"Maafkan aku, maaf." Kata itu diucapkan berulang-ulang dengan nada ketakutan. Badan Asteria semakin gemetar. Suaranya tercekat seperti orang yang menahan tangis. "Hei, ada apa denganmu?" Indra tidak senang melihatnya. Dia mencengkeram bahu Asteria dan mengguncangkannya. Asteria mundur mencoba melepaskan diri. Dia bahkan melompat dari kursi. Gerakan spontan itu membuat benda-benda di atas meja Asteria berjatuhan. Asteria jatuh terduduk dengan semua benda alat tulis di sekitarnya. "Tenanglah." Asteria masih juga terus meminta maaf dan memohon agar dia tidak disakiti. Dia bahkan berlutut dengan mata penuh air mata. Indra semakin tidak nyaman. Jika ada orang yang melihat ini, mereka bisa salah paham. "Berhentilah meminta maaf dan pulanglah!" Suara Indra yang keras mengagetkan Asteria.

