Zayn mengelus lengan istrinya dengan lembut. Pergerakannya semakin naik lalu menurunkan tali pakaian yang dikenakan Zahira. Namun tiba-tiba Zahira menahan pergelangan tangan suaminya. “Kak…” lirihnya “Kenapa?” “Zahira malu!” cicitnya “Malu kenapa, hm? Lampu kamar sudah saya matikan. Yang tersisa hanya cahaya remang-remang.” Meskipun begitu Zahira tetap merasa malu. Ia belum terbiasa dengan moment sekarang ini. Ternyata ide gilanya membuat Zahira terjebak dalam permainannya sendiri. Seharusnya ia berpikir berulang kali untuk melakukan hal itu. “Tapi…” “Sstt..” Zayn mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Zahira agar istrinya berhenti bicara. “Saya suami kamu jadi wajar jika kita berhubungan. Tidak perlu malu karena saya sudah pernah melihat semuanya, bahkan merasakannya.”

