18. Kepergian, Kehilangan, Sesak dan Misteri

1958 Words
Pemakaman dilaksanakan tepat seminggu kemudian. Di hari minggu pagi. Kastil Tan ramai oleh pelayat yang datang. Kerabat dekat, kerabat jauh, kolega-kolega semuanya datang mengantarkan Eve ke tempat istirahat terakhirnya. Caca tertatih melangkah dibantu Bara. Ia memeluk erat lengan Bara dan kedua matanya sudah basah oleh air mata. Peti mati Eve diturunkan ke dalam lubang sedalam sepuluh meter. Isak tangis pun terdengar dimana-mana. Sampai tanah mengubur peti mati itu, Caca pun luruh ke tanah. Menangis tanpa suara. Memandang pahatan batu nisan yang bertuliskan nama Ibunya. Eve Tanbarch. Satu persatu pelayat pergi setelah meninggalkan ucapan bela sungkawa. Redana memeluk Caca erat, mengusap punggung gadis itu, juga menangis sebelum ia pergi dengan ke dua orang tuanya. Tinggallah ke tujuh saudara. Ayah Caca. Dan Kakek Tan. “Bara, bawa Caca menjauh.” Ayah Caca memerintah. Segera Bara menuntun Caca menjauh beberapa meter ke belakang. Lima Kakak Caca lainnya juga mengikuti. Ayah Caca berdiri di belakang makam. Sedangkan Kakek Tan berdiri di belakang batu nisan. Ke duanya saling memandang wajah satu sama lain. Setelah Kakek Tan mengangguk pertanda ia siap. Ayah Caca pun mulai memejamkan matanya. Berkonsentrasi penuh. Selarik cahaya muncul di telapak tangan Ayah Caca. Begitu pula di telapak tangan Kakek Tan. Ke duanya mulai menggerakkan tangan. Seperti menari. Membuat lapisan kasat mata disekitar makam. "Supaya Mama gak diganggu makhluk lain." Bara bicara memberitahu. Tanpa Caca tanya, seakan Bara tahu pertanyaan dalam benak Caca. Caca semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Bara. Rasanya sesak. Masih akan sesak untuk waktu yang lama. Tak ada yang bisa menggantikan Mama. Rasa panas kembali datang. Mulai dari kelopak matanya, hingga ke seluruh tubuhnya. Caca sudah berhenti menangis sejak tadi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap rasa panas itu hilang. Namun, semuanya sia-sia. Caca sudah tak sanggup untuk menggerakkan bibir. Bicara pada Bara kalau rasanya begitu panas. Ia hanya bisa merebahkan kepala di lengan Bara dan memejamkan mata. Tiba-tiba ia jadi mengantuk. Caca menguap pelan dan merasa nyaman dengan posisi itu. Lalu tertidur. Awalnya Bara kira rasa panas di lengannya disebabkan cuaca panas terik matahari yang membuat ia berkeringat. Lagipula ia sepertinya salah kostum. Dengan jas hitam yang lumayan tebal dan juga kemeja putih di dalamnya, membuat Bara gerah. Namun, tidak hanya itu ternyata. Saat ia menoleh ke samping dan mendapati Caca bersandar pada bahunya, Bara baru sadar kalau gadis itu tidak hanya menutup mata saja. Gadis itu tertidur dengan suhu badan di atas normal. Caca kembali demam. Bara berusaha menepuk-nepuk pipi Caca pelan, membangunkan gadis itu. Namun, Caca sama sekali tak bergerak. Alhasil, Bara menarik Caca ke dalam gendongannya dan membawa gadis itu ke dalam kastil. Tanpa menunggu proses lapisan kasat mata selesai di makam Mamanya. Sejak Caca lahir, Bara sama sekali tidak peduli dengan gadis kecil manis yang membuat seluruh isi kastil penuh suka cita. Bara selalu dingin dan kasar pada Caca. Berbagai hal tentang kemandirian sejak kecil sudah Bara ajarkan pada Caca. Apalagi, saat Caca memilih tinggal di Bumi bersama Rafa dan Rafka, Bara setuju sekali dan membujuk Mamanya untuk membolehkan Caca meninggalkan kastil. Sebenarnya, Bara tidak benci pada Caca. Hanya saja sejak Mamanya mengandung Caca, Bara sudah tahu kalau akan lahir adik bungsu perempuan yang menjadi pewaris tunggal seluruh kekuatan Kakek Tan. Bara sama sekali tidak cemburu. Meskipun ia selalu takjub dengan kekuatan yang Kakek Tan miliki. Hanya saja Bara terlalu khawatir dengan Caca yang akan menjalani kehidupannya nanti. Makanya, sejak kecil dan Caca pandai bicara. Bara mulai mengajarkan Caca segala hal tentang perlindungan diri, kemandirian dengan tegas. Bara sama sekali tak pernah memanjakan Caca seperti ke lima saudaranya. Hingga Caca selalu segan terhadap Bara. Tapi, saat Caca sampai di kastil Bara langsung memeluknya. Selalu berada di sisi Caca. Dan selalu mengingatkan Caca apakah gadis itu sudah makan atau belum. Ke lima saudaranya heran melihat tingkah Bara yang berubah drastis. Namun, saat melihat Caca tampak nyaman di dekat Bara, ke enam lainnya pun mengerti. Meskipun yah, Rafka sempat kesal karena Bara selalu di dekat Caca. Bara menidurkan Caca dengan hati-hati di atas tempat tidur. Lalu menarik selimut sebatas leher. Dan duduk di samping Caca sembari menggenggam tangan Caca. Bara mempunyai kemampuan khusus. Ia mampu membuat seseorang yang disentuhnya merasa tenang. Hilang kegelisahan. Begitu pula yang Bara lakukan pada Caca sekarang. Ia menggenggam lembut tangan Caca. Muncul selarik cahaya keemasan dari telapak tangannya. "Bang, kenapa lo sepeduli ini sama Caca?" Rafka bertanya. Ia berjalan masuk dari pintu bersama Rafa. Rafa mendesis pelan karna pertanyaan sarkas Rafka dan memukul belakang kepalanya. "Mulut lo kayak gak pernah sekolah aja." Bara menyahut. Rafka mengaduh kesakitan, pukulan dari Rafa lumayan kuat. "Gimana Caca?" Rafa bertanya. Ia berdiri di sisi Bara. Menempelkan punggung tangan pada dahi Caca. Rasanya masih panas. "Gak sepanas tadi." Bara menjawab singkat. Lalu ia melepas genggaman tangannya. Memasukkan tangan Caca ke selimut, lalu mengecup kening gadis itu dan bangkit berdiri. "Mau gue peduli atau gak sama Caca, tetep aja dia adek gue." Bara berujar pada Rafka sebelum menutup pintu. "Wahhh, gue gak ngerti sama dia." Rafka baru bicara setelah beberapa menit pintu tertutup. Rafa tergelak pelan. "Bara punya cara tersendiri buat sayang sama Caca, Raf. Kalian berdua punya style masing-masing. Gak usah berantem dan saling cemburu. Lagipula Caca kan emang adik kalian. Adiknya gue. Adiknya Bara. Adiknya Kalen. Adiknya Hansfa. Adiknya Fero. Adiknya elo. Kita berenam kakaknya Caca. Oke." Rafka mengangguk. Terkadang karna punya banyak saudara, ia suka lupa. "Caca bakal baik-baik aja kan Bang?" Rafka bertanya pelan. Setelah memeriksa suhu tubuh Caca yang masih tinggi. "Hm... Abang gak yakin. Kita cuma bisa berharap Caca baik-baik aja." Lalu ia menoleh pada Rafka. "Keluar yuk, kita masih punya urusan. Biarin Caca istirahat." Rafka hendak menolak. Tapi, karna 'urusan' yang Rafa maksud adalah urusan yang penting, ia mengekori Rafa keluar kamar. Meninggalkan Caca sendiri. Yang membuka matanya pelan dan kembali menangis. ** Saat tak merasakan pijakan di bawah kakinya, otomatis Mario melihat ke bawah. Ia langsung berteriak kencang karena ternyata sekolahnya sudah tak terlihat lagi saking kecilnya. "Gak usah teriak segitunya. Telinga gue pengang!" seruan itu membuat Mario menutup mulut. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Redana menarik tas ransel yang ia kenakan. Mereka tidak terlalu lama berada di udara. Redana memutuskan untuk mendarat di salah satu rooftop gedung. Karena Mario juga tidak bisa berhenti bergerak dan Redana yakin kalau mereka berada di angkasa lebih lama, pasti Mario akan lepas dari pegangannya dan jatuh begitu saja. Tentunya mendapati berita heboh tentang kematian tiba-tiba untuk ke dua kalinya pagi ini, bukan lah hal yang bagus. Redana mengikat asal rambutnya. Dan menghirup kuat udara lalu menghembuskannya begitu saja. Rasanya sesak dan janggal. Kenapa Laluna mudah sekali mengakhiri hidup? Kenapa gadis itu memilih sekolah untuk tempat terakhirnya di Bumi ini? "Ke-kenapa lo bawa gue ke sini?!" Mario bertanya dengan suara nyaring. Agaknya cowok itu masih syok setelah dibawa terbang beberapa kaki di atas tanah. Wajahnya pias. Bibirnya pucat. Rambutnya kusut. Kemeja putihnya sudah tidak rapi lagi. Penampilan Mario sekarang berubah 180° dari beberapa menit yang lalu. "Kok lo gak suka sih? Bukannya salah satu keinginan manusia itu bisa terbang ya?" Redana berujar geli. "BUKAN KAYAK GINI CARANYA!" Mario ngegas. "GAK USAH TERIAK JUGA KALI, GUE GAK TULI!" Redana balas ngegas. Mario hanya berdecak. Enggan membalas. Ia sudah lelah, kehabisan tenaga saat di atas tadi. "Sorry, kalau cara gue bawa lo bikin lo semaput." Redana melunak. Ia tidak tega melihat Mario sepucat mayat. Seraya mengulurkan sebotol isotonik pada Mario. Mario segera menerima botol itu dan menenggak habis isinya. Redana meringis pelan melihat botol kosong isotonik itu yang dilempar Mario masuk ke dalam tempat sampah. Ia jadi semakin kasihan. "Kenapa lo bawa gue pergi?" Akhirnya suara Mario keluar juga. "Kalau enggak. Lo bisa dijadiin tersangka. Karena cuma ada lo sendiri di sekolah." "Gak mungkin!" Redana menggeleng. "Gak ada yang enggak mungkin Mario. Sekolah ditutup. Gak ada yang dibolehin masuk selain petugas polisi. Dan beberapa guru yang emang datang lebih pagi. Terus lo masuk dengan cara menyelinap di tembok belakang sekolah. Gak ada yang bisa mastiin ada orang atau enggak yang liat lo di sekitar belakang sekolah Mario. Apalagi, lo tinggalin motor lo di warung kopi kan?" Mario mengangguk. "Polisi pasti bakal nyari bukti ke se Ke sekeliling sekolah. Mereka pasti nanyain pemilik warung yang udah buka apa mereka liat hal yang mencurigakan. Dan saat mereka sadar ada motor lo di sana, pasti polisi itu bakal nanyain, siapa yang punya motor. Pemilik warung gak mungkin dong ambil resiko buat bohong. Mereka bakalan jujur. Dan setelah polisi tahu tamat sudah riwayat lo Mario." Mario tertunduk. Meskipun ia kaget setengah mati dibawa terbang tanpa aba-aba oleh Redana, tapi ia sungguh bersyukur karena lolos dari kejadian yang mungkin bakal jadiin dia tersangka utama. "Tapi, kenapa lo bisa ada di sekolah?" "Karna gue tau lo ada di sekolah." Redana menjawab singkat. "Terus kenapa lo tau kalau Laluna... " Mario tidak melanjutkan perkataannya. Ia teringat kalau beberapa hari terakhir, Laluna dan Redana cukup dekat. Sejak kepindahan Redana, gadis itu sama sekali tak memiliki teman. Ia hanya mengintili Mario sesekali. Sebenarnya beberapa siswi populer mengajak Redana berteman, tapi Redana tak peduli sama sekali. Hingga beberapa hari terakhir Mario melihat Redana makan siang berdua dengan Laluna di kantin. Mereka terlihat akrab. Mario kira Redana sudah membuka hatinya untuk berteman, jadi ia tidak menaruh rasa curiga dengan perubahan sikap Redana itu. Laluna adalah salah seorang siswi populer juga. Dia idola sekolah karena kecantikannya dan merupaka kapten tim cheers. Tapi, dia sombong bukan main. Dia selalu mengganggu adik kelas dengan tingkah senioritas. Berlaku seenaknya. Bertindak semaunya. Kematian Laluna pagi ini di sekolah tentu saja bukan hal yang biasa. Laluna bukan tipe siswi lemah. Dia sama sekali tak punya masalah dilihat dari luar. Namun, dialah yang selalu membuat masalah di sekolah. Mario bisa kira kalau setengah murid sekolah pasti tidak menyukainya. Namun, tidak ada satu pun hal yang aneh hingga membuat Laluna meninggal pagi ini diduga bunuh diri lompat dari rooftop gedung sekolah berlantai empat. Mario tidak pandai berspekulasi. Namun, melihat tingkah santai Redana dengan kematian Laluna membuat Mario merasa ada yang janggal. Mario sama sekali tak ingin menuduh siapa pun. Tapi, sungguh sejak kepindahan Redana hingga Mario tau kalau Redana bukanlah manusia biasa, Mario yakin kalau ada satu dua hal yang Redana lakukan dan mau berteman dengan Laluna hingga kematian Laluna pagi ini. Sekali lagi, Mario tak menuduh Redana yang mendorong Laluna. Jelas sekali tadi pagi kalau Mario melihat Redana ada di rumah Caca. Tapi, mungkin saja Redana merupakan saksi kunci kematian Laluna. "Kenapa lo gak ngomong?" Redana mengernyitkan kening heran, menatap lekat Mario. Mario diam saja. Pikirannya masih berputar-putar tentang Redana saksi kunci kematian Laluna. "Lo gak lagi mikirin kalau gue ada sangkutan sama meninggalnya Laluna pagi ini kan?" "HA?!" Mario kaget bukan main. Reaksinya yang berlebihan membuat Redana yakin kalau pertanyaan asal yang ia ucap benar-benar sedang Mario pikirkan. Mudah ditebak sekali. Redana jadi kesal sendiri. "Gue gak ada sangkut pautnya sama kematian Laluna." Redana berkata penuh penekanan. Ia pusing. Sepagi ini, setelah dibuat khawatir Caca tiba-tiba pingsan, ia sudah dua kali mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Redana pastikn, itu adalah nomor polisi. Pasti, polisi sudah melihat daftar panggilan terakhir Laluna. Dan semalam, Laluna ternyata menelponnya. Tak sempat Redana angkat, sebab tahulah semalam Redana di kamar Kalen... Redana enggan berurusan dengan hal semacam ini. Kalau mau pergi jauh kenapa harus mengghubunginya dulu sih. Duh! Redana tidak bisa melampiaskan amarahnya pada jasad tanpa nyawa Laluna bukan? "Gue gak mikirin itu kok." Mario berujar takut-takut. "Jangan bohong!" Redana tiba-tiba menyentak. Mario terperanjat kaget. Kontak menggeleng cepat. Redana bersedekap d**a. Berbalik. Enggan menatap Mario. Takutnya nanti ia malah melampiaskan kekesalannya pada Mario. Padahal baru saja ia melakukannya. Ponsel di saku rok Redana berdering. Redana berdecak pelan. Melihat nomor tak di kenal tertera di layar. Menimbang sejenak, menggeser tombol hijau atau tidak. Dan akhirnya Redana memilih menggeser tombol hijau. Menempelkan ponsel di telinga. "Halo." "Halo, apa benar ini dengan saudari Redana?" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD