Part 5

3209 Words
Asteria sudah duduk menunggu selama satu jam. Ini hari pertamanya bekerja dan dia harus mengurus administrasi dulu dengan HRD. Dia datang terlalu pagi sepertinya jadi kantor masih sepi. Beberapa orang melewati tempatnya menunggu dan itu membuatnya gugup. "Ah Mba Asteria sudah datang." Suara wanita menyapanya. Asteria buru-buru berdiri untuk memberi salam. Wanita itu adalah Bu Siska, orang yang mewawancarainya kemarin. "Pagi Bu." "Tunggu sebentar ya." Asteria kembali duduk. Wanita itu masuk ke pintu kaca dengan memindai ID card-nya. Tempat itu kembali sepi. Asteria memainkan pulpen di tangannya. Semakin lama menunggu membuatnya menjadi tidak tenang. Sekitar sepuluh menit kemudian Bu Siska memanggilnya masuk. "Oke, foto dulu ya buat ID card" Asteria menuruti arahan Bu Siska yang memintanya berdiri di satu tembok polos. "Gak usah tegang, rileks saja, senyum." Setelah mendapat foto yang menurutnya bagus, Bu Siska menyuruhnya duduk. Dia membuka meja dan mengeluarkan satu set dokumen lalu memberikannya pada Asteria. "Sambil nunggu bikin ID-nya kamu bisa baca ini dulu. Set pertama itu peraturan perusahaan, set kedua itu data diri kamu tolong diisi yang lengkap, yang terakhir baru kontrak. Silakan kamu baca dulu terus paraf di masing-masing halaman atau di tandatangan sesuai permintaan di situ. Nanti kalau bingung bisa tanya saya." "Oke, Bu." Bu Siska mengarahkan Asteria untuk ke ruang lain untuk dia membaca. Dari isi ruangan itu kelihatannya ruang meeting dari meja dan layar proyektornya. Bu Siska kemudian pamit untuk pergi ke bagian security. Asteria membaca dengan teliti semua dokumen itu. Set pertama tidak ada yang aneh tentang kebijakan privasi perusahaan, keamanan dan konfidensial. Set kedua harus diisi tentang data diri, keluarga yang bisa dihubungi, riwayat penyakit. Asteria sedikit ragu saat melihat kolom riwayat penyakit. Dia selalu mengosongkannya. Tapi setelah dua kali bekerja, ada satu hal yang membuatnya merasa itu menjadi riwayat penyakit baru yang cukup menyulitkannya. Dia menimbang apa baik-buruk dia menulis riwayat itu. Akhirnya dia tidak menuliskannya. Set terakhir adalah kontrak. Dalam kontrak tertulis masa kontraknya adalah enam bulan. Penjelasan lain tentang lembur, insentif serta hak dan kewajiban perusahaan dan pekerja kontrak tertulis jelas di sana. Hanya satu yang tidak tertulis, nominal gaji. Pada dua kantor sebelumnya nominal gaji ditulis, atau paling tidak ada kata seperti gaji sesuai UMR daerah. Memangnya berapa gaji seorang sekretaris? Dia tidak tahu. Bu Siska datang kembali untuk memeriksa. Dia masuk ke ruang tempat Asteria membaca. "Bagaimana ada yang mau ditanyakan?" "Ada beberapa sih Bu, untuk kontrak, kalau sudah selesai apa ada kemungkinan untuk meminta perpanjangan tidak?" "Untuk kontrak kita di sini lihat dari performa. Jadi kalau nanti mba performanya bagus selama enam bulan, nanti bisa diperpanjang atau pengajuan menjadi karyawan tetap. Biasanya sih kalau di sini untuk pengajuan jadi karyawan tetap itu kalau sudah satu tahun bekerja. Bisa mbanya yang minta, tapi nanti tetap kita diskusikan dulu ke atasannya mba juga." "Kalau masalah cuti atau izin gitu mba? Selama enam bulan ini apa belum bisa izin atau bagaimana?" "Kita cuti ada dua jenis, satu paid leave, jadi mba cuti tetap di bayar. Itu jatahnya 12 kalau sudah satu tahun bekerja. Tapi karena mba cuma 6 bulan, jadi cuma dapat enam. Terus ada unpaid leave, cuti ga di bayar totalnya 4. Tapi ketentuannya tiga bulan bekerja dulu baru bisa ambil cuti. Kalau izin sakit bisa, tapi harus ada surat dokternya. Nanti bisa diupload di sistem sama diserahin ke kita pas rekap absen." Asteria mengangguk mengerti. Hampir semua perusahaan menggunakan sistem seperti ini. Dia cukup familiar. "Absennya bagaimana?" "Absensi kita sistemnya pakai sidik jari. Absen buat masuk sama absen keluar. Tapi mesti nunggu ID dulu jadi baru bisa rekam." Bu Siska menjeda. "Biasanya yang ditanyain orang-orang masalah lembur." Oh tentu saja, Asteria penasaran, tapi tidak berani bertanya. "Lembur hitungannya perjam dari selesai jam kantor kamu. Jam kerja kita itu delapan jam plus istirahat satu jam. Kalau di sini jam masuknya bermacam-macam ada yang jam tujuh, ada yang jam delapan, ada yang siang juga, ada yang malam bahkan. Jadi misal masuk jam tujuh, berarti kan pulang jam empat, nah pas masuk jam lima kamu masih ada kerjaan kamu bisa kehitung lembur. Tapi kalau kamu selesai kurang dari jam lima, misal jam lima kurang lima aja kamu gak bisa dihitung lembur. Terus nanti kamu isi formulir lembur dan harus ditandatangani atasan, baru kasih ke HRD. Oh iya kita gajian kan tanggal 25, jadi hari terakhir buat rekap itu tanggal 10 setiap bulannya." "Rekap lembur masih manual ya? Tidak otomatis dari sidik jari?" "Harusnya sih iya. Tapi di sini banyak yang suka lupa absen keluar. Takutnya ada yang ternyata sudah pulang dari jam berapa, terus dia absen keluar beberapa jam setelahnya dan malah dihitung lembur, padahal dia enggak lembur, kan yang lain rugi. Jadi makanya lembur kita tetap pakai formulir dan tandatangan atasan. Ada lagi?" "Tidak Bu" Asteria membubuhkan tandatangannya di kontrak. Bu Siska melihat dengan senyum kecil. Sebenarnya dia menunggu Asteria menanyakan masalah gaji dan sudah memancingnya. Tapi anak ini tidak menyinggung sama sekali. "Permisi." Seorang laki-laki berumur masuk. Bu Siska segera berdiri. "Ah Pak Jaret. Tumben Bapak yang ke sini." "Oh iya dong, kali-kali saya yang jalan." Orang yang di panggil Pak Jaret itu menyerahkan satu buah kartu ke Bu Siska. Bu Siska segera mengenalkan Asteria pada Pak Jaret. "Mba Asteria, kenalkan ini Pak Jaret. Kepala security di sini. Pak, ini Mba Asteria yang jadi sekretaris barunya Mister Chandra." "Oh, iya. Nanti kalau ada yang ganggu atau apa, jangan sungkan bilang ke saya. Nanti saya tangani" "Iya, Pak." "Ayo, sini rekam sidik jari dulu." *** Selesai dari ruang HRD, Asteria langsung menuju lantai lima. Keluar dari lift ada sebuah meja khusus security. Tidak jauh dari sana ada meja dan sofa-sofa yang di susun sedemikian rupa di dekat tangga. Ada juga yang disusun dengan latar jendela kaca besar mengarah keluar. Sisi-sisinya dihiasi tanaman untuk mengisi ruang. Tempat sederhana untuk tamu menunggu atau sekedar melakukan rapat kecil. Security menghentikannya untuk menanyakan keperluan. Dia menjelaskan baru diterima sebagai karyawan sambil menunjukkan ID card barunya. Melihat namanya, security segera mengantarnya ke ruang CEO. "Permisi Mister, ada karyawan baru atas nama Asteria." "Oh iya Pak, silakan disuruh masuk saja." Selesai mengantar, security itu meninggalkannya. Mister Chandra berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Asteria. Dia dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Pagi Mba Asteria, sudah siap bekerja di sini." "Siap Mister." Siap tidak siap dia harus siap bukan. Mister Chandra menyuruhnya untuk mengikuti. "Nanti meja kamu di sini. Laptop kamu lagi diambil sama supir saya. Tapi harus di program dulu." Dia menunjuk meja yang letaknya tepat di samping pintu. "Terus meja itu biasanya buat tempat naruh dokumen yang mau masuk ke ruangan saya. " Mister Chandra berjalan ke dekat pintu ruangannya. "Sebelum ditaruh di meja saya, saya ingin kamu data dulu. Judul, tanggal masuk, nama PICnya siapa. Nanti kalau sudah keluar dari ruangan saya, sudah saya tandatangan, kamu registrasi terus di data, bukunya yang itu. Kalau ada revisi, nanti kamu tumpuk saja dulu biar siang OB atau Pak End yang ngambil." Seorang pria paruh baya bertubuh gempal datang dengan tentengan di tangan. Dia memberi hormat pada Mister Chandra sambil menyodorkan tentengan itu. Dari ukurannya bisa diketahui itu laptop. "Kenalin ini Pak Kul, driver saya. Pak, ini sekretaris baru saya namanya Asteria. Nanti yang komunikasi ke depan bisa dari saya atau Mba Asteria." "Salam kenal mba." "Salam kenal juga Pak." Pak Kul izin kembali ke mobil. Tidak lama orang lain masuk. Seorang laki-laki muda dengan kaos polo. Laki-laki itu memberi hormat. Dia langsung membuka laptopnya sambil membuka laptop baru yang dibawa Pak Kul. "Tumben kamu yang ke sini." "Kemarin kan Mister yang komunikasi sama saya. Nanti kalau dikasih ke orang takut salah. Entar Mister juga yang marah ke saya." Mister Chandra tertawa menanggapi. "Kenalkan ini namanya Mas Miko. Dia Kepala IT di sini. Kelihatannya saja kayak anak kuliahan, tapi umurnya udah tiga puluh." ujar Mister Chandra mengenalkan. "Mister kalau kenalin saya ke cewek, yang bagus-bagus dong. Gak usah di sebut umur saya." Mas Miko bergurau, tapi matanya sambil fokus ke layar laptop di depannya. Dia juga tidak tersenyum. Asteria diam saja sambil tersenyum tidak tahu harus menanggapi apa. "Ini agak lama, kemungkinan dua jam buat install program." "Kalau begitu saya tinggal dulu. Gak apa-apa kan ya?" "Ga apa-apa tinggal saja. Lama soalnya Mister." "Ayo Mba." Mister Chandra mengajak Asteria keluar. "Kita keliling-keliling kantor dulu. Sekalian kamu kenalan sama orang-orang di sini." Mereka berjalan di koridor. Asteria berjalan di belakang Mister Chandra. Mister Chandra merasa tidak nyaman untuk menjelaskan dengan posisi ini, jadi dia menarik Asteria untuk berjalan di sampingnya. "Kamu sudah tahu Diamond Corp itu perusahaan dalam bidang apa?" "Perusahaan Diamond Corp bergerak dalam bidang jasa penyewaan pesawat jet pribadi." jawab Asteria cepat. "Tidak hanya pesawat jet, perusahaan ini juga menyewakan helicopter, kapal pesiar, yacth, pokoknya fasilitas yang disukai kaum elit. Tidak hanya itu, kita juga ada travel agen sama fasilitas sewa gedung untuk pernikahan atau pesta." jelas Mister Chandra. "Di lantai lima ini, cuma ada dua ruangan. Ruang CEO sama Ruang COO. Nanti saya kenalin sama COO perusahaan ini, dia tadi masih di jalan katanya." Mister Chandra menekan tombol lift. "Kita ke lantai atas dulu." Mereka ke lantai delapan. "Gedung ini totalnya ada sepuluh lantai. Lantai sepuluh itu bar sama restoran rooftop, biasanya dibuka kalau ada acara khusus. Lantai sembilan ada kantin sama tempat parkir. Yang ini lantai delapan tempat tim security. Jadi kayak pengaturan CCTV, penugasan security, terus kalau ada masalah sama ID, atau kehilangan bisa ke sini." Mereka masuk ke ruangan dan disuguhkan dengan banyak sekali layar Cctv yang terpasang dengan pengawasnya masing-masing. Mister Chandra menghampiri seseorang. "Pak Jaret ini..." "Mba Asteria kan? Tadi pagi sudah ketemu saya." Asteria mengangguk salam. "Good, aman gak ada masalah?" kata Mister Chandra berbasa-basi. "Aman Mister, belum ada yang aneh-aneh lagi." Pak Jaret menengok ke arah timnya yang sedang ada di ruang itu. "Semuanya kenalkan. Mba cantik ini namanya Asteria, dia sekretaris baru Mister Chandra. Jangan pada digangguin loh ya." Semua laki-laki yang sedang berada di ruang itu menyapanya membuat Asteria malu. Pak Jaret ini ternyata orang yang suka bercanda. Mister Chandra cukup peka untuk tidak berlama-lama di situ dan segera mengajaknya ke ruang selanjutnya. "Lantai tujuh ada dua tim. Tim IT sama tim Fasilitas gedung." Mereka masuk ke ruang tim IT lebih dulu. Ruang IT tidak seluas ruangan tim security. Entah kenapa warna hijau terlihat mendominasi dekorasi ruangan ini. Ada lebih sedikit orang di dalam. "Kalau di sini kepalanya Mas Miko yang tadi. Yang enak dari ruangan ini ada sebelah sini." Mister Chandra mengajaknya ke tempat dengan kaca-kaca besar. Ada beberapa kubik kecil dan sofa-sofa panjang tanpa meja. Ada juga kubik yang memiliki tirai. "Ini tempat tidur anak-anak IT. Mereka kadang shift sampai malam, jadi kita sediakan tempat tidur. Jadi mereka bisa tidur siang." Mendengar penjelasan itu Asteria merasa takjub. Dia bahkan disuruh mencoba sofa. Sofa itu sangat empuk dan cocok untuk dijadikan tempat tidur. "Ini tim fasilitas. Misalnya ada masalah lampu mati, AC bermasalah pokoknya fasilitas gedung nanti telpon ke sini. Terus kalau mau pinjam alat buat teleconference atau proyektor juga ke sini." Selanjutnya mereka ke lantai enam. "Di sini ada tim pemasaran sama legal dokumen." Mereka masuk ke pintu pertama dan langsung di sambut oleh seorang ibu-ibu. "Kenalkan Bu Pipit, ini kepala tim legal dokumen. Urusan kontrak dengan pihak luar sama beliau. Bu ini sekretaris baru saya. Nanti mungkin banyak kontak sama ibu." Mereka tidak lama di ruang itu karena Bu Pipit juga terlihat sibuk. Jadi mereka meneruskan ke ruang selanjutnya. Ruangan kali ini penuh dengan nuansa warna biru dan pastel yang lembut. Sekelompok orang sedang berkumpul di satu meja sambil berbincang ringan. Seorang wanita segera menghampiri Mister Chandra begitu melihatnya masuk. "Ini tim pemasaran. Pak Fahmi sudah datang?" "Masih rapat di luar Mister." jawab wanita itu cepat. "Dengan siapa? Pak Joko lagi." "Bukan kok Mister, tenang saja." "Oh iya kenalkan ini namanya Mba Asteria sekretaris saya. Dan ini Mba Monik, dia tukang tagih duit klien." "Mister, jangan jelek-jelekin saya dong." Candanya. "Mau donat?" Ternyata mereka kumpul di satu meja karena ada donat. Mba Monik segera membawa satu kotak yang belum disentuh. Terdapat enam jenis donat dengan wujud yang lucu. "Aku tahu Mister pasti cari yang lucu-lucu. Ayo Mister pilih aja." Mister Chandra terlihat berpikir saat memilih donat lucu itu. Dia memilih satu dengan gambar wajah burung hantu yang lucu. "Aduh sayang ini kalau dimakan." Komentarnya. "Ayo Mba juga pilih." "Sa.. saya tidak usah." "Ga apa-apa kok mba. Anggap saja ini salam perkenalan." Asteria masih ingin menolak. Tapi Mister Chandra segera mengambil satu dan menaruhnya ditangannya. Asteria bingung, tapi Mister Chandra segera memalingkan muka dengan memakan donat lucu miliknya. "Makasih ya Mba Monik. Nanti kalau Pak Fahmi sudah kembali suruh ke ruangan saya ya." "Siap!" Mereka keluar dari ruangan pemasaran. Saat berjalan di lorong, Mister Chandra mulai berbicara. "Kamu kalau ada yang nawarin makanan di sini, ga apa-apa terima aja. Ga usah khawatir, ga bakal di racun kok. Kecuali kalau orang yang ga kenal sama sekali, bukan orang kantor ya jangan." Asteria ingin ngebatin. Dia kan tidak kenal sama sekali dengan Mba Monik. Makanya tadi dia sungkan untuk menerima. Bagaimana kalau itu buat orang lain? Bagaimana jika belum semuanya kebagian? Kan dia jadi tidak enak. "Nanti saya kenalin kamu ke Pak Fahmi. Dia biasa jadi tangan kanan saya, selain Pak End. Cepat habiskan, kita lanjut ke lantai lain." Mereka ke lantai empat. Ke ruang Finance. Ruang Finance kecil. Hanya ada empat orang di sana. "Ini Pak Hao penanggungjawabnya. Ini sekretaris saya, suatu saat mungkin saya akan ngirim dia ke sini untuk ngambil uang atau apa, jangan ditolak ya Pak." "Siap Mister." Mereka tidak lama-lama di sana karena tidak ada yang perlu diperlihatkan. Selanjutnya ke ruangan yang sudah diketahui oleh Asteria, ruang HRD. Suara tawa terdengar dari ruangan itu. Di sana ada tiga orang terlihat sedang berbincang sesuatu. "Kalau di sini sudah tahu ya." Asteria mengangguk singkat. "Eh, ada orang baru ya." Seorang laki-laki berwajah kaukasian mendekati mereka. Senyumnya lebar sekali dan dia menebarkan aura yang sangat cerah. Laki-laki itu merangkul Mister Chandra. "Siapa ini?" "Ini.. sekretaris baru saya, namanya Asteria." "Salam kenal, saya Endymion. Orang paling ganteng di kantor ini." Mister Chandra mencubit pinggang temannya. Endymion meringis sakit. Dia langsung memukul punggung Mister Chandra untuk membalas. "Ini orang kurang ajar yang suka mukul saya di sini." ujarnya dengan senyum seram. "Dia yang dari tadi saya sebut Pak End. COO kantor ini. Semua aktivitas kantor diawasi olehnya. Kecuali kamu ya, kamu sama saya saja. Tapi misalnya nanti gaji kamu belum turun atau mungkin kurang, kamu protes saja ke dia." "Dan misalnya ini, Tuan CEO tampan kita ngebully kamu. Lapor saja ke saya biar saya yang ngasih pelajaran ke dia." sahut Endymion. Kali ini Mister Chandra menginjak kaki Endymion. "Hei, ini baru disemir! Oke kalau kamu begitu, Capuccinonya buat aku saja." "Enak saja, sini berikan." Mister Chandra buru-buru menahan tangan Endymion yang ingin mengambil Capuccino pesanannya. "Mohon maklum ya, atasanmu memang seperti itu kalau sama Pak End." Ujar Bu Siska sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Ini untukmu nona." Pak Endymion memberi sebuah cup Starbucks berisi minuman berwarna merah dengan whipcream di atasnya. "Red Velvet, sebagai salam perkenalan." ujarnya ditambah kedipan sebelah mata. "Te..terima kasih Pak." Asteria menerima itu dengan tangan gemetar. Refleks kakinya mundur satu langkah ke belakang. Dia juga menundukkan wajah tidak berani menatap. "Oke, sudah cukup. Ayo!" Mister Chandra membuat gestur dengan kepala untuk mengikutinya. Asteria membungkuk sedikit untuk memberi salam sebelum keluar. Endymion melambaikan tangan membalas. *** Asteria selesai berkeliling dengan Mister Chandra. Dia diajak ke lantai tiga tempat ruang rapat kecil dan lantai dua untuk auditorium besar. Asteria harus mengingat jika ingin menggunakan ruang rapat, dia harus konfirmasi dulu ke tim fasilitas mengenai ketersediaannya. Mister Chandra tidak bisa lama-lama karena siang ada rapat di luar. Jadi tugas pertama Asteria adalah mendata dokumen-dokumen yang masuk dan meregistrasi dokumen yang sudah ditandatangani. Pekerjaan ini hampir sama dengan yang pernah dilakukannya di perusahaan sebelumnya. "Um.. Mister saya mau tanya di mana file untuk menyimpan dokumen ini?" "Tidak ada." Asteria yang sedang menelusuri share folder segera menghentikan gerakannya. Telinganya sepertinya salah dengar. "Maaf?" "Tidak ada." Asteria takut dia salah mengerti, jadi dia mencoba mengubah kata-katanya. "Apakah sekretaris sebelumnya tidak menyimpan datanya?" Kali ini Mister Chandra mengalihkan atensinya secara penuh pada Asteria. Dia menundukkan kepalanya agar berada sejajar dengan wajah Asteria. Mister Chandra menarik garis bibir, senyum yang dingin. "Tidak ada. Karena saya tidak. mempekerjakan sekretaris di sini." semua kata yang diucapkan penuh penekanan. Asteria bergerak mundur ke kursinya. Wajah Mister Chandra terlihat menakutkan. Dia menelan salivanya dengan sulit. "Ti... tidak ada sekretaris?" ujarnya dengan pelan dan ragu. Mister Chandra menarik diri dan menegakkan tubuhnya. Dia merapikan jasnya yang sedikit berkerut karena dia menunduk. Dia masih tidak melepas senyum di bibirnya. "Kamu sudah jago kan? Kamu pasti sudah tahu bagaimana caranya. Buatlah folder di share folder jadi saya bisa mengeceknya nanti." Dia melihat handphonenya. "Sudah waktunya saya pergi. Jika ada apa-apa, silakan chat saya. Saya juga akan kirimkan kontak-kontak orang penting. Tolong kamu save ya." Mister Chandra keluar dari ruangan tanpa melihat lagi ke belakang. Asteria merasa tubuhnya lemas. Tidak mempekerjakan sekretaris? Lalu kenapa dia bisa diterima sebagai sekretaris di sini? Jika benar tidak ada sama sekali, berarti dia harus membuat semuanya dari awal. Apa benar perusahaan sebesar ini, CEO-nya tidak pernah memiliki sekretaris sama sekali? Asteria ingin menjambak rambutnya. "Apakah aku akan lembur hari ini?" ujarnya melihat tumpukan dokumen yang tinggi. *** "Oh, aku baru mau nyamperin kamu." Endymion baru keluar pintu ruangannya. Dia menemukan Mister Chandra sudah di depan ruangan. Dari raut wajah Mister Chandra, Endymion merasa curiga. "Hei, ada apa?" "Tidak ada apa-apa." "Kau melakukannya lagi." "Apa?" "Senyummu menyeramkan. Kamu habis bully orang ya?" "Tidak. Jangan bicara yang aneh-aneh. Ayo berangkat." Mereka berjalan ke lobby. Pak Kul sudah siap dengan mobil. Endymion segera mengeluarkan kacang atomnya begitu duduk di kursi penumpang. Dia memakannya dengan santai tanpa menawari Mister Chandra. "Gimana menurutmu si sekretaris baru." tanya Endymion memulai pembicaraan. "Ya belum kelihatan lah. Tadi kan baru aku ajak keliling kantor doang. Belum lihat dia kerja gimana." "Ish, otakmu itu cuma kepikiran kerja, kerja dan kerja terus." Mister Chandra ikut mencomot kacang atom milik Endymion. "Lalu bagaimana menurutmu?" tanya balik Mister Chandra. Raut wajah Endymion berubah. "Ih, pipinya chubby banget, lucu kayak bakpau. Pengen aku unyel-unyel. Gemes." Endymion membuat nada yang bikin Chandra ingin muntah. "Dan dia tinggi. Ya ampun, kaget aku pas tadi sebelahan." "Kalau kamu suka, deketin aja. Aku ikhlas kok." "Ga ah. Nanti aku dicincang sama Pak Faisal. Ih, tidak terima kasih." Endymion berbalik lagi. "Jadi bagaimana menurutmu? Aku ingin mendengar pendapat dari perspektif seorang laki-laki." "Aku tidak tertarik dengan yang seperti itu. Aku lebih tertarik dengan cara kerjanya. Apa dia bisa menyelesaikan tugas mendata dokumen hari ini." "Dokumen? Dokumen apa? Jangan bilang dokumen yang di meja kamu, yang tumpukannya tinggi itu, yang aku malas nyentuhnya?" "Yang mana lagi memangnya." "Tuh kan, kamu bully orang. Heh, aku laporin ya ke Pak Faisal." "Itu bukan bully orang. Itu namanya ngasih kerjaan tahu. Kalau dia selesai hari ini, berarti dia hebat." "Mengukur kehebatan wanita dari hal seperti itu. Cih, kamu sangat cemen. Kalau mau ukur kehebatan seorang wanita itu dari..." Mister Chandra segera membekap bibir Endymion dengan tangannya. "Stop! Jangan mengotori telinga ku dengan kalimat c***l yang akan kamu keluarkan itu." Mister Chandra sambil tersenyum dengan gigi yang rapat. Alisnya berkedut dan seperti ada perempatan marah imajiner di dahinya. Cengkraman di mulut Endymion juga cukup keras membuat dia bergidik ngeri. Dia segera menganggukkan kepalanya dengan susah payah. "Good , jadilah anak baik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD