1.1 SUDAH MENJADI TAKDIR
Ardian menyeret dan melempar Livia kedalam kamar mandi, "kamu tidak pantas di panggil istri tapi kamu lebih pantas di panggil jalang",sembari Ardian membenamkan wajah Livia kedalam bak mandi yang berisi air,Livia memberontak tapi Ardian tetap menjambak rambut nya dan berulang kali membenamkan wajah Livia kedalam bak mandi sampai Livia merasakan nafasnya tidak ada lagi yang tersisa dan wajah Livia pucat pasi barulah Ardian puas dan meninggalkan livia begitu saja begitulah keseharian Livia di kediaman ARDIAN ALFARO DIANATA dia selalu mendapat siksaan dari Ardian,bukan hanya Ardian tapi ibu nya yaitu Renata ikut menyiksa Livia karena mereka sangat membenci Livia dan keluarga nya yang mengakibatkan Dina lumpuh dan bisu.
Livia sudah menikah dengan Ardian seminggu yang lalu dan karena perjodohan oleh keluarga Livia dengan keluarga Ardian di karenakan keluarga Livia harus tanggung jawab atas peristiwa kecelakaan yang menimpa Dina adik kesayangan Ardian, ayah Livia tidak sengaja menabrak Dina yang membuat Dina lumpuh dan tidak bisa berbica,sungguh malang sekali nasib Livia,dia harus rela menggantikan semua kerugian dengan dirinya menikah dengan Ardian karena mereka sangat miskin dan tidak punya uang untuk menebus biaya pengobatan Dina.
Livia berdiri dari lantai kamar mandi dia tidak menangis karena dia sudah terbiasa akan pentiksaan suaminya.
Ardian sudah berangkat ke kantor nya karena Ardian bekerja di perusahaan keluarga nya yaitu PT DINATA,keseharian Livia di rumah seperti pembantu bukan hanya itu Livia juga harus merawat Dina apapun yang di perlukan Dina Livia lah yang mengurus.
setelah selesai mengurus Dina dia pun pergi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan rumah tapi Livia termenung dan duduk di kursi meja makan, "kapan semua ini akan berakhir ya Tuhan" kala mengingat perlakuan keluarga Dinata,hanya ayah mertua nya saja yang tidak memperlakukan Livia dengan kasar walaupun Dinata bersikap dingin terhadap Livia.
tiba-tiba Renata ibu mertua Livia datang dan menjambak rambut Livia " hey kamu enak sekali hidup mu, kamu berada disini hanya sebagai babu tau gak!!, di mana mata mu piring masih berserak kamu enak-enakan duduk disini!!" lalu Renata menampar Livia hingga tersungkur ke lantai dan Livia pun merangkak mendekap kaki Renata, "maaf bu Livia hanya ingin istirahat sebentar"
"enak saja kamu dengan mudah berkata maaf dan kamu sama seperti seluruh keluarga mu yang hanya bisa berkata maaf..!!,apa dengan kata maaf anak saya Dina bisa kembali seperti dulu haa..!!"
Renata menendang Livia dan mecubit kuat kaki dan tangan Livia sampai membiru, " ampun bu sakit.. jangan bu.."
Livia pun merintih kesakitan dan air matanya pun tak bisa di tahan lagi,
" Diam kamu..!! jangan panggil aku ibu mu karena kamu hanya pembantu di sini bukan sebagai menantu,seharus nya kamu harus tau diri..!!
Dinata pulang dari kantor karena ada perlu untuk mengambil berkas yang tertinggal dan saat memasuki rumah dia melihat istri nya sedang menyiksa menantu nya lalu segera memapah Livia untuk berdiri, "apa-apaan ini Ma,mama tidak seharusnya bersikap seperti ini ke Livia,dia kan sudah menebus kesalahannya dengan mengurus Dina dan menikah dengan anak kita Ardian itu pun kan mama yang minta", " Bela terus menantu kesayangan papa itu,ingat Pa kalo bukan karena ayah Livia putri kita tidak akan mengalami penderitaan sepahit ini,Dia seharus ny masih menjalani hidup nya dengan bahagia".
Renata pun menagis kala mengingat senyum putri nya yang cantik itu, "Sudah lah Ma ini sudah takdir kita harus terima keadaan ini dan kejadian ini juga Papa tidak mau lagi melihatnya..!"
Renata tidak bisa terima dengan pembelaan suaminya sendiri dengan Livia,Renata langsung pergi dari tempat itu sambil ter isak-isak.
"Ma tunggu jangan begitu" ,Dinata pun pergi menyusul istrinya itu hanya tinggal Livia yang menahan rasa sakit yang di derita nya.