka atau tidak.
Lana terlihat tak nyaman dengan perlakuan Zeon yang perhatian padanya. Ia melepaskan tangan Zeon dan berlari menjauh.
Zeon sama sekali tak mengerti dan mengira kalau Lana mengajaknya main kejar-kejaran dan sontak mengejar Lana yang sudah melesat pergi keluar kamar.
“Ngapain lo kejar gue?!” tanya Lana sembari berlari menuruni tangga.
“Lo yang kenapa lari Bang?”
“Lo yang ngejar gue b**o, makanya gue lari!”
Dua kakak adik itu masih berlari-lari di dalam rumah pohon dan sama sekali tak menyadari seseorang yang sedang memerhatikan mereka dari jauh.
**