17. Kabar Dari Kastil

1647 Words
Di kastil Tan, Kakeknya Caca, ada beberapa orang yang dipekerjakan sebagai tukang antar kabar. Istilah yang lebih akrab adalah tukang pos. Meskipun bisa saja mengirim kabar melalui media digital dan Kakek Tan tahu betul cara menggunakan ponsel zaman kini setelah les privat bersama Bara –Kakak laki-laki Caca nomor dua- namun, Kakek Tan tidak ingin melakukan hal praktis itu. Katanya sih, selagi ada tukang pos yang siap sedia mengantarkan kabar kenapa harus memakai media digital? Kakek Tan jadi tak habis pikir dibuatnya. Orang-orang yang ditugaskan mengantarkan kabar itu memiliki ciri-ciri khusus. Mereka selalu memakai baju terusan berwarna putih dan longgar serta celana panjang putih, berambut abu-abu terang dan berwajah datar tanpa emosi. Semua ciri khusus itu diharuskan ada sebab setiap kabar yang dikabarkan tidak semuanya berupa kabar baik, akan selalu ada kabar buruk. Saat sarapan dimulai, dua Kakak laki-laki Caca sudah merasakan hal yang tak nyaman. Tadi pagi, saat keduanya terbangun karena aroma nasi goreng yang tercium dari arah dapur dan sangat familiar, mereka berdua menemukan Kalen dengan apron dan sodet di tangan tersenyum lebar menatap keduanya. Satu hal yang selalu terjadi saat Kalen pulang ke rumah dan menemui tiga saudaranya terutama menemui Caca adalah membawa suatu cerita yang penting. Untuk beberapa tahun semenjak Caca, Rafka dan Rafa memiliki rumah di sini dan menetap, Kalen terhitung sudah ke tiga kalinya dengan hari ini mengunjungi mereka. Dua kali kedatangannya dulu, kira-kira tiga tahun yang lalu. Kedatangannya pertama adalah untuk memberi kabar pada Rafa dan Rafka kalau keluarga Vontage selamat dari kebakaran hebat saat Caca dan Redana berumur lima tahun, dan mengingatkan kalau jangan dulu memberitahu Caca hal ini, sebab suatu hari Redana akan menemui Caca langsung, saat itu Caca sedang menginap di rumah Mario, jadi gadis itu tak tahu sama sekali kepulangan Kalen. Lalu, kedatangan keduanya ketika Caca demam tinggi dan memberi kabar kalau Caca sudah pandai mengendalikan kekuatannya, itu terjadi kira-kira saat Caca kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Dan kali ini untuk yang ketiga, Rafa dan Rafka sudah punya firasat kalau Kalen datang membawa kabar lain. Tapi, selain menunggu Kalen mulai bicara, Rafa sejak tadi merasa ada yang janggal antara Redana dan Kalen. Sejak kecil, Redana memang sering mengekori Kalen kemana-mana, dan menjawab kalau Kalen adalah pacarnya tiap kali ditanya kenapa ia selalu mengekori Kalen. Kalen tak terlalu menanggapi Redana, sebab yang Rafa tahu kalau Kalen hanya menyayangi Redana sebagai adik sama halnya dengan Kalen menyayangi Caca. Tapi, melihat Redana yang duduk di sebelah Kalen dan interaksi mereka yang terlalu intens membuat Rafa merasa khawatir kalau ada sesuatu di antara mereka berdua. Rafka hanya merengut dan enggan mengomentari bagaimana Kalen memberikan sepruh telur mata sapinya untuk Redana dengan alasan Redana harus makan lebih banyak karna terlalu kurus. Selain karna rasa nasi goreng yang Kalen buat sangat amat enak dan membuat Rafka rindu dengan Mama, Rafka jadi diam dan menikmati saja memakan sarapannya. Kalau tidak salah ingat, sebentar lagi hari ulang tahun Mamanya dan Rafka bingung harus membeli kado apa. Di tengah isi kepala yang berlainan, mereka semua tidak menyadari kehadiran seorang pembawa kabar yang sudah berada di depan pagar rumah. Lalu masuk perlahan sampai tiba di depan pintu, ia menekan bel, menunggu dengan senantiasa mempertahankan ekspresi datar di wajahnya. Ting Tong... Ting Tong... Aura dingin dengan cepat merangsek masuk melalui celah bawah pintu. Rafka yang pertama menyadarinya sebab ia ingat sekali tak menyentuh remot ac ruang makan dan benda kecil dengan bentuk persegi panjang itu terletak di atas lemari es. Rafka melihat dengan seksama ke celah kecil bawah pintu dan beranjak berdiri setelah bunyi bel berhenti. Suara decit pintu terdengar membuat ngilu telinga, seingat Rafka ia sudah meminyaki engsel pintu seminggu yang lalu. Apa tak terminyaki dengan sempurna? Setelah pintu terkuak, Rafka dapat merasakan hembusan angin begitu kuat menerpa tubuhnya. Di hadapannya berdiri seorang pemberi kabar dengan baju terusan putih dan rambut abu-abu yang berantakan. Pemberi kabar itu tadinya melayang beberapa meter di atas tanah, namun sekarang sudah sepenuhnya berdiri di atas lantai teras dan kesiur angin dari tubuhnya juga sudah lenyap. Rafa, Caca dan Kalen lalu bergegas ke depan. Redana juga mengekori di belakang mereka. Pemberi kabar itu menatap satu per satu Caca, Rafa, Rafka dan Kalen sebelum mengeluarkan lembaran kertas dari balik baju terusannya. Ia pun mulai membaca tulisan yang ada di kertas itu. “Kepada Keluarga Tanbarch dan Keluarga Vontage.” Ia melirik pada Redana yang muncul di sebelah Kalen. “Saya pemberi kabar yang diutus langsung oleh Tuan Tan, datang ingin memberitahu berita penting. Bahwa Nyonya Eve akan dimakamkan lima hari di kastil Tan. Sebagaimana hal-hal yang perlu dilakukan dan disampaikan, saya undur diri.” Setelahnya, pemberi kabar itu pergi melayang lagi dengan kesiur angin yang membuat rambut abu-abunya berantakan dan menghilang dari pandangan mereka semua. Bersamaan dengan itu, Caca dan Rafka jatuh pingsan. ** Redana meletakkan kain kompresan di atas dahi Caca. Suhu badan Caca langsung meninggi saat ia jatuh pingsan tadi. Tak jauh beda dengan Rafka, yang sekarang sedang terlelap di kamarnya. Caca terlihat begitu pucat. Ia pasti terkejut mendengar kabar ini, ditambah lagi ia belum tahu apa-apa mengenai kematian Ibunya sendiri. Pintu kamar Caca diketuk pelan, Kalen masuk dengan segelas s**u coklat hangat dan menaruhnya di atas nakas. “Caca belum sadar ya?” tanya Kalen dengan suara serak. Agaknya cowok itu sehabis menangis dan saat Redana menoleh padanya mata Kalen sudah basah dan memerah. “Belum.” Redana menjawab singkat lalu ia meraih tangan Kalen dan menggenggamnya erat. “Kamu harus kasih tau Caca pelan-pelan. Aku khawatir kalau nanti dia membeku sendiri karena hawa dingin yang menyelimuti hatinya. Kamu tentunya gak mau kan itu bakal terjadi?” Kalen menggeleng. Tentu saja ia tak mau Adik bungsunya membeku karena kesedihan yang mendalam. Redana pun beranjak bangkit, menarik Kalen dalam pelukannya kemudian mengecup pipi cowok itu sebelum berlalu pergi keluar kamar Caca, meninggalkan Kalen dan Caca berdua. * Bella mendapat kabar kalau Caca tidak datang ke sekolah hari ini, tadi Rafka menelponnya melalui ponsel Caca. Alhasil untuk hari ini Bella duduk sendirian. Namun, tepat sebelum guru yang mengajar pada jam pelajaran pertama masuk, Zeon secepat kilat duduk menempati kursi Caca, di sebelah Bella. Cowok itu nyengir tanpa dosa saat Bella membulatkan mata kesal. Bella tidak punya pilihan untuk mengusir Zeon, sebab pelajaran sudah dimulai dan Bella bukan termasuk murid yang suka mencari perhatian dengan membuat keributan di kelas. Jadi, Bella hanya bisa pasrah membiarkan Zeon duduk di sebelahnya. Satu setengah jam telah berlalu, guru yang mengajar sudah izin keluar kelas karena jam pelajaran pertama telah selesai. Bella meregangkan badannya dan menekuk-nekuk jarinya hingga terdengar bunyi kratak-kratak yang membuat Zeon melongo kagum. “Kenapa jari lo bisa begitu?” Bella mengernyit pelan, ia bingung kenapa Zeon terlihat begitu antusias dengan hal sepele yang baru saja ia lakukan. Ia jadi tertarik dengan apa yang cowok itu pikirkan. Lalu, Bella pun mulai mengajari Zeon caranya membuat suara kratak-kratak dari jari-jari tangannya. Ekspresi Zeon setelah merasakan jarinya ditekuk dan ditekan, membuat Bella tertawa lepas. Ia jadi semangat melakukannya lagi pada ke sepuluh jari Zeon dan tertawa lagi. Melihat Bella tertawa seperti itu, hati Zeon entah kenapa rasanya menghangat. Ia tidak peduli lagi rasa aneh dan sedikit sakit yang terasa saat jarinya ditekuk dan ditekan oleh Bella hingga terdengar bunyi kratak-kratak. Zeon seolah terhipnotis dengan suara tawa Bella. Kenapa ia jadi seperti ini? Pelajaran ke dua pun dimulai. Bella melepaskan tangan Zeon yang tadi ia pegang dan fokus pada materi yang diterangkan. Tapi, agaknya Zeon tidak bisa fokus. Sesekali ia melirik Bella dan memerhatikan pergerakan kecil yang gadis itu lakukan. Begitu seterusnya hingga pelajaran ke dua selesai dan bel tanda istirahat berbunyi. “Bel mau makan bareng di kantin?” Zeon memberanikan diri bertanya pada Bella saat gadis itu sedang sibuk menyimpan bukunya. Bella menoleh pada Zeon dan tampak berpikir. Kemudian mengangguk pelan. “Gue lagi mau makan bubur ayam, ayo buruan ntar bubur ayamnya habis lagi.” Bella langsung bergegas keluar kelas. Zeon yang tertinggal pun mengikuti, namun beberapa siswi datang bergerombol untuk menemuinya, Agaknya ketenaran Zeon belum habis. Dan itu membuatnya kehilangan Bella yang sudah lenyap dari pandangan mata. Cowok itu dengan susah payah mengejar Bella yang sudah tiba di kantin dan sedang mengantri di depan counter bubur ayam. Sekitar ada dua orang lagi yang mengantri di depan Bella. Zeon menundukkan kepalanya sejajar dengan wajah Bella, ia lalu berbisik. “Kenapa ninggalin gue sih?” Bella tersentak kaget. Refleks menjauh. Tapi, saat melihat Zeon yang menyeringai ia balas mendesah jengah. “Udah selesai urusan lo sama fans-fans lo itu?” Bella mengejek. “Hmmm... kok kedengerannya lo cemburu sama mereka karena mereka ngalihin perhatian gue dari lo.” Zeon membalas kelewat pede, yang membuat Bella langsung bereaksi ingin mengeluarkan isi perutnya. Bella sudah di antrian pertama, ia langsung memesan seporsi bubur ayam. Menunggu Mamang bubur ayam menyiapkan pesanannya. “Lo gak sekalian mesen?” Bella bertanya. Zeon lantas menggeleng, ia menatap bubur ayam putih di dalam mangkuk dengan jerih. “Gue gak suka bubur ayam.” Agaknya ia punya kisah masa lalu tersendiri tentang bubur ayam. Setelah menerima mangkuk bubur ayamnya, Bella segera mencari tempat duduk. Diikuti Zeon. Meja di tengah-tengah kantin masih kosong. Bella bergegas duduk di sana. “Lo gak mau mesen minum Bel?” Zeon masih berdiri, bingung ingin makan apa. “Enggak, gue air mineral aja.” Bella menunjuk air mineral yang memang sudah disediakan di meja kantin. “Oke, kalau gitu gue mesen makanan dulu.” Dan Zeon pun berlalu pergi. Selagi menunggu Zeon, Bella fokus dengan makanannya. Sejak kemarin, ia memang sudah menginginkan bubur ayam. Mungkin karna bubur ayam kantin rasanya beda dari bubur ayam lain, jadi Bella jatuh cinta dengan rasanya. Bella perlahan-lahan meniup bubur ayam dalam sendok, dan mulai mencecapnya di lidah lalu refleks tersenyum mendapati rasa enak yang ia rindukan. Asik dengan makanannya, Bella sampai tak menyadari sejak tadi seseorang duduk bersebrangan dengannya. Orang itu tersenyum menatap Bella. Memerhatikan dengan seksama. Hingga Bella baru menyadari kehadirannya beberapa menit kemudian. “Pak Hodi?!” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD