*Dimas POV*
Aku masih berada di kafe di mana Kiandra tengah bernyanyi di atas panggung kecil yang ukurannya tidak terlalu tinggi. Ku pandangi wajah teduhnya yang saat ini bernyanyi dengan santai seakan ia larut dalam liriknya.
Ya, dia benar. Untuk saat ini aku percaya, dia memang gadis yang besar di dunia yang juga tak kalah besar. Untuk beberapa saat aku juga larut dalam irama, tak merasa jika kepalaku sempat beralun mengikuti dentingan nada.
Aku tak tahu mengapa rasa ingin tersenyum selalu saja tak dapat ku tahan. Seketika, aku teringat percakapan antara aku, ayah dan ibu beberapa waktu lalu. Ibu menyarankanku untuk menikahi gadis yang saat ini tengah tersenyum lepas di atas panggung itu, sekali lagi, kurasakan bibirku tertarik, perasaan hangat mulai menjalar dari dalam tubuhku.
Ku dengar, musik berhenti sejenak, kulihat gadis itu mengambil napas besar kemudian melempar senyum kecilnya pada beberapa pria di belakangnya. “Sepertinya gugupnya telah hilang,” pikirku.
Dia melanjutkan ke lagu kedua, lagu yang juga tak kalah enaknya jika didengar dengan suaranya. Kali ini, dia menyanyikan lagu dari penyanyi yang jika tidak salah ku ingat bernama Tori Kelly. Lagu yang menceritakan mengenai penantian akan seseorang yang akan membuatnya bahagia.
Tak sengaja kurasakan tawaku mulai terdengar, berbagai hayalan gila mulai tergambar di otakku. Sekali lagi, aku merasa tenggelam dalam alunan lagu yang sangat sempurna dipadu dengan suaranya, sepertinya aku mulai jatuh cinta.
Belum pada dirinya, tapi sudah dengan suaranya.
***
Kiandra menyanyikan lagu kedua dengan penghayatan yang sempurna, membuat siapa pun yang mendengarkannya ikut larut dalam melodi yang dialunkan oleh band-nya.
Lagu kedua telah selesai mereka nyanyikan, sekarang lanjut ke lagu ketiga dengan ritme yang lebih ceria, meski dengan lirik yang sama menyayatnya dari dua lagu sebelumnya. Band Kiandra menyanyikan lagu milik Rixton yang berjudul me and my broken heart. Lagu dengan beat yang ceria namun dengan lirik yang cukup menyedihkan mampu membuat seisi kafe seakan ikut bersemangat mengikuti irama.
Saat Kiandra fokus pada lagunya, matanya mengarah pada sudut kanan dari tempatnya duduk. Ia sempat membelalakkan matanya karena mendapati Dimas tengah menatapnya dari kursi tempatnya duduk. “Kenapa dia ada di sini?” Itulah pertanyaan yang sekarang sedang berkecamuk di pikiran Kiandra.
Kiandra kembali fokus pada lagunya meski tiba-tiba ia dihinggapi rasa malu dan kepercayaan dirinya mendadak merosot. Berada di kafe selama 3 jam penuh, kini Kiandra dan band-nya pun selesai mengisi acara dan sekarang sudah waktunya untuk pulang.
Masing-masing dari mereka langsung bubar untuk melanjutkan aktifitasnya yang lain, sekarang tersisa Kiandra dan Aldo yang memang sering pulang hanya berdua setelah ditinggal oleh ketiga temannya. “Kamu mau aku antar pulang sekarang?” tanya Aldo pada Kiandra.
Kiandra menganggukkan mengiyakan, saat Kiandra ingin masuk ke dalam mobil Aldo, langkahnya tiba-tiba dicegat oleh seseorang.
“Pulangnya biar sama aku,” ucap Dimas tiba-tiba.
Kiandra yang heran walaupun tidak terkejut dengan kehadiran Dimas hanya bisa mengernyitkan keningnya. “Mas-om kok masih di sini? Kan dari tadi gue suruh pulang.”
Dimas hanya menatap datar ke arah Kiandra. “Kamu tunggu di sini, aku ambil mobil dulu, setelahnya kita pulang.” Dimas sambil berbalik arah melangkahkan kaki menuju parkir mobilnya.
“Gue nggak mau pulang sama lo!” Kiandra menolak lantang.
“Siapa dia, Yan?” tanya Aldo.
Kiandra terlihat gelagapan. “Anaknya teman papa,” sahut Kiandra pelan. “Tapi kita nggak punya hubungan apa-apa, kok, beneran, tadi itu Omen di-service, makanya dia yang ngantar,” Kiandra jelas tidak ingin Aldo salah paham dengan hubungannya dan Dimas.
Dimas datang bersama mobil range rover hitamnya dan ia memberhentikannya tepat di depan Aldo dan Kiandra. Dimas keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Kiandra dan Aldo. “Ayo, pulang.”
Kiandra menatap jengkel ke arah Dimas.
“Sudah, Yan, pulangnya sama masnya aja, ya, kasihan dia, kayaknya sudah dari tadi nungguin kamu selesai,” suruh Aldo.
Kiandra menatap lemas pada Aldo. “Ya sudah, deh, aku ikut dia, kamu pulangnya hati-hati, ya, Do,” sahutnya lesu.
Aldo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kecil. “Kalau sudah sampai, kabarin, ya.” Aldo melambaikan tangannya.
“Ya, pasti. Bye!” Kiandra membalas lambaiannya.
Setelah melihat Aldo masuk ke mobilnya, Kiandra mengalihkan pandangannya pada Dimas yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah datar. “Gara-gara lo!” ucap Kiandra sebal sambil mendecakkan lidahnya nyaring.
“Kok jadi aku?” gumamnya setelah melihat Kiandra sudah masuk ke dalam mobilnya.
Dimas pun ikut masuk ke dalam mobilnya, dan duduk di kursi kemudi. Dimas melirik kecil ke arah Kiandra yang saat ini masih menekuk wajahnya. Dimas melihat Kiandra tak memasang seatbelt-nya, tangannya pun terulur untuk memasankannya. Kiandra sedikit terkejut dengan aksi Dimas, namun mulutnya seakan terkunci, ia terlalu malas untuk sekadar mengomel pada pria di sampingnya ini.
“Btw, Kiandra,” panggil Dimas setelah mereka saling diam untuk beberapa saat. Kiandra diam tak berniat menyahut panggilan Dimas meskipun ia mendengarnya. “Suara kamu bagus, aku suka,” ucap Dimas sambil memberhentikan mobilnya.
Ternyata tanpa Kiandra sadari, mereka sudah tiba di depan halaman rumah, Kiandra masih terpaku mendengar Dimas memuji suaranya.
“Yan?” panggil Dimas pelan.
Kiandra masih menatap Dimas datar. Dimas mengibaskan tangannya di depan wajah Kiandra. “Kiandra?” panggil Dimas lagi.
Kiandra tersadar dan menampilkan ekspresi bodohnya di hadapan Dimas. “Bilang kek kalau sudah sampai,” katanya sambil turun dengan menekuk wajah.
“Bilang sama om-tante, ya, Yan, aku nggak mampir, soalnya ada sesuatu yang harus aku urus buru-buru,” jelas Dimas lembut.
Kiandra hanya meresponnya dengan anggukan kecil lalu Dimas pun pamit pulang.
Kiandra masih berdiri di tempatnya, Dimas pun menurunkan kaca mobilnya. “Sudah, masuk sana, di luar dingin,” Ucap Dimas dari dalam mobil.
Kiandra melempar tatapan malas pada Dimas, lalu setelahnya ia berbalik dengan cepat memasuki pintu rumahnya. “Dasar mas-om rese, padahal tadi gue mau bilang makasih,” gerutu Kiandra sambil melepas sepatunya, sementara dari luar, Dimas sudah melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Kiandra.
“Loh, Yan, kok sendirian, Dimasnya mana?” tanya Dini pada anak gadisnya.
Kiandra berjalan mendekat pada mamanya. “Katanya nggak bisa mampir, ada urusan mendadak.”
Dini terlihat menganggukkan kepalanya. “Kamu langsung mandi ya, setelahnya makan, baru istirahat.”
Kiandra mengangguk dan berjalan dengan langkah gontai. Kiandra tak langsung mandi sesuai perintah mamanya, melainkan merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidur. Sekelebat bayangan di saat ia bernyanyi di kafe tadi siang tergambar jelas di ingatannya.
Kiandra menyadari jika orang yang membuatnya seperti itu bukanlah Aldo, pria yang sesungguhnya ia suka, melainkan seorang pria yang baru saja datang di kehidupannya. Kiandra tidak menyadari jika ingatan tersebut mampu membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.
Selama ini, senyum seperti itu hanya berlaku untuk ingatan di mana Aldo yang muncul dalam bayangannya, namun sekarang, dengan tanpa permisi, Dimas berani masuk ke dalam ruang privasinya. “Huusshhh, gue ngayal kayak gimana, sih, kok rasa-rasanya nggak bener.”
***
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia diminta untuk datang ke kantor Airindo tiba-tiba. Tak membutuhkan waktu yang lama, Dimas pun tiba setelah 45 menit ia habiskan di jalan.
Dimas berjalan ke arah meja resepsionis untuk menanyakan di manakah ruangan Bapak Andi. “Mbak, saya diminta menemui Bapak Andi, apakah beliau ada diruangannya?” tanya Dimas sopan pada wanita tersebut.
“Apakah Anda sudah mempunyai janji sebelumnya?”
Dimas mengangguk. “Saya ada janji sejak satu jam yang lalu.”
“Baiklah, silakan saya antar,” ucap wanita tersebut sambil mempersilakan Dimas untuk mengikutinya di belakang.
“Silahkan,” ucap wanita tersebut sambil membukakan pintu ruangan saat Dimas dipersilakan masuk, Dimas pun masuk perlahan dan mengucapkan salam dengan pelan.
“Assalamualaikum ...,” sapa Dimas pada pria yang berdiri membelakanginya.
Pria berumur itu pun menolehkan kepalanya menatap Dimas. “Dimas Aditama!” seru pria tersebut yang memiliki tag name Andi Soedirdjo.
Dimas menunduk sopan sambil menyambut uluran jabatan tangan pak Andi.
“Duduk, Dim,” tawar pak Andi pada Dimas.
Dimas pun duduk dengan canggung.
Pak Andi dan Dimas saling melakukan scanning pada lawan bicara masing-masing sebelum memulai pembicaraan. “Selamat sore, Dimas, maaf saya memanggil kamu dengan mendadak seperti ini.”
Dimas tertawa kecil. “Tak apa, Pak, saya juga sedang longgar,” sahut Dimas jujur.
Terdengar Pak Andi berdeham kecil sebelum memulai pembicaraannya. “Begini, Dim, saya dengar kamu sudah menerima tawaran kami, bukan kah begitu?” tanya Pak Andi memastikan.
Dimas mengangguk pelan. “Benar, Pak, saya sudah menyerahkan berkas dua hari yang lalu,” sahut Dimas sopan.
Pak Andi pun mencondongkan tubuhnya seakan ia ingin berbicara lebih serius. “Begini, Dim, ada penerbangan mendesak sementara pilot tiba-tiba sakit dan harus dirawat intensif.”
Dimas mendengarkan Pak Andi dengan saksama, “lalu apa yang bisa saya bantu, Pak?”
“Ambil bagian penerbangan bulan depan, Dim.”