Bagian 8

3033 Words
Khai menatap rumah yang ada di depannya ini. Ini baru jam enam pagi tetapi Khai sudah berada di rumah ini. Ia akan mencari tau siapa yang sudah merencanakan semua hal ini. Khai juga akan melakukan hal apapun yang ia inginkan. Ia tidak mau terus menerus terkucilkan seperti ini. Khai mulai masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan memandangnya dengan wajah yang keheranan. Tetapi mereka tetap menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Khai. Khai sama sekali tidak merespon hal tersebut. Khai berjalan menuju dapur. Ia tau jika mama tirinya sedang berada di dapur dan mungkin sedang menyiapkan sarapan. Dan benar saja dugaan Khai, Mamanya sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Khai tersenyum tipis melihat kehadiran mamanya itu. "Pagi ma.." sapa Khai kepada mamanya. Risma yang mendengar suara tak asing itu langsung menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran Khai. "Kamu ngapain di sini?" Tanya Risma langsung. Ia tidak ingin berbasa-basi di pagi hari ini. Dan juga Risma tidak ingin bertengkar di pagi hari. "Sarapan. Lagian kan ini rumah saya juga, jadi ya gak masalah saya ke sini. Iyakan?" Risma memejamkan kedua matanya mendengar perkataan Khai. Ia merasa sedikit sulit untuk bernapas ketika Khai mengatakan hal itu. Ia juga tidak percaya Khai mampu mengatakan hal yang dapat membuatnya dihukum. Tetapi ketika Risma menatap dalam mata Khai, sama sekali tidak terlihat ketakutan di dalam kedua matanya. Khai malah seperti menantang Risma saat ini. Untuk sesaat, Risma menjadi merasa takut melihat tatapan Khai. Tatapan yang sama seperti wanita itu menatapnya. Tatapan yang sangat dalam dan penuh kebencian. Risma baru menyadarinya sekarang, Jika Khai memiliki tatapan mata yang sama seperti ibunya. "Jangan terus menguji kesabaran saya, Khai. Saya tidak mau terjadi pertengkaran di pagi hari di rumah ini. Sebelum ada yang lihat kamu di sini, lebih baik kamu kembali pulang ke rumah mu." Risma memperingatkan Khai dan berharap Khai menuruti perkataannya. Tetapi untuk kali ini, Khai tidak akan menuruti perkataan siapapun yang tidak sesuai dengan keinginannya. Khai juga ingin membangkang kepada mama tirinya ini. "Emangnya kenapa kalau ada pertengkaran di pagi hari? bukannya akan menyenangkan jika hal itu terjadi? Saya malah sangat berharap terjadi pertengkaran di pagi yang cerah ini," Balas Khai dengan santai disertai dengan senyuman tipisnya. Risma menelan ludahnya dengan susah payah mendengar ucapan Khai barusan. Khai benar-benar ingin menguji kesabarannya saat ini. Baru saja Risma hendak membalas perkataan Khai, Ia melihat Ian berjalan menuju meja makan. Alhasil Risma hanya diam dan tidak membalas perkataan Rama. Ia tidak ingin Ian melihatnya berdebat dengan Khai di pagi hari ini. "Khai!" Risma dan Khai menoleh ke sumber suara. Ia dapat melihat papanya yang baru turun tetapi sudah rapih dengan setelan kerjanya. Khai memberikan senyuman terbaiknya ketika melihat papanya. "Pagi pa.. Hari ini Khai sarapan di rumah ya. Gak masalah kan, pa?" Tanya Khai masih dengan senyumannya. Mendengar pertanyaan Khai itu, papanya menoleh ke Risma. Melihat Risma tidak memiliki respon, Papa Khai langsung menganggukka kepalanya. "Tentu saja, ini kan rumah kamu juga," Jawab Papa Khai. Khai menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia pun segera duduk di kursi yang tersedia. "Ma.. piring Khai jangan lupa di taruk ya!" Perintah Khai dengan lembut. Risma sangat ingin meluapkan emosinya saat ini, tetapi ketika melihat suaminya dan karena saat ini masih pagi, Risma tidak ingin membuat suasana pagi ini menjadi kacau hanya karena Khai. Alhasil ia pun menuruti permainan kecil Khai saat ini. Risma mengambil satu piring tambahan beserta sendok garpu dan juga gelas. Ia meletakkan alat makan itu di depan Khai. Khai tersenyum senang melihat mama tirinya yang melayani dirinya. "Terimakasih, Ma." Risma sama sekali tidak merespon ucapan terimakasih Khai. Ia segera duduk di kursinya tepat di depan Khai. Pelayan mulai menyajikan berbagai macam lauk pauk di atas meja makan. "Rama kenapa masih belum turun?" Pertanyaan Ian langsung membuat Risma menoleh ke arah suaminya itu. Sedangkan Khai, ia terlihat sama sekali tidak perduli. Entah kenapa ia sudah mulai merasa Rama mulai menjauh darinya. "Mungkin karena dia masih lelah. Tadi malam dia kan begadang mengerjakan tugasnya," Tutur Risma memberikan alasan agar Rama terseamatkan dari amukan Ian. Ian menghela napas berat mendengar alasan yang diberikan oleh istrinya ini. "Selalu dengan alasan yang sama. Saya tidak mau jika hal ini terus terulang. Rama seharusnya bisa mengatur waktunya. Khai saja mampu bangun pagi dan sudah sampai di sini. Mereka sama-sama lagi belajar kan? Seharusnya Rama mencontoh Khai. Lain kali kamu kasih tau kepada Rama untuk bangun lebih pagi, mengerti?!" Risma menganggukkan kepalanya. Selalu seperti ini, akhirnya Ian kembali membandingkan kedua anaknya ini. Risma paling tidak suka jika Ian selalu membandingkan antara Rama dan Khai. Tidak seharusnya ia membandingkan anak-anaknya. Apalagi jika ia lebih mengunggulkan Khai dalam segala hal. Ian pun mulai mengambil sarapan paginya. Begitupula dengan Khai dan Risma, mereka memulai sarapan pagi dengan diam. Khai tidak mau memulai pembicaraan ketika sedang berada di meja makan, ia tidak mau mendapatkan pandangan buruk dari papanya. "Khai.. kapan-kapan kamu harus ke kantor lagi, biar pengetahuan kamu makin bertambah. Papa lihat kamu mulai mengerti mengenai dunia perkantoran, papa juga berharap kamu nanti bisa mengendalikan perusahaan dengan baik." Ian membuka percakapan. Risma merasa sangat panas ketika mendengar perkataan suaminya ini. Entah kenapa, Rama selalu saja di nomor duakan oleh Ian. Ia tidak tau alasan yang pasti atas pernyataan Ian ini. Risma tau jika Ian lebih menyukai Khai ketimbang Rama, tetapi setidaknya Ian harus sedikit lebih adil dalam mengambil tindakan. "Kenapa hanya Khai? Rama seharunya juga ikut, kan? Lagian kamu itu punya anak dua, jangan mengambil keputusan yang terburu-buru dalam urusan perusahaan. Kamu harus dengan cermat mengamati yang mana yang pas dan cocok dalam mengurus perusahaan," Sahut Risma. Ia sudah tidak tahan dengan tindakan Ian yang semberono ini. Khai mengunyah makanannya dengan senyuman tipis. Ia sangat bahagia melihat pertengkaran kecil antara Risma dan Ian. Pertengkaran inilah yang sebenarnya ia tunggu. Pertengkaran yang menentukan pembelaan masing-masing anak. Antara Khai dan Rama. "Saya sudah lama mengenal dunia ini, Risma. Dan saya sudah banyak menjumpai orang-orang di perusahaan. Saya lebih tau karakter orang yang cocok untuk bekerja di perusahaan dan yang mana yang tidak. Dan sepenglihatan saya sejauh ini, memang Khai yang lebih cocok dalam dunia ini. Mungkin untuk Rama, kita bisa membebaskannya dalam memilih apa yang dia mau. Lagian saya melihat Rama tidak tertarik dengan perusahaan," jelas Ian dengan santai. "Tau dari mana kamu Rama tidak tertarik dengan perusahaan. Semua orang cocok untuk kerja di perusahaan jika mereka sudah terbiasa. Jadi lebih baik kamu lebih adil dalam mengambil sikap. Rama juga harusnya mendapatkan hak yang sama seperti Khai." Ian tertawa mendengar pernyataan yang Risma lontarkan. Ian tidak tahan dengan kebohongan yang Risma lontarkan saat ini. "Adil? Kamu sedang bicara adil sama saya? Bukannya kamu yang tidak adil dalam memperlakukan Khai dan Rama? Rama mendapatkan semua fasilitas yang sangat bagus dan mewah di rumah ini. Sedangkan Khai, dia tinggal di rumah kecil dan bahkan ia tidak kamu izinkan untuk bersekolah di sekolah pada umumnya. Masih yakin mau bicara adil sama saya saat ini?" Khai menghentikan makannya. Akhirnya.. akhirnya papanya membelanya. Ia sangat terharu mendengar pembelaan yang barusan Ian berikan untuknya. Semua unek-uneknya akhirnya di wakilkan oleh Ian. "Kamu tau sendiri kenapa saya melakukan hal ini, Ian." Risma menatap tajam Ian. Ia sudah benar-benar kesal dengan Ian saat ini. "Enggak ada alasan yang dapat membenarkan hal ini. Mereka berdua anak saya, darah daging saya. Kamu harusnya bersikap adil dengan kedua anak saya!" Putus Ian. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan sedikit hentakkan. Ian segera berdiri dari duduknya. Ia sudah malas untuk berdebat dengan Risma saat ini. Ian menoleh ke arah Khai dan tersenyum kepada Khai. "Habisin sarapan kamu, Khai. Papa ke kantor dulu," Ucap Ian. Khai menganggukkan kepalanya. Setelah melihat respon Khai, Ian berjalan pergi meninggalkan meja makan menuju luar rumah. Suasana di meja makan seketika senyap. Risma tidak mau berbicara sama sekali, begitu pula dengan Khai. Khai kembali melanjutkan sarapannya. Sedangkan Risma, ia menghentikan makannya dan berjalan pergi meninggalkan meja makan. Khai tidak tau Risma hendak pergi kemana dan ia sama sekali tidak perduli akan hal itu. Khai melanjutkan makannya dengan santai. Ia merasa sangat bahagia berada di rumah ini. Menu sarapan pagi di rumah ini sangat mewah, sangat berbeda dengan menu sarapan Khai biasanya. Setelah Khai selesai sarapan, ia tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia malah menuju lantai atas ke sebuah kamar yang seharusnya miliknya. Khai masuk ke kamar itu. Kamar yang memang tidak besar, lebih besar kamar Rama ketimbang kamar ini. Tetapi kamar ini lebih besar dari kamar yang ada di rumahnya sana. Khai berjalan mengelilingi kamar ini. Photo-photo Khai masih kecil terdapat di dinding kamar. Khai tersenyum melihat photo-photonya. Senyumannya semakin lebar ketika melihat photo wanita yang sedang memegang perutnya yang sudah membesar. Ibu Khai tentunya. Khai mengorbankan sesuatu yang besar agar photo ibunya tergantung di dinding kamar ini. Khai mengelus lembut photo itu. Senyum lebar ibunya sangat indah menurut Khai. Seketika Khai merindukan sosok ibunya. Kalau saja Ibunya masih ada di sini, mungkin hidup Khai akan sedikit lebih baik. "Kenapa kamu masih ada di sini?!" Khai yang mendengar pertanyaan sekaligus bentakan itu langsung menoleh ke belakang. Ia sedikit terkejut melihat Risma yang sudah ada di belakangnya. Risma tersenyum miring ketika menyadari Khai yang sedang melihat foto wanita yang telah menghancurkan hidupnya. "Kenapa kamu dan papa mu datang ke kamar ini hanya untuk melihat foto itu? Apa yang spesial dari sebuah foto biasa itu?!" Emosi Risma kembali memuncak. Ia berjalan mendekati foto itu dan mendorong Khai sehingga Khai bergeser kebelakang. Setelahnya, Risma mengambil foto itu dan membantingnya ke lantai. Napasnya memburu, ia sudah tidak tahan selalu dibandingkan dengan wanita itu. Khai yang melihat foto ibunya sudah jatuh kebawa, langsung tersulut emosi. Ia tidak terima jika foto ibunya dihancurkan seperti itu. "Apa yang sedang anda lakukan kepada ibu saya!" Teriak Khai kencang. "Dia wanita yang sudah mengancurkan hidup saya! Dan sekali lagi dia akan menghancurkan kehidupan anak saya karena dia telah melahirkan kamu!" Balas Risma dengan kasar. "Ibu saya tidak mungkin menghancurkan hidup anda jika suami anda tidak menggoda ibu saya! Seharusnya anda sadar diri, suami anda mungkin bosan dengan sikap anda sehingga ia mencari kesenangan di luar sana!" Satu tamparan mendarat di pipi Khai. Selalu seperti ini, Risma selalu membuat Khai bungkam dengan tamparan yang ia berikan. "Anak kecil jangan sok tau. Kamu tidak tau apa yang terjadi diantara kami, untung saja ibumu pelaku yang menghancurkan rumah tangga orang lain. Kamu pernah membayangkan bagaimana jika ibu mu yang menjadi korban kehancuran rumah tangganya. Kamu akan merasa lebih terpuruk, Khai. Itulah yang dirasakan oleh Rama. Rama dan saya adalah korban dan kamu beserta ibumu adalah pelakunya. Kamu ngerti sekarang kenapa saya bersikap seperti ini? Ini semua.. belum cukup untuk menebus kesalahan yang telah ibumu berikan kepada saya dan Rama." Khai diam mendengar pernyataan Risma. Sebenarnya ia jugalah seorang korban atas permasalahan orang dewasa ini. Ia juga korban dari ibu, papa dan juga Risma. Jika di suruh memilih, Khai juga tidak ingin dilahirkan seperti ini. Air mata Khai perlahan menetes membasahi kedua pipinya. Entah kenapa, perkataan yang Risma lontarkan benar-benar menyakiti hatinya. "Saya juga sangat berharap jika saya ikut pergi bersama ibu saya. Saya sama sekali tidak berniat untuk merusak kebahagian anda dan Rama. Saya lebih bahagia jika ibu saya ada bersama saya. Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan mencuri apapun dari Rama. Perusahaan? saya sudah tidak tertarik dengan itu. Anda dapat membuat Rama mmilikinya," Putus Khai. Setelah mengatakan semua itu, Khai menghapus air matanya dengan kasar dan segera beranjak pergi dari kamar itu. Ketika Khai membuka pintu kamar, ia dapat melihat Rama yang sudah berada di depan pintu dengan pandangan yang menunjukkan rasa kasihan. Khai membenci tatapan yang diberikan Rama saat ini. Ia tidak menyapa Rama, Khai langsung melewati Rama begitu saja dan berjalan keluar dari rumah. Tetapi Rama tidak habis usahanya. Ia tidak ingin meninggalkan Khai sendiri di saat seperi ini. Sopir Khai yang melihat Khai mucul dari dalam rumah langsung masuk ke dalam mobil. Ia tau jika Khai sedang tidak dalam mood yang bagus. Terlebih lagi ketika Rama yang memanggil-manggil nama Khai dari belakang. Khai langsung masuk ke dalam mobil di bagian kursi penumpang. Tetapi Rama juga tak kalah cepat dari Khai. Rama ikut masuk ke dalam mobil tepatnya di samping Khai. Khai memejamkan kedua matanya ketika melihat Rama sudah masuk dan duduk di sebelahnya. Ia sangat ingin meluapkan emosinya saat ini, tetapi ia masih bisa menahannya. "Antar saya dan Khai ke taman yang terdekat, pak." Rama berusaha untuk bersikap tenang di sini. Ia tidak ingin ikut tersulut emosi juga. Sopir Khai menganggukkan kepalanya dan mulai melajukan mobil ke tempat yang Rama perintahkan. Mobil pribadi Rama juga mengikuti mobil yang membawa Khai dan Rama dari belakang. Tak sampai limabelas menit, mobil berhenti di sebuh taman. Rama turun ketika mobbil sudah berhenti. Ia mengetuk kaca jendela mobil ketika Khai tak kunjung turun. Mau tidak mau, Khai pun turun dari mobil. Mereka berdua berjalan menuju taman, untung saja taman ini sedang sepi. Bahkan hanya ada Khai dan Rama di taman ini, mungkin karena ini hari kerja dan masih pagi. Khai berhenti berjalan. Ia tidak mau terlalu lama bersama Rama. "Ada apa?" Tanya Khai. Rama yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan menghadap Khai. "Kita seharusnya tidak boleh seperti ini, Khai. Kita udah janji kan? Gue hanya ada lo dan lo hanya ada gue.. tolong jangan buat gue ngerasa sendiri Khai," Tutur Rama. "Lo duluan yang buat gue merasa sendiri Rama. Lo dengar kan semua pembicaraan di kamar tadi? gue dan ibu gue adalah pelaku dari semua hal yang sudah terjadi di keluarga ini. Dan lo.. lo korban dari kejahatan ibu. Gue rasa.. selamanya gak ada kata saudara. Kita hanyalah dua orang yang kebetulan memiliki satu darah yang sama. Selebihnya.. kita hanya orang asing, Ram. Pada akhirnya kita akan memilih jalan kita sendiri. Gue enggak mau terus bergantung dari lo, karena gue tau mama lo enggak mungkin mengijinkan hal itu terjadi. Dan pada akhirnya gue juga akan berjuang sendiri. Gue... gue anak dari wanita yang udah menghancurkan kebahagiaan lo dan mama lo," tutur Khai dengan suaranya yang bergetar. "Gue gak peduli, Khai. Lo tetap saudara gue." "Jangan munafik, Rama! Gue tau lo sebenarnya lo juga gak mau gue ada di kehidupan lo, kan? Jangan terus memakai topeng lo yang sok baik itu. Gue bosan lihat semua akting lo!" Rama diam untuk sesaat. Ia menundukkan kepalanya beberapa saat. Setelahnya, Rama kembali menatap Khai dengan senyuman miringnya. Rama menganggukkan kepalanya. "Benar. Gue juga enggak terlalu suka dengan kehadiran lo, kenapa papa hanya selalu menatap ke arah lo? Kenapa papa hanya memuji lo dan bahkan mengabaikan gue? Gue selalu buruk di mata papa dan itu membuat mama terus mengekang gue terus-menerus. Semuanya karena lo, Khai! Kalau aja lo gak menonjol dari gue, kalau lo gak lebih segalanya dari gue, gue enggak mungkin terus-terusan dibandingi dari lo. Lo pikir hanya lo aja yang tersiksa di sini? gue lebih tersiksa, Khai. Lo enak bisa hidup di rumah itu sendirian, sedangkan gue.. gue yang setiap hari mendengar pertengkaran diantara kedua orang dewasa itu. Gue juga capek, Khai.. Gue capek terus-terusan seperti ini." Rama tidak dapat menahan amarahnya juga. Ia tau jika ia tidak seharusnya mengungkapkan semua hal ini. Tetapi Khai yang membuatnya mengatakan semua hal yang membuatnya merasa tertekan. "Tolong jangan merasa hanya lo yang terluka di sini. Gue jauh lebih terluka saat ini dan mungkin seterusnya," sambung Rama dengan frustasi. Khai melangkah mendekat ke arah Rama. Ia memegang pundak Rama dan meremas pelan pundak Rama. "Karena itu.. karena itu lo harus benci sama gue. Gue adalah orang yang buat lo merasa terus diremehkan. Lo harus membenci gue, Rama!" Teriak Khai dengan kencang. Khai sangat menyayangi pria yang ada di depannya ini, tetapi untuk saat ini ia harus menyadari Rama agar tidak terus-menerus lemah seperti ini. Rama menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak mungkin bisa membenci Khai, tidak akan pernah. "Gue gak mungkin benci sama lo, Khai. Apapun yang lo lakukan ke gue, apapun yang orang-orang katakan ke gue tentang lo, gue enggak peduli." "Lo harus benci sama gue karena gue benci sama lo, Rama!" Khai menguncang tubuh Rama agar membuat Rama sadar dengan perkatannya. Rama tidak boleh menyayanginya, karena nanti mereka akan menjadi saingan yang mungkin akan saling menyakiti satu sama lain. Rama melebarkan matanya mendengar pernyataan Khai. Ia tidak tau jika Khai membenci dirinya. Rama mencoba untuk tidak mempercayai ucapan Khai, tetapi tatapan sungguh-sungguh Khai membuat Rama menjadi mempercayai Khai saat ini. Khai terlihat sangat jujur mengatakan hal tersebut. "Gue benci apapun yang ada di lo saat ini. Gue benci lo sayang sama gue, gue benci lo punya mama yang selalu dukung lo dan bahkan gue benci karena lo hidup di dunia ini! Gue benci semua hal yang menyangkut lo," tutur Khai lantang. Rama sekali lagi tidak bisa membalas perkataan Khai. Perkataan yang Khai katakan barusan membuatny merasa hancur. Khai.. saudara yang ia sayangi mengatakan semua itu. Khai memejamkan kedua matanya ketika melihat Rama yang diam menatap dirinya dengan pandangan kekecewaaan. Ia tau ia salah karena telah mengatakan hal sekejam itu, sekali lagi Khai sama sekali tidak memiki pilihan. Tanpa mengatakan hal apapun lagi, Khai berjalan pergi meninggalkan Rama yang masih berdiam diri di taman ini. Rama hanya bisa diam menyaksikan kepergian Khai. *** Khai kembali menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya saat ini. Emosinya membuatnya melakukan hal tersebut. Khai tidak perdui dengan hal apapun yang akan ia hancurkan, saat ini ia hanya ingin meluapkan emosinya yang masih belum mereda juga. Para pelayan sudah berusaha untuk membujuk Khai agar menahan diri. Tetapi Khai sama sekali tidak mendengar bujukkan itu. Mungkin setelah ini, Khai akan kembali mendapat masalah dari mama tirinya. Satu hal yang penting saat ini, Khai meredakan emosinya dengan cara seperti ini. Setengah jam berlalu, akhirnya Khai sudah mulai merasa sedikit baikkan. Setelah merasa cukup baikkan Khai merebahkan dirinya di kasur. Ia sudah tidak perduli dengan keadaan kamarnya saat ini. Khai sangat yakin jika kamarnnya benar-benar seperti kapal pecah. Khai mencoba untuk mengatur napasnya agar kembali teratur. Ia juga mengecek ponselnya. Khai sangat berharap Rama ada mengirimkan pesan atau menelponnya. Tetapi harapannya salah. Khai tertawa secara tiba-tiba. Ia menerawakan dirinya saat ini, sangat tidak mungkin Rama menghubunginya setelah apa yang telah Khai katakan kepada Rama tadi. Saat ini.. Khai sangat yakin jika ia akan benar-benar sendiri. Tidak akan ada lagi yang ada di samping Khai, termasuk Rama. Khai akan siap menghadapi semua itu kedepannya nanti. Ia akan siap berdiri di kakinya sendiri, tanpa dukungan siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD