Sebuah Harapan

1715 Words

Hingga kini aku belum mendapatkan jawaban atas pernyataan cintaku maupun ajakanku untuk berpacaran. Ansell tak mengatakan apa pun, tapi dia kini mengajakku ke sebuah restoran. “Aku akan memberikan jawabannya nanti setelah kita makan siang bersama. Kenapa diam? Kau mau kan menemaniku makan bersama di restoran?” Sudah dua kali Ansell bertanya demikian padaku dan aku belum memberikan jawaban apa pun. Aku bingung dan kupikir harus bertanya dulu pada Myesha untuk masalah ini. “Hello, kenapa malah diam? Aku sedang bertanya loh.” Ansell mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, mungkin karena aku tak kunjung menjawab dan aku tertangkap basah sedang melamun. “Hm, aku ke toilet sebentar, ya. Setelah itu, baru aku akan memberikan jawaban untuk ajakanmu ini.” “Ck, kenapa tidak dijawab sek

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD