Siang yang cerah, secerah hati Resni yang sedang menghangat karena jatuh cinta pandangan pertama kepada salah satu senior panitia kegiatan orientasi mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.20, masih ada waktu 10 menit lagi untuk istirahat, lalu setelahnya mereka kembali ke lokal masing-masing untuk melajukan kegiatan orientasi.
“Aduh, Yan, pokoknya kamu harus lihat, Kak Adit itu gantengnya pakai plus-plus, Yan, aku aja nulis sampai nggak kedip.” Cerita Resni dengan bersemangat.
Kiandra hanya meminum es tehnya dengan menggunakan sedotan sambil menatap Resni yang bercerita seakan bintang-bintang keluar dari matanya.
Resni bercerita sambil sesekali menyuapkan batagor ke mulutnya, sementara Kiandra menanggapi ceritanya hanya dengan jawaban singkat semacam; Hm, Oh, Ya.
Tanpa terasa, waktu istirahat mereka sudah habis, bunyi sirene terdengar sangat nyaring. Kiandra dan Resni dengan cepat berkumpul di lapangan sesuai instruksi para pembina orientasi mereka.
Kiandra dan Resni berada dikelompok yang terpisah, maka dari itu mereka berada di barisan yang berbeda, walaupun masih bersebelahan.
Beberapa saat setelah dimulai orientasi kelompok, Kiandra berjalan menyusuri jalan panjang yang terdapat di sudut kiri wilayah kampus memisah dari kelompoknya, Kiandra berniat mencari kelompok Resni. Lama mencari, akhirnya Kiandra menemukan kelompok Resni yang terlihat tengah istirahat di bawah pohon rindang. Kiandra berjalan pelan sambil menghampiri kelompok tersebut. “Permisi,” ucap Kiandra sambil membungkukkan sedikit kepala dan bahunya.
Seorang pembina mendongakkan kepalanya menatap ke arah Kiandra. “Iya, ada apa, ya, Dek?” tanyanya pada Kiandra.
“Begini, Kak, saya boleh ikut kelompok ini, nggak, untuk materi kali ini?” tanya Kiandra dengan suara yang ia ubah ke mode sopan.
Raut wajah Resni pun terlihat mengerut di bagian dahi setelah mendengar suara Kiandra.
“Loh, memangnya kelompok kamu kenapa?” tanya pembina cewek di kelompok tersebut.
Kiandra menggaruk lehernya yang tidak gatal, sekadar menetralisir rasa gugupnya. “Untuk materi ini, saya memutuskan untuk ikut sama kelompok lain, Kak, karena kelompok saya cuma memakai metode ceramah, dan tanya-jawab tanpa melihat ke tempatnya langsung, dan saya sepertinya kurang bisa menangkap isi dari materi kalau tidak langsung melihat.”
Pembina cewek tersebut menatap ke arah pembina cowok di sampingnya. “Gimana, Dit?” tanyanya.
Pembina dengan nama Adit itu pun hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Ya, sudah, masuk aja, nggak apa-apa,” sahutnya ringkas.
Tanpa menunggu banyak waktu, Kiandra bergegas duduk disamping Resni lalu setelahnya berbincang ringan.
“Kamu, anak baru, tadi emangnya ada di kelompok siapa?” Adit tiba-tiba bertanya sambil menunjuk ke arah Kiandra.
“Kelompok Kak Verra sama Kak Rima, Kak,” sahut Kiandra singkat.
“Pantesan, Dit, mereka pasti malas jalan, iya, kan?” Respon Maura, pembina cewek.
Kiandra menganggukkan kepalanya pelan.
“Kamu yang minta pindah?” tanya Adit lagi.
Kiandra menggelengkan kepalanya. “Nggak, kok, Kak. Saya tidak minta pindah, justru disuruh,” sahut Kiandra.
“Disuruh?”
Kiandra menganggukkan kepalanya lagi. “Saya memang berniat untuk pindah, tapi saat saya mengangkat tangan untuk bertanya, Kak Verra malah menyuruh saya pergi,” sahut Kiandra dengan ekspresi polosnya.
Adit dan Maura yang mendengar penjelasan Kiandra pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Nanti untuk materi selanjutnya, kamu masuk kelompok ini aja, nggak usah balik ke kelompok Verra,” suruh Adit.
Kiandra membulatkan matanya. “Emang nggak apa, Kak, kalau saya tidak kembali ke kelompok?”
Maura menyahut, “Kami lebih tahu Verra daripada kamu, mending ikut saran Adit saja, nama kamu siapa?”
“Kiandra, Kak, Kiandra Laras Andini Soetomo.”
Terlihat setelahnya Maura mencatatkan nama lengkap Kiandra di dalam absensi kelompoknya.
***
Waktu sudah memasuki jam 14.30, tiba saatnya untuk memulangkan seluruh peserta orientasi.
“Yan, jadi nganterin aku, kan, ke Rumah Makan Sawahan?” tanya Resni sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.
“Jadi, Res, aku temenin, kok,” sahut Kiandra yang juga tak kalah sibuk memasukkan buku ke dalam tasnya.
“Ya, sudah, ayo, keburu Bibiku datang.”
Akhirnya mereka berdua pun berjalan hingga parkiran.
“Bentar, Res, aku ambil helm dulu.” Kiandra membuka jok motornya lalu mengambil sebuah helm ekstra yang selalu ia bawa. Ia menyerahkan helm tersebut pada Resni untuk dipakai lalu setelahnya mereka pergi melaju dengan kecepatan sedang menuju RumahMakan Sawahan.
“Yan, menurut kamu, Kak Adit, gimana?” tanya Resni di sela-sela Kiandra membawa motornya.
“Kak Adit yang mana?” tanya Kiandra responsif.
“Itu, loh, kakak pembina kita.”
“Oh, itu, ya, Kak Adit yang kamu taksir?” tembak Kiandra pada Resni.
Resni yang malu-malu pun dengan refleks menepuk-nepuk punggung Kiandra. “Ih, Kian, apaan, sih, bukan naksir—”
“Res! Res! Stop! Jangan pukul-pukul aku, nanti motornya oleng!” Kiandra mencoba mengingatkan temannya yang sedang dalam mode aktif.
Resni hanya terkekeh pelan, “Jadi gimana, Yan?”
“Gimana apanya lagi?”
“Itu, Kak Adit?”
“Emang Kak Adit kenapa, sih, kan, tadi katanya kamu nggak naksir,” sahut Kiandra yang sudah cukup jengah dengan topik pembicaraannya dengan Resni.
“Kalau naksir kayaknya masih belum, sih, Yan, tapi tiap lihat Kak Adit, tuh, bawaannya jadi dugeun-dugeun, kalau bahasa dramanya sih itu,” ucap Resni sambil menggerak-gerakkan tubuhnya di atas motor.
“Aduh, Res, jangan gerak-gerak, kamu itu berat!” keluh Kiandra yang mulai jengkel pada Resni.
Resni lagi-lagi terkekeh. Kiandra sudah kembali fokus pada jalan, sementara Resni juga sudah lumayan tenang, namun Resni tetaplah Resni, mata jeli menyebalkannya mengarah pada salah satu pengendara motor di depannya.
“Yan, itu Kak Adit, kan?” Tunjuk Resni pada pengemudi motor di depan motor Kiandra.
Kiandra mengarahkan matanya pada arah Tunjukkan Resni. “Iya, Res, itu kak Adit, deh, kayaknya,” sahut Kiandra.
“Balap, Yan, balap! Ayo, balap!” desak Resni yang kembali heboh di atas motor.
“Res, Res, nggak usah gerak-gerak, oleng, b**o!”
Namun Resni tetap menggerakkan tubuhnya hingga Kiandra sedikit terganggu saat ia membawa motornya. Kebetulan Rumah Makan Sawahan sudah sangat dekat, Kiandra yang menyadari itu pun langsung membelokkan motornya ke arah kiri karena ingin masuk ke halaman rumah makan tersebut, namun karena Resni terus bergerak akhirnya mereka benar-benar oleng, dan Kiandra pun tak bisa mengontrol kekuatan putaran gas di tangannya, akhirnya motor yang Kiandra bawa menabrak bagian belakang salah satu mobil yang berjejer di parkiran rumah makan tersebut.
“Tuh, kan, Res, nabrak! Lo, sih!” omel Kiandra.
“Eh, eh eh, kok, pakai lo-gue lagi, nggak boleh gitu!” Tegur Resni sempat-sempatnya pada Kiandra.
“Bodo, Res, bodo! Nih sekarang kita nabrak gara-gara kamu goyang mulu.” Kiandra masih mengomel pada sahabatnya yang saat ini memasang wajah polos.
Kiandra memarkirkan motornya sedikit lebih jauh dari mobil yang tadi ia tabrak, sedangkan Resni setelah turun dari motor langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah makan.
“Mau ke mana kamu? Ikut tanggung jawab, dong!” Tuntut Kiandra pada Resni.
Resni melepaskan pegangan Kiandra di lengannya. “Iya, iya, ah, nggak usah panik gitu, nanti kita tanggung jawab berdua, aku mau masuk dulu ngambil pesanan.”
Resni berjalan meninggalkan Kiandra yang masih menatap baret di mobil yang tadi ia tabrak. Kiandra menghampiri mobil tersebut, dan mencoba menghilangkan tanda baretan yang tergores lumayan besar di bagian belakang mobil tersebut.
“Gimana ini, mana baretnya panjang banget lagi,” keluhnya sambil masih membersihkan baretan mobil dengan ujung pakaiannya.
***
Suasana di dalam saat keluarga Aditama sudah makan setengah jalan. Sardi menggagapkan tangannya di saku celana. “Loh, ketinggalan kayaknya,” gerutu Sardi pelan.
Dimas yang melihat ayahnya seperti mencari sesuatu pun mulai bertanya. “Mencari apa, Yah?” tanya Dimas pelan.
“Dompet Ayah, Dim, kayaknya ketinggalan di mobil.”
“Kok bisa ketinggalan di mobil, sih, Yah, emang tadi naruhnya di mana?” tanya Lia selaku istri yang cukup disiplin terhadap barang-barang berharga keluarganya.
“Di dashboard, Bu, Ayah lupa ambil,” sahut Sardi pelan.
“Biar Dimas yang ambilin, ya, Yah, kebetulan Dimas juga ada yang pengen diambil.”
“Yasudah, nih kuncinya, tolong ambilkan, ya, Nak,” pinta Sardi pada sang sulung, Dimas pun berjalan keluar dari pintu rumah makan tersebut lalu berjalan ke arah mobilnya.
Dari arah ia berjalan, ia melihat seorang gadis seolah melakukan sesuatu pada bagian belakang mobilnya. Dimas pun berjalan pelan menghampiri gadis tersebut.
Dimas melihat segores baretan di bagian belakang mobilnya, dan sepertinya gadis tersebut berusaha menghilangkannya. “Ngapain, Mbak?” tanya Dimas mengejutkan gadis yang tak lain adalah Kiandra.
Tentu saja Kiandra terkejut, dia bahkan tak menyadari jika ada seseorang yang berjalan ke arahnya. “Nggak, Mas, nggak ada apa-apa,” ucap Kiandra gugup, mencoba menutupi baretan di bagian belakang mobil.
Kiandra gugup seketika ketika Dimas menatapnya datar, rasa takut mulai menjalar pada setiap sendi-sendi tubuhnya. “Ampun, Mas, saya nggak sengaja nabrak, saya sudah usaha buat menghilangkan baretnya, tapi nggak bisa, gimana dong?”