Jam kuliah Kiandra dan Resni berakhir di pukul 5 sore. Kiandra menatap Resni di samping dengan tatapan gemas, sejak tadi Kiandra sudah mencoba menggali informasi mengapa Resni terlihat galau hari ini, tapi Resni tetap lah Resni, dia masih betah menarik ulur cerita dengan Kiandra.
“Terserah kamu, deh, Res, kalau mau cerita, ayo, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, aku nggak maksa,” gerutu Kiandra saking gemasnya.
Resni akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi taman halaman kampus. “Aku galau, Yan,” keluh Resni memulai sesi curhatnya.
Kiandra meremas rambut dengan kedua tangannya. “Iya, galaunya kenapa? Aku ngitung kamu bilang galau sudah 11 kali, loh, Res, jangan sampai selusin, nih, kalau sekali lagi kamu bilang gitu, aku pulang,” ancam Kiandra.
“Kak Adiiitt!” rengek Resni sambil menampakkan ekspresi tangisnya.
Kiandra menatap datar ke arah Resni. “Sok-sokan nangis, peras aja, tuh, air mata, peras,” sindir Kiandra yang kesal karena dibuat menunggu oleh kisah Resni.
“Ih, nggak boleh kayak gitu, ah, temen sedih bukannya dipuk-pukin malah diejek,” gerutu Resni yang seketika mem-pause tangisnya.
“Ya, sudah, sekarang kamu mending cerita, Kak Adit emang kenapa?”
“Kiandraaaa!!!” Tangis lebay Resni kembali pecah, kali ini Resni memeluk Kiandra erat dari samping.
Kiandra hanya diam, dan bersabar ekstra menghadapi kelabilan sahabatnya ini. Resni merasa cukup untuk memeras air matanya. Ia pun melepas pelukannya pada Kiandra, dan bersiap untuk bercerita. “Kak Adit ternyata sudah punya pacar,” jelasnya datar.
Kiandra membulatkan matanya. “Kok, bias? Bukannya kalian ….” Kiandra menggantungkan kalimatnya.
Resni mengangguk cepat sambil masih memasang wajah nanar. “Aku cuma dijadikan alat sama Kak Adit untuk bikin pacarnya cemburu."”
“Sialan, tuh, cowok, kok berani-beraninya dia sama kamu, Res?!” gerutu Kiandra yang emosinya mulai naik.
Resni menatap datar ke arah Kiandra. “Emang menurut kamu, aku ini siapa sampai dia nggak berani giniin aku?”
Kiandra yang tadinya ngomong pakai urat mendadak kicep. “Ya, bukan, gitu, juga, sih,” sahut Kiandra pelan.
Resni menghela napasnya berat. “Perasaan aku, tuh, gini mulu kalau naksir cowok,” keluhnya dengan wajah yang sedih.
Kiandra menggenggam tangan sahabatnya tersebut. “Sudah, nggak usah dipikirin, nanti juga datang yang paling baik buat kamu,” ucap Kiandra mencoba menghibur Resni.
“Aku cuma merasa aneh aja, Yan, tiap aku yang naksir, dianya yang ogah, giliran dianya yang suka, akunya nggak.”
Kiandra mendecih pelan. “Sudah, lah, Res, jangan galau lagi, cowok kayak Kak Adit itu yang obral banyak, dia nggak bakal cocok sama cewek macam limited kayak kita,” hibur Kiandra.
Resni tersenyum. “Curhat sama kamu emang paling tepat, Yan, makasih, ya,” ucap Resni tulus.
Kiandra tertawa pelan. “Kayak sama siapa aja kamu, tuh, kalau galau nggak asik, tahu, nggak,” gerutu Kiandra sambil tertawa.
Resni pun ikut tertawa sebelum tawanya terhenti karena pandangannya jatuh pada kerumunan cewek di depan pagar kampus.
“Eh, itu kok rame, ada apaan ya?” ucap Resni sambil menunjuk ke arah kerumunan cewek.
Kiandra mengalihkan pandangannya mengikuti arah Tunjukan Resni, kemudian mereka berdiri.
“Lihat, yuk, Yan!” ajak Resni.
Kiandra pun mengalungkan tasnya ke pundak lalu berjalan mengikuti Resni. Di antara kerumunan, Kiandra menyipitkan matanya menatap mobil range rover hitam yang ia kenali. Kiandra membulatkan matanya sempurna saat sosok yang dikerumuni para cewek tersebut adalah sosok yang ia kenal. “Mas-om?”
Resni membulatkan mulutnya lebar, tangannya heboh menepuk-nepuk Kiandra. “Yan, itu bukannya Mas Ganteng? Ganteng gila,” ucap Resni heboh.
Kiandra berjalan membelah kerumunan, dan berdiri tepat di depan Dimas. “Lo ngapain di sini?” kata Kiandra dengan ketus.
Sementara Dimas dengan ekspresi polosnya hanya membalas sapaan ketus Kiandra dengan senyum di wajahnya. “Apalagi? Ya, jemput kamu, lah.”
Kiandra memutar matanya jengah. “Kenapa harus dijemput segala, sih? Ini apa lagi, nih, apaan, sih, jemput pakai seragam segala? Nggak malu apa, atau mau pamer?”
Dimas hanya menatap Kiandra lembut dengan senyum di wajahnya. Entah mengapa mulutnya tak bisa terbuka untuk menyanggah perkataan gadis di depannya saat ini.
“Mas-om ganteng ternyata pilot, ya? Kok, gagah sih Mas-om kalau pakai seragam,” ucap Resni dengan binar di matanya.
Kiandra menatap Resni jengkel. “Nggak usah ganjen!”
Dimas hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil ke arah Resni.
“Masya Allah, Masnya senyum, adem hati aku, Mas!” seru Resni dengan hebohnya.
“Kamu apaan, sih, Res, bikin malu, tahu, nggak?!” tegur Kiandra pada Resni.
“Mau pulang sekarang, atau gimana, nih?” tawar Dimas pada Kiandra.
Kiandra menatap Dimas jengkel. “Ya, pulang, lah, nggak mood juga mau jalan,” sahutnya ketus.
Resni menarik lengan Kiandra. “Jadi cewek, tuh, kaleman dikit, kenapa, sih, Yan? Kakap ini, masa mau dilepas?” ucap Resni sambil berbisik.
Kiandra melepas paksa lengannya dari Resni. “Nih, kakap! Kamu mau ikut nggak, aku antar, nih, sampai rumah,” tawar Kiandra pada Resni.
Resni dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Nggak usah, aku sudah ada yang jemput,” sahut Resni dengan senyum aneh di wajahnya.
***
Mobil Dimas kini sudah tiba di pekarangan kediaman keluarga Soetomo, Dimas dan Kiandra juga masih berada di dalam mobil tanpa ada yang berniat untuk keluar lebih dulu.
“Mampir, jangan, nih?” tanya Dimas dengan nada bercanda.
Kiandra menatap Dimas datar. “Nggak usah bercanda kayak gitu, nggak lucu, lo bukan Dilan, bye!”
Kiandra pun turun dari mobil Dimas, dan berjalan dengan kesal menuju pintu rumahnya, sementara Dimas memilih tidak mampir, bahkan hanya sekadar menyapa orang tua Kiandra. Dimas menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya keluar dari pekarangan rumah Kiandra. Memakan waktu yang tidak begitu lama, Dimas pun juga tiba di rumahnya tepat saat jam makan malam.
“Dari mana aja, Dim, kok baru sampai rumah?” sambut Lia pada putra sulungnya.
“Tadi abis jemput Kiandra di kampusnya, Bu,” sahut Dimas sambil duduk di kursi samping Alya.
“Kak Dimas emang sudah pacaran sama Kak Kiandra?” tanya Alya dengan semangat.
Dimas melingkarkan tangannya pada leher adiknya. “Emang kalau ngantar sama jemput sudah pasti pacaran?” Dimas balik bertanya dengan gemas.
Alya menepuk-nepuk tangan Dimas agar melepaskan lehernya. “Ya, kali aja sudah pacaran, Alya setuju, kok, banget malah,” sahut Alya sambil mengunyah tempenya, sementara Dimas tertawa pelan.
“Jadi bagaimana, Yah, malam minggu, Abimana sama Dini sudah dihubungi?” tanya Lia pada Sardi.
Dimas menghentikan aktifitas makannya dan ikut was-was menatap ayahnya.
“Ayah sudah telepon mereka, Bu,” sahut Sardi.
Tubuh Dimas terasa tegang, entah mengapa topik ini selalu berhasil membuatnya tak dapat bergerak secara bebas.
“Kamunya bagaimana, Dim, sudah siap belum?” tanya Lia.
Dimas melempar wajah bingungnya pada ayah dan ibunya.
“Memangnya ada acara apa, sih, Bu, Yah, malam minggu ini?” tanya Alya yang memang tak tahu menahu masalah ini.
“Kakakmu ini mau melamar Kiandra, Al,” sahut Lia.
Alya menatap Dimas dengan tatapan terkejutnya. “Beneran, Kak?”
Dimas salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Emang iya, Bu?” tanya Alya dengan antusias.
“Tanya ke kakakmu langsung!” suruh Sardi pada Alya.
“Nanti juga kamu tahu,” sahut Dimas singkat dan berhasil membuat Alya mendengus sebal.
Dimas tertawa pelan, begitu pun dengan Sardi dan Lia yang menggelengkan kepalanya mendengar dengusan si bungsu.
***
Kiandra masuk rumah dengan perasaan kesal terhadap Dimas. Kiandra melepas sepatunya asal, dan memakai sandal rumah terbalik tanpa sadar.
“Haduh, gempa,” sindir Dini pada langkah besar Kiandra.
Kiandra hanya duduk kasar sambil mendengus.
Abimana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua wanitanya tersebut. “Kamu kenapa, sih, Yan, datang-datang sudah rusuh?” tanya Abimana pada anak gadisnya.
“Kian mau Omen, Pa!” rengek Kiandra pada Abimana.
“Loh, kok, tiba-tiba ingat Omen, Yan?” tanya Dini.
“Karena Kian nggak mau tiap hari diantar jemput Dimas,” sahut Kiandra dengan sebal, lalu meninggalkan kedua orang tuanya untuk masuk ke kamar.
Sementara sepeninggalan Kiandra, Dini menatap Abimana dengan tatapan was-was. “Gimana nanti, Pa?”
Abimana menatap pintu kamar Kiandra, lalu menghela napasnya berat. “Entah, lah, Ma, lihat bagaimana alurnya aja, lah, nanti.”