Bab 07

1217 Words
Keesokan harinya Pertama kali menjadi menantu di keluarga ndalem bukanlah hal yang mudah bagi Zoya. Ia harus bisa menyesuaikan diri seperti apa yang diterapkan dalam keluarga suaminya. Pakaian tertutup, bicara dengan nada lembut, adalah suatu hal yang harus Zoya biasakan. “Semalaman Mas Zeo nggak pulang?” gumamnya “Huhh..” Zoya menghela nafas kasar lalu melangkah keluar kamar untuk menemui Ibunya mertuanya. Harum masakan membawa langkah kaki Zoya menuju ke arah dapur. Ia yakin Ibu mertuanya ada di sana. Zoya tersenyum melihat Ibu mertuanya dan beberapa santriwati berada di dapur. Mereka disibukkan dengan bahan masakan. “Umi!” panggilnya Sontak mereka semua menatap ke sumber suara. “Salam dulu, sayang!” tegur Umi Arini dengan suara lembut “Assalamualaikum.” salam Zoya sembari tersenyum canggung “Waalaikumsalam.” “Sini duduk, nak!” “Terima kasih, Umi.” Zoya menatap bahan makanan di sekitarnya dengan tatapan bingung. Ia belum pernah memasak sama sekali. Bahkan ia tidak pernah menyentuh bahan atau peralatan di dapur. “Kamu mau bantu Umi memasak, nak?” tanya Umi Arini “Em..” Zoya menggaruk hidungnya yang tidak gatal “Zoya nggak bisa memasak, Umi.” Bukannya marah Umi Arini justru tersenyum. Beliau memaklumi karena tahu bagaimana Zoya sikap sebelumnya. Rendra dan Shinta banyak cerita mengenai putri mereka sebelum masuk ke pesantren. “Nggak papa, nak. Mau Umi ajarin?” “Boleh, Umi.” Umi Arini memberikan beberapa sayur agar Zoya memotongnya. “Umi contohkan dulu cara memotongnya, ya.” Para santriwati yang melihatnya berdecak kagum dengan sikap Umi Arini, namun ada beberapa yang tidak suka melihat sikap Zoya karena perempuan itu tidak tahu apa-apa. Sikap Umi Arini sosok Ibu mertua yang para perempuan impikan. Mereka merasa Zoya sangat beruntung karena telah menjadi menantu di keluarga ndalem. “Ooh.. jadi seperti ini caranya memotong sayur.” kata Zoya dalam hati “Sepertinya aku harus belajar memasak agar Mas Zeo betah di rumah.” *** Setelah sibuk di dapur akhirnya makanan untuk sarapan sudah siap. Semua makanan sudah tersaji di atas meja makan. “Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga.” ujar Umi Arini “Iya, Umi.” “Zoya, kamu panggil suamimu untuk sarapan, gih! Umi Akan panggil Abah.” “—“ Zoya terdiam. Zoya tidak tahu harus mengatakan apa karena semalaman Zeo tidak pulang. Bahkan ia tidak tahu kemana suaminya berada saat ini. “Zoya!” panggil Umi Arini “Ah.. i-iya, Umi.” “Zoya akan panggil Mas Zeo untuk sarapan.” ucapnya sembari tersenyum kecil Umi Arini mengangguk. Beliau berjalan meninggalkan dapur untuk memanggil suaminya yang masih berada di kamar. Setelah kepergian Ibu mertuanya Zoya terlihat bingung. Ia tidak tidak tahu harus melakukan apa. “Aku harus cari Mas Zeo kemana? Bahkan aku tidak tahu di mana suamiku sekarang.” “Huhh..” Zoya menghela nafas kasar “Apa yang harus aku katakan pada Umi dan Abah nantinya?” “Ck,” “Lebih baik aku mencari Mas Zeo sebelum Umi kembali.” Baru berjalan dua langkah tiba-tiba Zeo muncul entah dari mana. Zeo berjalan menuju ke arah dapur dengan tatapan dingin. “Mas Zeo baru pulang?” “—“ “Sabar!” batin Zoya berucap Zoya harus bisa lebih bersabar menghadapi sikap suaminya yang dingin. Mereka masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal. “Em.. baru aja Zoya mau mencari Mas Zeo.” “Mas Zeo semalaman tidur di asrama?” “—“ Zeo memilih diam. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. “Mas, Zoya sejak tadi tanya jangan diam aja! Mau Zoya cium, ha!?” ucapnya dengan nada kesal “Masih pagi jangan mengajak ribut!” Zoya menganga tidak percaya mendengar jawaban suaminya. Bahkan sejak tadi ia bertanya secara baik-baik, bahkan nada bicaranya terdengar lembut. “Justru mas…” “Zoya, Zeo, ayo kita sarapan, nak!” tiba-tiba Umi Arini datang bersama Abah Edwin membuat Zoya tidak melanjutkan perkataannya. Zoya dan Zeo duduk bersebelahan. Ketika Zeo ingin mengambil makanannya tiba-tiba Zoya mengatakan sesuatu yang membuat tangan Zeo terkapung di udara. “Biar Zoya yang mengambilkan, mas!” Zoya berinisiatif mengambilkan makanan untuk suaminya karena melihat dari perlakuan Umi Arini pada suaminya. Sepertinya ia harus belajar banyak dari Ibu mertuanya cara melayani suami dengan baik. “Nggak usah, biar saya sendiri yang mengambil.” ujar Zeo “Biar Zoya aja, mas!” “Nggak usah!” “Nggak papa. Zoya mau melayani Mas Zeo dengan baik.” Zeo melebarkan matanya mendengar perkataan Zoya. Zoya berbicara tanpa filter di hadapan Ayah dan Ibu mertuanya membuat Zeo malu sendiri. “Nggak perlu! Saya bisa sendiri, Zoya.” “Lepasin tangan kamu dari piring saya!” ujar Zeo dengan penuh penekanan Umi Arini dan Abah Edwin saling menatap. Mereka menahan senyum melihat sikap putra dan menantunya itu. Mereka tidak berniat melerai sedikitpun. Justru Umi Arini merasa bahagia melihat keduanya melakukan interaksi, meskipun karena perdebatan. “Zoya, sayang bilang…” Ting tong Suara bel rumah berbunyi membuat Zeo menghentikan ucapannya. Umi Arini terlihat bingung karena tidak biasanya ada tamu sepagi ini. “Sebentar, ya! Umi mau buka pintu dulu.” “Ck, sini!” Zeo menarik paksa piringnya membuat Zoya cemberut “Susah banget sih menaklukan hati Mas Zeo. Dasar kulkas berjalan.” batin Zoya berucap Di sisi lain, Umi Arini membuka pintu. Ceklek Umi Arini terkejut melihat kedatangan seorang santriwati dengan rantang makanan di tangannya. Untuk pertama kalinya santriwati datang ke rumahnya sepagi ini. “Assalamualaikum. Umi!” salamnya sembari tersenyum “Waalaikumsalam.” “Bella, bukan?” Perempuan itu mengangguk. “Iya, Umi. Saya Bella!” “Ada keperluan apa datang sepagi ini, nak?” “Em.. Bella ke sini mau mengantarkan makanan ini untuk Umi, Abah dan Gus Zeo.” Umi Arini terdiam sejenak. Beliau terlihat bingung sekaligus bertanya-tanya dengan perbuatan Bella saat ini. “Em.. pasti Umi Arini bingung karena tumben Bella kesini, apalagi dengan membawa makanan.” “Bella nggak ada maksud apapun, Umi. Bella murni hanya ingin mengantar makanan ini untuk keluarga ndalem.” Umi Arini mengangguk mengerti. “Nggak papa, nak.” Umi Arini menerima rantang makanan tersebut namun beliau merasa heran karena Bella tidak kunjung pergi dari rumahnya. Sebagai tuan rumah tidak mungkin beliau mengusir Bella. “Apa ada hal lain lagi, nak?” tanya Umi Arini “Em.. maaf, jika lancang, Umi. Apa boleh Bella ikut bergabung makan di sini? Bella merasa kesepian di asrama.” ucapnya sembari tertunduk sedih Deg Umi Arini tidak menyangka Bella akan meminta hal seperti itu. Beliau sama sekali tidak keberatan, namun sekarang kondisi di rumahnya berbeda dari yang sebelumnya. Umi Arini takut Zoya tidak nyaman dengan keberadaan Bella. “Tidak boleh ya, Umi!?” “Kalau gitu biar Bella kembali ke asrama.” “Tunggu, nak!” cegah Umi Arini “Nggak papa. Ayo masuk, kita sarapan sama-sama!” “Apa tidak keberatan, Umi?” Umi Arini tersenyum tipis. “InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja.” Umi Arini mengajak Bella untuk bergabung dengan keluarganya yang lain. Mereka akan sarapan bersama-sama. Tanpa diketahui Umi Arini, Bella tersenyum puas karena rencananya berhasil. Akhirnya ia bisa satu meja makan dengan keluarga ndalem. Bella akan menunjukkan pada Zoya jika dirinya yang pantas menjadi istri dari Zeo. “Aku akan membuat kamu merasa tidak pantas, sekaligus tidak di hargai di sini, Zoya.” “Kamu harus merasakan rasa sakit yang aku rasakan.” batin Bella berucap Thank U All:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD