Malam harinya
Zoya berdiam diri di dalam kamar karena tidak tahu harus melakukan apa. Beberapa menit yang lalu Zeo pergi ke Masjid untuk melaksanakan Sholat isya berjama’ah.
Zoya menatap sekeliling kamar Zeo dengan tatapan sulit diartikan. Ia merasa aneh sekaligus canggung karena baru pertama kalinya menempati kamar laki-laki selain sepupunya.
“Huhh..” Zoya menghela nafas kasar
“Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Tidak mungkin aku hanya berdiam diri seperti ini.” gumamnya
Zoya beralih berdiri di depan sebuah cermin besar yang ada di dalam kamar tersebut. Ia menatap pantulan dirinya dari cermin itu sembari menilai dirinya sendiri.
“Aku cantik, tapi kenapa Mas Zeo sepertinya tidak menyukaiku? Apa yang salah denganku?”
“Justru dia bersyukur karena mempunyai istri cantik sepertiku.”
“Huhh.. lihat saja, aku akan menaklukan hatinya dalam waktu dekat.” gumam Zoya dengan penuh percaya diri
Ceklek
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Zoya. Zeo baru saja pulang dari Masjid. Dengan wajah dingin dan datar Zeo melangkah menuju lemari untuk menyimpan sajadahnya.
Sembari tersenyum manis Zoya berjalan menghampiri Zeo. Ia mencoba untuk terbiasa dengan kehidupannya yang baru. Zoya bertekat untuk meluluhkan hati suaminya.
“Mas, baru pulang!?” ujar Zoya basa-basi
“—“
Zeo mengabaikan perkataan Zoya. Ia mengambil beberapa baju yang akan ia bawah ke asrama. “Mau diapakan baju-baju itu, mas?” tanya Zoya dengan tatapan bingung
“—“ lagi-lagu Zeo memilih diam enggan menjawab pertanyaan istrinya.
“Mas, Zoya tanya!”
“Saya akan tinggal di asrama!”
Zoya menganga tidak percaya. Mereka baru menikah beberapa jam yang lalu, tidak mungkin mereka pisah tempat tidur. “Nggak! Zoya nggak mengizinkan.”
“Memangnya siapa kamu berani mengatur saya?!”
“Mas Zeo lupa siapa Zoya, hm? Beberapa jam yang lalu Zoya resmi menjadi istri Mas Zeo.” ucapnya dengan menekan kata istri
Pergerakan Zeo terhenti setelah mendengar perkataan istrinya. Zoya tersenyum penuh kemenangan. Apa ia harus mengingatkan setiap saat siapa dirinya di hidup Zeo!
Zeo berbalik badan menghadap Zoya yang saat ini tersenyum manis. Zoya bersendekap d**a menunggu apa yang ingin Zeo ucapkan. “Kamu tidak akan menjadi istri saya jika…”
“Jika bukan karena kejadian di gudang, itu kan yang ingin mas ucapkan?” Zoya memotong perkataan suaminya terlebih dulu.
“Zoya nggak peduli apapun yang mas ucapkan. Karena yang terpenting bagi Zoya adalah kita sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.”
“Yang dilakukan pengantin baru adalah menikmati malam zafaf, mas. Jadi, kita nikmati moment itu malam ini juga!” ujar Zoya sembari tersenyum manis
Zoya bicara secara gamblang. Bahkan tidak terbesit rasa malu sedikitpun padahal sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Zoya secara terang-terangan menunjukkan pada Zeo jika ia menyukainya. Senyuman dan tatapan Zoya tidak bisa berbohong.
“Astagfirullah’haladzim.”
“Sabar, Zeo!” ucapnya dalam hati
“Tidak usah mengatur saya! Kita punya kehidupan masing-masing.” ujar Zeo
Setelah mengambil beberapa bajunya Zeo melangkah pergi meninggalkan Zoya. Namun baru beberapa langkah perkataan Zoya berhasil menghentikan langkahnya. “Jadi seperti ini sikap seorang gus yang katanya disegani oleh para santri!?”
Zeo mengepalkan kedua tangannya tanpa berbalik badan. Perkataan Zoya berhasil membuat d**a Zeo bergemuruh menahan amarah. Zoya menghampiri Zeo lalu memeluk suaminya dari belakang. Sontak hal itu membuat Zeo terkejut, bahkan tubuhnya mematung karena pelukan Zoya.
“Kita dinikahkan untuk menghindari fitnah, mas. Jadi tolong jaga sikap Mas Zeo di luar sana.”
“Jika Mas Zeo bermalam di asrama saat malam pengantin kita apa yang akan dikatakan para santri nantinya? Mas nggak mau membuat Abah dan Umi malu kan!?”
Deg
Zeo membenarkan perkataan Zoya. Jika ia tidur di asrama pernikahannya dengan Zoya akan menjadi bahan perbincangan, dan hal itu bisa membuat kedua orang tuanya malu.
Zoya tersenyum karena tidak ada pemberontakan dari Zeo. Ia yakin suaminya mempertimbangkan perkataannya barusan. “Lepas!” ujar Zeo sembari melepas tangan Zoya
Zeo menaruh bajunya kembali lalu berniat tidur di sofa namun dengan cepat Zoya menghalanginya. Zoya merentangkan kedua tangannya di depan Zeo. Ia tahu maksud suaminya itu.
“Mau kemana?” tanya Zoya
“Tidur!”
“Kenapa tidur di sofa?”
“Memangnya kamu mau tidur berdua dengan saya?”
Zoya menganggukkan kepalanya cepat. Justru ia senang bisa tidur berdua bersama suaminya. “Zoya sama sekali tidak keberatan. Nggak ada salahnya juga.”
“Ck, saya tidak akan tidur bersamamu.”
“Kenapa?”
“—“ Zeo bungkam. Ia malas berdebat dengan istrinya.
“Tidur saja bersama Zoya, mas. Bahkan malam ini Zoya sudah siap jika Mas Zeo meminta hak’nya sebagai seorang suami.”
Zeo melepas pelukan Zoya dengan sedikit kasar. Ia berbalik badan menatap istrinya dengan tatapan tajam. d**a Zeo bergemuruh hebat mendengar perkataan Zoya. Bahkan perempuan itu sudah ikhlas menyerahkan dirinya seutuhnya.
“Jangan menjadi perempuan murahan dengan menawarkan tubuhmu padaku, karena aku tidak akan tergoda.” desis Zeo dengan tajam
Deg
Tubuh Zoya mematung mendengar perkataan Zeo. Dadanya terasa sesak, bahkan matanya seketika berkaca-kaca setelah mendengarnya. Perkataan Zeo seperti belati yang telah menyayat hatinya. Sakit, namun tidak berdarah.
“M-mas, Zoya istri Mas Zeo! Apa salahnya jika…”
“SALAH BESAR!”
“SAYA TIDAK MENCINTAIMU, ZOYA. DAN JANGAN BERHARAP APAPUN DENGAN PERNIKAHAN INI.” bentak Zeo
Zeo benar-benar muak dengan Zoya. Setelah membentak istrinya ia keluar kamar meninggalkan Zoya seorang diri. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri. Pernikahan yang begitu mendadak tidak bisa ia terima dengan waktu yang singkat. Ia harus terbiasa sekaligus ikhlas menerima apa yang telah terjadi.
Tetes demi tetes air mata membasahi pipi Zoya ketika Zeo keluar kamar. “Hikss..” isak tangisnya
Perkataan Zeo barusan terus berputar di kepalanya. “Ternyata menikah denganmu tidak seindah yang aku bayangkan, mas.” lirihnya
“Hikss.. sakit!”
Zoya memegang dadanya yang terasa sakit akibat perkataan Zeo. Jika terus seperti ini apakah ia mampu bertahan? “Jahat!”
Buru-buru Zoya menghapus air matanya. Ia tersenyum meskipun hatinya terluka. Ia tidak boleh bersedih, apalagi menangis. Zoya sudah berjanji untuk mengambil hati Zeo. Ia yakin dirinya bisa mengambil hati suaminya.
“Enggak! Kamu nggak boleh cengeng, Zoya.”
“Kamu harus kuat. Untuk saat ini Mas Zeo memang bersikap dingin, bahkan terlihat tidak peduli denganmu. Tapi suatu saat nanti dia akan mencintai kamu dengan tulus.” gumamnya dengan penuh keyakinan
“Iya. Aku harus yakin akan hal itu.”
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika Allah sudah berkehendak maka terjadilah. Allah selalu mengabulkan setiap doa hamba-Nya.
Zoya kembali menunjukkan senyuman manisnya. Ia tidak boleh menyerah hanya karena perkataan pedas dari Zeo. Apapun yang terjadi ia tetap mempertahankan rumah tangganya sesuai janjinya.
“Huhh..”
“Lebih baik sekarang aku istirahat menyiapkan diri menghadapi hari esok.” gumamnya
Thank U All:)