Zeo menatap penampilannya di depan sebuah cermin yang berada di hadapannya. Jubah putih serta peci putih yang melekat di tubuhnya menjadi saksi jika dirinya akan melepas masa lajang.
Zeo tersenyum sendu. Apakah masa lajangnya akan berakhir seperti ini? Menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai. Bahkan mereka belum saling mengenal satu sama lain.
“Zeo!” panggil Umi Arini
Suara Umi Arini membuyarkan lamunan Zeo. Ia menatap Ibunya dari pantulan cermin. Arini berjalan ke arah Zeo lalu memegang bahu putranya dari belakang. Keduanya saling menatap dari pantulan cermin.
“Sudah siap?” tanya Umi Arini
Zeo berbalik badan dan seketika tatapan keduanya bertemu. Umi Arini tahu putranya terluka saat ini. “Umi!” lirih Zeo
“Semuanya sudah siap. Pihak keluarga sudah menunggu kita di ruang keluarga.”
“Huhh..” Zeo menghela nafas
“Apa Umi masih mempercayai Zeo setelah ini?”
Umi Arini tersenyum kecil. “Umi selalu percaya sama kamu, nak.”
“Tapi kenapa…”
“Sesuatu yang sudah terjadi harus dipertanggung jawabkan sekalipun Umi percaya sama kamu.”
“Umi percaya putra Umi tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Namun karena kejadian itu kamu dan Zoya harus menikah untuk menghindari fitnah di luar sana.” ujar Umi Arini
“Siapkan diri kamu! Setelah ini kamu akan menjabat tangan Ayah dari seorang perempuan yang akan menjadi istri kamu.” lanjut beliau
Zeo memejamkan matanya sejenak. “Ya Allah, kuatkan hati ini!” doa’nya dalam hati
Umi Arini mengajak putranya keluar kamar. Semuanya sudah siap dan acara Ijab Qobul akan segera dimulai. Akad nikah yang dilaksanakan dengan sangat sederhana membuat rasa haru melingkupi ruangan tersebut.
Rendra berhadapan dengan Zeo. Meskipun Zeo tidak mencintai Zoya namun jantungnya berdebar kencang karena acara sakral yang akan segera terlaksana. Setelah menjabat tangan Rendra kehidupan barunya akan dimulai. Menjadi seorang suami secara mendadak tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Sudah siap, nak?” tanya Abah Edwin
“InsyaAllah.”
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Rendra menjabat tangan Zeo lalu membaca kalimat ijab. “Ankahtuka wa zawwajtuka Zoya Widjaja Erham bint Rendra Erham ala mahri adatu ash-shalah haalan.”
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur halan.”
“Sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah’hirabbilalamin.”
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Zeo. Sekarang statusnya telah berubah menjadi suami orang. Ia telah mengucap janji suci di hadapan kedua orang tuanya sekaligus dihadapan Allah Swt dengan para malaikat yang ikut menyaksikan.
“Ya Allah, berkahilah rumah tangga putra-putri hamba. Bimbinglah keduanya ke jalan yang lebih baik.” doa Abah Edwin dalam hati
Di sisi lain, Zoya duduk di depan sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah cermin. Ia mendengar suara Ayahnya dan Zeo saat acara Ijab Qobul terlaksana.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Statusnya telah berubah menjadi seorang istri. Ia memang menginginkan Zeo, tapi apakah harus secepat ini mereka menikah?
“Sayang!” panggil Shinta sembari memegang bahu putrinya
“Acara Ijab Qobul sudah selesai. Kamu sekarang telah Sah menjadi istri Zeo.”
“Status kamu bukan lagi perempuan single, melainkan seorang istri. Jaga sikap kamu ya, sayang! Jika kamu melakukan kesalahan bukan hanya membuat malu Ayah dan Bunda, melainkan suami juga.”
Shinta memberikan sedikit nasehat pada putrinya. Beliau harap perlahan sikap putrinya bisa berubah seiring berjalannya waktu. Shinta yakin Zeo bisa membimbing putrinya menjadi perempuan sekaligus istri yang lebih baik.
“Kita keluar, yuk! Mereka sudah menunggu kamu di luar.”
“Tapi, Bun…”
“Nggak papa, sayang. Ada Bunda yang menemani.”
Shinta menggenggam tangan Zoya mengajaknya keluar untuk menemui suaminya, Zeo. Tangan Zoya terasa dingin ketika Shinta menggenggamnya. Jantung Zoya berdebar kencang. Entah karena rasa bahagia atau hal lainnya.
Semua mata tertuju ke arah Zoya ketika perempuan itu datang bersama Ibunya. Ketika yang lain tersenyum bahagia namun tidak dengan Zeo. Zeo menunjukkan wajah datar, bahkan enggan untuk untuk menatap ke arah istrinya.
“Zeo, tersenyumlah, nak! Mau bagaimanapun Zoya sekarang telah menjadi istri kamu.” bisik Abah Edwin
Zeo tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai orang lain tidak bisa melihatnya. Yang seharusnya menjadi hari bahagia justru Zeo tidak merasakan sedikitpun kebahagiaan. Hanya rasa hampa yang dirasakan.
Zoya berdiri tepat di hadapan suaminya. Ia menunduk dalam karena takut bertatapan dengan Zeo. Mata tajam yang membuatnya takut untuk menatap.
“Zeo, ulurkan tangan kamu!” bisik Abah Edwin
Dengan tangan gemetar Zeo mengulurkan tangannya sesuai permintaan sang Ayah. Ia tidak pernah bersentuhan dengan perempuan manapun dengan sengaja. Namun karena tidak sengajaan ia dan Zoya harus dinikahkan tanpa kesalahan yang diperbuat.
“Salim dengan suamimu, nak!” bisik Shinta pada putrinya
“Bismillah.” gumam Zoya lalu mencium punggung tangan Zeo
Deg.. deg.. deg
Getaran aneh muncul di hati keduanya. “Ya Allah, kenapa dengan hatiku?” batin Zeo berucap
Di saat bibir dan hidung Zoya menempel di punggung tangannya seketika jantungnya berdebar kencang. Perasaan aneh yang belum pernah muncul dalam dirinya.
Abah Edwin merasa gemas karena putranya hanya diam saja. Tidak ada pergerakan inisiatif apapun dari Zeo. “Zeo, lakukan seharusnya apa yang kamu lakukan, nak!”
“—“
Zeo terdiam dengan wajah bingungnya. Pikirannya tiba-tiba blank tidak tahu harus melakukan apa. “A-apa yang harus Zeo lakukan, Abah?”
“Astagfirullah’haladzim.”
“Bacakan doa untuk istrimu. Doa untuk keberkahan rumah tangga kalian.”
“Astagfirullah. Kenapa aku bisa lupa!?” batin Zeo berucap
Zeo memberanikan diri menyetuh kepala Zoya lalu membaca doa untuk keberkahan rumah tangga mereka. “Allahumma inni as aluka khairahaa wa khaira maa jabaltaha’alaihi wa a’udzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa’alaihi.”
Zoya mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan oleh suaminya, Zeo. Seburuk apapun sikapnya ia menginginkan yang terbaik bagi rumah tangganya. “Ya Allah, berkahilah rumah tangga kami serta jauhkan kami dari hal-hal buruk.” Doa’nya dalam hati
“Alhamdulillah. Kalian sekarang sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.” ujar Abah Edwin
Zoya tersenyum kecil mendengarnya. Ia memberanikan diri menatap wajah Zeo namun tidak sedikitpun ia melihat kebahagiaan di wajahnya. Yang ia lihat hanyalah wajah dingin dan datar.
“Apa Mas Zeo terpaksa menikah denganku?” batin Zoya bertanya-tanya
“Zoya, ayolah.. apa yang kamu harapkan dari Mas Zeo? Sudah pasti dia terpaksa dengan pernikahan ini. Jika bukan karena kejadian di gudang dia tidak akan mau menikah dengan kamu.”
Zoya menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak berharap lebih pada pernikahannya saat ini. Namun di satu sisi hatinya sangat bahagia karena bisa bersama dengan laki-laki pilihannya. Sejak pertama kali bertemu dengan Zeo ia langsung jatuh hati padanya.
“Huhh..”
“Mungkin ini semua jawaban dari Allah atas harapanku selama ini.”
“Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengabulkan doa Zoya untuk bisa bersama dengan Mas Zeo. Zoya berjanji akan menjaga keutuhan rumah tangga kami apapun yang terjadi.” ucapnya dalam hati
Tanpa Zoya dan Zeo sadari dari kejauhan ada sosok perempuan yang tengah menangis menatap pernikahan mereka. Kedua pipi perempuan itu banjir oleh air mata ketika menyaksikan acara Ijab Qobul. Dadanya seperti disayat benda tajam, bahkan tidak menyangka cintanya akan berakhir seperti ini.
“Hikss..” isak tangisnya
“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini, Zoya? Kamu telah merebut laki-laki yang aku cintai.” lirihnya dengan suara bergetar
“G-gus, saya mencintaimu selama ini. Apa Gus Zeo tidak menyadari hal itu? Kenapa kamu malah menikah dengan perempuan lain?!”
“Hikss..”
“Jahat!”
Dan setelah itu ia berlari meninggalkan ndalem dengan perasaan hancur. Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dadanya terasa sesak. Marah dan kecewa tengah melingkupi hatinya.
“Aarrgghh..” teriaknya
Brugh
Ia meluruhkan tubuhnya ke tanah sembari terisak hebat. Langkah kakinya menuju Taman pesantren dan ia melampiaskan semuanya di sana. “Hikss..”
“Kenapa kamu tega melakukan ini, Zoya? Aku mencintainya.”
“Bahkan aku mengenalnya lebih dulu daripada kamu.” lirihnya dengan suara bergetar
Bugh
Bugh
Ia memukul tanah berulang kali untuk melampiaskan apa yang tengah dirasakan. Tidak ada yang lebih sakit ketika melihat seseorang yang kita cintai menikah dengan orang lain.
“A-aku akan merebutnya kembali, Zoya!”
“Dia milikku, bukan milikmu!”
“Kamu tidak pantas bersanding dengan Gus Zeo. Hanya aku yang pantas bersanding dengannya. Aku akan merebut sesuatu yang telah kamu ambil dariku, Zoya. Akan aku pastikan itu!” ucapnya
••••