Umi Arini menautkan kedua alisnya bingung ketika melihat gerombolan santri berada di luar gudang. Mereka terlihat seperti menyaksikan sesuatu, tapi apa? “Bukannya bersiap untuk belajar malah mereka berkerumun seperti itu. Apa yang mereka lakukan di sana?” gumam beliau
Umi Arini berjalan cepat menghampiri para santri untuk melihat apa yang terjadi di sana. “Assalamualaikum.”
Dan seketika mereka semua menunduk hormat melihat kedatangan Umi Arini. Mereka terkejut sekaligus takut melihat kedatangan beliau. “Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Bukannya kalian harus bersiap untuk pergi ke sekolah?!” ujar Umi Arini
“—“
Mereka semua bungkam karena tidak ada yang berani menjawab perkataan Umi Arini. “Satya, kenapa kamu dan yang lain berada di sini? Kalian tidak bersiap ke sekolah?” tanya Umi Arini pada salah satu santri
“Em…”
“Jawab, Satya!”
“M-maaf sebelumnya, Umi! Kami semua melihat sesuatu yang ada di dalam gudang.” jawabnya sembari menunduk ketakutan.
“Melihat sesuatu?”
Umi Arini menautkan kedua alisnya bingung sekaligus bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam gudang? Karena merasa penasaran beliau langsung melihat apa yang terjadi sampai membuat para santri meninggalkan tanggung jawabnya.
“Biar Umi sendiri yang melihatnya.”
“Tapi, Umi…”
Dan…
Deg
Tubuh Umi Arini mematung di tempat ketika melihat sesuatu yang ada di hadapannya saat ini. Dadanya bergemuruh hebat, tidak menyangka dengan apa yang dilihat.
“ASTAGFIRULLAH, ZEO!” pekik Umi Arini
Umi Arini terkejut melihat putranya tidur bersama seorang perempuan di dalam gudang. Bahkan lebih terkejut lagi perempuan itu hanya menggunakan pakaian minim. Keduanya tidur dengan saling memeluk seolah pasangan suami-istri.
Dada Umi Arini seperti tersayat belati melihat putranya saat ini. Putra yang selalu beliau banggakan justru membuatnya kecewa. Tepat di hadapannya saat ini putra kandungnya telah melakukan zina. Bahkan beliau sebagai seorang Ibu yang telah melahirkannya tidak percaya dengan apa yang diperbuat Zeo.
“Umi…”
“Tolong ambilkan air!” pinta Umi Arini pada salah satu santri
Seorang santri memberikan sebuah ember yang berisi air pada Umi Arini sesuai permintaan beliau. Dan…
Byurr
“Astagfirullah.” pekik Zeo
Zeo dan Zoya langsung bangun ketika air mengguyur tubuh keduanya. Zeo dan Zoya belum menyadari apa yang terjadi karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
“Zeo, Zoya!” desis Umi Arini dengan tajam
Zeo langsung mendongak ketika telinganya samar-samar mendengar suara sang Ibu. Ia terkejut melihat keberadaan Ibunya dengan beberapa orang santri yang saat ini menatapnya aneh. Bahkan tatapan Ibunya terlihat begitu tajam dan menusuk.
“U-umi…”
PLAK
“APA YANG TELAH KAMU PERBUAT, ZEO ADARA PRASETYA?” bentak Umi Arini sekaligus melayangkan tamparan keras pada putranya
“DI MANA OTAK KAMU SAMPAI BERBUAT SEPERTI INI?”
“Awss,” ringis Zoya
Dengan cepat Zeo menolah ke samping ketika mendengar suara perempuan. Ia melebarkan matanya melihat kondisi Zoya saat ini. Sontak ia mendorong tubuh Zoya dan langsung menjauh darinya.
“Awhh,” Zoya meringis kesakitan karena dorongan yang dilakukan Zeo
“U-umi…”
Dan sekarang Zeo menyadari alasan Ibunya marah besar, bahkan ia menjadi tontonan para santri. “U-umi, Zeo bisa jelaskan! Ini semua tidak benar.” ucapnya dengan nada gugup
“Berikan pakaianmu untuk menutupi tubuh Zoya!” ujar Umi Arini dengan suara bergetar menahan tangis
Zeo langsung melepas baju kokohnya lalu memberikan pada Zoya agar dipakai oleh perempuan itu. Zoya langsung memakainya dengan rasa malu. Ia menunduk takut sekaligus malu. Mereka semua salah paham padanya dan Zeo. Bahkan Zeo dan Zoya tidak tahu kenapa bisa tidur berdua di dalam gudang.
“Umi…”
“Jelaskan semuanya di rumah!” dan setelah itu Umi Arini melangkah pergi meninggalkan gudang
Umi Arini memerintahkan para santri untuk kembali ke asrama masing-masing. Beliau menunggu Zeo dan Zoya di rumah. Apapun penjelasannya beliau akan tetap menikahkan putranya dengan Zoya.
“Mas…”
“Bersihkan tubuhmu dan setelah itu datang ke ndalem untuk menjelaskan!” ujar Zeo dan setelah itu pergi meninggalkan gudang.
Zoya menatap kepergian Zeo dengan tatapan sendu. Bahkan dirinya tidak tahu apa-apa di sini. “Kenapa aku dan Mas Zeo bisa berada di dalam gudang? Apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya
“Sudahlah, aku tidak peduli.”
“Tapi apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Bunda setelah ini? Mereka pasti marah sekaligus kecewa dengan perbuatanku.”
Zoya sama sekali tidak menyesal. Ia hanya merasa malu karena menjadi tontonan. Justru terbesit rasa bahagia di hatinya karena bisa berdekatan dengan laki-laki yang dicintainya semalaman.
Zoya mengangkat bahunya acuh. “Lebih baik aku bersih-bersih!”
“Terserah apa kata mereka karena yang terpenting aku tidak melakukan sesuatu yang mereka tuduhkan.” gumamnya
***
“Hikss..”
Umi Arini menangis sesenggukkan di pelukan suaminya. Beliau sudah menjelaskan apa yang telah terjadi. Hati beliau sebagai seorang Ibu sangat terpukul karena perbuatan putranya.
“Abah, Umi, Zeo bisa jelaskan semuanya!”
“Tolong dengarkan penjelasan Zeo terlebih dulu! Apa yang dilihat Umi hanya salah paham.” Zeo terus berusaha meyakinkan kedua orang tuanya meskipun tidak mungkin.
“Apa kamu mempunyai bukti itu?” tanya Abah Edwin
“—“
“Tidak bisa, bukan!? Berarti apa yang dilihat Umi adalah sebuah kebenaran.”
Zeo menggelengkan kepalanya. “Abah…”
“Jangan terus menyangkal, Zeo! Abah dan Umi tidak pernah mengajarkan kamu lari dari tanggung jawab.”
“Apapun alasannya Abah dan Umi tidak akan menerima. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu itu!” ujar Umi Arini dengan tegas
Zeo berlutut di hadapan kedua orang tuanya. Ia menitihkan air mata. Untuk pertama kalinya kedua orang tuanya tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Bahkan Zeo berani bersumpah jika ia tidak pernah melakukan apa yang dilihat oleh Ibunya.
Hati Zeo sangat hancur melihat kedua orang tuanya menangis. Mereka salah paham. Apa yang harus ia lakukan untuk membuat kedua orang tuanya percaya? Bahkan ia tidak memiliki bukti apapun untuk memperkuat perkataannya.
“Ya Allah, maafin Zeo!”
“Entah rencana apa yang telah Engkau perbuat sampai membawa Zeo di titik seperti sekarang ini.” ucapnya dalam hati
“Maafin Zeo, Abah, Umi.” lirihnya dengan suara bergetar
“Hikss..” isak tangis Umi Arini
“Kamu telah membuat Ibumu menangis, nak.” ujar Abah Edwin dalam hati
Abah Edwin telah memanggil kedua orang tua Zoya untuk datang ke pesantren. Sebelumnya beliau telah menjelaskan singkat cerita apa yang terjadi dengan Zeo dan Zoya. Dan karena hal itu beliau akan menikahkan mereka hari ini juga agar tidak menimbulkan fitnah serta menimbulkan masalah semakin besar.
Tok.. tok.. tok
“Assalamualikum.” Salam Zoya
“Waalaikumsalam.”
Zoya melihat sudah ada kedua orang tuanya di ruang tamu ndalem. Kedua orang tuanya melayangkan tatapan tajam membuat Zoya sedikit ketakutan. Setelah ini mereka akan menuntut penjelasan darinya.
“Masuk, nak!” ujar Abah Edwin
“Terima kasih, Abah.”
Zoya duduk di samping Ibunya. Ia menunduk sembari memainkan jemarinya untuk menghindari tatapan dari pihak keluarga. “Apa yang akan terjadi denganku setelah ini?” ucapnya dalam hati
“Zoya!” panggil Abah Edwin
“I-iya, Abah!”
“Apa benar kejadian yang dilihat oleh Umi tadi?”
“—“
Zoya memilih diam karena tidak tahu harus mengatakan apa. Mulutnya seolah terkunci rapat ketika ingin mengatakan sesuatu. “Jawab, nak! Kami semua di sini membutuhkan jawaban kamu.”
“Z-zoya tidak tahu, Abah.”
“Tapi sebelum kejadian itu, malamnya Zoya memang sempat bertemu dengan Mas Zeo.” lanjutnya
Kalimat terakhir yang diucapkan Zoya membuat mereka semakin yakin jika kejadian di dalam gudang adalah sebuah kebenaran. “Tapi…”
“Abah akan menikahkan kalian berdua sekarang juga!”
Deg
Mereka semua terkejut mendengar pernyataan tegas dari Abah Edwin. Zoya belum selesai berbicara namun beliau memotongnya terlebih dulu. Zeo mendongak menatap orang tuanya dengan tatapan pasrah. Setetes air mata membasahi kedua pipinya.
“Ya Allah, rencana apa yang telah Engkau siapkan di depan sana? Kenapa cobaannya begitu berat seperti ini?” batin Zeo berucap
Zeo tidak bisa membantah perkataan orang tuanya. Di depan mereka ia telah melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan. Dan sebagai seorang laki-laki tidak mungkin ia lari dari tanggung jawab. Zeo tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa pasrah dengan keputusan kedua orang tuanya. Salah paham yang tidak mampu ia benarkan.
“Jika memang ini yang terbaik, aku akan melakukannya.” batinnya berucap
“Ayah, Bunda…”
“Keputusan Abah Edwin sudah benar, nak. Kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian sendiri.” ujar Rendra dengan nada pasrah sekaligus kecewa
Mata Zoya berkaca-kaca melihat respon kedua orang tuanya. Bahkan mereka enggan menatap ke arahnya. Wajah Rendra dan Shinta terlihat begitu kecewa. Mereka memasukkan Zoya ke pesantren agar menjadi lebih baik, malah membuat mereka semakin kecewa.
“Ayah, Bunda, maafin Zoya!”
“Zoya nggak tahu hal ini akan terjadi.” lirihnya
Shinta mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya. Beliau tidak bisa berkata-kata lagi. Beliau merasa lelah, kecewa, marah, semuanya bercampur menjadi satu. “Kenapa kamu selalu membuat Bunda kecewa, nak?” ucapnya dalam hati
“Pak Rendra, Bu Shinta, bagaimana menurut kalian?” tanya Abah Edwin
“Mereka harus segera dinikahkan, Pak! Saya tidak ingin terjadi fitnah yang lebih besar di luar sana.”
“Apapun alasannya mereka tetap harus dinikahkan!” Abah Edwin mengangguk setuju.
Sebagai orang tua mereka menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun kesalahan sudah terjadi. Yang harus dilakukan saat ini adalah mencari cara untuk menutupi aib putra-putri mereka. Nikah adalah keputusan yang tepat.
“Baiklah. Akan kami siapkan semuanya.”
“Abah, apa harus nikah sekarang juga?” tanya Zoya
“Iya, nak. Kalian harus menikah sekarang juga!”
“Tapi…”
“Abah tidak menerima alasan apapun. Berita kalian sudah menyebar satu pesantren. Mau tidak mau Abah harus menikahkan kamu dengan Zeo.”
“Kesalahan tetaplah kesalahan. Nasi sudah menjadi bubur. Berani berbuat maka kalian harus berani bertanggung jawab.” lanjut beliau
Abah Edwin beralih menatap putranya. Wajah Zeo terlihat sedih dan terpukul. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Namun untu saat ini pernikahan adalah solusi yang tepat.
“Zeo, persiapkan diri kamu!”
“—“
Zeo menunduk dalam. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia tidak pernah menyangka takdir hidupnya akan seperti ini. Hari ini juga ia akan menjadi seorang suami. Zeo memiliki pernikahan impian dengan menikah bersama perempuan yang dicintainya. Namun ternyata apa yang ia harapkan tidak sesuai kehendak Allah.
“Ya Allah, ikhlaskan hati Zeo untuk menerima semua ini.”
“I-iya, Abah.”
~Manusia bisa berencana namun Allah yang menghendaki~
Thank U All:)