3. Tamu Ayah

2214 Words
“Mbak, ngapain?” Pertanyaan yang pertama dikeluarkan oleh Dimas saat ia melihat seorang gadis menggosok-gosok sesuatu di bagian belakang mobilnya. Kiandra memasang wajah memelas seolah mengharap belas kasih dari sang empunya mobil. Dimas menggeser sedikit tubuh Kiandra, dan menatap baret di bagian belakang mobilnya.  “Kok bisa nabrak?” tanya Dimas pelan. Tubuh Kiandra terasa panas dingin ketika mendengar suara bariton rendah Dimas. “Gimana, nih, aku harus apa?” batin Kiandra. “Tadi aku sama temen naik motor, Mas, terus temen aku oleng karena kelaparan, jadi nabrak, deh,” jelasnya, yang mana di akhir kalimat ia pelankan sampai Dimas pun hampir tak menangkap maksudnya. Dimas menatap Kiandra dengan tatapan datar. “Maksud kamu teman yang lapar itu, yang itu?” tanya Dimas sambil menunjuk seorang gadis yang duduk di atas sepeda motor tak jauh dari mereka berdiri. Kiandra menolehkan kepala yang tadinya menunduk ke arah tunjukkan pria di depannya. Di sana ia melihat Resni tengah memakan satu potong ayam dengan lahap sambil mendudukkan tubuhnya di atas motor. Kiandra memandang Resni dengan tatapan jengkel, kemudian memalingkan wajahnya kembali ke depan, namun pria yang tadi di depannya sudah tak ada di tempatnya. “Lah, ke mana tuh cowok?” gumamnya pada dirinya sendiri. “Yan! Ngapain, sini, ayo pulang!” teriak Resni. Kiandra berjalan menghampiri Resni sambil sedikit menghentakkan kaki. “Kamu, tuh, ya, Res, aku, kan, mintanya tanggung jawab bersama, kok kamu malah enak-enakan duduk sih, mana sambil makan lagi!” omel Kiandra pada Resni. Resni turun dari motor, kemudian menatap Kiandra dengan tatapan datar, sementara ayam masih ia kunyah di mulutnya. “Tadinya aku niat ikut tanggung jawab,” sahut Resni. Kiandra mendecih pelan, “Ikut apaan, niat doang!” “Ih, beneran, Yan, tadi waktu aku keluar dari pintu, aku mau nyamperin kamu buat ikut jelasin sama pemilik mobil, tapi setelah aku gantung pesanan di motor, aku lihat kamu lagi ngomong sama cowok ganteng, jadi aku sungkan buat ganggu.” Resni dengan bangganya memberi penjelasan. Kiandra menatap Resni dengan tatapan jengkel. “Eh, Kutil Badak, cowok ganteng dari mana, cowok tadi itu pemilik mobil!” sahut Kiandra yang jengkelnya sudah di ubun-ubun. “Kok kamu nggak bilang?” seru Resni. Kiandra sudah tak tahan, ia bergegas mengambil helm dan memutuskan untuk tidak mendengarkan ocehan sahabatnya tersebut. “Naik!” ucapnya sambil memasang kuda-kuda ingin mengebut di jalanan. Resni tahu jika Kiandra akan memainkan gasnya saat berkendara, saat ia baru saja naik ke atas motor, Kiandra langsung memutar gasnya kencang sehingga bunyi yang ditimbulkan dari knalpot cukup keras. “Yaann! Pelan-pelan!” pekik Resni dengan susah payah. Sementara Kiandra masih melampiaskan kekesalannya pada gas di tangan kanannya. *** Dimas kembali dengan cepat daripada harus menghadapi gadis labil yang menabrak mobilnya tersebut. “Kok lama, sih, Dim?” keluh Lia pada anaknya. “Tadi ada sesuatu, Bu,” sahut Dimas langsung duduk. “Sesuatu apa?” “Tadi ada anak cewek aneh dekat mobil, ya aku samperin,” sahut Dimas jujur. “Cewek aneh?” respon Sardi sambil membuka dompetnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang. “Iya, Yah, katanya dia nabrak bagian belakang mobil kita, lecet, sih, tapi nggak terlalu panjang juga goresannya, bisa kok dihilangkan.” “Tapi dia minta maaf kan, Dim?” tanya Lia lembut. “Sudah, Bu,” sahut Dimas. “Ya, sudah, kalau dia berani meminta maaf, ya, nggak apa-apa, lagipula lecet sedikit biaya perbaikannya juga nggak mahal,” sahut Sardi. Sehabis makan siang, keluarga Aditama pun bergegas pulang, sesampainya di rumah, Dimas dan Alya langsung merebahkan tubuh mereka di sofa. “Capek ...,” keluh Dimas sambil menghela napasnya besar. “Sama, aku juga,” sahut Alya sambil merentangkan kedua tangannya menjuntai di leher sofa. “Dimas, Alya, cepat mandi, terus istirahat di kamar masing-masing!” seru Lia pada kedua anaknya. Dimas langsung berdiri dan berjalan sambil menendang pelan tangan Alya. “Ibuuu, Kak Dimas!” rengek Alya mengadu. “Dimas!” Lia menegur sulungnya tersebut. Sementara Dimas hanya berlari kecil menaiki tangga untuk memasuki kamarnya, setibanya di kamar, Dimas memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, lalu setelahnya ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dimas kembali mengingat-ingat di mana saat pertama ia memutuskan untuk bersekolah penerbangan. Di dalam bayangannya, masih sangat jelas tergambar jika saat itu ibunya tak mengizinkan.  *** Beberapa tahun yang lalu, sesaat sebelum Dimas masuk sekolah penerbangan. Hari itu adalah hari di mana Dimas telah lulus secara resmi di Sekolah Menengah Atas. Dimas lulus dengan nilai yang membanggakan. Dia lulus dengan predikat nilai tertinggi se-Jakarta. Untuk perihal membanggakan orang tua, Dimas sudah memenuhinya sejak dari Sekolah Dasar. Tergambar dari rekap laporan persemesternya yang mencantumkan peringkat 1 di setiap lembar rapornya. “Dim, setelah ini rencana mau lanjut kuliah di mana?” tanya Lia lembut. Saat itu mereka sekeluarga tengah berkumpul di ruang makan. Dimas sambil meminum airnya, menatap Lia. “Setelah ini Dimas mau sekolah penerbangan, Bu, boleh, kan, Yah?” tanya Dimas dengan hati-hati. Sardi menaruh sendoknya, kemudian menatap anak sulungnya tersebut. “Kamu yakin, Dim, mau sekolah penerbangan?” Dimas juga ikut meletakkan sendoknya, dan mulai berbicara serius pada sang Ayah. Dimas menganggukkan kepalanyanya yakin. “Iya, Yah, Dimas yakin, kan dari dulu cita-cita Dimas mau jadi pilot,” sahutnya mencoba setenang mungkin. “Tapi, Dim, kamu mau sekolah penerbangan di mana? Jangan jauh-jauh, lah, Nak, Ibu tidak mau kamu jarang pulang,” keluh Lia dengan risau. “Nggak jauh, kok, Bu, Dimas sudah menentukan di mana nanti Dimas bakal daftar,” jelas Dimas. Sardi menganggukkan pelan kepalanya. “Rencananya kamu mau daftar di mana, Dim?” tanyanya yang tak kalah serius. “Dimas maunya di Aero Flyer Institute, Yah.” *** “Kak, Kak Dimas.” Dimas tersadar dari lamunannya saat ia mendengar suara Alya memanggilnya dari balik pintu kamar. “Ya, Al, masuk!” Terdengar Alya memutar knop pintu kamar Dimas, dan membukanya dengan perlahan, “Kak, kata Ayah, Kakak disuruh siap-siap, soalnya nanti malam kita mau pergi ke rumah temannya ayah,” katanya menyampaikan pesan dari Sardi untuk Dimas. “Memangnya ke sana mau ngapain?” Alya mengangkat kedua bahunya. “Mana Alya tahu, Alya, kan, cuma menyampaikan apa kata ayah.” “Ya, sudah, deh, Kakak tidur bentar dulu, nanti bangunkan Kakak jam 5, ya, Dek.” Alya hanya menganggukkan kepalanya lalu menutup kembali pintu kamar Dimas. *** Kiandra melajukan motornya dengan gusar setelah mengantar Resni ke rumahnya. Di perjalanan pulang, pikiran Kiandra hanya terfokus pada mobil lecet yang tadi sempat ia tabrak. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benaknya. Mulai dari ke mana menghilangnya cowok pemilik mobil, bagaimana dia harus bertanggung jawab, terlebih Kiandra ingat jika ia lupa mengucapkan maaf saat berhadapan dengan pemilik mobil yang tadi sempat ia tabrak. Tak hanya berbagai pertanyaan yang muncul, bahkan berbagai kemungkinan pun menjadi pikiran bagi Kiandra. Kemungkinan tersebut adalah bagaimana jika nanti cowok tersebut harus membayar banyak untuk biaya perbaikan sehingga membuat cowok tersebut melacak keberadaan Kiandra hanya untuk bayar ganti rugi, bagaimana jika setelah cowok tersebut mendapat kontaknya, maka Kiandra akan dicegat dan kemudian— “Stop!” seru seseorang saat Kiandra terpaksa harus berhenti dari lamunan kemungkinannya. “Mang Acep, ngagetin, ih!” seru Kiandra jengkel. “Lah Neng, Neng Kian, tuh, yang bawa motor sambil ngelamun, Mamang sudah jalan di pinggir, masih aja mau ditubruk,” keluh Mang Acep, tukang kebun keluarga Soetomo. “Ya, maaf, Mang, kan, Kian nggak sengaja,” ucap Kian sambil turun dari motornya. “Mang, tolong nanti masukin garasi, ya?” pinta Kiandra. “Beres Neng,” sahut Mang Acep sambil membentuk tanda oke pada tangan kanannya. Kiandra melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum!” seru Kian dengan suara nyaring. Kian melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Kiandra berjalan menuju ruang tengah, ruang yang sering dipakai oleh keluarganya untuk bersantai sekaligus beristirahat. “Kiandra pulang!” serunya lagi saat mendapati mama dan papanya di ruang tengah sedang menonton televisi. Kian duduk di tengah-tengah antara orang tuanya, bahkan tanpa melepas tas di punggungnya. Abimana mendekat kearah Kiandra lalu mengalungkan tangannya ke pundak putrinya tersebut. “Yan, sebaiknya kamu mandi dulu sana, setelahnya Papa sama Mama mau ngomong sama kamu,” ucap Abimana dengan lembut. Kiandra menghela napas berat sambil berdiri. “Bilang aja nggak tahan sama bau mataharinya Kian, makanya nyuruh mandi,” gerutu Kian, lalu setelahnya ia berjalan menaiki tangga dan pergi ke kamarnya. Setibanya Kiandra di kamar, ia tak langsung mandi. Ia melempar tubuhnya ke tempat tidur sambil memejamkan matanya pelan. Kiandra menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya dengan pelan, begitu berkali-kali sampai lelahnya hilang. Kian mulai membuka mata, ia merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Kian turun dari tempat tidur lalu berjalan gontai ke arah kamar mandi, seperti biasa ia menghabiskan waktu selama setengah jam di ruangan tersebut. Kiandra kini telah melewati waktunya di kamar mandinya dengan puas, ia melangkahkan kakinya menuju lemari besar, kemudian mengambil celana lebar selutut dipadu dengan kaus berlengan pendek dengan tulisan di depan dadanya dengan nama girlgroup Korea favoritnya. “Yeaahh, Blackpink in your areaaa!” Kiandra bernyanyi sambil memasang pakaiannya, dan menyisir rambutnya. Selesai bersiap, Kiandra pun keluar dari kamarnya lalu turun tangga dan setelahnya berjalan ke arah ruang tengah. Kiandra melihat orang tuanya masih di posisi semula. “Ma, Pa, malam ini makan di luar, yuk? Kita sudah lama nggak makan bareng di luar,” ajak Kiandra pada kedua orang tuanya. Dini menggeser tubuhnya, dan memberi ruang pada putrinya agar bisa duduk leluasa di antara dirinya dan suaminya. “Nggak bias, Yan, kita malam ini punya tamu,” sahut Abimana sambil tetap fokus pada berita di televisi. “Tamu? Siapa yang datang, Pa?” tanya Kiandra penasaran. ”Teman lamanya Papa, Yan, anaknya baru saja merayakan kelulusan, jadi mereka berencana berkunjung sekeluarga kesini,” jelas Dini sambil membelai surai hitam anak gadisnya tersebut. “Bertamunya di rumah, Ma?” “Ya, di rumah, dong, Yan, mau di mana lagi?” sahut Dini singkat. “Ya, kali aja ketemuan di luar, terus mesan tempat di resto mana gitu,” tawar Kiandra yang memang sangat ingin makan di luar rumah untuk saat ini. Abimana menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada acara makan di luar, Yan, semuanya kita lakukan di sini, di rumah.” Kiandra mendengus pelan, ketika semua terdengar diam, Kiandra seolah teringat dengan sesuatu, “Oh, ya, Ma, Pa, tadi Kian nab—” “Bu, sayurnya sudah datang, mau Dimasak sekarang?” Bi Minah tanpa sadar menyela perkataan Kiandra. Dini menoleh ke arah asisten rumah tangganya tersebut. “Oh, sudah datang, ya, Bi, ya sudah kita masak sekarang aja kalau begitu,” sahut Dini sambil berdiri. “Kok, Kian ditinggal, Ma?” keluh Kiandra sok dramatis. “Nggak usah lebay, deh, Yan, emang jarak ruang tengah sama dapur sejauh apa? Jakarta-Bogor?” sahut Dini sambil berjalan menuju dapur, meninggalkan suami dan anaknya. Sekarang tinggal lah Abimana dan Kiandra berdua yang saat ini masih fokus menonton acara berita. “Yan, nanti malam dandan yang cantik, ya,” kata Abimana pada anak gadisnya. Kiandra menoleh heran. “Memangnya kenapa, Pa?” Abimana terkekeh pelan, “Ya kali aja nanti kalau nggak diingatkan, waktu makan malam kamu turun dari kamar pakai pakaian kayak gini, kan, Papa sama Mama jadi malu.” Kiandra menatap malas ke arah Papanya. “Nih, ya, Pa, Kian kasih tahu, Kian turun pakai bathrobe pun tetap cantik, Pa, Papa jangan khawatir masalah kualitas dari wajah Kian, seandainya tanpa make-up pun, Kian tetap cantik.” Kali ini Abimana yang menatap anak gadisnya dengan tatapan datar. “Masa, sih, Yan, kok, Papa rasa muka kamu rata-rata aja, ya?” Kiandra sontak kembali menoleh, menatap jengkel ke arah Abimana. “PAPAA!’ Abimana tertawa puas melihat wajah jengkel Kian karena kalah berdebat dengannya. “Sudah, sudah, pokoknya Papa nggak mau tahu, nanti malam kamu harus dandan yang cantik, supaya nggak malu-maluin, kan, kali aja, Yan,” ucap Abimana random. “Kali aja apa, Pa?” “Ya kali aja,” sahut Abimana ambigu. *** Waktu makan malam telah tiba, keluarga Soetomo tengah menunggu keluarga teman yang berjanji akan berkunjung malam ini ke rumah setelah sekian lama tidak bertemu. Abimana menunggu dengan gelisah, maklum saja, dia dan teman lamanya ini sudah puluhan tahun tidak bertemu. Saat mereka bertiga tengah menata meja makan, bel pintu terdengar berbunyi. “Mas, mungkin itu mereka,” ucap Dini pada Abimana, suaminya. “Iya, Dek, ayo, biar kita yang buka pintunya!” Ajak Abimana pada Dini. “Pa, Ma, Kian gimana?” tanya Kiandra yang masih repot menyusun piring, dibantu oleh Bi Minah. “Sudah, kamu di sini aja, susun masakan yang rapi.” Akhirnya Kian pun ditinggal di dapur berdua bersama Bi Minah. Setelah beberapa saat, terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang mendekat ke arah dapur. Bi Minah pamit undur diri, sementara Kiandra berdiri di depan meja makan sambil memasang wajah dan senyum terbaiknya. “Silakan, silakan!” seru Abimana sambil menggiring satu keluarga yang menjadi tamunya malam ini. Kiandra memasang wajah ramahnya menyapa pria dan wanita yang mungkin rentang usia mereka tak jauh berbeda dari orang tuanya. Pandangan Kiandra jatuh pada anak gadis dengan kacamata bulat trendinya yang berdiri di samping wanita yang pasti istri dari teman ayahnya. Gadis yang sepertinya lebih muda darinya itu pun sedikit menunduk, menyapa Kiandra sambil tersenyum, hingga pandangan Kiandra jatuh pada cowok yang berdiri di belakang ayah dan juga teman ayahnya tersebut. Mata Kiandra membulat sempurna. “Loh, Mas, kan, yang-”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD