15. Tragedi Pagi Ini

1731 Words
Missed Call (5) by Kak Sam Kak Sam : Ca, kenapa telpon kakak gak diangkat? Kak Sam’s calling... Caca menghela napas jengah. Ia menaruh asal ponselnya di atas nakas dengan layar ponsel menyentuh permukaan meja nakas. Benda mati itu hanya bisa bergetar-getar pasrah tak dipedulikan. Caca kesal, sebab di tempat makan tadi Qeenan berbuat seenaknya dan membuat Sam menyadari kehadirannya di sana. Qeenan sebenarnya bisa saja mengacuhkan dua orang pelanggan yang duduk di sebelah meja mereka yang bertindak menyebalkan dan meminta nomor ponsel Caca secara terang-terangan, sebab Caca sama sekali tak mengacuhkan mereka. Namun, Qeenan yang sekiranya sedang ingin unjuk gigi kalau ia adalah seorang laki-laki yang harus menjaga Caca malah membuat suasana menjadi runyam. Alhasil, beberapa pelanggan tertarik melihat ke arah mereka, termasuk Sam dan teman-temannya. Caca jadi pusing sendiri berada di antara Qeenan dan dua orang pelanggan yang meminta nomor ponsel Caca tadi sembari berteriak marah-marah. Semua mata tertuju pada mereka, Caca jadi tak bisa menghilang begitu saja untuk saat itu. Hingga pemilik tempat makan turun tangan dan menyeret dua orang pelanggan yang menyebabkan masalah itu keluar, serta meminta maaf pada Caca karna terjadi keributan seperti itu. Yah, namanya juga pelanggan tetap, tentu saja mendapat perlakuan berbeda. Setelah keributan mereda, Qeenan juga sudah mulai tenang, tiba-tiba saja Samuel mendatangi meja Caca dan bertanya dengan ekspresi kelewat khawatir. “Ca kamu baik-baik aja kan?” Caca cuma bisa mengangguk dan buru-buru menarik Qeenan untuk segera pergi dari sana sebab Qeenan mulai menunjukkan tanda-tanda akan marah-marah lagi. Begitulah awalnya hingga malam ini Caca mendapat panggilan dan pesan terus-terusan dari Samuel. Ponsel kembali bergetar, sudah 12 panggilan tak terjawab dari nomor Samuel. Caca lagi-lagi hanya bisa mendesah pelan. Namun, telinganya malah menangkap suara desahan lain. Bukan jenis desahan lelah dan jengah yang seperti Caca lakukan, tapi jenis desahan yang lebih erotic dan benar-benar mengganggu pendengaran. Caca mencoba mencari asal suara itu. Ia melangkah menuju dinding terdekat dan menempelkan telinganya, bergeser sedikt hingga ia bisa mendengar lebih jelas suara desahan itu. Di sebelah kiri kamar Caca hanya kamar kosong yang sengaja dikosongkan untuk kakak Caca lainnya yang mungkin saja pulang, ada tiga kamar kosong lainnya juga di sebelah kiri kamar Caca. Sedangkan, di sebelah kanan terdapat dua kamar lagi yaitu kamar Rafka dan Rafa. Biasanya Caca terkadang juga pernah mendengar suara desahan yang sama yang berasal dari sebelah kanan kamarnya, yaitu kamar Rafka, biasalah kerjaan Kakak laki-laki yang sedang iseng menonton video p***o. Namun, suara desahan kali ini berasal dari kamar sebelah kiri yang tadi pagi seingat Caca masih kosong tanpa penghuni, apakah salah satu dari Kakak Caca pulang? Dan malah berbuat yang tidak-tidak di kamar itu? Kalau memang iya? Wah, kurang ajar sekali! Sudah pulang tidak memberi tahu Caca malah berbuat hal yang tidak-tidak dengan suara desahan yang terdengar begitu jelas. Tidak tahu malu. Tapi, Caca ragu saat sudah berada di depan pintu kamar itu. Dari depan pintu, Caca bisa mendengar lebih jelas suara desahan si perempuan yang sialnya sangat ia kenali. Astaga! Apa ia dia... ? Gubrak! Pintu itu akhirnya terbuka dan Caca bisa melihat salah satu Kakak laki-lakinya yang nomor tiga, yaitu Kalen dengan bertelanjang d**a di atas tempat tidur bersama seorang gadis yang sangat Caca kenali yang tak lain dan tak bukan adalah... “REDANA!” * Pagi hari yang harusnya damai tentram sentosa dengan dukungan cuaca cerah terang benderang berubah suram di ruang makan Rumah Keluarga Tanbarch. Di meja makan panjang itu sudah duduk, Rafa, Rafka dan Caca di sisi sebrang dari Redana dan Kalen. Mereka bertiga menatap ke dua pasangan itu dengan tatapan yang berbeda-beda. Caca yang cemberut dan menatap sebal Kalen serta memicingkan mata pada Redana. Rafka yang mengerlingkan mata nakal pada ke duanya. Serta Rafa yang menatap Kalen lurus-lurus. Ketiganya memikirkan hal yang berbeda dan dengan suasana hati yang berbeda pula. “Cepet di makan ya, kita harus jemput seragam sekolah kamu.” Kalen bersuara pelan dan berusaha tidak peduli dengan tiga pasang mata yang menatap mereka berdua. “Sekolah?” Rafa dan Rafka bertanya serentak. “Redana satu sekolah sama Mario bang.” Caca lalu menjawab acuh. “Mario? Mario tetangga sebelah?” Rafka menimpali. Caca mengangguk pelan. “Iya, Mario keponakannya Om Tobi.” “Om Tobi?” Redana pun bergumam pelan yang didengar Kalen dan juga Caca. Keduanya langsung menatap Redana meminta penjelasan Redana. Namun, suara Rafka mengalihkan perhatian mereka. “Kalian berdua bawa apaan ke sini?” suara rendah dan dalam milik Rafka keluar begitu saja dengan tatapan cowok itu yang menatap lurus ke arah pintu depan yang tertutup. Sontak semua yang berada di meja makan mengalihkan perhatian mereka ke pintu depan. Tidak ada apa-apa di sana. Tapi, ketika Rafka sudah terlihat begitu serius, semuanya tidak bisa berkata apa-apa. Tik... tik... tik... bunyi jarum jam dinding di ruang makan mengisi keheningan, hingga suara bel pintu depan berbunyi nyaring dan mengejutkan semuanya. Ting tong... ting tong... ** Semalam, Mario merasa tidur seperti di dalam iglo. Dingin sekali padahal pendingin ruangan di kamarnya sudah dimatikan dan di luar pun tidak sedang hujan. Kira-kira sudah lewat tengah malam Mario terbangun dan merasa suhu kamarnya di bawah nol derajat, ia menaikkan selimut sampai sebatas leher dan merasa ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya, sebab ada bayangan gelap yang terlihat di celah bawah pintu. Mario tak berani untuk mendekati pintu kamarnya. Bergerak saja ia tak kuat, apalagi harus turun dari tempat tidur dan mencari tahu sesuatu di balik pintu kamarnya. Mario hanya bisa pasrah menghitung detik dan berbaring di tempat tidur dengan mata menatap lekat bayangan gelap yang terlihat di celah bawah pintu. Tiap detik rasanya berjam-jam lamanya. Sampai bayangan itu lenyap bersamaan dengan hilangnya suhu dingin yang tadi menyelimuti kamarnya. Mario kira suasana dingin dan mencekam semalam hanyalah bunga tidur, namun pagi ini saat melewati kamar Om Tobi menuju ruang makan Mario kembali merasakan hawa dingin itu. Mario meneguk saliva susah payah dan melangkah pelan seraya berusaha terlihat baik-baik saja dengan menyantap sarapan di meja makan. Mengunyah roti selai coklatnya, Mario tak bisa melepaskan pandangan dari kamar Om Tobi. Pintu itu tetap tertutup sampai Mario menyelesaikan sarapannya. Ia harus sekolah, ada presentasi yang harus ia lakukan nanti. Ia tak mungkin terus-terusan menatap pintu kamar Om Tobi yang tertutup rapat. Ia pun beranjak pergi dari ruang makan dan bergegas untuk ke sekolah. Namun, masih ada kejanggalan lain pagi ini. Di depan pagar rumah Caca berdiri seseorang yang memiliki rambut abu-abu super berantakan dan seolah ada kipas angin besar yang menghembuskan angin ke tubuhnya dan membuat baju yang ia kenakan berkibar dan rambutnya juga bergerak-gerak. Mario terpaku untuk beberapa saat di teras depan rumahnya. Sampai pintu depan rumah Caca terkuak dari dalam dan muncul Rafka yang seolah mencari sesuatu dengan menoleh ke sana ke mari. Disusul Rafa yang juga keluar lalu Caca, kemudian seorang laki-laki yang tidak Mario kenal, namun dilihat lagi laki-laki itu mirip dengan Rafa dan Mario mengasumsikan sendiri kalau laki-laki itu adalah saudara Caca yang lain, serta yang terakhir keluar adalah Redana. “Redana?” Mario pun bergumam pelan. Tapi, ia buru-buru beranjak pergi menuju garasi rumah untuk mengambil motornya dan berangkat ke sekolah. Terlalu lama ia di rumah, rasanya masih ada lebih banyak kejanggalan lain yang akan muncul. Mario merasa kapasitas kewarasannya akan berkurang cepat kalau berada di situasi yang sama lagi. Namun, setibanya di sekolah ia malah menemukan kejadian yang tak kalah terduganya. Kejanggalan lain yang mungkin sebentar lagi akan mengambil kewarasannya. Sekolahnya tiba-tiba ramai, dengan petugas polisi, wartawan dan orang-orang sekitar. Garis polisi baru saja terpasang di pagar depan sekolah. Yang menandakan kalau tidak ada yang boleh masuk selain orang yang berkepentingan. Mario bisa melihat ke dalam sekolah dimana ada dua mobil ambulance yang terparkir, beberapa murid yang sedang ditanyai oleh seorang polisi, dua orang ibu guru, seorang penjaga sekolah yang masih mengenakan seragam kebersihannya dan memegang sapu lidi di tangan, serta Bu Asih penjaga kantin yang sangat Mario kenali. Menunggu di depan sekolah dengan garis polisi terpasang dan dua penjaga yang menjagai tidak akan memberi kesempatan untuk Mario masuk. Alhasil, ia memilih pergi ke belakang sekolah dengan motornya, sebab ada satu jalan rahasia di sana yang menjadi tempat favorit murid-murid nakal yang suka membolos. Di belakang sekolah merupakan tanah kosong yang dari kabar sekitar berupa tanah sengketa. Dinding pagar setinggi dua meter berdiri kokoh di sana. Terlihat begitu memang, namun sekokoh-kokohnya dinding itu, ada celah kecil yang tak terlihat oleh banyak orang. Celah itu terletak di sudut paling kiri dinding pagar belakang sekolah. Tepatnya di balik pohon mangga besar yang selalu berbuah lebat. Dinding itu perlahan rusak, sebab akar pohon mangga yang menjalar di bawah tanah dan merusak struktur dinding dari bawah, alhasil muncul retakan-retakan dan membuat bata pembuat dinding itu bisa di bongkar pasang oleh murid-murid nakal yang menemukannya. Ditambah juga di balik dinding pagar itu terletak kursi-kuris dan meja-meja yang patah dan dibiarkan menumpuk di sana, sehingga tidak ada seorang guru pun yang menyadari ada celah kecil tempat keluar masuk di belakang sekolah. Dengan dua keuntungan tersebut, celah itu masih aman sampai sekarang. Mario menitipkan motornya di warung kopi langganannya di belakang sekolah. Lalu ia berlari kecil mendekati pohon mangga yang kali ini sedang berbunga. Kira-kira sekitar tiga minggu lagi buah-buah mangga akan bermunculan. Mario langsung bergerak memindahkan bata-bata ke sela-sela dahan pohon. Cukup lima bata Mario sudah bisa memanjat untuk sampai di balik dinding. Ia bergerak dengan hati-hati di antara tumpukan kursi dan meja yang patah, lalu melompat dan mendarat dengan mulus di tanah. Kemudian, bak seorang detektif yang sedang memata-matai, Mario berjinjit dan melangkah penuh hati-hati dengan pergerakan yang dibuat seringan mungkin dan menajamkan pendengarannya. Ia kemudian melangkah menuju sumber suara ribut dan tangis yang ditangkap telinganya. Sumber suara itu ternyata berasal dari depan labor biologi. Dimana sudah ada terpasang garis polisi yang melingkari satu titik. Sedangkan petugas medis ambulance sedang sibuk mengangkut seseorang ke atas bangkar yang mereka bawa lalu memasukkannya ke dalam mobil ambulance yang tak lama kemudian pergi meninggalkan sekolah dengan bunyi sirine yang bergaung keras. Menyisakan Bu Astri yang menangis dengan ditemani Bu Vivi. Mario melangkah mendekati dengan jarak cukup aman untuk mendengar percakapan dua guru itu. “Sudah Bu, jangan menangis lagi, kita Cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk Larina.” “Tapi, kenapa dia harus melompat dari lantai atas.” Mario terperangah. “Lantai atas? Larina? Melompat?” Namun, belum sempat ia mendengar lebih lanjut percakapan dua guru itu, tiba-tiba ada sesuatu yang menariknya dengan kencang hingga Mario tersentak dan melayang beberapa meter di atas tanah. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD