Bab 6

1202 Words
Bab 6Ternyata Dia * Sekolah masih lumayan sepi saat Silvi sampai di gerbang sekolah. Hanya ada beberapa motor guru, dan beberapa siswa yang juga baru datang seperti dirinya. Hari ini gadis itu datang lebih awal. Bukan karena ada PR atau tugas piket kelas yang harus ia kerjakan. Hanya saja ia ingin memastikan sesuatu. Sesuatu yang beberapa hari ini mengusik rasa penasarannya. Langkah kaki jenjang Silvi menuju ke kelas. Lalu, saat sampai di depan kelas, ia memelankan langkah agar tak ada suara sepatu yang berbunyi, karena terlihat kepala seseorang dari jendela kaca. Dengan hati-hati Silvi mengintip dari luar jendela. Terlihat ada seorang siswa yang berdiri di dekat mejanya, hanya punggungnya yang terlihat, bukan wajahnya hingga gadis itu sulit menebak. Lalu bocah lelaki itu mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tas, dan meletakkannya di dalam laci di meja Silvi. Silvi penasaran, sejak seminggu terakhir selalu ada makanan dalam lacinya. Kadang roti, kadang gorengan, kadang makanan ringan. Setiap pagi Silvi selalu menanti-nanti apa isi lacinya hari ini, dan hal itu sukses membuatnya teramat bahagia. Pagi ini Silvi ingin melihat siapa orangnya, setidaknya ia harus berterima kasih karena telah berbaik hati memberinya makanan. Siswa yang berdiri di meja Silvi kembali memakai tasnya, lalu berbalik. Saat itulah Silvi melihat wajahnya. Wajah yang entah mengapa terkadang membayangi saat ia di rumah, entah saat akan tertidur atau bahkan ketika Silvi sedang mencuci piring. Wajah yang berhasil membuatnya tersenyum, lalu sadar bahwa ia seperti orang bodoh senyum-senyum sendiri. Araska. Bocah lelaki itu hendak melangkah keluar kelas dengan tas masih di punggungnya. Silvi beranjak dari sisi luar jendela, ia memutar langkah, lalu bersembunyi di lorong pembatas anatara kelas dan kelas lainnya. Niatnya ingin berterima kasih, tapi melihat wajah Araska membuat ia tak keruan. Seolah ada genderang yang berdentam dalam hatinya. * Sejak ia tahu Araska yang meletakkan semua makanan di lacinya, Silvi jadi bertanya-tanya tentang perasaannya. Apa begini rasanya jatuh cinta? Apa ini yang dinamakan cinta? Cinta monyet? Banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Silvi pada perasannya sendiri. Tapi ia bingung menyimpulkan jawaban dari perasaannya sendiri. Yang ia tahu adalah Araska sering memperhatikannya meski secara diam-diam. Apa Araska menyukainya? Kembali gadis belia itu menanyakan diri sendiri. Ah, rasanya terlalu kegeeran jika menyimpulkan Araska memperhatikannya karena suka. Meski masih belia, Silvi sadar diri bagaimana kondisinya yang sangat berbanding terbalik dengan Araska. Namun, lagi-lagi wajah itu kembali membayang di buku tulis Silvi. Saat ini ia sedang mengerjakan PR Matematika dari Bu Darma. Meskipun tak menyukai pelajaran itu, Silvi tetap berusaha mengerjakan apa yang disuruh sang guru. Meski ia sebenarnya bosan melihat buku PR-nya yang dipenuhi angka telur asin, atau gambar kursi. Membosankan sekali, sama sekali tak bervariasi. “Kamu kenapa, Vi?” Silvi tertangkap basah oleh sang ibu, ia tengah senyum-senyum sendiri di depan meja belajar lipat yang multifungsi. Ya, meja itu juga menjadi meja makan saat mereka makan, karena mereka tak punya meja bagus seperti orang lain. “Gak ada, Bu.” Silvi menutup rapat bibirnya. Lalu fokusnya kembali teralih pada buku cetak yang ada di hadapannya. Gadis itu sama sekali tak menyadari sudah berapa lama ia bengong sambil senyum, dan ibu mengamatinya. Hera baru saja menunaikan shalat isya, saat ia memergoki Silvi dengan pandangan menerawang lalu senyum sendiri seolah cahaya bulan dari pecahan genteng sedang membuatnya tersipu. Perempuan yang telah melahirkan Silvi itu duduk di samping anak gadisnya, menemani ia mengerjakan PR. Meskipun Hera tak pernah menamatkan SMA, juga tak mahir Matematika, setidaknya ia ingin memastikan Silvi benar-benar mengerjakan PR. Sesekali Silvi melirik ibunya, memastikan ia tak dicurigai karena senyuman anehnya. Beberapa menit kemudian ia menutup buku, karena telah menguap beberapa kali. Di kamar sempit itu, dua perempuan beda usia merebahkan tubuh lelahnya. Hampir semua aktivitas memang dilakukan di kamar, karena rumah kecil itu hanya mempunyai dua ruangan, satu kamar, dan satu lagi ruang utama yang merangkap dapur, tempat menyimpan sepeda dan ruang tamu jika ada orang yang datang. Hanya di kamar, yang lantainya sudah disemen halus, sementara di ruang satunya disemen kasar yang terkadang tercium bau lembab jika hujan datang. “Siapa yang bikin kamu senyum-senyum?” tanya Hera sebelum Silvi tertidur. Jantung Silvi kembali berdegup kencang. Kini bukan karena membayangkan wajah Araska, tapi karena sang ibu sepertinya akan menginterogasi. Hera paham dan menyadari jika gadis kecilnya sudah memasuki usia remaja. Bisa jadi virus merah jambu sedang mulai mendatanginya, hingga gadis itu merasa dunianya terlalu indah, dan itu yang membuatnya hatinya gembira hingga tersenyum seperti tadi. Perempuan yang masih terbilang muda itu hanya ingin melakukan pendekatan. Ia mengerti bagaimana gejolak anak-anak yang memasuki usia remaja, karena Hera pernah berada di fase seperti itu. “Gak ada, Bu.” Silvi menjawab malu-malu. Meskipun pipi merahnya tak terlihat oleh Hera. Karena lampu sudah dimatikan. “Jangan terlalu cepat jatuh cinta, Vi. Belum waktunya.” Hera mencoba menasehati. Ia ingin Silvi terbuka dengan dirinya. Setidaknya Hera tau kondisi hati putrinya, dan bisa memberikan saran yang bijaksana. “Namanya Araska, Bu.” Silvi mulai bercerita. “Silvi gak jatuh cinta, kok. Hanya saja dia terlalu baik pada Silvi, saat semua teman lain memandang Silvi seperti sebuah sampah.” Silvi masih bercerita. Sementara ibunya hanya mendengarkan. “Semingguan ini, Araska selalu letakkan makanan di bawah kolong meja Silvi.” Gadis itu melanjutkan. Ada yang tersayat di hati Hera mendengar penuturan Silvi. Ia merasa kecewa pada diri sendiri karena tak bisa memenuhi kebutuhan anaknya, bahkan untuk jajan sekolah. Sementara tanggal gajiannya masih beberapa hari lagi. Tiba-tiba saja, Hera membayangkan keadaan Silvi di sekolah. Bayangan itu membuat Hera menitikkan air mata, tapi mungkin Silvi tak bisa melihatnya karena gelap. “Silvi udah masuk masa puber, Nak. Mungkin akan ada rasa yang berbeda saat berdekatan dengan lawan jenis. Tapi kamu harus bisa mengontrolnya, harus bisa jaga diri, karena tugasmu sekarang adalah belajar.” Hera mencoba menasehati. Ia tak ingin anak gadisnya terlalu cepat melangkah dalam masalah percintaan. Rasa yang tumbuh itu memang wajar, tapi Hera ingin Silvi dalam perasaan sadar bahwa itu perasaan yang tumbuh itu belum waktunya. “Ibu janji akan menyekolahkanmu setingginya. Kamu jangan jadi seperti ibu, yang kerjanya Cuma jadi buruh cuci gosok. Kamu harus sukses, Vi.” Hera menyeka sudut matanya. Silvi hanya mengangguk. Gadis itu seperti punya semangat baru dalam belajar. Selalu seperti ini, saat ia berbicara dengan sang ibu, Silvi seolah sedang disuntik energi positif yang reaksinya begitu cepat memengaruhi. “Satu lagi, kalau kamu mulai menyukai seseorang, jangan malu cerita sama ibu, ya.” Lagi-lagi Silvi mengangguk. Saat bersama ibu, ia merasa sangat berarti dan dicintai. Saat bersama ibu, ia bisa sejenak melupakan kejadian-kejadian pahit yang terjadi di sekolah. Puas setelah berbagi cerita, Silvi dan ibunya tertidur. Semoga hujan tak turun di tengah malam, yang membuat mereka harus berlari mencari baskom untuk menampung air hujan. * Pagi. Silvi sudah menyiapkan diri untuk sekolah. Ia memasukan buku-buku pelajaran sesuai roster. Silvi tersenyum saat menemukan uang lima ribuan di atas tumpukan buku miliknya. Semalam setelah Silvi bercerita, Hera tak bisa benar-benar tertidur. Ia dihantui rasa bersalah sekaligus kecewa pada diri sendiri. Jangankan membeli Silvi mainan dan baju bagus, untuk uang jajan saja ia kesulitan. Sebenarnya ia masih punya sedikit tabungan, tapi uang itu tabungan untuk membeli genteng agar tidur mereka selalu nyenyak meskit hujan mengguyur di luar sana. Pagi ini Hera berangkat dengan tenang, meskipun ia harus menunggu waktu lagi untuk memperbaiki genteng, tapi setidaknya Silvi tak harus menahan lapar di sekolah. Hera sudah berangkat lebih dulu, seperti biasanya. Karena bukan satu rumah yang akan ia kunjungi. Silvi melangkah ke dekat pintu di mana sepatunya diletakkan. Ia menghela napas saat mengingat kondisi sepatunya yang tersayat. Namun, saat ia mengambil sepatu itu sudah dijahit. Silvi tersenyum. Ibunya memang paling tahu keadaan Silvi, ah bahkan kini sepertinya ibu mulai membaca pikiran Silvi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD