5. Big Girl

1433 Words
“Calon istri?”  Dimas mencoba memastikan. Sardi mengangguk. “Iya, Dim, kamu itu sudah cukup umur untuk menikah, apalagi punya rencana kerja jauh diri rumah, jadi harus ada yang ngurusin kamu.” Mata Lia berbinar. “Iya, ya, Yah, kok, Ibu nggak kepikiran, bagaimana, Dim, cari istri, mau? Atau memang sudah punya kandidat?” tanyanya bersemangat. Dimas diam sejenak, lalu menggeleng. “Kalau calon, punya bayangan?” tanya Lia lagi. Dimas menatap Sardi dan Lia bergantian. “Sepertinya belum ada, Yah, Bu,” sahut Dimas. “Ya sudah kalau nggak punya calon, bagaimana kalau kamu sama Kiandra?” kata Lia dengan tiba-tiba. Dimas mengernyitkan keningnya. “Kiandra anak teman ayah yang tadi?” tanyanya memastikan. Lia mengangguk. “Kiandra kalau dilihat-lihat cantik, kok, Dim, anaknya manis lagi.” Dimas menghela napasnya dalam. “Ibu yakin mau menjodohkan Dimas sama gadis seperti dia?” tanya Dimas memperjelas. “Maksud kamu apa, Dim?” tanya Sardi bingung. Dimas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ya, pokoknya yang seperti itu, lah, Yah.”  *** Pagi dihari senin, tepat seminggu setelah pertemuan keluarga Aditama dan Soetomo. Matahari beserta sinarnya siap menyapa siapa saja yang menyambut kedatangannya dengan bahagia. Kiandra sudah bangun dengan sedikit lebih awal dari jam bangunnya biasa. Dia mandi dan bersiap diri untuk melajukan hari pertama dia belajar di perguruan tinggi. Kiandra dengan santai turun dari tangga kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang makan. “Morning!” sapanya ceria. Abimana tengah membaca koran paginya, sementara Dini sibuk mengoleskan selai pada helai-helai roti. “Yan, hari ini kamu ke kampusnya diantar, ya?” kata Abimana sambil menangkup roti lalu memakannya. “Sama Papa?” respon gadis berambut panjang tersebut. Abimana menggeleng. “Bukan, tapi sama Dimas.” Kiandra terbatuk keras. Dini menyerahkan air putih untuk Kiandra agar batuknya berkurang. “Kok bisa si Mas-Om, sih, Pa?” Kiandra terlihat tidak terima. “Omen di-service, Yan, Papa nggak bisa ngantar.” “Kan bisa pakai mobil,” sahut Kiandra. Tiin … tiinn! Terdengar bunyi klakson mobil dari luar rumahnya. “Bi, tolong bukain,” pinta Dini pada Bi Minah, Bi Minah pun berjalan menuju pintu depan. Setelah pintu dibuka, tampaklah sosok Dimas yang datang dengan balutan khas anak muda. Bermodalkan celana jeans dan kaus pendek yang dipadukan dengan jaket, yang mungkin akan sukses merebut perhatian setiap gadis yang menatapnya. “Assalamu’alaikum, Om, Tante,” sapa Dimas sambil bersalaman pada Abimana dan Dini. “Wa’alaikumsalam, masuk, Dim, sini kita sarapan bareng!” Ajak Dini pada anak sahabatnya tersebut. Dimas tersenyum pelan dan mulai duduk di kursi meja makan, Kiandra menatap Dimas yang mengambil kursi di sebelahnya. “Kok, di sini? Sanaan dikit napa?!” tegur Kian ketus. “Kiandra ...,” tegur Abimana pada anak gadisnya. Sementara Dimas yang paham pun hanya bergeser ke kursi di samping Dini. Melihat hal itu, Kiandra mendengus pelan lalu kembali mengunyah sisa roti yang ada di piringnya. Mereka menghabiskan waktu sarapan sepanjang 30 menit. Kini sudah saatnya Kiandra pamit untuk pergi ke kampus. Kiandra dan Dimas berjalan tanpa berbicara satu sama lain sampai depan rumah. “Ma, Pa, Kian berangkat,” pamit Kiandra pada kedua orang tuanya. Lalu Dimas mendekat dan juga menyalami kedua sahabat orang tuanya tersebut. “Dimas berangkat, Om, Tante.” “Hati-hati, ya, Dim,” ucap Dini sambil menatap dengan tatapan jahil pada Kiandra, sementara Kiandra berjalan lebih dulu menuju mobil Dimas. Kiandra berhenti tepat di depan pintu mobil Dimas, Dimas yang ingin masuk ke dalam mobil pun terhenti ketika melihat Kiandra masih belum membuka pintu mobil. Kepekaan Dimas kai ini diuji, beruntung dia mengerti apa maunya Kiandra, ia pun langsung berjalan mengitari mobil dan membukakan pintunya untuk Kiandra. Kiandra masuk tanpa mengucapkan terima kasih pada Dimas, pria itupun hanya tertawa pelan sambil menggeleng. Kiandra menatap Dimas dengan tatapan jengkel, pasalnya pria itu hanya tertawa saat ia sedang kesusahan memasang seatbelt. “Jangan ketawa!” tegur Kian sinis. Ketika tangan Dimas terulur untuk membantu Kiandra menarik seatbelt-nya, Kian malah mendaratkan pukulan pada tangan Dimas. “Eh apaan, nih, pegang-pegang, masih di depan rumah, jangan macam-macam, ya!” Kiandra mendadak panik. Dimas menghela napas. “Aku nggak mau ngapa-ngapain, cuma mau bantu tarik seatbelt-nya,” jelas Dimas lembut. Kiandra mendengus pelan dan mengarahkan wajahnya ke depan, sementara Dimas kembali mengulurkan tangannya untuk menarik seatbelt mobilnya. “Selesai!” seru Dimas sambil menatap Kiandra. “Nyetirnya yang cepet, gue udah telat.” Dimas hanya mengangguk, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus Kiandra. Di sepanjang perjalanan, Kiandra mendadak bosan, tangannya terulur kearah tape dan membunyikannya tanpa permisi. Karena tak ada pembicaraan antara dirinya dan Dimas, akhirnya Kiandra memutuskan untuk bersenandung pelan. Kali ini ia menyenandungkan lagu lawas yang memang jadi andalannya ketika bernyanyi. I am a big big girl … In a big big world… Is not a big big thing… If you leave me~ Kiandra melantunkan suara indahnya dengan penuh penghayatan, ia bahkan tak menyadari jika yang menikmati suaranya bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga seseorang yang saat ini tengah tersenyum kecil duduk disampingnya.  Dimas masih melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, tanpa terasa mereka sudah sampai di halaman kampus Kiandra. Kiandra berhasil melepas seatbelt-nya sendiri, dan ia pun membuka pintu mobil sendiri. “Nanti dijemput jam berapa?” tanya Dimas. Kiandra mengibaskan tangannya sebagai isyarat tidak. “Nggak perlu dijemput,” sahut Kiandra sambil mencari sesuatu dari dalam tasnya. “Papa kamu yang minta aku jemput kamu nanti.” Kiandra mendapatkan ponselnya yang tersimpan di tas lalu setelahnya mendecak pelan, “Pokoknya nggak perlu dijemput, gue bisa pulang sendiri,” ucap Kiandra sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar lapangan. “Kiiiaaannn!” teriak Resni dari jauh. Kiandra membalas lambaian tangan Resni saat gadis itu berlari mendekat. “Kamu sama siapa, Yan, kok, ganteng?” tanyanya dengan tanpa malu.  “Resni Kania Ardana, terserah mau panggil apa, Resni bisa, Kania boleh, asal jangan Ardana, Ardana itu nama bapak aku, tapi kalau mau manggil sayang pun, nggak papa, aku pasti nyahut kok,” ucap Resni panjang sambil mengulurkan tangannya pada Dimas. “Dasar ganjen,” rutuk Kiandra dalam hatinya. “Dimas,” sahut Dimas singkat sambil menyambut uluran tangan Resni. “Ya sudah, Mas-Om bisa pulang, kalo papa tanya, bilang gue nolak dijemput,” ucap Kiandra sambil menggandeng lengan Resni agar berjalan menuju kelas. Dimas berlari kecil menyusul Kiandra. “Tunggu dulu, aku harus tahu kamu mau ke mana setelah pulang kuliah?” Kiandra terdengar menghela napasnya gusar. “Nggak usah kepo bisa nggak?” sahut Kiandra malas. Kiandra mulai berjalan lagi, namun langkahnya kembali dicegat Dimas. “Nurut apa susahnya, sih, tinggal bilang mau ke mana, aku juga nggak bakal larang,” ucap Dimas yang dia sendiri pun bingung mengapa jadi harus sepenasaran ini.  “Kiandra mau nge-band!” sahut Resni cepat yang mulai jengah dengan perdebatan antara Dimas dan Kiandra. “Reess!” tegur Kiandra pada sahabatnya tersebut. “Oh!” Dimas memberi respon singkat, lalu berlalu begitu saja kembali ke mobil. “Oohh?” ucap Kiandra dengan menyamai ucapan Dimas beberapa saat yang lalu. “Dia cuma bilang oh?” tanya Kiandra pada Resni untuk sekadar memastikan. Resni menatap ke arah Kiandra datar. “Emang kamu mau denger dia jawab apa? Ngelarang kamu gitu supaya jangan nge-band?” pancing Resni. “Nggak kok, biasa aja,” sahut Kiandra sambil berjalan engan hentakan kaki yang sedikit lebih nyaring.  *** Seolah tidak merasakan lelah, Dimas nekad menunggu Kiandra hingga pulang kuliah. Matanya kini menatap aktifitas Kiandra setelah ia dan Resni menunggu seseorang di depan gerbang kampus. Dimas mendapati empat pria yang mengajak Kiandra untuk pergi bersama mobil mereka. Mungkin karena khawatir, Dimas melajukan mobilnya mengikuti mobil Kiandra beserta temannya. Mobil teman Kiandra tiba di salah satu kafe yang sepertinya cukup terkenal, dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang. Kiandra dan temannya masuk melewati pintu belakang, sementara Dimas memilih untuk masuk lewat pintu depan. Dimas duduk di kursi dengan meja yang dekat dengan panggung kecil. Saat pelayan kafe mendekat, dan Dimas tengah memesan pesanannya, terdengar suara mic yang sedang dites. “Tes, tes, tes 123, tes 123.” Kiandra tengah melakukan tes pada micnya, semuanya  terlihat bersiap untuk memulai aksi mereka. “Selamat sore dan selamat datang di Kafe CandleLight,” ucap Kiandra sebagai pembuka kata. “Seperti biasa, kami di sini akan mencoba membuat kalian merasa terhibur dengan lagu yang akan kami nyanyikan.” Dimas menatap Kiandra di atas panggung dengan senyum kecil yang mengembang, dan sepertinya Kiandra masih belum menyadari kehadiran Dimas. “Selamat menikmati.” Kemudian setelahnya, terdengar alunan musik yang menggema di seluruh penjuru ruangan kafe, dan suara lembut khas Kiandra pun mulai menyelimuti para pengunjung.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD