Setelah kelas selesai Zoya pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Hari pertama masuk kampus cukup menguras energi. Zoya merasa kurang cocok dengan lingkungannya saat ini. Mahasiswa yang lain terlihat sok suci, bahkan terlihat menjauhinya pakaian yang ia kenakan.
“Ayah, Bunda, bilang kalau di sini tempat menuntut Agama, tapi apa buktinya? Sikap mereka justru terlihat buruk dari orang di luar sana.” gumam Zoya
“Tidak cocok denganku tinggal di tempat seperti ini.”
“Kalau bukan karena laki-laki itu aku sudah meminta pulang, bahkan kabur dari tempat ini.”
“Tunggu! Di mana laki-laki itu? Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya?”
Zeo adalah laki-laki yang dimaksud Zoya. Sejak tadi Zoya tidak melihat keberadaan Zeo padalah mereka satu kampus. Zoya mengangkat bahunya acuh. Kali ini ia lebih mementingkan urusan perutnya daripada hal lain. Setelah makan ia akan mencari keberadaan Zeo.
Kantin
Zoya mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. “Ck, penuh.” gumamnya
Zoya tersenyum tipis ketika melihat tempat duduk di ujung. Ia bisa menempati tempat tersebut. Baru berjalan dua langkah tiba-tiba ia melihat Zeo dan Bella menuju ke arah tempat duduk tersebut.
“Mereka saling kenal?!”
“Kesempatan bagus. Aku bisa bergabung sama mereka.” Zoya berjalan cepat menghampiri Zeo dan Bella sebelum ada orang lain menghampiri mereka.
“Hai!” sapa Zoya sembari tersenyum manis
Zeo dan Bella mendongak ketika Zoya datang. Mereka sama-sama terkejut sekaligus bingung karena Zoya tiba-tiba datang. “H-hai! Kamu di sini juga!?” ujar Bella sembari tersenyum tipis
“Iya. Kebetulan aku melihat kamu di sini, jadi aku hampiri.”
Zeo menunduk menghindari tatapan Zoya. Tanpa menatap sekalipun ia sudah tahu perempuan itu sedang menatapnya lekat. Ia merasa kurang nyaman setiap berada di dekat Zoya. Menurutnya sikap Zoya terlalu bar-bar.
“Jadi, mereka saling mengenal?! Tapi kenapa bisa?” batin Zeo berucap
“Boleh aku duduk?” tanya Zoya
“Em…”
“Terima kasih!” Zoya langsung duduk tanpa menunggu jawaban Bella. Ia justru tersenyum manis menganggap semuanya baik-baik saja.
“Ah, iya.”
Bella tersenyum canggung. Zoya terlanjur duduk tidak mungkin ia mengusirnya. Padahal ia dan Zeo berniat membicarakan sesuatu hal yang penting, namun karena keberadaan Zoya mereka mengurungkan niat untuk berbicara. Karena kebetulan sekali di meja tersebut ada tiga kursi membuat Zoya langsung menempatinya.
“Em.. kalian nggak pesan makanan?” tanya Zoya
“Belum. Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan.” ujar Bella
“Jangan! Biar saya saja yang pesan.” ujar Zeo
“Nggak papa, gus. Biar Bella saja yang pesan. Gus Zeo dan Zoya tunggu di sini sebentar!”
“Ooh.. jadi namanya Zeo!” batin Zoya berucap
Bella berjalan menuju kasir untuk membeli makanan. Zoya menggunakan kesempatan itu untuk menggoda Zeo. “Mas Zeo!” panggil Zoya sembari tersenyum manis
Zeo mengernyitkan keningnya aneh. “Mas?”
“Hmm.. namanya Mas Zeo kan?”
Untuk pertama kalinya Zeo mendengar seorang perempuan memanggilnya dengan sebutan mas. Selama hidup di pesantren ia selalu dipanggil dengan sebutan gus. Rasanya terdengar aneh ketika Zoya memanggilnya dengan sebutan mas. Ia tidak terbiasa dengan panggilan itu.
“Panggil Zeo saja!”
“Nggak mau! Aku mau’nya manggil Mas Zeo.”
“Ck, saya nggak suka.”
“Tapi aku suka, mas.”
Zeo memejamkan mata sembari menghembuskan nafas. “Sabar, Ze! Kamu harus bisa lebih sabar untuk menghadapinya.” ucapnya dalam hati
“Ekhm,” dehem Bella
Zoya menghentikan pembicaraannya karena kedatangan Bella. “Kalian sudah saling kenal?” tanya Bella
Zoya mengangguk semangat. Wajahnya seketika berseri bahagia. “Aku sudah mengenal Mas Zeo sejak kemarin.” jawabnya
“M-mas?”
“Iya. Aku manggilnya Mas Zeo!”
Terbesit rasa cemburu ketika Zoya memanggil mas pada Zeo. Panggilan itu seolah panggilan spesial untuknya. Bahkan ia yang mengenal Zeo terlebih dulu tidak berani memanggilnya dengan sebutan mas. Hampir semua santri maupun santriwati memanggilnya dengan gus untuk menghormati beliau sebagai putra dari Abah Edwin.
“Tapi…”
“Mbak, ini pesanannya!” tiba-tiba Ibu kantin datang membuat Bella menghentikan ucapannya.
“Ah, iya. Terima kasih, Bu!”
Bella menatap Zoya dan Zeo bergantian tanpa disadari oleh keduanya. Ia merasa ada yang berbeda dengan tatapan Zoya pada Zeo. “Enggak. Mungkin perasaanku saja. Wajar jika Zoya mengenal Gus Zeo karena dia putra dari Abah Edwin.” ucapnya dalam hati
“Mas Zeo ambil jurusan apa di sini?” tanya Zoya
“—“
Bella melirik ke arah Zeo ikut menunggu jawaban laki-laki itu. Namun sayangnya Zeo diam membisu seolah tidak mendengar pertanyaan Zoya. “Mas, aku…”
“Makan!”
“Kalau sedang makan tidak boleh berbicara!” ujar Zeo dengan tegas
Zoya mengerucutkan bibirnya kesal. Apa salahnya menjawab sebentar pertanyaannya! Zoya melanjutkan makannya dengan wajah cemberut. Bahkan selama ini ia selalu ngobrol bersama teman-temannya meskipun sedang makan.
***
Pukul 01.00
“Astaga.. gerah banget, sih!” kesal Zoya
Sejak dua jam yang lalu Zoya terlihat bolak-balik di atas tempat tidur karena merasa gerah. Ac kamarnya mati, bahkan tidak ada udara dingin sedikitpun yang masuk.
“Aarrgghh..” teriak Zoya sembari mengacak rambutnya frustasi
Zoya akhirnya memutuskan keluar kamar untuk mencari udara. Udara di dalam kamarnya terasa begitu panas membuatnya tidak bisa tidur. “Kalau di rumah gue pasti sudah tidur nyenyak sejak tadi.” gerutunya dengan nada kesal
Zoya keluar kamar tanpa menggunakan hijab, ia hanya menggunakan daster bertali spaghetti yang menambah kesan cantik dan anggun. Di rumah ia selalu berpakaian seperti itu. Zoya belum terbiasa menggunakan gamis serta hijab panjang. Gaya kehidupan di luar masih melekat di dirinya.
“Huhh.. akhirnya.”
Zoya merentangkan kedua tangannya sembari menghirup udara dingin yang menerpa kulit tubuhnya. Udara seperti ini yang ia inginkan sejak tadi. Zoya menggunakan pakaian terbuka seperti itu seolah tidak memiliki beban apapun. Ia sangat menikmati semilir angin yang menerpa kulit tubuhnya.
Ketika asik menikmati udara tidak sengaja ia melihat sosok laki-laki berjalan tidak jauh dari asramanya. Zoya sangat mengenali laki-laki itu. Dengan kesadaran penuh Zoya berlari menghampiri Zeo. Karena terburu-buru membuat Zoya tidak fokus dengan kondisi sekitar. Tidak sengaja kakinya tersandung, dan…
Brugh
“Aduh!” pekik Zoya
Sontak Zeo menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seseorang. Ia melebarkan matanya melihat keberadaan Zoya dengan pakaian terbuka. “Astagfirullah’haladzim.”
Dengan cepat Zeo mengalihkan pandangannya. Semenja Zoya tinggal di Pesantren Al-Falah mata Zeo sering ternodai karena pakaian yang perempuan itu kenakan.
Krekk
Suara sesuatu membuat Zeo kembali menatap ke arah Zoya. Ia terkejut melihat ranting pohon yang ingin patah tepat di atas tubuh Zoya. Zeo langsung berlari menuju ke arah Zoya untuk menolong perempuan itu. “ZOYA, AWAS!” teriaknya
Zoya berdiam di tempat sembari meringis kesakitan. Di satu sisi ia merasa bingung karena Zeo berlari ke arahnya dengan wajah panik. “Zoya!”
Brugh
“Aakkhh..” pekik Zoya
Zeo mendorong tubuh Zoya membuat tubuh keduanya terjatuh dengan posisi tubuh Zeo menimpa tubuh Zoya.
Bugh
“Aarrgghh..” pekik keduanya
Ranting pohon tersebut menimpa tubuh keduanya membuat Zoya dan Zeo tidak sadarkan diri. Tubuh kedunya masih tertimpa pohon dengan posisi yang sama. Tanpa mereka sadari sebelumnya ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Seseorang tersebut tersenyum smirk. Ia memiliki niat jahat setelah melihat Zoya dan Zeo terjatuh.
Seseorang tersebut menatap sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya. Setelah memastikan di sekitarnya cukup sepi ia menjalankan rencananya.
Ia menarik tubuh Zeo membawanya masuk ke sebuah gudang yang tidak jauh dari tempat tersebut. Tidak lupa ia juga melakukan hal yang sama pada Zoya. Seseorang itu membawa Zoya dan Zeo masuk ke dalam gudang seolah mereka telah melakukan sesuatu yang dilarang oleh Agama.
“Selesai!” ucapnya sembari tersenyum paus
Ia dengan sengaja sedikit membuka pintu gudang berharap ada santri yang melihat perbuatan mereka. “Maaf, gus! Saya memang sengaja melakukannya.” dan setelah itu ia pergi meniggalkan gudang tersebut.
Pagi harinya
“Abah, sejak tadi malam Umi tidak melihat keberadaan Zeo. Dia di mana?” tanya Arini pada suaminya
“Tadi malam Zeo bilang mau ke pesantren, Umi. Mungkin dia bermalam di asramanya.” Arini mengangguk mengerti
Tapi entah kenapa Arini merasa gelisah memikirkan putranya. Beliau merasa telah terjadi sesuatu dengan Zeo. “Astagfirullah. Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Mungkin hanya perasaaku saja.” ucapnya dalam hati
“Em.. Umi ke pesantren sebentar mau manggil Zeo untuk sarapan bersama, Abah. Kalau sudah lapar lebih baik Abah makan terlebih dulu!”
“Abah akan menunggu Umi dan Zeo.”
Arini mengangguk sembari tersenyum. “Baiklah. Umi pamit sebentar”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Karena merasa gelisah Umi Arini memutuskan untuk menyusul putranya ke pesantren. Tidak seperti biasanya beliau merasakan hal ini. Beliau harap kegelisahan yang dirasakan hanyalah perasaannya saja.
Thank U All:)