Tiga hari berlalu dari permasalahan yang baru-baru ini terjadi. Khai masih belum menghubungi Rama dan ia masih tetap terus berada di rumah ini tanpa keluar sedikit pun. Tetapi memang sikap Khai setelah kejadian kemarin berubah dengan cepat. Khai bahkan sudah tidak belajar di ruang belajar selama tiga hari.
Ia menikmati masa-masa kebebasannya. Ia tidak perduli apa yang akan ia dapatkan nanti. Ia hanya ingin menikmati waktunya selama tiga hari ini atau bahkan lebih.
Seperti yang barusan terjadi, Khai baru saja pergi menggunakan mobil tanpa ditemani oleh sopirnya. Ia memang hanya berjalan-jalan mengelilingi kota kecil ini. Khai sama sekali tidak mendapatkan amarah dari mama tirinya, mungkin karena perkataan Khai beberapa hari yang lalu. Khai tidak pernah sebahagia ini. Ia merasa sangat bebas tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
Sebenarnya Khai juga tidak tau apa yang sedang ia lakukan saat ini, ia sebenarnya juga merasakan seperti ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia senang dengan kebebasan yang ia dapat saat ini, tetapi entah mengapa Khai masih saja terus merasa kosong. Terlebih lagi, ia masih belum tau siapa sebenarnya pelaku yang sudah membuat Tasya pergi meninggalkan dirinta untuk selamanya.
Rasa ingin tau masih ingin Khai dapatkan, tetapi ia sama sekali tidak punya satupun pencerahan. Tidak mungkin ia menuduh tanpa sebuah bukti yang kuat. Tetapi Khai tetap percaya satu hal, ia pasti akan menemukan siapa pelakunya dan satu hal yang pasti, Khai akan memalaskan dendamnya kepada orang tersebut. Khai tidak perduli siapapun orang itu, ia kan membalaskan perbuatan yang sudah ia lakukan.
Khai berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju taman belakang dan duduk di bangku yang tersedia. Khai baru menyadarinya sekarang, ia sudah sangat jarang sekali berada di tempat ini. Taman yang selalu ia gunakan bersama dengan ibunya dulu. Bahkan jika diingat kembali, Khai masih dengan jelas mengingat tawa dan candaan yang ibunya lontarkan untuknya.
Ia merindukan setiap kenangan yang pernah terjadi dulu. Perlahan Khai memejamkan kedua matanya, ia menghirup udara segar dalam. Jujur saja, dari semua hal apapun yang melekat ada Rama, Khai hanya iri dengan satu hal. Rama masih memiliki seorang ibu. Hal itu yang selalu Khai iri dengan Rama. Jika ibu Khai masih ada di dunia ini, Khai bahkan tidak akan tertarik hal apapun yang ada dari Rama. Termasuk perusahaan papa mereka.
Tetapi sepertinya Tuhan memang sedikit tidak adil kepada Khai, ia mengambil semua hal yang sangat Khai cintai dan Tuhan selalu berpihak kepada Rama. Kadang, Khai ingin mempertanyakan semuanya. Apa yang sudah Rama lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga Tuhan sangat baik kepadanya. Sedangkan kepada dirinnya sendiri, Khai merasa tidak ada keadilan untuk dirinya.
Ia sangat ingin membenci Rama untuk selamanya, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi. Karena bagaimanapun juga, Rama tetaplah saudaranya satu-satunya. Khai tidak mungkin bisa membenci Rama.
Khai kembali membuka matanya. Tepat setelah ia membuka matanya, Khai dapat melihat seorang pengawal yang biasa ada di rumah utama berdiri tepat di depannya. Khai menatap pria tegap itu dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Khai langsung.
Pria itu menundukkan kepalanya sebentar untuk memberi hormat kepada Khai. Seelahnya ia kembali menegakkan kepalanya. Tatapan tegas pria itu sedikit membuat Khai takut.
"Maaf tuan.. Nyonya memberi pesan melalui saya. Jika tuan Khai tidak kembali ke ruangan belajar dan terus melanggar larangan yang sudah di berikan, tuan harus siap untuk hukuman yang akan diberikan," tutur pria itu dengan tegas dan lugas.
Tanpa menunggu jawaban yang diberikan Khai, pria itu berlalu pergi meninggalkan Khai yang masih terdiam itu.
Sore yang cerah bagi Khai ini seketika menjadi sore yang suram. Benar apa yang sudah ia duga. Cepat atau lambat ia akan tetap masuk ke dalam ruang belajar itu dan pastinya ia akan tetap dan selalu harus mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh mama tirinya.
Khai memutuskan untuk kembali ke ruangan belajarnya. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Langkah berat Khai akhirnya sampai di ruangan belajar miliknya. Khai menatap meja belajarnya dan melihat sebuah buku yang sudah ada di atas meja tersebut. Khai menoleh sekilas ke arah cctv yang terpasang di sudut atas ruangan tersebut. Khai sangat yakin jika mama tirinya sedang memantaunya dari cctv ini.
Khai pun mulai membaca buku dan perlahan terlarut dalam dunianya sendiri. Hampir tiga jam Khai berada di ruang belajar ini. Hingga akhirnya Khai pun menutup buku yang ada di depannya.
Sore yang tadinya cerah perlahan mulai redup dan digantikan dengan langit senja yang mulai menghitam. Khai menatap langit dari jendela ruangan ini. Ia juga melihat beberapa burung yang terbang bebas. Khai tersenyum simpul melihat burung tersebut. Ia juga sangat ingin terbang bebas sama seperti mereka.
Setelah burung-burung tersebut sudah tak lagi menampakkan dirinya, Khai menutup jendela ruangan ini dan langsung pergi meninggalkan ruangan ini. Sudah cukup untuk hari ini ia belajar. Besok, ia akan kembali menjadi anak penurut seperti kemauan mama tirinya.
Khai berjalan menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menunggu lagi. Ia menatap ponselnya yang ada di atas kasur miliknya. Khai mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang akan menghubungi dirinya. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun orang yang menghubungi dirinya. Pasalnya Khai juga tidak mempunyai teman sama sekali selain Rama tentunya dan papa mamanya. Tasya, Khai sudah tidak memiliki nomor wanita itu lagi.
Semenjak kejadian kemarin setelah ia melihat tubuh Tasya tak bernyawa lagi, sopir Khai meminta Khai untuk menghapus semua hal yang bersangkutan dengan Tasya. Ia tidak mau Khai terjerat dalam sesuatu yang tidak ia perbuat.
Alhasil Khai hanya diam di dalam kamarnya ini. Ia juga tidak tau harus melakukan apa lagi, kehidupan Khai memang sangatlah membosankan. Waktu berjalan dengan lambat menurutnya.
***
Khai membuka kedua bola matanya ketika ia mendengar suara ketukkan pintu dari luar kamarnya. Khai sangat tidak tega untuk meninggalkan kasurnya yang empuk ini. Tapi mau tidak mau, Khai tetap harus bangkit dari kasurnya ini. Ia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas kasur. Khai dapat melihat cahaya matahari yang sudah mulai masuk ke dalam kamarnya melalui ventilasi.
"Ada apa?" Tanya Khai dari dalam kamar.
"Saatnya sarapan, tuan. Makanan sudah siap," jawab seorang wanita dari luar kamar Khai yang pastinya wanita itu adalah salah satu diantara asisten rumah tangga Khai.
"Sebentar lagi saya turun," putus Khai. Setelah mendengar jawaban Khai, pelayan tersebut mulai berlalu pergi meninggalkan kamar Khai.
Khai pun mulai berdiri dari kasurnya untuk berganti pakaian dan ritual lainnya. Pagi ini ia tidak mau untuk bermalas-malasan.
Setelah selesai dengan semuanya, barulah Khai turun untuk sarapan pagi. Ia dapat melihat menu sarapannya sudah tersedia dengan rapih di atas meja makan. Khai langsung duduk di kursi meja makan.
Ia masih belum mengamil makanannya. Khai masih diam dan melah mikirkan sesuatu. Sesuatu yang entah mengapa tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Ia ingat mengenai danau yang pernah Tasya ceritakan. Tempat dimana ia dan Tasya janjian untuk bertemu.
Entah kenapa Khai jadi inngin pergi ke tempa itu. Ia melihat jam dinding di ruangan ini dan jam tersebut menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Akan sangat sempat jika ia pergi sekarang. Khai seketika bangkit dari duduknya. Ia berjalan meninggalkan meja makan. Beberapa pelayan yang melihat Khai pergi begitu saja, langsung menampakkan wajah terkejutnya. Tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun selain diam di tempat.
Sopir Khai segera membukakkan pintu mobil agar Khai dapat masuk dengan mudah. Ia sangat segit dalam melakukan pekerjaannya. Setelah Khai sudah berada di dalam mobil, barulah sopir tersebut masuk. Ia sebenarnya sangat takut untuk menuruti kemauan tuannya ini. Pasalnya ia sudah diperingati untuk tidak menuruti semua perkataan Khai. Tetapi apa dayanya. Ia bekerja dengan Khai dan mau tidak mau, ia harus ikut dengan kemauan Khai, terlebih lagi.. ia sudah sangat menyayangi Khai.
Khai membuka handphone miliknya dan mulai mencari lokasi Danau yang dimaksud oleh Tasya. Sebenarnya Khai tidak tau apakah ia akan menemukan Danau yang dimaksud Tasya, tetapi ia ingat dengan perkataan Tasya. Bahwa Danau yang akan mereka kunjungi berada tak jauh dari cafe tempat Tasya bekerja dulu.
Ternyata benar saja, Danau yang keluar dari hasil pencarian Khai melalui handphone miliknya berada tak jauh dari tempat Tasya bekerja dulu. Khai pun langsung memberikan alamat lokasi Danau tersebut kepada sopirnya.
Mobil mulai berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumah. Hampir satu jam Khai berada di dalam perjalanan hingga akhirnya ia sampai di sebuah Danau buatan yang cukup indah. Tidak ada seorang pun di lokasi Danau ini. Beberapa pepohonan tumbuh di sekitar Danau yang menambah keindahan Danau ini sendiri.
Khai turun dari mobil dan diikuti oleh sopirnya. Ia berjalan hendak mendekat ke tepian Danau. Ketika sopir Khai juga ingin mengikutinya, Khai dengan tegas menyuruh sopirnya untuk menunggunya di sini saja. Sopirnya pun menurut. Khai kembali berjalan mendekati tepian Danau. Ia berdiri tepat di depan air Danau yang sangat jernih. Terdapat dua buah perahu kecil yang ada di atas air Danau.
Mata Khai melihat sekeliling Danau ini. Ia tidak tau alasan apa yang membuat Tasya ingin mengajaknya ke Danau ini. Seketika Khai kembali membayangkan wajah cantik Tasya. Jika ia dan Tasya jadi untuk ke Danau ini, Khai sangat yakin jika Tasnya pasti tidak pernah berhenti tersenyum. Senyuman di wajah Tasya pasti akan selalu ada.
Tanpa di sadari, air mata Khai seketika menetes keluar membasahi pipinya. Khai tidak tau jika waktu berjalan dengan sangat cepat. Ketika ia pertama kali melihat Tasya, saat dimana ia mulai menaruh hati kepada wanita itu, saat dimana Tasya pergi dari rumahnya serta saat dimana mereka terakhir kali bertemu untuk selamanya. Semuanya sangat cepat berlalu. Khai tidak tau jika ia dan Tasnya akan berpisah dengan cara seperti ini. Ia sangat tau jika ia tidak mungkin akan bersama dengan Tasnya, tetapi Khai sama sekali tidak pernah membayangkan perpisahan yang seperti ini.
Khai menghapus air matanya dan menghela napas panjang. Ia tidak mau terus berlarut dalam kesedihan ini terus menerus. Mungkin ini kali terakhir ia akan mengingat tentang Tasya. Khai juga harus melanjutkan hidupnya dan perlahan akan melupakan kenangan indah maupun sedih yang pernah ia lalui bersama dengan Tasya.
"Terimakasih sudah pernah hadir di dalam hidup ku... Serta sampai bertemu di kehidupan selanjutnya," Tutur Khai dengan lirih. Setelah mengatakan hal tersebut, Khai berbalik badan hendak kembali ke dalam mobil untuk pulang. Tetapi langkah Khai berhenti ketika ia melihat seorang wanita yang tak jauh darinya sedang menatapnya.
Khai sangat tanda dengan wanita itu, wanita yang ia temui di sekolah Rama kemarin. Ketika Khai tau keberadaannya, wanita itu langsung berlari pergi dengan terburu-buru. Khai yang melihat itu langsung ikut berlari hendak mengejar wanita tersebut.
Sopir Khai masih belum mengetahui jika Khai sudah tidak ada lagi di tepian Danau, pasalnya ia sedang asyik dengan telepon genggamnya.
Khai masih terus berari mengejar wanita itu, entah kenapa Khai merasa wanita itu sedikit mencurigakan menurutnya. Terlebih lagi.. untuk apa ia lari seperti ini ketika Khai melihatnya. Khai tidak putus asa untuk mengejar wanita ini. Tangannya kirinya ia rentangkan agar mudah untuk menangkap baju waniat ini. Hampir saja Khai menggapai bajunya, tetapi nasib sial menimpa Khai.
Kaki Khai menabrak batu dan membuatnya hilang keseimbangnya hingga Khai akhirnya jatuh ke tanah. Wanita itu pun lolos dari genggaman Khai. Ia langsung berlari dengan kencang dan tak menampakkan dirinya lagi.
Khai hanya bisa menghela napas berat. Ia sangat sial hari ini. Kenapa bisa ia sampa jatuh dan kehilangan wanita itu, padahal ia hampir saja menangkap wanita itu. Khai melihat kakinya yang seikit tegores akibat ia terjatuh. Setelah beberapa saat, barulah Khai bangkit berdiri untuk kembali menuju mobilnya. Ia tidak mungkin lagi mengejar wanita itu karena Khai sangat yakin jika ia sudah pergi jauh dari sini.
Khai berjalan dengan langkah yang sedikit pincang. Ia terjatuh memang cukup keras tadi dan Khai baru menyadari jika ia sudah berlari cukup jauh. Tak lama ia berjalan, sopirnya langsung menghampiri Khai dan terkejut melihat keadaan Khai. Ia langsung membantu Khai untuk berjalan agar Khai tidak kelelahan.
"Tuan dari mana saja? Saya sangat khawatir ketika tidak melihat keberadaan tuan," tutur sopirnya. Khai sangat yakin jika sopirnya memang khawatir kepadanya, pasalnya ia dapat melihat jika napas sopirnya tak beraturan.
"Maaf pak.. tadi saya melihat orang aneh dan saya langsung mengejarnya," jawab Khai. Sopir Khai hanya bisa menghela napas mendengar jawaban yang Khai berikan. Tak beberapa lama mereka pun sampai di mobil. Sopir Khai langsung mencari obat luka yang memang selalu ada di dalam mobil ini. Setelah ia membersihkan luka Khai dengan air mineral yang ada, Sopir tersebut langsung memberikan Khai obat luka tersebut.
Wajahnya terlihat sangat khawatir melihat Khai terluka seperti ini. Padalah hanya goresan kecil yang Khai dapatkan di kakinya.
"Sudah pak, saya baik-baik saja." Khai tak habis pikir kenapa sopirnya ini sangat peduli terhadap dirinya. Tetapi di balik semuanya, Khai juga merasa beruntung karena ada seseorang yang peduli terhadap dirinya.
"Ini harus segera di obati tuan, kalau tidak akan infeksi nanti. Tuan seharusnya tidak perlu mengejar orang yang menurut tuan aneh, kita tidak tau apakah orang tersebut berbahaya atau tidak," tutur sopir Khai dengan nada khawatir. Khai hanya bisa menghela napas mendengar penuturan sopirnya. Ia tidak bisa membantah ucapan dari sopirnya ini, dikarenakan apa yang dikatakan oleh sopirnya ini ada benarnya juga.
Tak lama kemudian, Kaki Khai akhirnya di berikan obat. Setelah selesai dengan pengobatan kaki Khai, sopir tersebut langsung kembali menyimpan obat yang tadi ia gunakan kembali ke tempat semula.
"Kita pulang sekarang saja, tuan. Tidak bagus terlalu lama di tempat ini, terlebih lagi tuan masih belum sarapan pagi." Putus sopirnya. Khai hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun menyandarkan tubuhnya di sandara mobil dan menghela napas panjang.
Sopir Khai mulai menghidupkan mesin mobil dan tak lama, mobil pun mulai berjalan meninggalkan tempat ini. Khai menatap danau ini untuk yang terakhir kalinya. Ia akan benar-benar pergi dari tempat ini dan melupakan Tasya.
Ketika Khai sedang memikirkan Tasya, entah mengapa tiba-tiba ia kembali teringat dengan wanita tadi. Wanita itu terlihat sangat takut ketika Khai melihatnya. Khai sangat yakin ada sesuatu dari wanita itu yang perlu Khai ketahui. Entah mengapa, dia terlihat seperti mengetahui sesuatu yang tidak Khai ketahui.
Cukup lama Khai bertaut tentang pikirannya mengenai wanita tadi hingga ia menegakkan badannya.
"Lamia," tutur Khai langsung. Ia ingat dengan nama wanita tadi. Khai sempat membaca nama wanita itu dari bet namanya. Wanita yang tidak sengaja ia tabrak saat itu.
***
Sesampainya di rumah, Khai langsung berjalan menuju meja makan untuk sarapan yang sempat tertunda. Makanan yang tadi disajikan terlihat hangat. Khai yakin jika makanan ini kembali dipanaskan oleh para pelayannya.
Khai pun mulai memakan sarapannya dengan santai. Di pertengahan ia sarapan, Khai dikejutkan dengan seorang pengawal yang tiba-tiba datang menghampiri Khai. Pengawal ini merupakan pengawal yang semalam ia bertemu. Khai tidak tau kenapa tiba-tiba pengawal ini datang ke rumahnya.
Khai menghentikan sarapannya dan sekarang fokusnya hanya kepada pengawal yang baru datang ini.
"Ada apa?" Tanya Khai langsung.
Wajah pengawal tersebut terlihat sangat pucat dan juga penuh kekhawatiran. Khai yang menyadari hal itu langsung bangkit dari duduknya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan ekpresi yang ditampilkan oleh pengawal tersebut. Napas pengawal tersebut masih tidak beratur. Keringat mengalir di wajah pengawal tersebut.
"Ada apa pak? Apakah ada masalah di rumah?" Tanya Khai lagi.
"Lebih baik tuan seger ke rumah sekarang. Ada masalah besar di rumah dan tuan harus ke sana sekarang. Saya akan mengantar tuan Khai untuk ke rumah," jawab pengawal tersebut kepada Khai. Khai yang mendengar hal itu langsung terdiam. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan ikut berjalan di belakang pegawal tersebut.
Khai dapat melihat sopir pribadinya yang sedang menatap dirinya dengan bingung serta dengan wajah khawatir. Sopir Khai berpikir jika Khai akan mendapatkan masalah, dikarenakan pengawal tersebut membawa Khai. Ia takut jika Khai akan terkena masalah di rumah sana apalagi ketika melihat wajah pengawal tersebut sangat serius.
Khai memberikan senyuman hangat kepada sopirnya itu. Seolah berkata jika ia akan baik-baik saja.
Khai masuk ke dalam mobil yang dibukakkan oleh pengawal itu. Setelah Khai masuk, barulah pengawal tersebut masuk ke dalam mobil dibagian pengemudi. Ia pun segera menyalakan mesin mobil dan membawa mobil ini berjalan menjauh dari rumah Khai.
Di dalam mobil ini hanya kesunyian yang ada. Pengawal tersebut sama sekali tidak membuka suaranya dan hanya fokus untuk meyetir mobil. Khai sama sekali dibikin penasaran dengan gerak-gerik yang diberikan oleh pengawal ini. Rasa penasarannya sangat tinggi. Khai sangat ingin menetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah.
"Pak.." Panggil Khai kepada pengawal tersebut. Pengawal tersebut hanya berdehem menjawab panggilan Khai.
"Saya dipanggil ke rumah karena saya buat kesalahan ya, pak?" Tanya Khai dengan pelan. Ia sebenarnya juga takut jika ia dipanggil ke rumah karena ia membuat kesalahan yang sudah ia lakukan beberapa hari terkahir ini. Jika memang karena itu, Khai sepertinya harus keluar dari mobil ini.
"Bukan tuan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tuan. Ini masalah tuan Rama," tutur pengawal tersebut.
"Rama? Rama lagi buat masalah? dia buat masalah apa emangnya?" pertanyaan Khai seketika langsung beruntut. Ia semakin penasaran jika menyangkut tentang Rama. Pasalnya ia dan Rama sudah beberapa hari ini tidak berbicara satu sama lain dan tiba-tiba Rama ada masalah. Khai sangat yakin jika yang Rama lakukan saat ini sangatlah besar. Ia tidak pernah sampai di panggil ke rumah hanya karena masalah Rama. Khai sangat yakin akan hal ini.
"Tuan Khai akan tau sendiri nanti," Putus pengawal tersebut.
Khai hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturan pengawal tersebut. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Suasana di mobil kembali diam tanpa suara sedikit pun.
Hingga tiga puluh menit berlalu, Akhirnya mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah yang besar ini. Suasana di rumah terlihat sangat sepi. Biasanya rumah tidak terliaht sesepi ini, terebih lagi para asisten rumah tangga sama sekali tidak terlihat di luar rumah. Perasaan Khai menjadi tak karuan melihat situasi yang ada di rumah saat ini.
Khai juga dapat melihat mobil papa nya yang masih terparkir di halaman rumah. Biasanya papa nya tidak mungkin tidak bekerja di pagi hari seperti ini. Apalagi jika papanya itu terlambat, itu salah satu hal yang mustahil untuk terjadi.
Khai pun mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Ia dapat melihat beberapa pelayan yang menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat menangis. Jantung Khai bertedak tak karuan melihat ekspresi yang mereka tunjukkan.
"Apa yang sedang terjadi?" Tanya Khai dengan nada yang sedikit keras. Para pelayan yang baru menyadari kehadiran Khai semakin menetesan air matanya.
"Tuan.. semua keluarga sedang berkumpul di kamar tuan Rama," tutur seorang pelayan kepada Khai. Khai yang mendengar itu seketika berjalan dengan langkah yang lebar untuk menuju ke kamar Rama yang dimaksud.
Suara tangisan terdengar ketika Khai sudah hampir sampai di kamar Rama. Suara tangisan mama nya lebih dominan terdengar. Entah kenapa, jalan Khai yang tadinya cepat seketika melambat. Khai seperti takut untuk masuk ke dalam kamar itu dan melihat apa yang terjadi. Semakin lama, akhirnya Khai sampai di depan kamar Rama yang terbuka lebar itu.
"Papa.."