Bab 4

1108 Words
Bab 4Bekal Siang * Matahari mulai menampakkan sinarnya, semua orang akan melakukan aktivitas masing-masing. Begitupun Silvi, ia seperti dipaksa mengulang aktivitas yang sama setiap harinya. Tak ada yang istimewa, yang ada hanya kebosanan yang mendera. Tanpa teman, hanya kesunyian. Sekolah Silvi terletak tak jauh dari gang rumahnya, setiap hari ia akan berjalan kaki menuju ke tempatnya mencari ilmu. Banyak juga anak-anak yang seperti dirinya, berjalan kaki. Hanya beberapa saja yang diantar orang tua, seperti Uta karena sekalian dengan sang ayah yang pergi bekerja. Silvi berjalan hati-hati, bukan tak kuat berjalan karena tak sarapan tadi pagi. Tapi karena menjaga sepatunya agar tak bertambah rusak di bagian depan. Ia menghindari batu dan kerikil agar sepatunya awet sampai ia lulus SD. Sampai di sekolah, Silvi berpapasan dengan Uta dan teman-temannya. Sepertinya mereka baru saja dari kantin, terlihat dari minuman dan makanan ringan yang mereka bawa. “Hai, Tiang Listrik!” Uta menyapa. Tapi di telinga Silvi itu lebih seperti penghinaan fisik yang tak ada habisnya. “Tolong bawain tas kita dong!” perintahnya. Silvi menatap sekilas, lalu pergi meninggalkan mereka dan menuju ke kelas. Ia teringat nasehat ibunya. Kalimat-kalimat yang memberinya kekuatan untuk melawan. “Jangan lagi berteman, bahkan ingin berteman dengan mereka.” Semalam, Hera melihat memar di paha Silvi. Perempuan itu bertanya, meski selama ini ia tahu bahwa putrinya sering mendapat perundungan dari teman-temannya. “Kamu harus kuat. Kita memang miskin, tapi bukan berarti orang kaya boleh mengambil harga diri kita.” Mata Hera mulai berkaca-kaca. Ia menyesali takdir hidupnya, dan membuat Silvi ikut merasakan penderitaan sedini usianya. “Jika mereka memukuliku sebanyak sepuluh kali, balas sepuluh kali. Jika mereka mengataimu, balas mengatai. Hanya sebatas apa yang dia perbuat, jangan lebih.” Hera kembali melanjutkan. Ia tak tahu, apakah Silvi akan mengerti maksudnya atau tidak. Perempuan berkulit sawo matang itu bukan ingin mengajarkan anaknya untuk menjadi pendendam, tapi sebatas melindungi diri dari teman-teman yang jahat. “Kamu tak pernah bisa bangun, kalau tak menunjukkan kekuatan. Kamu akan terus diinjak jika hanya pasrah dan terlihat lemah.” Mulut Hera terus berucap, sementara tangannya mengoles minyak angin di paha Silvi agar memarnya berkurang. Silvi diam. Gadis itu mencoba memahami setiap kalimat ibunya. Ia menatap wajah teduh sang ibu. Wajah yang sering terlihat kelelahan itu kini benar-benar mengurai air mata.Silvi ikut menangis. Bukan karena perlakuan Uta, atau teman lainnya. Tapi menyadari betapa sebenarnya sang ibu sangatmenyanyanginya. Mungkin perempuan yang melahirkannya itu tak bisa memberi waktu, tak bisa mengajaknya bermain. Namun, Hera memberinya kekuatan. Kekuatan untuk bertahan dan memberinya energi positif. Silvi bersyukur, di tengah kemiskinan itu, tapi ia diberi ibu yang cintanya begitu besar. “Maafkan ibu, Vi.” Hera meraih tubuh kurus Silvi. Ia merasa entahlah. Merasa bersalah, kecewa pada diri sendiri yang tak bis memberikan hidup layak untuk Silvi. Dua perempuan beda usia itu saling berpelukan. Mereka hanya punya satu sama lain. Meski hidup dalam kekurangan, tapi mereka harus tetap bahagia dengan cinta. Melihat Silvi yang langsung pergi, membuat Uta dan teman-temannya merasakan hal berbeda. Hal yang tak biasa, karena biasanya gadis dekil itu akan takut atau menurut. Atau bole mata itu menatap dengan lemah, berharap pertolongan. Bukan tatapan tajam yang sedikit mengganggu Uta. * Anak-anak mulai beristirahat setelah pelajaran olahraga. Lapangan bola dipenuhi anak-anak cowok, sedangkan lapangan bulu tangkis dipenuhi anak-anak cewek dari kelas Silvi. Mereka baru saja selesai bermain bulu tangkis. Ada yang memilih beristirahat di bawah pohon sambil bercerita dan minum minuman dingin untuk menghilangkan rasa lelah, ada juga yang langsung ke kantin. Di lapangan bola, Araska sedang beristirahat bersama teman-temannya. Dari kejauhan ia melihat hanya Silvi yang duduk seorang diri, di bawah pohon cemara yang teduh. Sesekali gadis itu menyeka keringat dengan tangan dekilnya,lalu tertangkap basah oleh AraskaSilvi menelan ludah melihat beberapa teman menenggak minuman dingin. Entah mengapa Araska jadi peduli pada gadis itu. Setiap kali melihat wajah Silvi, ia selalu teringat anak tetangganya dulu yang selalu berangkat sekolah dengannya. Katanya dia takut naik bus, takut salah jalan pulang, takut diculik. Jadi, anak itu selalu mengikuti Araska, meminta perlindungan. Sebab sekolah Araska yang dulu lumayan jauh dari rumah. Kadang ketika anak-anak cowok mengganggunya, Dara akan melapor pada Araska, dan Araska siap menjadi pelindung. Hanya saja keadaannya berbeda dengan Silvi, tapi sama-sama lemah dan ingin dilindungi. Sementara Araska sudah terbiasa dengan jiwa pahlawan. Padahal, terkadang Araska ikut geli melihat penampilan Silvi. Kadang ada niat untuk tak peduli seperti saat pembagian kelompok, tapi bayangan wajah Dara selalu terbayang.Araska sudah menganggap Dara seperti adiknya. Araska beranjak dari sisi teman lainnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali, tapi bukan ke lapangan bola di mana teman-temannya masih berada di sana, melainkan ke tempat lain, di mana ada seorang gadis dekil sedang menunduk, seraya kepalanya dibenamkan di kedua lutut. Menyadari ada yang berjalan di depannya, Silvi mengangkat wajahnya. Terlihat punggungAraska, anak itukembali berjalan ke tempat temannya berkumpul. Silvi bingung, kenapa Araska berjalan di depannya. Tapi ia tak memanggil, atau sekadar bertanya saja ia tak berani. Lalu, saat Silvi menoleh ke kanan, sebotol minuman dingin terletak di sampingnya. Gadis itu tersenyum, debar di dadanya kian menjadi. Silvi merasa pipinya menghangat, dan ia memilih untuk kembali ke kelas. Sementara di sudut sana, Araska mulaidiejek teman-temannya. “Cieee ... yang pacaran sama Silvi.” Geli. Araska begitu geli mendengarnya. Apalagi membayangkan penampilan Silvi yang sangat kacau. “Pacaran apaan! Aku tuh Cuma kasihan aja!” Araska membantah. Jelas saja ia tak suka dianggap seperti itu.Ia juga masih anak-anak, yang belum terlalu mengerti tentang perasaan. Araska meninggalkan teman-temannya, daripada terus-terusan mendengar dugaan konyol tentangnya. Menjengkelkan! Tapi kenapa ia peduli? Araskamenuju kelas. Ia ingin mengambil baju ganti dan menggantinya di kamar mandi. Langkah Araska terhenti di pintu kelas, lalu memilih mundur saat melihat sosok Silvi di dalam kelas. Gadis itu sedang makan, di mejanya adasekotak nasi, dan minuman yang tadi diberikannya. Araska merasa ngilu. Lagi-lagi rasa kasihan ya sangat mendominasi. Silvi sedang makan. Araska bingung mengartikan makna makan yang sesungguhnya. Makan untuk sekadar kenyang, atau memperhatikan gizi makanan. Karena yang Araska lihat Silvi hanya memakan nasi keras, dan terasi goreng yang dimasukkan ke dalam kotak. Silvi tampak begitu lahap, suap demi suap ia masukkan ke mulut. Ia sengaja membawa bekal hari ini, karena pelajaran olahraga membuatnya banyak mengeluarkan energi. Menu seperti itu sudah sering ia makan, jika akhir-akhir bulan dan ibunya belum gajian seperti sekarang. Silvi tak menyadari bahwa di luar sana ada yang sedang memperhatikannya. Ada yang sedang miris melihat makanannya, karena di rumah Araska mungkin makanan seperti itu akan dikasih untuk kucing atau dibuang. Gadis dekil itu menyudahi makannya setelah kotak itu terlihat kosong, lalu ia menenggak minuman yang diberikan Araska. Sementara Araska melangkah entah ke mana, yang pasti jangan membuat Silvi tahu bahwa sedari tadi ada yang mengintip menu makan siangnya. Sejak kedatangannya ke sekolah itu, Araska sering memperhatikan satu gadis yang penampilannya sangat berbeda dibandingkan anak lain. Gadis dengan rok pendek dan bajuk kusam itu sering hanya berdiri di pintu saat jam istirahat, atau hanya duduk di kelas. Tak pernah sekalipun ia melihat Silvi ke kantin, dan sekarang Araska bisa menebak alasannya. Keadaan Silvi sangat berbeda dengan anak-anak lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD