Dimas sudah dalam perjalanan pulang sehabis menemui Pak Andi beberapa saat yang lalu. Permintaan Pak Andi seakan masih melekat sangat jelas di pikirannya.
“Ambil bagian penerbangan pada bulan depan.”
Permintaan yang sebenarnya sangat mudah untuk dipenuhi akan tetapi mengapa terasa berat saat Dimas mendengarnya. Dimas telah sampai di rumah, ia pun langsung mencari sang ayah.
“Assalamu’alaikum, Dimas pulang!”
Lia menyambut si sulung dengan tatapan heran. “Kamu ke mana aja, Dim, katanya cuma ngantar Kiandra ke kampus, kok pulang larut?” tanya Lia khawatir.
“Habis dari kantor Airindo, Bu.” Dimas mendekat pada Ibunya. “Ayah mana, Bu?”
“Ayahmu di sana, lagi ngelonin senapannya,” sahut Lia sedikit jengkel.
Dimas tersenyum lalu berjalan ketempat dimana ayahnya berada. “Malam, Yah,” sapa Dimas.
Sardi mendongak dan menoleh pada arah suara. “Baru pulang kamu, Dim?” sahutnya.
Dimas diam sambil memperhatikan kegiatan Sardi dengan lekat, entah mengapa berat rasanya ketika ia ingin membuka topik pembicaraan. Sardi paham pada anak sulungnya tersebut, Sardi menghentikan kegiatan menggosok senjatanya dan balik memperhatikan Dimas. “Bicara, Dim, Ayah sudah selesai.”
Lia datang membawa secangkir teh untuk Dimas lalu ikut duduk diantara anak dan suaminya. “Lagi ngomongin apa, sih, kok, serius banget?” tanyanya sambil memperhatikan wajah serius dua prianya.
“Dimas belum ngomong, Bu,” sahut Sardi pelan.
Dimas terdengar menghela napasnya lagi. “Begini, Yah, Bu, sepertinya mulai bulan depan Dimas harus mulai bertugas,” ucapnya dengan was-was.
Lia mengernyitkan keningnya. “Bukannya 3 bulan lagi?” Dimas terdengar mendesah berat. “Tadi sore aku dapat kabar kalau aku harus datang ke kantor menemui Pak Andi, itu, loh, Yah, pimpinan perusahaan yang pernah Dimas ceritakan.”
Sardi dan Lia serempak mengangguk.
“Beliau minta Dimas kerja bulan depan.”
“Terus kamu di sana nanti bagaimana, Dim?” tanya Lia khawatir.
“Dimas juga masih belum tahu, Bu, mungkin Dimas akan tinggal di mess untuk sementara.”
Lia menyanggah dengan cepat. “Jangan, masa iya kamu 2 tahun asrama, setelah bekerja tinggal di mess lagi, Ibu nggak mau.”
Dimas tersenyum dan menggenggam tangan ibunya. “Dimas nggak apa-apa, kok, Bu, lagipula mess pilot di sana fasilitasnya lengkap, enak lagi,” katanya yang berusaha menenangkan dan memberi pengertian pada ibunya.
“Tapi tetap aja, Dim, kamu itu harus ada yang urus! Yah, kita cari rumah, ya, minggu depan,” desak Lia pada Sardi.
Sardi terlihat berpikir. “Tunggu, Bu, kayaknya ada yang lebih penting dari rumah,” respon Sardi yang berhasil memancing perhatian istri dan anaknya.
Entah mengapa gemuruh d**a Dimas bergema. Detak jantungnya terpacu kencang saat Sardi mengatakan kalimat terakhirnya. Dimas tahu, bahkan sangat bisa ditebak apa yang akan ayahnya ucapkan mengenai hal yang lebih perlu daripada sebuah rumah.
“Kita harus segera menghubungi keluarga Soetomo,” ucap Sardi tiba-tiba.
***
Pagi tiba, matahari masih bersembunyi di balik awan kabut berwarna abu yang mendominasi langit. Kiandra terbangun dari tidur cantiknya lalu mendudukkan tubuhnya. “Mendung,” gumam Kiandra sambil menyibak selimutnya.
Tiba-tiba Dini datang membuka pintu. “Yan, nggak kuliah?” tanyanya pada putrinya.
Kiandra menggeliat pelan dari dalam selimutnya. “Kiandra nggak punya jadwal kuliah pagi, Ma,” sahut Kiandra.
“Bantu mama sini, bikin sarapan.”
Kiandra masih belum bangun, ia hanya menggumam menyahut perintah Dini.
“Mama tunggu, Yan, di bawah,” kata Dini sambil menutup pintu.
Kiandra pun meregangkan tangannya sambil menguap lebar, setelahnya ia turun dari tempat tidur, dan berjalan ke kamar mandi.
Di ruang makan, Kiandra tak hanya melihat ada kedua orang tuanya. Di sana, dengan duduk di kursi yang membelakangi dirinya saat berjalan, ada seorang pria berseragam tengah berbincang dengan ayahnya.
“Pagi,” sapa Kiandra sambil mendaratkan ciuman rutin di pipi papa dan mamanya, Kiandra melirik ke arah pria berseragam pilot yang ternyata adalah Dimas.
Dimas melempar senyumnya pada Kiandra yang hanya mengenakan kaus pendek dipadu dengan hotpants levis andalannya jika di rumah. Kiandra yang merasa dirinya salah tingkah hanya membuang pandangannya dengan berjalan ke arah Dini yang tengah menyiapkan roti.
“Ma, ngapain, sih, Mas-Om itu datang lagi?” Kiandra berbisik kearah Dini.
Dini tersenyum kecil pada Kiandra. “Katanya mau nganter kamu ke kampus, eh, taunya kamu libur. Sekalian aja mama ajak sarapan,” jelas Dini.
“Yan, duduk Nak,” suruh Abimana pada anak gadisnya.
Kiandra merasa malu jika harus duduk di antara orang tuanya, terlebih ada Dimas yang bergabung makan bersama mereka. Ia hanya bisa mendudukkan tubuhnya di kursi yang jaraknya cukup jauh dengan orang tuanya serta Dimas.
“Loh, kok, duduknya di sana, Yan? Kejauhan,” tegur Dini.
Kiandra tak bisa mengontrol debar jantungnya. “Nggak apa-apa, Ma, Kian biar di sini aja.”
Dimas tersenyum canggung ke arah Kiandra. “Nggak nyaman ada aku, ya? Maaf, aku juga sebentar lagi mau berangkat, kok,” ucap Dimas dengan pelan.
“Nggak, kok, Nak Dimas, kamu sama sekali nggak mengganggu,” sahut Dini sambil mendelik ke arah Kiandra. Dini pun memberi kode pada Kiandra agar duduknya berpindah menjadi di depan kursi Dimas.
Kiandra pun akhirnya menurut pada mamanya, dan duduk dengan ekspresi malas di depan Dimas. Dimas dan Kiandra tak sengaja bertemu pandang, tapi pandangan tersebut langsung diputus oleh Kiandra.
“Kiandra itu begitu, Dim, nggak bisa lihat cowok klimis dikit langsung salah tingkah dia,” kata Abimana blak-blakan pada Dimas.
Dimas tertawa pelan mendengar pernyataan Abimana, sementara Kiandra sudah melemparkan komat-kamitnya pada sang papa sambil memasang wajah jengkel.
“Rencananya kamu mau tugas dari kapan, Dim?” tanya Abimana pada Dimas.
“Rencananya bulan depan, Om, tapi hari ini diminta untuk datang, katanya ada beberapa data yang harus aku lengkapi sebelum aku benar-benar masuk kerja,” jelas Dimas.
Kiandra dan Dini hanya menyimak pembicaraan antara Dimas dan Abimana. Kiandra menatap lekat ke arah Dimas, Kiandra seakan melakukan scanning terhadap Dimas yang terlihat lebih tampan berkali lipat menggunakan seragam pilotnya.
Dimas mengalihkan pandangannya dari Abimana ke depan. Ia mendapati Kiandra yang sepertinya masih tidak sadar jika Dimas melihatnya sedang memperhatikan seragam yang dikenakan oleh dirinya. Dimas berdeham pelan, Kiandra pun tersadar, dan dengan cepat meminum susunya.
Sesi sarapan bersama telah selesai, sekarang sudah waktunya Dimas berpamitan. “Dimas pamit, Om, Tante, maaf banget ceritanya jadi numpang sarapan di sini sebelum berangkat,” ucap Dimas sambil menyalami Abimana dan Dini.
Dini mengibaskan tangannya pelan. "”Nggak apa-apa, Nak Dimas, sering-sering sarapan aja di sini, Kiandra kayaknya senang, tuh,” sahut Dini sembarang.
“Mama apaan, sih, kok, jadi bawa-bawa Kian,” protes Kiandra yang tidak terima dengan ucapan Dini.
Dimas hanya tersenyum tipis. “Om, Tante, aku boleh ngomong sebentar sama Kiandra?” pinta Dimas pada kedua orang tua di depannya.
Sementara Kiandra menatap Dimas dengan terkejut tidak menyangka. “Gue?” tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
“Iya, kamu,” sahut Dimas dengan memberi kode agar Kiandra ikut dengannya.
“Sudah sana, cepat!” seru Dini sambil mendorong kecil pundak Kiandra.
Dimas berhenti di depan pintu mobilnya. “Malam minggu kamu ada acara?” tanyanya dengan canggung, suaranya terdengar bergetar, khas orang yang gugup.
Kiandra merasakan tubuhnya bergetar, dan jalaran panas merambat ke seluruh sendi tubuhnya. Kiandra tak mampu menatap wajah Dimas meski dirinya sangat ingin bersikap sewajarnya.
Dimas merasa jika pertanyaannya tak dijawab pun kembali menanyakan ulang dengan pertanyaan yang sama. “Kiandra, aku tanya, kamu malam minggu ada acara, apa nggak?”
Kiandra berdeham. “Kayaknya, sih, nggak ada, kenapa emang?” jawab Kiandra dengan berusaha mati-matian agar nada bicaranya tidak terdengar terlalu gugup.
Dimas menggaruk tengkuknya. “Bagus, lah, sebaiknya jangan ke mana-mana,” ucapnya yang terdengar salah tingkah.
Kiandra mendongakkan kepalanya menatap Dimas dengan dahi mengernyitkan. “Siapa lo larang-larang gue?” sahut Kiandra dengan sinis.
Dimas hanya tersenyum menerima tanggapan sinis dari Kiandra. “Kamu bakal tahu nanti, yang jelas aku sudah booking waktu kamu malam minggu,” ucap Dimas dengan tenang.
“Apaan? Nggak, nggak bisa, malam minggu gue jalan sama Resni, kalau Resni nggak bisa, gue bisa minta Aldo buat ngajak gue jalan, kalau nggak bisa, nanti gue bakal ajak temen gue yang lain buat jal—”
Dimas menatap Kiandra tanpa menyela omongannya dengan menyandarkan tubuhnya ke mobil sambil melipat kedua tangannya di depan d**a, dan tak lupa senyum andalannya.
Seketika Kiandra menatapnya diam. Kiandra menelan ludahnya dengan payah. “Sumpah, dia ganteng!” jerit Kiandra dalam hatinya.
“Sudah ngomongnya?” tanya Dimas sambil menatap lembut ke arah gadis di depannya tersebut.
Kiandra menatap datar ke arah Dimas, Dimas menegakkan tubuhnya lagi, dan berjalan mendekat ke arah Kiandra. “Aku nggak minta banyak kok, aku cuma minta kamu meluangkan waktu malam minggu kamu, itu aja, ya?” pinta Dimas dengan sungguh-sungguh.
Air wajah Kiandra mulai melemah, ia pun menundukkan kepalanya. “Ya, udah,” sahutnya pelan.
Dimas pun bernapas lega, ia tersenyum lepas sambil mendaratkan tangannya pada kepala Kiandra lalu mengacak rambutnya. Kiandra pun membulatkan matanya sempurna karena terkejut dengan perlakuan Dimas terhadapnya.
Kesadarannya mulai kembali saat Dimas mulai melepaskan tangan dari kepalanya. “Aku berangkat, salam sama Om, Tante,” ucap Dimas lalu berjalan pelan memasuki mobilnya.
Sementara Kiandra masih memasang wajah bodohnya, Dimas menyalakan mesin mobilnya lalu menurunkan kaca mobilnya, Dimas tersenyum ke arah Kiandra lalu berlalu keluar dari pekarangan rumah.
Sepeninggalan Dimas, Kiandra pun berjalan gontai ke arah pintu rumah, Dini bergegas mendekatinya. “Dimas bilang apa, Yan, sama kamu?”
“Nggak ngomong apa-apa,” sahut Kian malas.
“Ih, bohong, orang Mama lihat, kok, kamu gugup-gugup manja gitu abis dengar Dimas ngomong,” sahut Dini sambil mengejek.
“Mama apaan, sih,” ujar Kiandra sebal sambil berjalan ke dalam rumah.
Dini masih belum menyerah, dia berjalan menyusul Kiandra. “Dimas ngajak jalan, ya, Yan?”
“Nggak, Ma,” sahut Kiandra.
“Terus, dia ngomong apa tadi?”
Kiandra mendudukkan dirinya ke sofa di samping papanya yang sedang membaca artikel di ponsel. “Dia cuma minta Kian nggak ke mana-mana malam minggu ini.”
Dini membulatkan matanya. “Yang benar, Yan? Kamu Tanya, nggak, dia mau ngapain?”
Kiandra menggelengkan kepalanya.
“Kenapa nggak kamu tanya, Yan?” tanya Abimana yang ternyata juga menyimak pembicaraan Kiandra dan istrinya.
“Nggak, Pa, Kiandra malah bilang mau jalan.”
Dini mendaratkan tamparan pelan pada bahu Kiandra. “Kok, jalan, sih?!” tegur Dini sedikit jengkel.
“Aduh, Mama, sakit, denger dulu!” Kian gusar mengusap bekas pukulan Dini. “Dia juga larang Kian, kok, buat jalan,” sambung Kiandra.
Mata Dini berbinar. “Berarti kita harus masak banyak dong malam minggu ini?”
Kiandra hanya menggelengkan kepalanya sambil berdiri, dan berjalan menuju kamarnya.
***
Dimas masih mengemudikan mobilnya menuju tempat kerjanya. Sejak tadi ia senyumnya mengembang tanpa bisa ia kendalikan. Entah mengapa, hatinya menghangat saat pembicaraan ayah dan ibunya berakhir tadi malam.
“Dim, Ayah mau tanya, kamu harus jawab yang jujur, ya,” ucap Sardi serius, Dimas pun mengangguk.
“Menurut kamu, Kiandra bagaimana?” tanya Sardi.
Dimas merasakan detak jantungnya terpacu dengan kencang. Suara debarannya bahkan terasa hingga ujung jarinya, tubuhnya menghangat, dan lidahnya terasa kelu.
“Dimas, dijawab, Nak, ayahmu tanya ini,” kata Lia mendesak secara halus.
Dimas menundukkan kepalanya sambil mengambil napas dalam. “Dimas suka, Yah, tapi ....” Dimas menggantungkan kalimatnya.
“Tapi apa, Dim?” tanya Lia gemas.
“Dimas nggak yakin, Bu, Kiandra kayaknya nggak bakal mau sama Dimas,” sahut Dimas pelan.
Lia dan Sardi pun mengembuskan napasnya pelan. “Ya, kan, belum pasti tahu, Dim, jalanin aja dulu pelan-pelan, pendekatan gitu,” saran Sardi.
Dimas tersenyum kecil. “Gimana mau ngejalanin, Yah, orang dianya aja risih kalau dekat sama Dimas.”
“Sudah pernah coba dibaperin belum, Dim?” tanya Lia.
Lagi-lagi Dimas tertawa pelan.
“Ibu ini, kayak nggak tahu Dimas aja, masalah cewek, dia lelet, Bu,” sahut Sardi mengejek putra sulungnya.
Lia menatap datar Sardi. “Ya, benar, sih, kan, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, Yah,” sahut Lia sambil menatap sang suami.
Sardi menatap Lia dengan dahi mengernyitkan. “Ibu nyindir?”
“Nggak, siapa yang nyindir, Ayah aja yang merasa tersindir,” sahut Lia tak mau kalah.
Melihat perdebatan kecil orang tuanya, Dimas pun menggelengkan kepala sambil mengembuskan napasnya pelan. “Sudah, Yah, Bu, jadi Dimas ini harus bagaimana?” tanyanya menengahi perdebatan kecil tersebut.
“Apanya yang bagaimana? Ya, kita gerak cepat, Dim, malam minggu nanti kita sekeluarga datang ke rumah keluarga Soetomo.”