Bab 5Si Pengisi Laci
*
Silvi baru saja ingin meletakkan tas di dalam laci, saat ia melihat sesuatu di dalamnya. Tangannya terulur mengambil benda yang ia yakin tak menaruhnya sama sekali. Matanya berbinar, melihat dua coklat silverqueen dan sebungkus roti. Tak hanya itu, ada satu minuman bersoda di sana.
Wajah Silvi tampak bahagia mendapat itu semua. Namun, Silvi bingung siapa yang meletakkannya. Ia menebak satu nama yang selama ini diam-diam berbaik hati padanya, tapi tebakan itu seperti terbantah saat ia lihat Araska masuk kelas sambil bercanda ria bersama teman-temannya. Itu menandakan bahwa ia baru datang, dan tidak mungkin rasanya ia yang memberikan coklat itu.
Silvi menyerah untuk menebak, karena selain Araska tidak ada yang peduli padanya selama ini.Gadis itu menyimpan coklat itu ke dalam tas yang talinya entah sudah ada berapa jahitan. Mungkin hari ini memang rezeki Silvi, karena ada yang berbaik hati memberinya makanan, itu rezeki dari Tuhan.
Setidaknya hari ini Silvi tak harus menahan lapar, karena setelah hari itu ia tak lagi membawa bekal ke sekolah. Malu.
“Kek bau kaos kaki Silvi,” ucap Uta saat ia memasuki ruang kelas. Gadis itu melihat ke sudut kelas paling belakang, dan benar di situ ada Silvi.
Saat itu Silvi tengah begitu lahap menyuap nasi dengan terasi gorengnya, secepatnya ia menyembunyikan makanan itu ke laci meja, berharap baunya tak menyebar. Namun, bau makanan itu sukses terendus hidung Uta dan teman lainya. Bau khasnya membuat Uta dan temannya mengira bahwa itu bau kaus kaki Silvi. Padahal Silvi baru saja mencucinya kemarin.
Silvi diam, lebih baik dianggap bau kaus kakinya, daripada harus ketahuan makan dengan terasi goreng. Karena, gadis itu tak tahu ejekan seperti apalagi yang akan diucapkan teman sekelasnya.
Setelah hari itu, Silvi tak lagi membawa bekal. Ia memilih menahan lapar, atau hanya bersandar di dekat pintu, melihat teman-teman bermain atau bertukar makanan sambil cerita. Sementara Silvi beberapa kali menahan liur, ingin mencicipi jajanan yang sama dengan mereka. Tapi sayangnya tak ada yang menawarkan.
*
Minggu ini pelajaran IPA dilakukan di lab, karena sang guru ingin mengenalkan organ tubuh manusia, dan perbedaannya dengan organ tubuh hewan. Anak-anak akan diarahkan ke lab, karena di sana ada beberapa gambar dan alat peraga yang bisa dijelaskan langsung melalui itu semua. Harapannya semua siswa akan lebih memahami dengan visualisasi.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Kelas Silvi baru saja menyelesaikan pelajaran IPA. Bel pulang berbunyi membuat anak-anak segera memasukkan buku ke dalam tas, dan berebut pintu ingin segera pulang setelah sang guru keluar ruangan.
Silvi juga melakukan hal yang sama, mengemas buku-buku dan melangkah ke pintu ke luar. Di dekat pintu, gadis itu berdiri sambil melihat satu persatu sepatu yang tinggal. Ia mencari sepatu yang paling buluk di sana, miliknya. Namun, yang ada hanya sepatu-sepatu baru yang sepertinya setiap hari tak lupa disemir. Silvi tak menemukan sepatu yang di dalamnya ada kaus kaki longgar dan dua karet gelang di dalamnya.
Silvi keluar, mungkin ada yang iseng saat keluar dan mereka menyepak sepatu tak layaknya. Namun, lagi-lagi ia tak menemukan, bahkan gadis itumencari sampai ke belakang pot-pot tanaman hias di depan lab.
Silvi berbalik, karena ia mendengar suara Uta dan teman-temannya sedang cekikikan. Gadis itu tak bermaksud berburuk sangka, tapi selama ini memang Uta dan temannya tak begitu baik padanya.
“Kalian melihat sepatuku?” Silvi bertanya saat ia berhadapan dengan Uta dan temannya. Sebenarnya bukan bertanya, tapi menuntut jawaban segera.
Uta tersenyum, dua temannya saling pandang sambil kembali cekikikan. Senyum sinis yang meyakinkan Silvi bahwa merekalah pelakunya. Entah dibuang, atau disembunyikan. Yang jelas Silvi harus mendapatkan kembali sepatu itu.
“Kembalikan sepatuku!” Silvi sedikit meninggikan suara. Kembali ia mengingat nasehat ibunya untuk tidak menjadi gadis lemah. Rupanya setiap mengingat itu, ribuan energi positif seolah mendatangi dirinya.
“Noh,” tunjuk Uta dengan dagu sombongnya.
Silvi mengikuti ke mana arah dagu Uta menunjuk.
Di kejauhan sana, beberapa meter dari Silvi berdiri, terlihat sepasang sepatu buluk yang digantung di tiang lapangan bola volly.
“Kamu kan tiang, ambil sendiri aja ya!” Chrisa ikut bicara. Nadanya begitu menjengkelkan. Lalu mereka tertawa tanpa dosa, seolah membuat Silvi seperti itu adalah hal yang wajar dan menyenangkan.
Uta dan teman-temannya meninggalkan Silvi. Membiarkan gadis itu melangkah dengan tapak kaki telanjang, demi mengambil kembali sepatu miliknya.
Silvi berlari menuju tiang di lapangan. Dalam hati, ia menguatkan diri sendiri.
‘Kamu anak yang kuat, Vi.’
‘Anak kuat.’
Namun, tetap saja ada yang menetes di sana. Di tengah teriknya matahari ia berada di lapangan, seorang diri. Karena anak-anak lain sudah lebih dulu pulang.
Dengan ketinggiannya, Silvi bisa dengan mudah menggapai sepatu buluk miliknya. Namun, air matanya benar-benar mengalir deras saat dilihatnya sepatu itu seperti tersayat di bagian depan, padahal sebelumnya hanya sedikit koyak.
Silvi duduk memeluk lutut, memeluk sepatunya. Bagaimana ia akan memakainya untuk besok?
Sementara itu, di satu sudut Araska mengamati. Mengamati bagaimana gadis dekil itu menangis sendirian. Bagaimana gadis itu menyeka air matanya.
Beberapa hari terakhir, Araska jadi hobi mengamati. Ia juga melihat saat Uta dan gengnya mengganggu Silvi. Ia pikir Silvi cukup kuat. Nyatanya ada hal-hal yang tak mampu ia lawan.
Araska suka saat gadis itu melawan meski tetap kalah. Seperti saat pelajaran olah raga beberapa hari lalu. Uta meminta bermain bulu tangkis dengan Silvi, dan permainan penuh kecurangan itu terjadi. Alih-alih memukul bola bulu tangkis, Uta malah membuat gerakan smash hingga bola mengenai wajah Silvi. Berkali-kali. Namun, saat itu Silvi tak diam, ia membalas dengan hal yang sama. Araska menyukai itu. Keberanian Silvi.
Atau saat di kelas, ketikabangku Silvi ditempelkan permen karet. Lalu rok Silvi menjadi lengket karena itu. Gadis itu tak diam, ia menempelkan kembali permen itu pada rok milik Uta.
Imbas.Araska menyukai itu.
Mungkin keberanian itu yang membuat Uta menjadi tertantang, dan ingin mengerjai Silvi lebih parah.
Silvi bangun dari lantai lapangan yang sedikit kasar, juga berdebu. Terlihat dari ia yang menepuk roknya dengan dua tangan agar debu itu turun ke bawah.
Gadis dengan rambut kusut itu mulai berjalan. Ia tak memakai sepatu, hanya kaki telanjangnya yang terkadang membuatnya terhenti karena menginjak duri atau kerikil.
Araska menunggu hingga gadis itu keluar dari gerbang dan menuju jalan. Anak lelaki itu mengikuti, seskali ia bersembunyi di belakang pohon besar saat Silvi menoleh curiga.
Araska berhenti saat Silvi memasuki gang, dan dari kejauhan ia melihat gadis itu masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah kecil yang bahkan tak menyerupai gudang di rumahnya.
Saat itu ia benar-benar yakin, bahwa hidup Silvi sangat menyedihkan. Gadis itu sebenarnya sama sekali tak menutupi keadaannya, hanya saja orang-orang di sekelilingnya yang tak peka. Bahkan gadis manja seperti Uta tega mengerjainya.
Tapi, kenapa ia peduli?