Part 6

2342 Words
Asteria menghela napas lelah. Pundaknya pegal, pinggangnya sakit, dan matanya juga terasa kering. Dia sudah duduk cukup lama untuk menyelesaikan tugas dari Mister Chandra. Dia bahkan sengaja melewatkan makan siang untuk itu. Beruntung sebelumnya Pak Endymion memberinya minuman red velvet, jadi bisa sebagai pengganjal perut. Asteria berdiri dari tempat duduknya. Dia bisa merasakan persendiannya bergemelutuk saat direnggangkan. Dia melangkah keluar ruangan untuk meluruskan peredaran darah di kakinya. Dia berpikir mungkin duduk-duduk di sofa luar akan menyegarkan pikirannya. Matahari sudah agak turun dari posisinya. Sebentar lagi sudah jam pulang untuk orang-orang yang shift pagi. Asteria menatap lukisan dinding di depannya. Matanya melihat tapi pikirannya kosong. Entah berapa lama dia menatap saat seseorang menyapanya. "Permisi, apa aku boleh duduk di sini?" Seorang wanita muda yang cantik. Wajahnya kecil dengan bibir tipis dan rambutnya panjang sepunggung. Asteria hampir melompat dari kursi karena kaget. "Ah..i..iya silakan." "Terima kasih." Wanita itu mengambil kursi di sebelah kanan Asteria. Aroma harum bunga tercium begitu pekat. Asteria merasa gugup. Wanita cantik itu menatapnya lekat. "Kau orang baru di sini ya?" Wanita cantik itu membuka percakapan. "Iya." "Kerja di bagian apa?" "Saya sekretaris Mister Chandra. Baru bekerja hari ini." Asteria bersorak dalam hati. Suaranya tidak terdengar gagap saat menjawab kali ini. "Ah jadi kau yang dibicarakan orang-orang. Sudah lama sekali Mister Chandra tidak mengambil sekretaris." "Be-benarkah itu? Sudah berapa lama?" Wanita cantik itu memasang tampang berpikir. "Aku rasa... sudah tiga atau empat tahun... atau mungkin lebih." Asteria tercengang mendengarnya. Mister Chandra tidak memiliki sekretaris selama itu? Apa dia tidak repot? Melihat tumpukan dokumen dari mejanya saja sudah mengerikan. Bagaimana dia mengarsipkannya? "Hahaha, wajah kagetmu lucu sekali. Kenalkan aku Venus, Venus Joyday." "Saya Asteria Viennetta." "Viennetta? Namamu mengingatkan ku pada eskrim legend itu." Asteria hanya tersenyum kaku. Hampir semua orang mengatakan itu. Jangan tanya dari mana orangtuanya mendapatkan nama itu. Dia tidak tahu. "Tapi namamu sangat cantik Asteria." "Te.. terima kasih. Nama Anda juga sangat cantik Mba." "Kau memanggilku mba? Memang berapa umurmu?" "Saya, dua puluh lima." "Oh baiklah. Kau lebih muda dariku. Aku dua delapan." Asteria tidak yakin harus merespon apa. Tapi apakah itu perlu direspon? Mungkin mengganti topik akan lebih baik. "Kalau boleh saya tahu, apakah Mister Chandra sama sekali tidak pernah mempekerjakan sekretaris sebelumnya?" "Kau bertanya pada orang yang tepat. Aku termasuk angkatan pertama di perusahaan ini sejak ruang kantor Mister Chandra masih di lantai dua. Ahaha itu tidak penting. Mengenai pertanyaanmu, dulu... dulu sekali Mister Chandra punya sekretaris. Dia seorang wanita cantik. Dia gesit, rapi, ulet dan sangat disukai banyak orang. Dia menjadi sekretaris selama satu tahun lebih, sebelum Mister Chandra memecatnya." "Memecatnya? Kenapa?" "Mungkin karena dia... suka pulang lebih dulu dari bos.... mungkin juga karena...." Suara dering ponsel menghentikan pembicaraan mereka. Asteria dengan panik segera mengangkat telepon. Nama Mister Chandra tertera di layar. "Halo... " [Kau di mana?] "Saya di sofa-sofa depan ruangan." [Bisa kau ke ruanganku. Ambil satu dokumen di mejaku dan langsung bawa ke Pak Hao. Kau ingat dia?] "Ah iya, orang finance kan ya Mister, sebentar saya ke meja Mister." Asteria bangkit dari duduknya. Dia memberikan gestur minta maaf pada Venus dengan membungkuk sambil tetap menelpon dengan Mister Chandra. Setelah itu dia berlari kembali ke ruang CEO untuk mengambil dokumen yang diminta. Venus hanya melambaikan tangan menanggapi. "Di meja sebelah kanan?" [Iya, ada voucher untuk pengambilan uang di bank. Warna kuning.] "Ketemu!" [Oke, bawa langsung ke Pak Hao. Sudah jam segini gak bisa langsung dicairkan hari ini. Paling tidak bisa ditandatangani dulu Pak Hao, jadi bisa saya cairkan besok. Kalau sudah di tandatangan, nanti taruh lagi di meja saya.] "Baik." [Kalau ada yang nyusahin kamu, tolong langsung lapor ke saya. Saya masih di perjalanan sama Pak End.] "Baik." Asteria turun ke lantai empat tempat finance. Lampu di ruang Finance sudah mati. Tapi dia memberanikan diri mengetuk. "Mba Aster, cari siapa?" Bu Siska dari ruang sebelah menghampiri. Dia membawa sekotak makanan siap saji di tangan. "Sore Bu, saya mencari Pak Hao. Ada yang Mister Chandra minta saya serahkan." "Oh, finance jam segini sudah pulang. Kenapa tidak dari tadi mintanya?" "Ini Mister Chandra baru telpon saya tadi untuk minta tandatangan." Bolehkah Asteria merasa kesal. Dia tidak tahu jadwal masuk masing-masing tim. Mana dia tahu jika tim finance jam segini sudah pulang. Demi Tuhan dia baru masuk hari ini. "Sudah coba telpon Pak Hao?" "Ah belum." "Kenapa belum?" Nada Bu Siska terdengar kesal. "Saya belum punya nomor telpon Pak Hao." "Oh." Wajah Bu Siska terlihat datar. Dia mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu. Kemudian dia memperlihatkannya pada Asteria. "Kamu salin nomornya dan telpon Bapaknya." Buru-buru Asteria segera mengetik nomor dari layar Bu Siska. "Terima kasih Bu." "Lain kali kamu save nomor-nomor orang penting di sini. Kamu ini sekretaris. Sekretaris CEO loh ya. Kalau gak punya, kamu sendiri yang repot kan." nyinyir Bu Siska. Asteria berusaha sekuat tenaga memasang wajah tersenyum dan malu. Dia langsung membungkuk dan meminta maaf sambil berjanji akan segera menyimpan nomor-nomor orang penting. Padahal Asteria tadi pagi sangat menyukai Bu Siska yang ramah dan baik padanya. Apalagi saat wawancara pun Bu Siska memperhatikannya dengan serius sehingga dia merasa dihargai ketika berbicara. Tapi setelah kejadian ini, buyar sudah image Bu Siska di benaknya. Bu Siska memang membantunya, tapi cara dia berbicara dan menceramahinya dengan nada suaranya benar-benar menyakitkan. Nada suara itu nada suara yang mengejek dan menjatuhkan. Apa tidak bisa toleransi sedikit, dia baru di sini tidak sampai dua belas jam. Memang seharusnya dia tidak percaya pada orang lain, apalagi yang modelnya seperti Bu Siska. Orang yang merendahkan orang lain adalah salah satu jenis orang yang tidak dia sukai. Bu Siska akhirnya pergi ke ruangan sehingga Asteria bisa mulai mendial nomor ponsel Pak Hao. Pertama dia bersyukur sudah isi pulsa untuk telpon. Karena pengalaman di kantor sebelumnya, dia harus selalu punya pulsa telpon untuk darurat. Kedua dia bersyukur Pak Hao masih di parkiran. Asteria mengejar Pak Hao ke parkiran. Asteria menghela napas lega. Sampai di parkiran pun dia masih dimarahi oleh Pak Hao karena sudah terlalu sore. Apalagi ini sudah jam pulang timnya. Asteria bahkan dimarahi karena batas jam untuk penerimaan voucher itu jam tiga sore. Sedangkan dia datang jam empat lewat. Walau voucher itu milik Mister Chandra sekalipun, secara SOP timnya seharusnya tidak diterima. Tapi karena dia baru, jadi Pak Hao masih memaafkannya, itu kata Pak Hao. Asteria duduk di kursinya setelah meletakkan voucher Mister Chandra kembali ke tempatnya. Dia menunduk sambil menopang kepalanya yang sakit. Dari pada pegal karena dokumen Mister Chandra, dia lebih sakit hati pada orang-orang hari ini. Dia ingat saat Mister Chandra mengenalkannya tadi pagi semua orang masih ramah padanya. Bahkan Pak Hao sempat berjanji untuk tidak menyulitkannya suatu saat nanti. Tapi lihat apa yang baru saja terjadi, dia dimarahi karena hal yang tidak dia ketahui. Tidak salah kalau dia tidak bisa mempercayai orang lain. Di depan atasan saja mereka akan terlihat baik. Tapi jika mereka bertemu babu, tetap saja mereka akan memperlakukannya sebagai orang yang bisa diinjak. "Kenapa? Sakit kepala?" Asteria terlonjak kaget. Mister Chandra sudah di depannya. Kenapa dia tidak mendengar suara orang masuk? Apa dia terlalu larut dalam pikirannya? "Asteria?" "A, Mister sudah kembali. Vouchernya saya letakkan di meja Mister. Di tempat yang sama." "Sudah ditandatangani?" "Sudah." "Good. Dokumennya?" "Sudah saya rekap. Tadi baru sebagian yang dibawa OB tadi." "Gak apa-apa. Besok lagi saja." Mister Chandra mengotak-atik ponselnya. Dia tidak langsung masuk ke ruangan tapi berdiri di samping meja Asteria. Hal ini membuat Asteria gugup. Dia jadi melirik bosnya cukup lama. "Kenapa? Ada yang ingin kau sampaikan?" Mister Chandra pasti bisa merasakan tatapannya jadi dia bertanya. "Itu... Tadi Pak Hao berpesan untuk voucher batas waktu penerimaannya jam tiga sore." "Oh, apa dia memarahimu?" "Tidak tidak tidak." Asteria menggeleng cepat. "Tidak, beliau sangat baik." Mister Chandra hanya mengangguk. Dia memperhatikan ekspresi wajah sekretaris barunya. Sepertinya ada hal lain yang ingin dikatakan. "Ada lagi?" "Nnn... Mister... Bolehkah saya minta nomor-nomor orang penting di sini." lanjut Asteria dengan nada kecil. "Ah, belum saya kirim ya. Saya lupa." Mister Chandra memang lupa, apalagi tadi rapat dengan Endymion. Jika mereka sudah bersama, segala macam topik dibicarakan. Fokusnya bisa kemana-mana. Mister Chandra segera membuka kontak dan mengirim list kontak kantor pada Asteria. "Kalau kau sudah selesai, kau bisa pulang lebih dulu. Saya masih ada beberapa hal yang mau diurus." "Kalau begitu saya akan menunggu Mister selesai." Mister Chandra tertegun sejenak. Jika wanita ini menunggunya selesai itu bisa sampai dini hari. Zaman dulu sekretarisnya bahkan selalu pulang lebih dulu darinya kalau tidak dia minta untuk tinggal jika pekerjaan sedang banyak. "Saya akan selesai sangat malam." "Tidak apa-apa. Kosan saya tidak ada jam malam." Bukan itu masalahnya. Mata Asteria penuh kesungguhan membuat Mister Chandra agak sulit menolaknya. "Terserah kamu." Mister Chandra masuk ke ruangan. Dia duduk di kursi. Mejanya sangat rapi. Ada dua tumpukan dokumen dengan sticky note di atasnya. Satu bertuliskan penulisan kurang rapi. satu lagi penulisan sudah rapi. Apa Asteria membaca memindai sebelum dimasukkan ke mejanya? Mister Chandra mengambil satu dari tumpukan yang sudah rapi. Ya benar, yang ini sudah tidak ada masalah. Bisa langsung dia tandatangan. Saat dia menggoret, suara ketukan pintu terdengar. Dia mempersilakan masuk. "Apa Mister ingin dipesankan makan malam?" "Boleh." "En, Mister ingin makan apa?" "Aku ingin yang praktis, tapi tidak mengotori tangan." Asteria mengerjap beberapa kali. Permintaan yang sulit. Mister Chandra tidak to the point. Dia harus memikirkan sesuatu. Sangat berbeda dengan Pak Faisal. Mister Chandra mengambil dari tumpukan yang penulisannya salah. Dia membaca dan memang ada kata-kata yang rancu. Mister Chandra baru ingin mencorat-coretnya. "Eh tunggu!" Asteria berseru membuat Mister Chandra menahan tangannya di udara. Mister Chandra mengangkat wajah dan menatap sekretarisnya. Asteria dengan kikuk mendekati dan memberikan sticky note. Mister Chandra memandang sticky note lalu ke wajah Asteria untuk meminta penjelasan. "Ano... Mister bisa... menulis revisinya di sticky note, jadi tidak dicoret langsung di dokumennya." Asteria sudah membaca dan memisahkan dokumen seharian ini. Semua dokumen yang harus direvisi selalu ada coretan besar dan garis silang jika itu ditolak. Asteria yang melihatnya sakit hati. Padahal bukan dia yang membuat dokumen laporan itu. Rasanya seperti sedang bimbingan dengan dosen killer. Segala apa yang ditulis selalu salah. Mister Chandra menatap Asteria lama. Tatapan itu membuat Asteria gemetar. Dia pasti sudah salah berucap. Mungkin dia terlalu menggurui. Hal ini sangat buruk, dia takut sekali. Asteria menundukkan kepalanya dan minta maaf. Mister Chandra menatap sticky note itu lama dan memainkannya di tangan. "Bagaimana cara menggunakannya?" "Ah..." Tatapan Mister Chandra yang sedang menunggu jawabannya membuat tenggorokannya kering. "Jika Mister ingin mengganti kata, Mister bisa menuliskannya lalu menempelkan sticky note dan menandainya dengan panah. Jika Mister tidak setuju, Mister bisa tulis kata tolak atau reject. Jika Mister merasa ada yang ingin ditanyakan pada PICnya, Mister bisa menuliskan pertanyaan. Jadi.... jadi saya bisa mudah menjelaskannya." Kata Asteria dengan suara gemetar. "Apa itu ajaran Pak Faisal?" "Ya, Bapak biasanya seperti itu." Mister Chandra mengangguk. Dia menulis satu kalimat revisi di sticky note. Kemudian menempelkannya ke dokumen. "Begini?" "Ya... biasanya di paraf." "Paraf?" "Ja..jadi lebih otentik." "Oh." Mister Chandra melakukan apa yang Asteria katakan. Setelah beberapa saat dia mulai tenggelam dalam pekerjaannya. Asteria mohon izin keluar dari sana. *** Keesokan harinya, terjadi keributan di beberapa unit. Mereka berbicara dengan penuh semangat. "Ini pertama kalinya laporanku tidak dicoret-coret full halaman." Kata seorang laki-laki. "Oh ya ampun lihatlah punyaku. Ada revisi tapi bersih tanpa noda." "Rasanya tidak seperti habis bimbingan skripsi lagi." "Punyaku ada note pertanyaan. Ini maksudnya apa? Apa aku mesti menjelaskan?" Keramaian itu terus berlanjut hingga masuk seorang pria dengan tampang ceria. "Spada sayang-sayang ku~" Seorang laki-laki dengan wajah cantik datang. Pakaiannya modis dengan jas bergaya trendi dipadupadankan dengan kaos putih di dalam. Saat dia membuka mulut, ada dua gigi kelinci mengintip dari sana. "Pagi Pak Fahmi. Saya tidak mengerti ini. Apa saya harus menjelaskannya langsung ke Mister Chandra?" Orang yang dipanggil Fahmi itu membaca tulisan dari sticky note yang ditempel pada laporan anak buahnya. Hanya ada tulisan singkat 'jelaskan pada saya' tanpa ada embel-embel apapun. Ambigu sekali, mana bagian yang salah? Fahmi berpikir keras sambil membaca ulang laporan yang dibuat anak buahnya. Saking seriusnya dia tidak menyadari sudah ada seseorang di belakang punggungnya. "Pagi semua." "Pagi Pak Endymion!" Endymion datang dengan sekantong kacang bawang di tangan. Mulutnya sesekali mengunyah. Tangannya sudah belepotan minyak dari kacang jadi dia tidak menyarankan orang lain menjabatnya. "Ah kebetulan. Ini maksudnya.." Fahmi memperlihatkan sticky note. "Ya minta penjelasan." jawabnya singkat."Ini yang buat siapa?" Laki-laki yang jadi bawahan Pak Fahmi angkat tangan. "Iya kamu jelasin ke Pak Fahmi gimana. Nanti biar Pak Fahmi yang menghadap Mister Chandra. Aku kurang tahu juga apa yang minta dijelaskan. Nanti Pak Fahmi tanya saja dulu ke Mister Chandra. Tapi kalau aku lihat sekilas kayaknya masalah nominalnya. Konfirmasi aja dulu ke Mister Chandra. Kalau gak tanya sekretarisnya." Kata Endymion memberi solusi. Bawahan Pak Fahmi langsung menghela napas lega. Senang sepertinya tidak langsung harus bertemu dengan Mister Chandra. Dia bisa mati gugup. "Btw Mister Chandra nyariin kamu. Sekalian saja nanya ke sana." "Oh, oke. Ini saya bawa dulu." Mereka berdua keluar dari ruangan dan menuju lift. Dalam perjalanan mereka berbincang-bincang. "Baru aku lihat ada sticky note kayak gini." "Oh itu, berterima kasihlah pada sekretaris baru itu. Kalian tidak akan merasa seperti habis bimbingan skripsi lagi." "Oh, sekretaris baru yang katanya dari kantor Pak Faisal itu. Dia udah masuk?" "Bahkan udah nemenin Chandra lembur semalam." "Lembur?" Mereka sampai di lantai lima. Masuk ruangan CEO, mereka disambut dengan pemandangan yang sangat intim. Mister Chandra sedang menunduk ke arah Asteria. Satu tangannya mencengkram pipi Asteria sedang tangan lain memegang sandaran kursi sekretarisnya. Posisi mereka begitu dekat seperti akan berciuman. Wajah Fahmi memerah seketika. Sementara Endymion yang ingin memasukkan kacang ke mulutnya berhenti dengan mulut terbuka. Endymion tersadar saat melihat ada air mata yang menetes dari mata karyawan baru itu juga raut kesakitan dari wajahnya. Endymion langsung menarik dan memelintir tangan Mister Chandra. Dia membanting tubuh Mister Chandra ke meja. "Apa yang kau lakukan?!" Teriak Mister Chandra. "SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADAMU APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!" marah Endymion. Mendengar teriakkan marah Asteria melompat kaget. Dia langsung mundur ke sudut sambil memegangi kepalanya. Kedua lututnya di tekuk untuk menutup pandangan. Dia membuat dirinya menjadi sangat kecil. "Maafkan aku... Maafkan aku... Maafkan aku... Aku bersalah... Aku tidak akan melakukannya lagi... Maafkan aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD