16. Suara Bel di Pagi Hari

1509 Words
Zeon menyesap teh hangat yang disuguhkan oleh Mama Bella di ruang tamu rumah Bella. Pagi ini, Zeon menjemput Bella untuk pergi ke sekolah bersama. Kata Lana, ini merupakan suatu bentuk pendekatan yang akurat. Mana tahu, setelah ini Zeon dan Bella menjadi lebih akrab dan karena seringnya mereka bertemu akan timbul semacam rasa-rasa menggelitik di hati Bella dan membuat gadis itu luluh pada Zeon. Salah satu cara pendekatan yang klise sekali, tapi tak salah untuk dicoba. Bella masih di kamarnya, sedang bersiap. Zeon ditinggal sendiri di ruang tamu dengan secangkir teh hangat setelah menolak ikut sarapan bersama di ruang makan. Tak lama, Bagas, Kakak laki-laki Bella datang mendekat. Ia lalu duduk di depan Zeon dan meneliti penampilan Zeon dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai. Zeon merendahkan pandangannya refleks duduk lebih tegak, dan ia tidak mengerti kenapa merasa tegang hanya karna ditatap seperti itu. “Lo pacarnya Bella?” Zeon mendongak lantas menggeleng. “Oh, lo gebetannya Bella?” Zeon dibuat terperangah untuk sesaat, ia tidak bisa menggeleng atau pun mengangguk. Karena kebenaran telak telah diucap Bagas. Tubuhnya terasa kaku. Hingga suara Bella dari arah tangga membuat Zeon akhirnya bisa bernapas lega. “Abang ngapain?” Gadis itu lalu berjalan mendekat. “Gak ngapa-ngapain, emangnya Abang ngapain?” Bagas malah balik bertanya. Bella dibuat bingung dengan jawaban absurd Abangnya. Namun, ia tak terlalu peduli. Ia melirik Zeon sekilas, lalu berjalan ke ruang makan untuk izin pergi ke sekolah. Zeon yang kembali ditinggal berdua dengan Bagas merasa harus mengekori Bella dan juga minta izin pergi ke sekolah pada ke dua orang tua Bella. Lalu mereka berdua pun keluar rumah dengan canggung diiringi tatapan lekat Bagas yang penasaran dengan hubungan ke duanya. Zeon merasa untuk ke depannya Bagas akan sedikit sukar untuk didekati dan dimintai restu memacari Bella. “Ngapain sih lo ngejemput gue segala?” Seketika Bella yang diam dan kalem tadi berubah menyebalkan di mata Zeon seperti Bella yang ia kenal biasanya. Bella ternyata kalem hanya di rumah saja, di luar dia bagai gadis pemarah dan curigaan bagi Zeon. “Emang kenapa?” “Masih nanya kenapa?!” Bella dibuat semakin kesal. “Ada yang marah ya kalau gue jemput lo?” Kalau iya, Zeon mungkin akan merasa sedikit patah hati. Bella berdecak pelan. “Intinya gue mau tau alasan lo ngejemput gue!” “Oke, gue bakal kasih tau, tapi lo masuk dulu, kelamaan ngobrol kita gak sampe-sampe ke sekolah.” Zeon lalu membuka pintu mobil sebelah kiri untuk Bella. Dan Bella pun masuk tanpa banyak bicara. Setelah melaju lebih jauh dari rumah dan Bella sudah tak melihat puncak atap rumahnya lagi, baru ia buka suara. “Jadi alasan lo jemput gue itu apa?” “Hmm, gak ada.” “Gak ada?” “Gue gak perlu alasan tertentu dong buat jemput lo.” “Harus ada! Karena dari Ujung Gading ke sini itu perlu waktu sejam lebih, gue tau karna Abang gue kerja di sekitar daerah Ujung Gading juga, jadi lo tentu aja punya alasan ngejemput gue dengan waktu tempuh selama itu.” Bella menarik napas lalu menghembuskannya cepat, ia sudah seperti berlari marathon karna terengah-engah. Zeon tergelak, ia bahkan sampai mengernyitkan dahi tak habis pikir dengan Bella yang bicara terlalu cepat seolah sedang melakukan rap saja. “Lo bisa juga ya ngelucu.” “Ha? Ngelucu?” Bella mendesis pelan, ia tak mengerti bagaimana jalan isi kepala Zeon sebenarnya dan memilih diam tak berkata-kata lagi sembari melihat keluar jendela mobil. ** Redana sebenarnya tak tahu akan dibawa kemana oleh Kalen yang mengambil alih kemudi. Ia terlalu lemas untuk bicara dan memilih tidur meringkuk nyaman di kursi sebelah Kalen. Lalu, tahu-tahu ia sudah berada di sebuah kamar dengan Kalen yang menindih tubuhnya. Redana enggan bertanya lagi dan memilih menikmati permainan Kalen. Esok paginya, ia terbangun dan merasa segar luar biasa. Meregangkan badan dan tak menemukan Kalen di sisi tempat tidur sebelahnya. Memilih mandi lebih dulu, saat Redana melihat pintu kamar mandi yang terbuka dan membersihkan badannya. Sembari berpikir kalau ia sedang berada di mana sekarang. Dari interiornya jelas kamar ini bukan kamar hotel. Pemandangan luar kamar saja memperlihatkan halaman belakang dengan kolam berenang dan tanaman hias serta gazebo di sisi lainnya. Jelas sekali kalau kamar ini adalah kamar sebuah rumah. Tapi, rumah siapa? Atau jangan-jangan Kalen membawanya ke rumah... Tok... tok... tok... Suara pintu terdengar diketuk. Redana menajamkan telinganya dan mendengar decit pintu terbuka. Ia lalu mematikan shower dan membelitkan handuk di tubuhnya. Perlahan ia menuju pintu kamar mandi dan memegang kenopnya erat tanpa ingin membukanya. “Gue tau lo di kamar mandi Redana,” ucap seseorang. Suaranya terdengar jelas, Redana pastikan kalau orang itu sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. “Dan kayaknya kita berdua perlu ngobrol dulu sebelum Bang Kalen selesai masak sarapan.” Dan sekali lagi memastikan pendengarannya kalau suara itu jelas suara yang familiar bagi Redana, ia langsung membuka pintu dan memasang ekspresi sepolos mungkin. Tebakannya benar, Kalen membawanya ke rumah cowok itu yang tak lain rumah Caca juga. Caca bersedekap d**a dengan seragam sekolah yang sudah rapi di tubuhnyas saat Redana sudah keluar dari kamar mandi. Ia memandang Redana lurus-lurus dan seolah mengatakan jangan harap berbohong lagi kalau tidak ia akan benar-benar marah. Redana hanya bisa menelan saliva gugup dan merasakan hawa panas yang muncul dari tubuh Caca. Meskipun ia kenal dekat dengan api dan bisa memunculkan api kapan pun ia mau dari tubuhnya, namun tetap saja ia bisa merasakan panas sampai berkeringat karena hawa panas yang muncul dari tubuh Caca. Caca benar-benar marah ternyata. “Sorry Ca.” Redana menunduk dan memainkan jemarinya gugup. Caca berdecak pelan. “Gue mau tau semuanya tanpa ada yang lo tutup-tutupin.” Caca lalu berjalan ke sofa yang tak jauh darinya dan duduk. “Sekarang lo pake dulu baju gue, gue tau lo ke sini tanpa bawa baju ganti, kan.” Suara Caca terdengar datar tanpa emosi. Redana langsung memakai baju yang Caca letakkan di tepi kasur dan segera merapikan kasur yang masih berantakan secepat mungkin, lalu memilih duduk di sofa yang sama dengan Caca namun agak berjauhan. “Tell me... “ Caca menoleh saat Redana baru saja duduk. “Okay. Gue sama Kalen udah berhubungan sejak dua tahun yang lalu. Kita gak sengaja ketemu di market dekat tempat tinggal gue. Lalu kita deket dan akhirnya jadian.” Redana berhenti sebentar karna mendapati ekspresi terkejut di wajah Caca. “Hubungan kita baik-baik aja sampai suatu hari Kalen ninggalin gue buat waktu yang cukup lama dan baru sekarang ketemu lagi.” “Terus balikan dong?” Redana menunduk malu, pipinya merona dan ia menangguk. “Jadi, alasan lo ke sini buat nyari Bang Kalen?” Redana terkekeh pelan seraya menggeleng. “Bukan, gue ke sini emang mau ketemu lo. Gue juga gak tau Kalen di mana dan tiba-tiba aja dia dateng ke gue.” “Kayaknya Bang Kalen emang bucin sama lo deh Na.” Caca berujar geli dan kembali berujar, “Tapi, gue gak yakin alasan lo ke sini cuma buat nemuin gue.” Redana terkesiap, meskipun ia sudah tahu kalau Caca akan merasa janggal dengan kehadirannya yang datang tiba-tiba. Namun, untuk alasan yang sebenarnya Redana tidak bisa memberitahu siapapun. “Soal itu, gue gak bisa cerita Claris.” Caca mengangguk-angguk pelan. “Pantesan gue gak ngeh pas lo bilang suka sama Mario karna dia minjem pulpen lo di kelas.” “Konyol banget ya?” Redana mengulum senyum geli. “Iya.” Caca lalu tertawa kecil dan ekspresi datar gadis itu sudah hilang sepenuhnya. Agaknya Caca sudah tak marah lagi. “Tapi, lo gak bener-bener suka Mario kan?” Redana kontan menggeleng. “Terkadang perasaan seseorang gak bisa ditebak Na, perasaan sendiri aja bisa bikin lo pusing tujuh keliling. Tapi, gue harap lo bisa bijak milih satu orang yang bener-bener lo suka.” Caca berubah serius lagi. Ia menatap Redana lama dan bagai terhipnotis tatapan mata Caca, Redana mengangguk pelan. “Gue kenal Mario udah lama. Gue sayang dia kayak gue sayang Abang-abang gue. Gue gak mau nantinya dia malah suka sama lo dan tau kalau lo punya hubungan sama Bang Kalen.” Caca kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Caca menoleh lagi pada Redana dan berujar, “Gue mohon Na, tanya sekali lagi sama hati lo.” Lalu pintu pun tertutup. Dan seketika suasana hening membuat Redana berpikir keras. Apakah sebenarnya ia menyukai Mario atau tidak? “SARAPAN UDAH SIAP!” Teriakan Kalen dari lantai bawah membuyarkan pikiran Redana, bersamaan dengan bunyi perutnya yang keroncongan ia baru ingat setelah pergulatan panas semalam ia sama sekali belum memasukkan apapun ke perutnya. Tanpa berlama-lama lagi Redana bergegas turun. Rafa dan Rafka memberi reaksi serupa saat melihat Redana duduk bersama di meja makan dengan mereka, namun tak bertanya lebih lanjut dan menikmati sarapan dengan khidmat. Agaknya mereka sendiri sudah bisa menebak alasan kehadiran Kalen yang tentu saja terlihat janggal dan merasa sakit kepala memikirkannya sehingga tak perlu lagi menambahkan pikiran tentang kehadiran Redana. Sarapan pagi itu berlangsung hening. Hening yang ganjil. Hingga aura dingin dari pintu depan terasa begitu kentara. Bersamaan dengan bunyi bel yang terdengar. Ting Tong... Ting Tong... **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD