4. Tidak Sengaja Jujur

1977 Words
Makan malam kali ini terasa mencekam bagi Kiandra, pasalnya cowok yang siang tadi ia tabrak mobilnya sekarang berada tepat di depannya. Kiandra kurang fokus mengikuti kegiatan makan malam kali ini, dia terus-menerus melirikan matanya, curi-curi pandang pada Dimas yang saat ini juga kebetulan duduk di depannya. “Kian, katanya baru masuk kuliah, ya?” tanya Sardi pada anak gadis sahabatnya tersebut. Kiandra masih bingung harus berekasi seperti apa, ia pun hanya diam walaupun saat ini sedang ditanya.  “Kamu ditanya sama Om Sardi, Yan,” tegur Dini. “Huh? Ya, Om, maaf, tadi rada ini, anu ….” Lalu setelahnya Kiandra terkekeh. Mendengar kepolosan Kiandra, Sardi dan Lia pun ikut tertawa. “Om Sardi tadi Tanya, Yan, sekarang kamu sudah kuliah, atau belum?” ucap Abimana menengahi. Kiandra tersadar dan menyahut, “Iya, Om, Kian sekarang sudah kuliah.” “Tinggal di kos dong Yan?” tanya Lia. Kiandra menggelengkan kepalanya. “Nggak, Tan, aku bolak-balik rumah, kok, naik Omen.” Semua keluarga Aditama menaikkan alisnya setelah mendengar Kiandra menyebut Omen. Dini tertawa pelan, “Omen itu motor matic dia,” jelasnya. Sementara Dimas, entah mengapa mulutnya gatal ingin berbicara merespon perkataan Dini. “Oh, motor matic yang warnanya abu, ya, Tan.” Kiandra membulatkan matanya sempurna, kemudian berdiri dengan cepat sehingga mengejutkan siapa pun yang ada di sana. Raut wajah cemas sangat tergambar di wajahnya. “Pa, Om, Kian boleh bawa Masnya dulu? Kian mau ngomong berdua sebentar,” ucapnya gugup, semua mata tertuju pada Kiandra dan Dimas secara bergantian. “Aku?” Tunjuk Dimas pada wajahnya sendiri. Kiandra mengangguk dengan ekspresi datar. Dimas pun mendehamkan pelan tenggorokannya, lalu berdiri. “Saya permisi sebentar,” ucapnya lalu berjalan mengikuti Kiandra dari belakang. Dini dan Lia menatap kedua anak tersebut dengan tatapan curiga. “Mereka saling kenal?” gumam Dini, dan seketika atmosfir ruang makan terasa serius.  *** Kiandra berjalan menuju taman di belakang rumah yang letaknya memang tak jauh dari ruang makan. Kiandra berbalik dengan cepat dari posisinya, dan menemukan Dimas sudah berdiri di belakangnya dengan ekspresi polos, Kian menatap Dimas dengan tatapan tidak suka. “Lo ngapain, sih, sok-sokan nyebut-nyebut si Omen, mau ngadu, ya?” tuduh Kiandra. Dimas seketika heran. “Emang aku salah ngomong?” sahutnya polos. Kiandra meneliti sekitar, takut jika ada yang menguping pembicaraannya. “Lo mau bilang, kan, sama orang tua gue kalau tadi siang, Omen nabrak mobil lo?” Dimas menatap datar ke arah Kiandra. “Kata siapa aku mau bilang?” tanya Dimas balik. Kiandra mendecih pelan, “Itu tadi, lo ngapain bawa-bawa Omen, waktu ngomong?” Dimas masih berusaha tenang. “Iya, makanya aku tanya, emang aku tadi salah ngomong?” “Nggak, lo nggak salah ngomong, yang salah itu ngapain lo pakai ngomong segala?!” sahut Kiandra jengah. “Loh, suka-suka aku, lah, kan aku yang punya mulut.” Jawaban Dimas membuat Kiandra semakin menatap pria itu dengan tatapan tak suka. “Terserah lo, lah, lo sama mulut lo itu boleh ngomong apa aja, asal jangan mengungkit masalah tabrakan tadi siang!” Dimas menaikkan sebelah alisnya. “Kok, jadi kamu yang marah, kan, di sini mobil aku yang korban?” “Gue nggak marah, kok, siapa yang marah,” sanggah Kiandra dengan nada nyolot. “Itu, kamu marah!” Tunjuk Dimas ke arah wajah Kiandra. “Nggak, gue nggak marah, jangan asal tuduh, ya!” Dimas tersenyum pelan. “Iya, deh, percaya, nggak marah, tapi cuma ngomong pakai urat,” ucapnya, lalu meninggalkan Kiandra begitu saja. “Sialan, tuh, om-om, gue ditinggal!” dengus Kiandra sambil mengikuti langkah Dimas kembali ke dalam. Mereka berdua tiba di ruang makan, dan kemudian duduk di tempatnya semula. Kiandra masih menekuk wajahnya, dan menatap Dimas yang duduk di depannya dengan tatapan tak suka. “Kalian tadi abis apa?” tanya Dini pelan. “Nggak ngapa-ngapain, kok, Tan,” sahut Dimas ramah. Lia menatap Kiandra yang masih menatap Dimas. “Kian sama Dimas sudah pernah kenal sebelumnya?” tanya Lia pada Kiandra. Kiandra yang merasa ditanya pun hanya merespon dengan ekspresi terkejutnya. “Nggak, Tan, nggak pernah kenal sebelumnya,” sahutnya dengan cepat. Dimas meminum air putihnya. “Bohong, Bu, kita sudah pernah ketemu, kok,” sahut Dimas. Kiandra sontak mendelik sebal pada cowok di depannya saat ini, karna saking jengkelnya, ia pun melakukan sesuatu pada Dimas. “Arrgghh!” Ringisan Dimas terdengar saat Kiandra menendang kaki Dimas dengan keras, semua pun menoleh ke arah Dimas. “Nyamuk,” kata Dimas dengan canggung. Sesaat diam, mata Dini mulai berbinar. “Jadi kalian sudah saling kenal, toh.” “Nggak, kok, Ma, kita nggak saling kenal, cuma satu kali ketemu, itu, pun, karena waktu itu Omen nabrak mobilnya mas ini!” Tunjuk Kiandra pada Dimas. Sardi membulatkan matanya saat Kiandra tak menyadari jika dia telah mengakui kesalahannya. “Jadi, kamu yan yang siang tadi nabrak mobil Om, sewaktu parkir di rumah makan?” Kiandra gelagapan. “Nggak, kok, Om, siapa yang bilang?” “Itu tadi kamu yang bilang sendiri,” sahut Dimas dengan ekspresi wajah sambil mengejek Kiandra. “Ah, lo, sih!” kata Kian menyalahkan Dimas. “Sudah, sudah, Dimas sama Kian, nggak usah bahas masalah mobil sama Omen lagi, kan, tadi, katanya Kian sudah minta maaf,” lerai Lia di sela-sela permasalahan tabrak-menabrak. “Iya, Tante, Om, maafin Kiandra, ya,” ucap Kiandra dengan suara pelan, Dini dan Abimana menatap Kian dengan menggelengkan kepalanya. “Maafkan bocahku, ya, Sar, dia kalau sudah bawa motor suka lupa kodrat,” ucap Abimana sambil menepuk punggung Sardi. Sardi tertawa, “Kamu ini, Bi, kayak sama siapa aja, nggak apa-apa, lagipula lecetnya juga nggak banyak, lupain aja,” sahut Sardi. Semua kembali tenang saat topik masalah Omen dan mobil Dimas terselesaikan. “Omong-omong, Kak Kian, Alya boleh tanya?” Alya memulai percakapan. Kiandra menegakkan kepalanya dan menatap ke arah Alya. “Ya, silakan aja, Al, mau tanya apa?” jawab Kiandra dengan tenang. “Kakak kuliahnya di jurusan apa, Kak?” Sebelum menjawab, Kiandra meminum air putihnya terlebih dahulu. “Psikologi, Dek,” sahut Kiandra setelahnya. “Wah, bisa jadi calon istri yang baik, dong, kalau begitu,” sahut Lia. Kiandra terbatuk setelah mendengar perkataan tamunya tersebut. “Huh?” responnya hanya keluar di satu kata, karena ia terkejut. “Iya, bisa, kan, kalau belajar psikologi, pastinya nanti akan jadi orang yang pengertian, dan lebih pekaan,” jelas Lia. Sardi dan Abimana saling tukar pandang. “Bi, anak gadismu sudah punya calon?” tanya Sardi sambil niat berguyon. Abimana tertawa pelan. “Sampai saat ini, sih, Sar, masih belum ada satu pun yang pernah dikenalkan oleh Kian, kayaknya sih belum,” sahut Abimana.  “Kalau Dimas, sudah punya, Ya?” Dini kini bertanya “Mama apaan, sih, kok tanyanya kayak gitu?” respon Kiandra. Semua terlihat tertawa, “Tau, nih, Dim, sudah punya belum?” tanya Lia pada anak sulungnya, walau hanya disahut dengan senyum oleh Dimas.  “Kebiasaan, deh, kamu ini, Dim, apa-apa disenyumin melulu, jawaban kamu jadinya ambigu, tau,” timpal Lia. *** Waktu sudah larut, keluarga Adimata untur diri. Mereka pun berpisah di depan rumah. Saat keluarga Aditama sudah melajukan mobilnya keluar pagar kediaman keluarga Soetomo, Kiandra tanpa sengaja melihat senyum aneh dari wajah kedua orang tuanya. “Senyumnya aneh, ih, serem tau!” Kiandra mulai menggerutu pelan.  Merasa aneh dengan kedua orang tuanya, Kiandra pun membalikkan tubuhnya. “Ma, Pa, ngomong, deh, daripada senyum-senyum nggak jelas kayak gitu.” Dini mendekat lalu mengalungkan tangannya ke bahu putrinya tersebut. “Kamu belum apa-apa sudah peka, ya, Yan. Mama seneng, deh, Mama boleh tanya?” Kiandra menatap was-was pada Dini. “Tanya apa sih Ma?” “Mama mau tanya, kamu sebenarnya sudah punya pacar, atau belum?” Kiandra mengernyitkan  keningnya. “Kok, tumben tanya yang itu.” “Sudah, jawab aja, Yan,” ucap Abimana pelan. Kiandra terlihat berpikir. “Untuk saat ini, sih, belum punya,” sahut Kian dengan entengnya. Dini dan Abimana saling bertukar pandang, kemudian Dini menganggukkan kepalanya, sementara Abimana memilih untuk berjalan menjauh dari kedua wanitanya tersebut. “Memangnya kenapa, sih, Ma, kok, tumben tanya?” tanya Kiandra yang mulai penasaran. “Nggak apa-apa, sih, cuma tanya aja,” sahut Dini. “Eh, Yan, menurut kamu, anak temannya Papa tadi, gimana?” Kiandra menatap Dini. “Siapa? Alya? Baik, kok, kayaknya, anaknya lucu juga, sama aku ngomongnya tadi nyambung,” sahut Kian dengan polosnya. Dini menatap Kian dengan tatapan jengkel. “Bukan yang cewek, tapi yang cowok!” “Oh, si Mas Om, biasa aja,” sahut Kian singkat. “Kok, biasa, sih, Yan, ganteng gitu?” “Ganteng apanya? Klimis gitu, aku nggak suka cowok klimis, Ma,” sahut Kiandra sewot. “Ih, pede, siapa yang nanya kamu suka atau nggak, orang Mama tanya ganteng apa nggak doang, kenapa larinya ke suka?” Kiandra gelagapan. “mamaa! Orang biasa aja, nggak usah diejek juga kali.” “Yee … siapa yang ngejek? Orang Mama cuma tanya,” sahut Dini tak mau kalah. *** Keluarga Aditama sampai ke rumah dalam keadaan lelah. Semua melangkahkan kaki dengan gontai. Lia merangkul Alya yang terlihat sangat mengantuk. “Mandi dulu, ya, Al, setelahnya minum air putih, lalu tidur, besok kamu masih harus sekolah.” Sementara Dimas kembali membaringkan tubuhnya, kali ini ia benar-benar akan terlelap. Saat mata sayunya hampir tertutup, ia mengingat sesuatu yang mengharuskan dirinya untuk bangun. Dimas berjalan menuju tasnya, kemudian ia mengambil sebuah amplop coklat dari sana. Ia  keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga, lalu mencari kedua orang tuanya. Dimas menemukan ayah dan ibunya sedang duduk berbincang di sofa ruang tengah. “Loh, Dim, belum tidur?” sapa Lia yang melihat Dimas berjalan ke arahnya. “Belum, Bu, Dimas mau ngasih lihat ini sama Ayah dan Ibu,” sahut Dimas sambil memberikan amplop coklat yang tadi ia bawa. “Apa ini, Dim?” tanya Sardi sambil mengambil amplop tersebut. “Maskapai Airindo?” tanya Lia seolah memperjelas. “Iya, Bu, Dimas dapat tawaran sebelum acara kelulusan,” kata Dimas serius. “Lalu, kamunya gimana, Dim?” respon Sardi. Sardi dan Lia adalah orang tua yang selalu mendahulukan kenyamanan anak-anak mereka. Seingin apa pun mereka terhadap sesuatu, mereka tak akan pernah memaksa anak-anak untuk ikut menyukai hal tersebut. Seperti sekarang, sebelum menanyakan yang lebih detail, Sardi terlebih dahulu ingin mendengarkan apa tanggapan Dimas terhadap tawaran tersebut. Dimas terlihat sedang berpikir. “Dimas sebenarnya pengen, Yah, Bu, tapi …,” ucap Dimas menggantungkan kalimatnya. “Tapi apa?” tanya Lia terkesan mendesak karena penasaran. “Kalau Dimas menerima, otomatis Dimas harus mencari tempat tinggal yang dekat, kan, jarak rumah dari kantor dan bandara lumayan jauh.” “Ya, sejauh-jauhnya jarak, kamu harus tetap pulang, dong, Dim,” sahut Lia terlihat tidak setuju. “Bukan seperti itu, Bu, Dimas khawatir nanti kalau rumah berjarak jauh sama tempat kerja, jadinya jarang balik ke rumah karena terlalu lelah.” Sardi mendengarkan alasan Dimas yang dinilainya cukup logis. “Kamu benar, Dim, capek kalau harus bolak-balik karena jauh.” “Nanti yang urus kamu di sana siapa? Waktu kuliah kamu tinggal di asrama, semua serba tersedia, tidak mungkin kita sekeluarga yang pindah, sekolah Alya, bagaimana?” keluh Lia. Sardi dan Dimas pun saling bertukar pandang. Melihat Lia yang seperti ini, sama persis saat di mana Dimas mengatakan jika ia ingin sekolah penerbangan dulu. “Kita bisa pikirkan jalan keluarnya, kok, Bu, ya nggak perlu lah kita ikut pindah segala,” ucap Sardi mencoba menenangkan istrinya. “Bukannya kayak gitu, Ayah, Ibu cuma khawatir, nanti kalau Dimas beli rumah di sana, yang urus keperluan Dimas siapa?” “Gampang, Bu, itu gampang,” sahut Sardi enteng. Dimas dan Lia mulai mengernyitkan keningnya. “Seandainya kamu terima tawaran ini, kapan mulai masuk, Dim?” tanya Sardi pada Dimas. “Seingat Dimas kayaknya 3 bulan dari bulan ini, Yah.” Sardi menjentikkan jarinya. “Berarti dalam 2 bulan yang tersisa ini, kita bekerja sama untuk mencarikan Dimas seorang istri, gampang, kan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD