“Bukannya kamu sudah melupakan Kak Zayn?” ujar Zahira “Melupakan tidak semudah itu, mbak. Apalagi kita setiap hari bertemu. Rasa yang seharusnya dengan mudah pudar justru tumbuh semakin subur.” Zahira menggelengkan kepalanya tidak percaya. Entah makhluk apa yang merasuki adiknya sampai membuat sikap Hasna benar-benar berubah. Ia pikir Hasna sudah menjadi lebih baik, namun ternyata salah. “Ternyata kamu tidak benar-benar berubah Hasna.” Hasna memalingkan wajahnya. Air mata terus menetes membasahi kedua pipinya. Meskipun begitu Zahira tidak merasa kasihan sedikitpun. Tidak ada yang dikasihani dari Hasna. Ia harus bersikap tegas agar Hasna tidak bersikap seenaknya. “Mbak Zahira mana tahu rasanya sakit hati.” “Yang mbak lihat hanya keburukan Hasna, iya kan?” “Astagfirullah’haladz

