Umpan

1019 Words
Kamar yang dia sewa tidaklah besar, mungkin ukuran 3x3 tidak berbeda jauh dengan kamar tidurnya. Meski begitu Mala lebih suka tinggal di sini, di penginapan yang tidak terlalu besar, berbentuk tabung seperti menara dengan tiga lantai. Katanya memang dibangun dari bahan dasar pasir yang kuat, sehingga warna dindingnya pun serupa dengan pasir di luar sana. Memanfaatkan yang ada tentunya, sejauh yang gadis itu lihat dari jendela kamar di lantai dua, semuanya akan sangat indah ketika malam tiba. Gelapnya pemukiman padang pasir itu terwarnai dengan cahaya kekuningan dari lampu setiap rumah. Seperti titik-titik yang berkilau saat gelap, apalagi bayangan bangunan yang tercipta dari lampu. Seolah membentuk ilusi dua bangunan, padahal hanya ada satu yang benar-benar ada. "Menakjubkan bukan, Mala?" Seseorang bertanya membuat dia terlonjak kaget. Meski tanpa berbalik badan pun Mala tahu siapa pelakunya, tetapi refleks tubuhnya tetap melakukan hal yang sama. "Ah ... Sena, ya ini menakjubkan. Cantik," balas Mala sedikit tergagap karena masih terkejut, lelaki itu malah balas terkekeh, membuat sang gadis malu. "Ini baru bagian kecil. Aku akan membawamu pergi ke berbagai tempat indah lainnya," katanya berkacak pinggang dengan bangga. Mendengar ucapan itu membuat Mala tersenyum. Lelaki ini orang baik, syukurlah dia bisa menjelajahi negeri tersebut tidak sendirian. Dia merasa beruntung. "Baiklah, cepat tidur Mala! Besok kita akan berkeliling, sepertinya untuk mencapai kota berikutnya lebih butuh banyak waktu." Sena yang bersandar pada pintu kamarnya, kini melambaikan tangan memasuki kamar dia sendiri yang saling berhadapan. Tidak lupa menutup pintunya sebelum pergi. Mala baru sampai di dunia ini, jika dia tidur kembali apa yang akan terjadi? Apakah dia akan kembali ke dunia nyatanya? Gadis itu menggeleng kuat-kuat, tidak ingin hal tersebut terjadi. Malamnya masih panjang untuk menyambut pagi dengan segala kegiatannya sebagai seorang siswa. Dia hanya ingin melakukan hal lain yang lebih seru dari hanya sekadar belajar dan bersekolah. Namun, anehnya Mala tidak mengerti aturan waktu di dunia ini. Begitu dia tertidur di dunia nyata, maka sampai ke sini mungkin sudah beberapa hari dari mimpi sebelumnya. Sekarang, dia masih sama, di penginapan yang mungkin Mala baru masuki beberapa jam, terbangun di tengah malam sampai Sena mendatangi kamarnya. Memikirkan segala kemungkinan malah membuat Mala pusing, segera merebahkan diri di single bed-nya, menarik selimut dan merapatkan diri. Semoga saja, dia tidak cepat kembali ke dunia sana. Setidaknya Mala ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersenang-senang bersama Sena. . . . Dia bangun, terik matahari pagi benar-benar sudah menyengat. Mala tidak salah lihat, jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Setelah cukup mengumpulkan kesadaran segera pandangan matanya mengedar pada sekitar. Masih kamar yang sama, dinding kuning pucat dan lemari kayu serta balas yang berada seberangan dengan kasur yang dia tiduri. Gadis itu menghembuskan napas lega, setidaknya tidurnya kali ini tidak membawa dia kembali ke dunia nyata. Bergegas membersihkan diri menuju kamar mandi, Mala tidak ingin membuat Sena menunggu lama apalagi sampai datang kemari lagi. Tak lama setelahnya gadis itu keluar dengan pakaian putihnya. Membuka pintu kamar bertepatan dengan Sena yang sama-sama melakukan hal yang serupa. "Pagi, Mala!" Sapaan kelewat bersemangat itu membuat sang gadis mau tidak mau sudah tersenyum lebar. Siapa pula yang pernah merasakan paginya disambut dengan senyum? Mungkin seumur hidup Mala itu hanya terjadi saat dia kecil. Dan Sena memberikan perasaan senang itu kembali, Mala ingin terus selalu merasakannya. "Selamat pagi, Sena!" balasnya berjalan beriringan dengan lelaki itu melewati koridor kamar. Keduanya turun ke bawah dari lantai dua, Sena membereskan satu dua hal yang perlu sebelum mereka keluar dari penginapan. Tak lama lelaki itu kembali mendatanginya dan berkata telah selesai. Jadilah sekarang keduanya menuju ke pasar. Pagi mungkin baru saja dimulai, tetapi aktivitas yang berjalan di kota ini begitu hidup. Tawar menawar, memasak, obrolan-obrolan yang terdengar hangat itu mendominasi di mana pun kakinya melangkah sepanjang pasar. Sampai akhirnya dia berhenti, menatap bangunan di hadapannya dengan sedikit minat yang lebih. Tidak ada papan tulisan mengenai tempat apa itu. Dinding depannya yang berbeda membuat Mala tertarik, anyaman dari kayu sebagai jendela-jendela besar yang dapat dibuka lebar, dia mengintip sedikit, mengendus aura harum yang keluar dari tempat itu. Ah, ternyata restoran. "Kau sudah lapar, Mala?" Ditanyai begitu malah membuat dia berjengit kaget, refleks berbalik dan tersenyum kikuk. Malu juga ketahuan mengintip. Namun, Sena malah masuk terlebih dahulu ke dapan restoran tersebut. Pintunya bergeser dengan derit lonceng yang khas, semua pandangan mata menuju pada mereka, jelas Mala mengikuti dari belakang. Mereka memilih kursi di pojok ruangan, jendela itu dibuka lebar, karena terbuat dari anyaman dalam sekali tarikan, pola zig-zag pada jendela itu berubah mengosongkan beberapa kotak, sehingga terbentuk fentilasi udara. Itu cukup keren menurutnya. "Kita memang mencari restoran untuk sarapan, dan kau sudah memilihnya dahulu padahal aku mengincar restoran lain di depan sana," gurau Sena malah membuat dia sungkan. Mala tidak tahu kalau lelaki itu berjalan di depan karena sudah merencanakan agenda mereka. "Ah, maaf-maaf ... aku tidak tahu akan begitu. Ayo kita keluar saja dari sini!" ajak Mala dengan suara rendah, dia bahkan sudah berdiri. Sebelum pergi mendapatkan cekalan di tangan. "Hei, aku cuman bercanda!" kekeh Sena kini terdengar menyebalkan, Mala benar-benar merasa tak enak hati awalnya. Meski begitu tidak juga dia akhirnya menghembuskan napas lega. Setelah tadi sempat memesan makanan mereka, semua telah tersaji sempurna. Entahlah apa saja yang ada di depannya ini karena kebanyakan pesanan Sena, lelaki itu membuat daftar list panjang, dan sekarang makanan mereka seperti untuk satu keluarga penuh. Kari, nasi goreng, dan beberapa daging hewan bakar yang Mala tidak tahu pasti itu apa. Namun, dia juga tidak ingin protes, penampilannya menggugah dengan bumbu kental dan harum yang menggoda. Bumbu kari tersebut memang benar-benar enak! Dia sampai menggambil satu piring utuh kari yang ada di hadapannya, tentu semuanya habis. Sedang asyik bermakan ria, seseorang menyenggol bahu Sena hingga lelaki itu terbatuk. Segera Mala ambil gelas airnya yang terdekat dan memberikan pada sang partner. Namun, matanya jeli melihat bahwa orang yang menabrak itu menggenggam sesuatu. Ah, itu kantong milik Sena. Meski isinya entah apa Mala refleks berteriak, "Pencuri! Berhenti di sana!" Gadis itu segera bangkit mencuci tangannya dengan air mengejar pencuri yang sadar telah ketahuan. Sena bahkan terkecut oleh ketanggapan gadis di hadapannya. Mau tak mau dia juga segera bangkit, membayar pesanan dan mengambil barang mereka yang dicuri. . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD