Misi Balas Dendam Dimulai

1506 Words
Entah ke mana Myesha akan membawaku pergi, hanya saja pagi-pagi sekali dia sudah datang ke kamarku. Lalu menarik tanganku agar ikut pergi bersamanya tanpa dia memberitahukan ke mana tempat tujuan kami. Walau aku bertanya, tetap saja dia tak memberitahukan tempat tujuan kami, dia malah membentakku, membuatku seketika mengatupkan mulut karena tak ingin berdebat dengannya. Kini aku dan Myesha sedang berjalan menuju pintu keluar, sebentar lagi kami akan meninggalkan rumah. “Ashley! Myesha!” Hingga sebuah suara tiba-tiba terdengar, spontan aku dan Myesha menoleh ke arah sumber suara, pada Lex yang baru saja muncul. “Kalian mau pergi ke mana?” tanya Lex seraya menatap heran pada tanganku yang masih dipegang erat Myesha karena dia benar-benar tak membiarkan aku pergi. Myesha mengulas senyum ramah, jenis senyuman yang jelas-jelas terlihat hanyalah senyuman palsu, tapi sepertinya Lex tidak menyadarinya dan percaya Myesha tulus memberikan senyuman untuknya. “Aku akan membawa Ashley keluar,” sahut Myesha. “Keluar? Ke mana kau akan membawa Ashley?” “Jalan-jalan sebentar. Aku akan menemaninya membeli pakaian dan kebutuhannya yang lain.” Satu alis Lex terangkat, mungkin dia heran dengan sikap Myesha yang tiba-tiba baik dan peduli padaku. Sedangkan aku rasanya ingin muntah mendengar ucapan wanita licik itu karena tahu persis dia sedang berbohong. Mana mungkin dia akan membelikan aku pakaian atau kebutuhanku yang lain. “Kau akan menemani Ashley membeli pakaian? Apa kau serius?” tanya Lex yang sepertinya tak mempercayai sepenuhnya ucapan Myesha tadi. Tanpa ragu Myesha mengangguk. “Tentu saja. Memangnya kenapa, Lex? Kau tidak percaya?” “Hanya heran, biasanya kau melarang Ashley ikut jika kita bepergian, tapi kenapa sekarang kau justru mengajaknya?” “Karena saat itu aku ingin pergi berdua denganmu, tapi setelah aku pikir-pikir kasihan Ashley.” Rasanya ingin kutepis tangan Myesha yang kini sedang mengusap rambut panjangku seolah dia memang benar peduli padaku. Namun, aku mencoba menahan diri, tak ingin mencari gara-gara yang akan membuat Myesha mengubah pemikirannya mengizinkan aku menggantikan Lex untuk melancarkan balas dendam pada musuh Myesha dan Arsen. “Dia tidak memiliki pakaian, jadi aku akan membelikannya.” “Tapi aku sudah membelikan Ashley beberapa pakaian waktu itu.” Tatapan Lex kini tertuju padaku. “Benar, kan, Ash?” Aku menanggapi dengan anggukan karena seperti yang dikatakan Lex, dia memang pernah memberiku beberapa pakaian yang sengaja dia belikan untukku. “Kau baru membelikannya sedikit, kan? Mana mungkin Ashley memakai pakaian yang itu-itu terus, dia juga harus punya banyak pakaian ganti karena itu biar aku yang membelikannya.” “Kau baik sekali Myesha,” ujar Lex seraya tersenyum. Sepertinya dia mulai mempercayai mentah-mentah sandiwara Myesha. “Apa selama ini kau berpikir aku ini jahat?” Dengan cepat Lex menggelengkan kepala. “Tentu saja tidak. Hanya saja aku sempat berpikir kau tidak menyukai Ashley.” “Hah? Bisa-bisanya kau berpikir begitu. Tentu saja tidak, Ashley itu sahabatmu artinya dia juga sahabatku.” Jika boleh jujur aku ingin tertawa lantang sekarang, di saat bersamaan rasanya ingin muntah mendengar betapa pandai Myesha berbohong seperti itu. “Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya. Terima kasih Myesha.” Lex tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya padaku, lalu dia mendekati Lex dan menggelayut manja di lengannya, membuatku jengkel setengah mati melihatnya. Aku tahu dia sengaja bermanja-manja seperti itu pada Lex di depanku untuk memanas-manasiku. “Apa pun untukmu, Sayang. Aku tahu kau sangat menyayangi Ashley karena kau sudah menganggapnya seperti saudaramu sendiri. Aku juga akan menyayangi Ashley sepertimu mulai sekarang.” Lex mengangguk, eskpresi wajahnya terlihat sumringah. “Ya, aku harap kalian berdua bisa saling menyayangi.” Lalu tatapan Lex beralih padaku. “Ash, kau juga harus menyayangi Myesha mulai sekarang.” Namun, aku tak memberikan jawaban apa pun, aku membuang muka ke arah lain, ke mana saja asalkan tidak melihat kemesraan mereka berdua. “Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Lex.” Myesha akhirnya berpamitan. “Aku akan mengantar kalian.” “Eh, jangan.” Myesha terlihat panik, dengan cepat dia melarang Lex yang ingin menemani kami pergi. “Kenapa tidak boleh?” “Ini urusan wanita. Aku akan mengajak Ashley membeli barang-barang khusus wanita yang tidak boleh diketahui para pria sepertimu.” Kening Lex mengernyit dalam. “Memangnya ada benda seperti itu?” tanyanya bingung. “Hahaha, pertanyaanmu lucu sekali. Tentu saja ada. Barang-barang yang dibeli khusus oleh wanita seperti kami. Jadi kau tidak bisa ikut.” “Tapi aku khawatir kalau kalian hanya pergi berdua.” Lex bersi keras dan sebenarnya aku senang mendengar hal ini, berharap Lex akan ikut dengan kami agar Myesha tak bertindak macam-macam padaku. Hanya saja aku tahu tak bisa meminta Lex untuk ikut atau dia akan terlibat dengan misi balas dendam ini. “Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Ashley dengan baik.” “Aku juga khawatir padamu, Myesha. Aku takut kau diganggu lagi oleh orang-orang jahat yang pernah mengganggumu dulu itu.” Mendengar pembicaraan mereka berdua, kusimpulkan Lex pernah bertemu dengan Agnes, teman kuliah Myesha yang katanya sangat jahat padanya. Salah satu bagian dari keluarga Mikelson yang begitu ingin Myesha dan Arsen hancurkan. “Tenang saja. Aku tidak akan bertemu dengan mereka karena aku tidak akan membawa Ashley ke kampus. Kau tenang saja, ya. Kami pasti baik-baik saja.” “Tapi …” “Lagi pula Kak Arsen tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah. Ashley ikut denganku artinya tidak ada yang menjaga dan melayani Kak Arsen. Tolong kau gantian Ashley menjaga kakakku, ya. Kau mau kan, Lex?” Lex tak bereaksi apa pun, raut wajahnya terlihat enggan membiarkan kami hanya pergi berdua. “Ayolah aku mohon padamu, tolong jaga kakakku,” pinta Myesha seraya menangkupkan kedua tangannya di depan d**a, hingga akhirnya Lex pun menghela napas panjang, sepertinya dia menyerah dan memilih menuruti keinginan wanita licik itu. “Ya, baiklah kalau begitu. Jaga diri kalian baik-baik.” Myesha girang bukan main, dia bahkan dengan berani mengecup salah satu pipi Lex di depanku, sungguh hatiku panas bagaikan terbakar api cemburu saat ini. “Ya sudah, kami berangkat dulu. Daah Sayang, sampai jumpa lagi.” Dengan manja Myesha melambaikan tangannya pada Lex, sedangkan aku hanya menatap Lex penuh makna. Entah dia menyadarinya atau tidak, yang jelas tatapanku ini menyiratkan bahwa aku sedang meminta Lex untuk menghentikan Myesha, dan agar Lex membawaku pergi secepatnya dari tempat ini. Sungguh jika disuruh memilih rasanya aku ingin kembali ke Atlantis sekarang juga. Namun, keinginanku hanya tinggal harapan ketika Lex tidak mengatakan apa pun hingga akhirnya aku dan Myesha kembali melanjutkan langkah dan pergi meninggalkan rumah. Sekarang aku hanya bisa pasrah mengikuti ke mana pun Myesha mengajakku pergi. *** Awalnya aku pikir Myesha berbohong saat mengatakan akan membelikan aku pakaian di depan Lex, tapi ternyata dugaanku salah karena dia benar-benar membawaku ke pusat perbelanjaan. Dia memilihkan aku beberapa pakaian yang menurutnya cocok untuk aku kenakan. Bahkan setelah dia membayar beberapa pakaian yang sudah dia belikan untukku, aku diminta mengganti pakaianku. Kini kami sedang berada di suatu tempat, Myesha bilang kami sedang berada di sebuah tempat bernama salon kecantikan. Aku diminta duduk di sebuah kursi dan seorang pria kini sedang memoles wajahku, merias wajahku dengan benda-benda bernama make up, rambut panjangku juga ikut diubah oleh pria itu. Rambutku yang semula mencapai punggung dipotong hingga mencapai bahu, lalu pria itu juga menatanya dengan membuat ujung rambutku bergelombang sedangkan lurus di bagian atas. “Selesai,” ujar pria itu girang. “Bagaimana Myesha? Apa kau puas dengan hasilnya? Temanmu ini sekarang terlihat semakin cantik, bukan? Ya, walau tanpa riasan pun dia tetap cantik dan mempesona.” Pria itu mengedipkan sebelah matanya padaku di akhir ucapannya. “Huh, ya hasilnya lumayan. Terima kasih ya,” sahut Myesha terlihat tak senang mendengar pria itu memujiku cantik. “Ayo, Ashley, kita pergi.” Dan aku kembali menurut, aku bangkit berdiri dari duduk. Sebelum kulangkahkan kaki, sekilas aku menatap pantulan diriku di cermin, aku merasa penampilanku sangat berbeda dibandingkan aku yang biasa. Apalagi karena pakaian yang kukenakan ini terlalu terbuka menurutku. Rok di bagian bawah hanya sebatas paha, sedangkan bagian atasnya memperlihatkan dengan jelas belahan dadaku, sungguh aku tak nyaman mengenakan pakaian ini. Namun, aku tak berkomentar apa pun karena aku tahu hasilnya akan sia-sia, Myesha tak mungkin menggubrisnya. Selain itu, aku sudah terikat janji akan menuruti apa pun yang dia perintahkan. Karena itu aku hanya diam menurut, bahkan saat dia menyuruhku menaiki mobil yang dia kendarai. “Apa sekarang kita akan pulang ke rumah?” tanyaku penasaran karena lagi-lagi Myesha tak memberitahukan tempat tujuan kami. Myesha menggelengkan kepala. “Belum saatnya kita pulang. Kita akan mendatangi tempat lain.” “Memangnya kita akan pergi ke mana?” Myesha mendengus, tatapannya tetap fokus ke depan, pada jalanan. “Huh, jangan banyak bertanya. Nanti juga kau akan tahu.” Karena dia sudah berkata demikian, aku pun memilih diam, tak bersuara lagi. Hingga tak lama kemudian mobil yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah gedung. “Tempat apa ini, Myesha? Kenapa kau membawaku ke sini?” Mendengar pertanyaanku ini Myesha menyeringai lebar. “Di tempat inilah kau akan bertemu dengan target pertamamu. Bersiaplah, Ashley, karena misi balas dendam yang harus kau lakukan dimulai sekarang.” Aku hanya bisa meneguk ludah mendengar apa yang aku takutkan sebentar lagi akan segera terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD