Seolah menyatu kamu pun terapung di antaranya, tak lagi berpijak pada bumi. Lalu, dia datang membuatmu kembali menapaki tanah. Sang Pengembara.
. . .
Kalimat yang tidak Mala ingat secara pasti, yang dia tahu halaman mungkin berganti, tetapi yang sebelumnya akan raib. Bersih, kosong, seolah memang hanya lemparan putih tanpa tulisan. Tidak ada yang pernah tahu tulisan yang muncul selanjutnya, karena baris paragraf akan muncul saat petualang baru dimulai.
Seperti sekarang gadis itu terbang terawang-awang tanpa sadar, berjalan lebih ringan, seolah bukan badannya yang dia bawa, tetapi kapas. Dedaunan sekitar mulai menyapa, terapung bersama menggelitik daun telinga. Semuanya seperti hanya ada dalam cerita, gadis itu tertawa. Namun, setelahnya tidak ada lagi senyum yang terukir.
Badannya mengambang di atas udara, meronta minta terlepas dari jerat yang seolah tidak kasat mata. "Tolong, tolong! Seseorang ... adakah yang bisa menolong saya?!" Jerit teriakan terdengar, semakin putus asa lama-lama.
Histerisnya bukan tanpa sebab, melainkan sesuatu di depan sana terlihat lebih mengerikan. Dia tahu ada yang namanya mimpi buruk, tetapi untuk yang terasa begitu nyata begini, Mala mati-mati tidak ingin pernah lagi merasakan mimpi buruk. Sekarang itu ada di hadapannya.
Wush ... glarr!
Gemuruh angin yang berisik, seolah hendak menulikan telinga, ditambah kilat kuning yang menyambar disusul suara memekang. Tepat di depan sana pusaran angin kelabu terlihat begitu besar, di tengah awan yang mendung berwarna gelap. Menelan ribuan daun kering yang menjadi debu dalam sekejap, Mala meronta tidak ingin merasakan hal yang sama.
Semua tenaga dikerahkan tidak membuktikan hasil apa pun. Tubuhnya seolah tertarik kuat oleh angin untuk terus mengikuti arus meski melawan. Tidak, tidak!! Tolong jangan angin topan! batinnya menjerit.
Mungkin hanya tinggal tangannya yang masih berusaha menggapai keluarga, karena badannya telah tertarik masuk ke dalam gelapnya pusaran yang dahsyat. Tinggal sejengkal, ujung jarinya menjulur. Namun, siapa sangka tenaga lain menarik kuat apa yang tinggal tersisa tadi, satu jari, berubah jadi satu tangan. Sebelum tubuhnya terlepas utuh dari jerat angin yang berputar murka.
Mala masih menutup kadua kelereng indahnya, terlalu takut melihat diri sendiri tertelan badai. Beruntung ketika dia merasakan bukan lagi mengawan-awan, melainkan tanah utuh, padat, keras yang dipijak matanya terbuka otomatis.
Sebuah tangan kekar masih menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Begitu mendongak dia lebih terkejut lagi menemukan sosok lain yang asing berada di sampingnya. "Siap–"
"Nona, kau baik-baik saja?" Pertanyaan panik itu terlontar dari wajah khawatir orang asing tadi.
Badannya tinggi tegap, rambut menyamai cokelat dengan wajah yang berdominan tidak putih, kuning langsat tepatnya. Seseorang di hadapannya membuat Mala berkedip beberapa kali, memastikan keaslian kehadiran orang tersebut.
Suara itu kembali menyahut, menanyakan hal yang sama. Akhirnya Mala hanya bisa mengangguk, baru sadar ternyata dia orang yang telah menyelamatkan dirinya dari badai mengerikan. Badai yang hampir membuat dia meregang nyawa di mimpi, sama-sama mengerikan. "Terima kasih, Tuan–"
"Sena, panggil saja aku Sena tanpa tuan, Nona," potongnya lagi membuat kedua alis sang lawan bicara berkedut.
Agak kesal karena terus dipotong begitu saja. Namun, Mala harus maklum sendiri, orang ini penyelamatnya. "Kalau begitu jangan panggil Nona, Mala. Hanya Mala saja," balas gadis itu memberikan penekanan di kalimat terakhir.
Wajah cerah dengan iris biru yang cantik itu terlihat tersenyum, lebih tepatnya tertawa. Ditambah bahunya yang sedikit bergetar, apa yang salah memangnya dengan perkataan Mala? Mungkin hanya tidak pernah terpikirkan oleh lelaki itu balasan penuh tuntutan di dalamnya.
"Baiklah, Mala. Kurasa kau bukan orang sini, ya? Seorang pengembara juga?" Mendengar kata juga membuat gadis berambut panjang tersebut tahu siapa orang ini. Oh, seorang pengembara.
"Ya, hanya berjalan-jalan ke mana saja," jawabnya membuat sang lawan mengangguk-anggukan kepala.
"Tidak punya tujuan?" Mendapat gelengan Sena meneruskan. "Kalau begitu bagaimana kalau ikut dengan saya ke Ujung Dunia?"
Ujung Dunia? Selain memperhatikan penggunakan kata ganti aku dan saya yang tidak konsisten, Mala dibuat bingung dengan dua kata terakhirnya. Maksudnya tempat seperti apa yang dimaksud Ujung Dunia itu? Sesuatu yang buntu?
Melihat raut kebingungan dari gadis di sampingnya, membuat Sena paham ternyata memang benar pendatang baru. Dia berinisiatif menjelaskan bagaimana julukan Ujung Dunia itu tersemat pada ibu kota kerajaan Callwilt, Astrelydeplia. Kota di mana semua yang dicari ada, keajaiban, kedamaian, pertumpahan semua ras dan suku berbagai orang yang berkumpul di satu tempat.
Tempat yang menakjubkan, jangan lupakan hiasan jalanan dan keramik yang terbuat dari berlian dan emas. Kecantikannya tiada dua. Mendengar bagaimana keindahan dari kota Ujung Dunia ini, Mala tertarik. Dia tidak memiliki tempat khusus yang dituju, tak tahu apa yang dicari, ada apa saja di dunia ini. Mala hanya ingin menjelajah, pergi sejauh mungkin.
Jika jawabannya Ujung Dunia, maka perjalanan sepanjang apa pun dia akan tempuh dengan senang hati. "Ya, aku mau ikut denganmu."
Begitulah keputusannya untuk ikut dengan seorang pengembara asing. Mereka belum bertemu bahkan 24 jam, meski Mala ragu bagaimana mengukur waktu ketika dia yang di dunia nyata dan mimpi memiliki perbedaan jam yang tak tentu.
Sena lelaki baik, itu yang Mala lihat dan rasakan. Mereka melewati pusaran angin bersama-sama, bukan berjalan berlawanan arah untuk sampai tujuan, tetapi menerobos masuk. Kedua tangan mereka berpegangan erat, bukan untuk menyerahkan diri dilahap angin topan. Namun, mencari ujung pusarannya.
Benar apa yang dikatakan Sena, ujung pusaran akan membawa mereka pada sebuah kota. Wilgertis, kota angin topan, begitulah julukan warga sekitar. Sama seperti kota sebelumnya, tempat ini tidak begitu banyak orang. Mungkin dari aksesnya sendiri yang susah dimasuki, harus memiliki keyakinan untuk menerjang badai.
Yang lebih mengejutkan adalah padang pasir, benar di balik angin topan Mala serasa merasakan gesekan pasir menampar pipinya. Sekarang, sekelilingnya dikelilingi warna jingga tak begitu tua, khas pasir gurun pada umumnya. Bangunannya kokoh, entah dari semen atau apa, tetapi tetap berwarna sama.
Orang-orang meskipun panas begitu seperti menggunakan abaya longgar, baik laki-laki ataupun perempuan. Bedanya lelaki di sini memakai pakaian hingga di atas lutut, sementara perempuannya menjuntai panjang hingga menyentuh tanah.
Meski gersang, berbanding terbalik dengan sabana yang ada di atas sana. Mala bisa temukan banyak hal, mulai dari penghuninya yang amat ramah, bukan hanya senyum lebar yang dia dapatkan, plus sapaan saat mereka mengitari sekitar. Berbanding terbalik dengan wajah yang terkesan garang dan seperti hendak marah.
Apa pun yang ada di sini sepertinya dari apa yang terlihat dan kebenaran berbeda jauh. Satu lagi yang dia pelajari dari dunia mimpinya kali ini. Mereka beristirahat di sebuah penginapan yang Sena sewa, begitu tertidur di sini, dia terbangun di sana.
. . .